
Sepulang dari rumah sakit Aku segera membawa Andi kembali ke rumah. memberinya makanan dan obat yang diberikan dokter Hasan tadi.
"Andi istirahat ya, biar cepet sembuh!" Aku mengompres dahinya agar panasnya segera turun.
"Mama tidur juga ya ma," pintanya lalu memegang tanganku erat.
Aku tersenyum tipis,ku elus kepalanya lalu berbaring disamping Andi.
menghadapi hal semacam ini sendirian sudah biasa bagiku. Bahkan dulu lebih sulit,saat Andi sakit aku tak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli obat. jangankan untuk Pengobatan Andi. untuk makan saja,kami sangat kesulitan.
Bergantung pada seorang pria yang katanya disebut sebagai pria paling bertanggung jawab terhadap hidupku dan Andi nyatanya tak menghasilkan apa-apa. kami tetap saja kesulitan. Apalagi Suamiku itu lebih senang menghabiskan waktu diluar rumah. berjudi hingga balap motor sepertinya sudah menjadi hobi yang mendarah daging baginya.
Jika ku ingat bagaimana dulu aku bisa menikah dengannya,sungguh hal yang sangat menjijikan untuk ku ingat.
Orangtua ku adalah tipe orang tua yang kolot dan kuno. karna suamiku sangat menginginkan ku untuk menjadi istrinya, dia pun membuat dan menyebarkan berita bohong pada warga di kampung. bahwa aku telah ternodai karna perbuatannya.
Dan tanpa menanyakan kebenarannya padaku. Ayahku segera memintanya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan nya. Aku yang kala itu terdesakpun tak bisa berbuat apa-apa. Fitnah di seantero kampung sudah lebih dulu menyebar dan membuat orangtua ku Malu dan tak punya muka.
Menangis,..
Dulu memang aku selalu menangis, mengadu pada Tuhan atas ketidak Adilan takdir hidupku.
mempertanyakan Apa sebenarnya maksud dibalik semua kejadian tragis yang menimpa ku ini.
Gunjingan,hinaan serta pandangan-Pandangan mata dari mereka yang menganggapku hina sudah cukup membuat duniaku sempit.
Butuh waktu lama hingga Aku berani menyuarakan ketidakadilan yang ku alami pada suamiku. mengabaikan setiap tindakan kasarnya dan ku jadikan itu cambuk agar aku bisa bertahan membesarkan Andi sendirian.
Dan pada akhirnya, kematian lah yang jadi pengadil atas kebuntuan Nalarku. disaat Aku tak bisa lepas dari ikatan yang membelenggu kehidupanku. Tuhan membawa serta cinta suamiku ke alam yang kekal.
Aku bukan wanita yang tak memiliki hati dan Mensyukuri setiap bencana yang sudah menimpa orang yang ku benci.
Ada sekelumit kekhawatiran setelah kepergiannya,yaitu Andi.
Anakku bergelar yatim,itu yang ku sesalkan.
•••
Suara kicauan burung dibelakang rumah terdengar begitu bising hingga membuatku mengernyit beberapa kali. sepertinya semalam aku terlelap disamping Andi. hingga saat ku buka mata,sinar mentari sudah terlihat cukup tinggi menandakan bahwa waktu sudah pagi. Namun rasanya tubuhku malas untuk beranjak dari tempat tidur.
Drrrttt.. Drrrtttt..
Suara getaran yang berasal dari ponselku membuatku tersadar.
"Astagfirullah,aku kesiangan!" Aku memekik lalu menoleh pada Andi. ku sentuh dahinya,untuk memastikan jika demamnya sudah reda.
"Alhamdulilah,demamnya udah turun"
__ADS_1
Aku beranjak dari tempat tidur.
Ku gapai ponselku lalu ku lihat siapakah orang yang sibuk menelpon ku sepagi ini.
"Mas Sandy?!" Desisku kaget saat melihat ada 10 panggilan masuk darinya.
"Ya ampun! aku lupa kasih tahu bi Marni kalo hari ini aku izin gak masuk." Aku menatap layar ponsel dan segera ku hubungi Bi Marni untuk meminta izin.
"Semoga saja Mas Sandy gak marah," Gumamku melihat jam dinding yang menunjukan pukul 8 pagi.
"Halo bi,maaf aku baru telepon!" tukasku ragu saat Bi Marni mengangkat panggilannya.
"Ya allah Lis, kamu kemana aja? mas Sandy sampe turun dari kamar cuma buat nanyain kamu udah datang apa belum! kamu masih di rumah Lis?" tanyanya heran karna tak biasanya aku seperti ini.
