
Mas Sandy mengangkat kedua alisnya bertanya. aku menggedikkan bahuku.
"Gak tahu mas," bisikku yang juga heran ada orang bertamu kerumahku bahkan sepagi ini.
"Aliss...! kamu belum bangun?" suara diluar terdengar tak asing.
"Rahma," aku mendekat dan segera membuka pintu.
"Maaf bertamu pagi-pagi!" selorohnya masuk tanpa ku persilahkan sebelumnya. dan dia memang selalu begitu. namun Rahma tampak terkejut saat melihat mas Sandy berdiri menatapnya. apalagi dengan kondisi rambutnya yang basah selepas mandi.
Aku memperhatikan keduanya dan sadar akan pikiran aneh sahabatku itu.
"Jangan mikir macam-macam dulu. kita gak ngapa-ngapain kok!" selorohku mengajak Rahma untuk duduk.
"Pak Sandy disini juga?" tanyanya sopan
"Saya menginap disini" jawabnya enteng
Aku melotot tajam padanya. bisa-bisanya mas Sandy setenang itu menjawab pertanyaan Rahma.
"Wah. kalian banyak kemajuan ya!" Rahma menyeringai menatapku.
"Ini semua karena Andi tak ingin mas Sandy pulang. padahal aku udah ngusir dia" bisikku pada Rahma.
"Kalian ngobrol lah. saya mau membangunkan Andi." pamitnya pergi.
Rahma masih menatapku penuh tanya. sepertinya dia tak menyangka jika kami akan berada satu atap seperti ini. dia pasti mengira jika mas Sandy sudah Sering menginap disini
"Kalian harus segera menikah aku pikir!" bisiknya setengah menggoda.
"Gak semua masalah bisa selesai hanya dengan menikah." tandasku
"Memangnya nunggu apalagi? Andi juga sepertinya udah bisa nerima pak sandy. iya kan?"
Aku menatap lama pada Rahma. seandainya semuanya semudah itu. aku juga pasti ingin segera menikah. hanya saja,dalam benakku ada banyak sekali keraguan yang entah darimana datangnya.
"Oh iya, aku kemarin mampir ke kedai. tapi kata pekerja disana. terjadi keributan antara mas Sandy sama pak Ivan? kenapa? apa mereka ribut gara-gara kamu?!" selidik Rahma tersenyum kecut sembari mengamati keadaan.
"Mereka ternyata Dulunya pernah menyukai orang yang sama. dan itu yang bikin mereka jadi bermusuhan sekarang." desahku lesu
"Serius? pantesan kata Sinta,di kantor mereka emang jarang banget bertegur sapa. Lagian pak Ivan kerja disana juga karena jasa orangtuanya yang udah kerja lama sama keluarga Hadiwijaya. dan tahu gak? menurut gosip,pak Ivan ada hubungan spesial gitu sama bu Ayu!" kali ini Rahma berbisik padaku hati-hati.
Aku memperhatikan kamar Andi. takut jika mas Sandy menguping obrolan kami. apalagi jika dia sampai tahu apa yang dilakukan pak Ivan dan bu Ayu dibelakangnya.
"Ssssttt!" desisku memperingatkan Rahma untuk tak bicara sembarangan.
Aku masih benar-benar tak bisa lepas dari masalah disekitar mas Sandy. tapi Akupun tak tahu harus bagaimana menyikapinya. soal hubungan pak Ivan dengan Bu Ayu itupun bukan menjadi urusanku. hanya saja aku sedikit terganggu karenanya.
Tujuan Rahma datang ke rumah adalah dia ingin bercerita soal jabatannya yang akhirnya bisa naik. dan mulai besok Rahma bisa bekerja di kantor pusat bersama Sinta. mendengar hal itu aku tentu sangat senang. sekian lama Rahma mendambakan bekerja di kantor pusat.
Menurutnya semua pekerjaannya jadi mudah setelah pak Sandy tahu jika dia adalah temanku. apa mungkin mas Sandy yang membantu Rahma, hingga dia bisa naik jabatan?
Tapi, Rahma memang pantas mendapatkannya. dia termasuk pekerja di pabrik yang memiliki kinerja bagus dan sangat bertanggung jawab.
__ADS_1
Bicara soal pekerjaan, Akupun Jadi bercerita soal diriku yang tak bekerja lagi disana. Makanya dengan gamblang aku meminta bantuan Rahma untuk mencarikanku pekerjaan.
"Ngapain kamu kerja. kan ada pak Sandy!" selorohnya.
"Ck!" aku berdecak ketus. lagi-lagi semuanya dikaitkan dengan mas Sandy.
"Kamu pikir sejak kapan aku mau bergantung sepenuhnya sama laki-laki. terlebih lagi dia belum menjadi suamiku?" tanyaku serius.
"Benar juga! kamu terlalu keras hati untuk ukuran wanita." ledek Rahma.
"Itu namanya prinsip. kalau bukan mas Sandy yang memaksa memberikan semuanya. aku benar-benar malu untuk menerima semua pemberiannya!" gumamku pelan.
"Ayo kita Mandi!" mas sandy berteriak sembari menggendong dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Aku dan Rahma hanya mampu memandangi keduanya dengan takjub. tentu saja, sekilas gambaran keluarga kecil yang bahagia terlihat sangat nyata dihadapanku.
"Andi kayanya emang udah nyaman banget sama pak Sandy lis, kamu beruntung banget!" gumamnya.
