PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•10


__ADS_3

BRUGH!


Suara benda jatuh mengagetkan lamunanku. aku menyimpan nampan itu di atas meja disamping pintu. aku kemudian masuk untuk memeriksa apa yang terjadi.


"Mas Sandy, ngapain?" tanya ku kaget, saat melihat mas Sandy tengah mencoba membuka lemarinya.


Mas Sandy hanya menoleh tanpa menjawab. Aku memperhatikan dari arah belakang. dan akhirnya aku yang terkejut saat melihat isi lemarinya.


Beberapa Trofi dan piagam tersusun Rapi. ada beberapa buket bunga yang tampak layu yang tersimpan di sudut lemari paling bawah serta beberapa kotak sepatu yang terlihat masih baru.


"Kamu gak mau bantu saya teh?!" tanyanya kemudian.


Aku terkesiap lalu mendekat kearahnya, masih dengan pandangan melihat isi lemari itu.


"Ini punya mas Sandy?" tanyaku ragu


"Menurut teh Alis,ini punya siapa?!" Mas Sandy balik bertanya.


Tentu saja aku tahu,semua itu miliknya, karna Nama Sandy Hadiwijaya tersemat diatas trofi-trofi itu. Tapi, kenapa dia malah menyembunyikan nya? membuat benda-benda ini seperti barang bekas yang disembunyikan. tetanggaku saja, yang memiliki satu Trofi dari anaknya karna memenangkan lomba agustusan antar RT memajangnya dengan bangga di etalase ruang tamu mereka. tapi kenapa mas Sandy menyembunyikan piagam sebanyak ini? apa semua ini ada alasannya? atau memang sengaja di simpan? kulihat ada beberapa kejuaraan yang dia menangkan. juara 1 Lomba Renang antar sekolah, juara 1 Lomba renang antar provinsi, juara 1 lomba renang tingkat nasional dan.....


"Ekehm!!! Udah ngeliatin nya? bisa tolong pegang sebentar?" sindir mas Sandy yang tampaknya tahu jika aku tengah memperhatikan benda-benda berkilau itu. Aku mengambil dua buah kotak sepatu yang dipegangnya.


"Mas Sandy atlet renang?!" celetukku Takjub. mendengar suaraku yang memekakan telinganya,membuatnya malah melirik sinis kearahku.


"Maaf mas,"Ralatku malu.


"Kamu gak usah kaget gitu teh,ini cuma sampah kok!" Desisnya nyaris tak terdengar. kemudian mas Sandy mengunci kembali lemarinya,lalu mas Sandy berjalan pelan menuju kursi yang dia duduki tadi. Aku mengekorinya dan menyimpan kotak sepatu itu diatas meja. mas Sandy menyimpan kruknya perlahan, matanya menatap lama kotak sepatu itu. seperti mengingat sesuatu tentang sepatu itu. dan pastilah ada kenangan dibalik benda tersebut.


"Sepatu ini, hadiah dari papa!" Tukasnya lirih. Aku menatap mas Sandy haru. kedua alis pemuda itu bertaut cukup lama, seakan menahan air mata yang hendak keluar dari pelupuk matanya.


Tak tega rasanya melihat wajah muram mas Sandy,ada rasanya nyeri didadaku. mungkin apa yang di rasakan,sama hal nya dengan apa yang selalu aku rasain ketika merindukan sosok ibu.

__ADS_1


"Mas Sandy yang sabar ya!"Selorohku pelan. Tapi sepertinya suaraku malah mengagetkannya, hingga dia buru-buru menyeka air mata yang hampir jatuh itu. tapi percuma saja,aku sudah melihatnya. aku melihat pemuda yang cuek itu akhirnya bisa menangis juga.


Kemudian secara perlahan Mas Sandy membuka kotak sepatu itu. terlihat sepasang sapatu yang indah berwarna hitam legam. ada Nama Brand terkenal yang terselip disisi sepatunya.


"Saya rasa ini cocok untuk anaknya teh alis!" Mas Sandy mengeluarkan sapatu itu dan mendorongnya pelan kearahku.


Aku masih mematung,entah harus menerima atau tidak. padahal jelas-jelas aku sudah berusaha menolak benda itu sebelumnya.


"Saya gak menerima penolakan! lagipula gak sopan,kalo seandainya teh Lis menolakl pemberian orang!" Timpalnya lagi.


"Tapi kan,ini sepatu pemberian orang tua mas Sandy. apa tidak sebaiknya mas Sandy simpan saja buat kenang-kenangan!" saranku ragu.


"Sepatu ini hadiah waktu usia saya 12 tahun, saat itu saya menang lomba renang antar sekolah! Kalo saya simpen, itu artinya saya 'gak menghargai orangtua saya. dan lagi sepatu itu kecil, tidak muat lagi?" sahutnya beralasan.


"Tapi mas,...!"


"Kalo teh Alis gak mau, buang aja sepatunya ke tong sampah!" titahnya dingin. Aku menatap mas Sandy bingung, sikapnya itu selalu saja membuatku ingin memakinya. tapi Beruntunglah aku tipe orang 'penyabar'.


"Ya udah,saya ambil sepatunya. Terima kasih banyak Mas!" Aku mengambil sepatu itu dengan segera.


Aku menghentikan langkahku pelan.


"Kapan-kapan,Saya ingin lihat anak teh Alis pake sepatunya!" pintanya lagi.


Aku manggut tanpa menjawab lalu bergegas meninggalkan kamar itu.


•••


Aku sudah menyiapkan obat-obatan yang diberikan oleh dokter Hasan, untuk memudahkan Bi Marni saat memberikannya pada Mas Sandy.


Pukul 3 sore aku bersiap untuk pulang, Aku belum memberitahu Andi soal sepatu pemberian mas Sandy itu,lebih baik aku berikannya selepas kami tiba di rumah nanti.

__ADS_1


Setibanya di rumah,wajah Andi nampak murung.Aku tahu dia marah,dia pasti kecewa padaku yang tak jadi mengajaknya pergi ke pasar untuk membeli sepatu baru.


"Andi sayang,kamu lapar gak nak?" tanyaku penuh perhatian.


"Enggak!" jawabnya cuek.


Aku tersenyum lalu duduk didekatnya.


"Andi gak penasaran sama om-om yang Andi lihat dibalkon waktu tadi siang?" tanyaku memulai obrolan.


"Andi gak mau tahu!" celetuknya


Aku tersenyum geli,gemasnya melihat anakku saat tengah marah begini.


"Dia itu majikannya mama,tapi dia kecelakaan dan sekarang kaki sama tangannya sakit. bahkan jalan aja harus pake tongkat."


Mendengar itu, tatapan Andi berubah. dia seakan kaget sekaligus penasaran dengan ceritaku. namun gengsinya membuat dia enggan bertanya lagi. hingga aku berinisiatif melanjutkan ceritaku.


"Dulu, waktu sekolah. majikan mama itu jago berenang. sampe piala nya banyak banget. Tapi, karna udah dewasa majikan mama gak berenang lagi dan sekarang jadi bos diperusahaan besar. hebat kan?!" tukasku antusias.


"Jadi,majikan mama mau beliin Andi sepatu?" tanyanya sinis.


"Ih kok kamu tahu sih? bukan beliin,tapi lebih tepatnya dia kasih kamu hadiah." mendengar kata hadiah, tubuh Andi sontak berbalik kearahku penuh tanya


"Hadiah?" tanyanya lagi. Aku mengangguk antusias. kemudian berdiri dan mengambil kotak sepatu yang kusembunyikan di dalam paper bag.


"Ini dia hadiahnya,coba Andi buka?!" perintah ku. Tanpa basa basi Andi segera membuka kotak kecil itu, dia melupakan kemarahannya padaku tadi. dan hanya fokus pada hadiah didepannya itu. aku tersenyum melihat bagaimana Andi begitu senang dengan pemberian dari Mas Sandy itu.


"Waaah! ini sepatu bagus ma,teman Andi si Arfan sering pake sepatu ini!" Cerocosnya. Aku tahu siapa itu Arfan, teman sekelas Andi yang orang tuanya terbilang dari kalangan atas.


"Reyhan pasti Iri kalo tahu Andi pake sepatu baru ma," timpalnya lagi

__ADS_1


Aku hanya mengulum senyum,ada sedikit perasaan lega tapi juga sakit yang datang bersamaan didalam batinku. Seandainya kamu memiliki ayah yang begitu perhatian terhadapmu, kamu tak akan mungkin kekurangan kasih sayang. maafkan mama yang hanya bisa memberimu sedikit kebahagiaan tanpa bisa memberimu sepenuhnya seperti yang kamu inginkan.


••••


__ADS_2