"Kamu benar! aku memang sangat beruntung!" sahutku penuh rasa syukur.
Selesai mengobrol panjang lebar, Rahma akhirnya pamit. Akupun mengantarnya hingga ke halaman depan. Kami berjanji untuk bertemu lagi setelah Rahma sudah mendapat gaji pertamanya sebagai pekerja kantoran. aku hanya terkekeh melihat sikap antusiasnya.
Baru saja aku hendak kembali masuk ke dalam rumah. Bu Dewi terdengar memanggilku.
"Lis.. Alis?" teriaknya sembari mendekat.
"Iya, ada apa bu?" Aku menoleh pelan.
"Ini, ibu ada sedikit oleh-oleh dari luar kota!" tuturnya sembari menyerahkan bungkusan besar padaku. mata bu Dewi jelas memperhatikan mobil yang terparkir sejak semalam dirumahku.
Aku sudah bisa menebak dia pasti akan bertanya soal itu.
"Iya bu. Semalam Andi merengek dan tak mau di tinggal. jadi terpaksa mas Sandy menginap!" ucapku beralasan.
Bu Dewi nampak jelas sangat kecewa dan juga cemas. mungkin tadinya dia ingin menjodohkanku dengan mas Erwin
"Oh iya bu. mas Erwin Gak ikut pulang kesini lagi?" tanyaku mencari alasan untuk tak membahas soal mas Sandy lagi.
"Erwin dipindah tugaskan sama perusahaan. ke kantor cabang yang dekat dengan kota nya. katanya instruksi langsung dari atasan. mungkin dari pak Sandy!" selorohnya tampak sedikit kecewa.
"Benarkah? Mungkin kantor cabangnya sedang membutuhkan tenaga kerja tambahan bu!" Timpalku berbaik sangka.
"Ya mungkin juga Lis. ibu juga gak tahu! Lis, kamu hati-hati Yah! jangan terlalu sering membiarkan tamu menginap. biar bagaimana pun kamu ini tak punya suami. ibu cuma takut, warga sini bergosip yang bukan-bukan soal kalian!" tukasnya mengingatkan.
"Iya bu. Alis juga ingat sama hal itu. terima kasih sudah mengingatkan bu!" Aku tersentuh dengan perhatiannya.
"Ya sudah. ibu mau kembali Nyuci. dimakan ya oleh-olehnya!" Bu dewi berlalu kembali ke rumahnya.
Aku terdiam cukup lama sebelum kembali ke dapur untuk membuatkan sarapan. beruntunglah ini akhir pekan. hingga mereka bisa dengan santai bermain.
Sesekali ku intip mas Sandy dan Andi di kamar mandi.
"Wah kamu curang ya!" teriak mas Sandy membuat Andi terkekeh.
__ADS_1
"Om mandi lagi dong!" rengeknya.
"Hey! udah! nanti pilek. ayo kita sarapan!" ajakku yang melihat Andi sudah tampak menggigil.
•••
Andi selesai berganti pakaian. bahkan mas Sandy yang memilihkan baju untuknya hari ini.
"Wah sarapannya keliatan enak! om udah lapar banget!" mas Sandy duduk dan segera membuka piringnya.
"Andi juga laper papa om!" Andi meminum susunya lebih dulu.
"Ya sudah. makan yang banyak Yah!" tukasku sembari mengisi piring mereka dengan sarapan pagi yang kubuatkan.
"Rahma tidak ikut sarapan disini?" tanya mas Sandy kemudian.
"Dia harus beres-beres masalah pekerjaan. Oh iya, Rahma mengucapkan terima kasih sama kamu mas." selorohku
"Terima kasih untuk apa?!' mas Sandy menatapku
"Berkat bantuan kamu. dia bisa bekerja di kantor pusat. tempat impiannya selama ini." jelasku balik menatapnya kagum
"Itu semua karena hasil kerja kerasnya. dia layak mendapatkan itu semua!" mas Sandy mengunyah makanannya dengan lahap.
"Ini apa ma?" Andi memegang bingkisan yang bu Dewi berikan.
"Itu bingkisan dari Bu dewi. katanya oleh-oleh." sahutku.
Mas Sandy terpaku menatap bingkisan itu. entah apa yang ada dipikirkannya hingga dia menghentikan aktivitas makannya.
"Katanya mas Erwin dipindah tugaskan ke luar kota? kenapa mas?" tanyaku
"Biar dia gak gangguin kamu teh!" celetuknya enteng.
Aku menatap nya aneh. memang tak heran jika mas Sandy bersikap menyebalkan seperti itu. apalagi dia bisa dengan mudahnya memerintahkan orang lain untuk memenuhi keinginan egoisnya.
Drrrtttt....
Drrrtttt...
Mas Sandy menatap layar ponselnya. lalu bergegas mengangkatnya
"Kenapa?" sahutnya malas.
"Dimana? Oke. saya kesana sekarang!" jawabnya terkejut. Mas Sandy menatap pelan padaku. aku benar-benar takut melihat perubahan ekspresi wajahnya.
"Ada apa mas?"
"Bi Marni di rumah sakit!" tukasnya cemas.
Tentu saja mas Sandy sangat kaget. Bi Marni adalah satu-satunya orang yang dia percaya untuk mengurus rumah besarnya. dan lagi, wanita paruh baya itu sudah menemaninya sejak kecil.
• • • • • • •
__ADS_1
•••