"Sekali lagi maaf bi, hari ini saya boleh izin gak? Andi lagi demam,saya gak bisa ninggalin dia sendirian di rumah!" jelasku penuh sesal.
"Innalilahi,Anak kamu sakit? udah di periksa ke dokter?" tanyanya terdengar cemas.
"Udah bi. jadi sekarang aku bisa izin kan? tolong bilang sama mas Sandy yah bi?!" aku memohon.
"Ya udah deh,kalo anak kamu sakit. bibi juga gak bisa apa-apa!" Tukasnya tak enak hati.
"Terima kasih Bi. Bi Marni emang paling baik deh!" sanjungku lega.
Aku menutup telepon lalu kembali menemui Andi. setelah melihat dia begitu terlelap aku segera beranjak menuju dapur. ku buatkan dia bubur kacang dan sup hangat kesukaannya.
Lagi-lagi rasa penyesalan itu muncul, sampai kapan aku akan terus menelantarkan Andi?
Kapan Aku bisa memberikan kebahagian Utuh untuknya?
Aku menghela nafas berat, entah bagaimana nantinya masa depan Andi. apakah akan secerah Harapanku?
atau bisakah setinggi anganku?
Aku memang harus bekerja Ekstra keras untuk hal itu,Menepikan prasangka orang-orang bahwa aku tak akan sanggup menghidupi anakku seorang diri. Bagiku tak ada yang tak mungkin selama aku mau berusaha untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi besar ku lewat Andi.
TING,
ponselku kembali berbunyi,sebuah pesan singkat masuk dari Mas Sandy.
#Teh Alis kemana? saya belum sarapan?!"
Aku menatap sinis isi pesan tersebut, dasar manja. sehari saja aku libur masa iya tak bisa.
Lagipula Mas Sandy harus terbiasa tanpaku. toh,nantinya Aku juga akan pergi dari rumah itu.
Aku menimbang cukup lama,haruskah ku balas pesan nya ini? tapi Aku harus bilang apa? Apa aku harus jujur, jika aku tak bisa bekerja karna Andi sakit? Ah, aku takut mas Sandy malah memperpanjang masalah dan berakhir dengan perdebatan alot. Ku biarkan saja pesan itu, bukankah aku sudah meminta izin pada Bi Marni. biar Bi Marni saja yang menjelaskan semuanya.
__ADS_1
Aku beranjak untuk membersihkan seisi rumah. saat aku membuka pintu ku lihat di depan halaman rumah Bu Dewi,ada sebuah motor yang tak ku kenali terparkir disana.
"Siapa pagi-pagi begini bertamu?" Aku bergumam sembari menyapu lantai.
Ku lihat Seorang pemuda keluar dari dalam rumah Bu dewi dengan pakaian rapi seperti orang yang hendak berangkat bekerja. disusul kemudian bu Dewi yang ikut mengantarnya didepan teras sambil berbincang.
Siapa pemuda itu? aku baru kali ini melihatnya. apakah dia saudara bu Dewi? Rasanya Aku hafal betul siapa saja keluarga bu Dewi yang sering berkunjung.
"Alis, kamu gak kerja?" tanya bu dewi saat melihatku didepan teras.
"Enggak bu, Andi lagi sakit." sahutku membalasnya dengan senyuman.
Bu Dewi dan si pemuda keluar dari halaman menuju jalan.
"Lis, kenalin! keponakan nya mas yanto dari malang!" Bu Dewi tampak menarik 'paksa' pemuda berparas manis itu mendekati teras rumahku.
"Oh keponakan nya pak yanto. pantesan gak pernah liat!"
"Saya Erwin teh,Bude banyak cerita soal teteh sama saya!" Selorohnya mengulurkan tangan.
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya. Hal Apa yang mungkin dibicarakan Bu Dewi tentang diriku padanya.
"Alis," Aku menjabat tangannya singkat.
"Mas Erwin kerja?" tanyaku padanya
"Iya Lis, ngumpulin modal buat nikah. umur hampir 30 tahun tapi masih betah melajang!" sahut Bu Dewi.
Mas Erwin nampak tak nyaman dengan perkataan bibinya itu.
"Jaman sekarang memang gak gampang cari pasangan bu. kita harus pinter-pinter milih. iya kan mas!" Selorohku mencoba membantunya.
"Ah! kalo mikirnya kaya gitu. bisa-bisa jadi jomblo seumur hidup Lis" celetuk bu Dewi.
"Bude, Saya berangkat kerja dulu. Alis saya permisi!" Tukas mas Erwin meninggalkan kami dengan bergegas. sepertinya dia tak nyaman dengan 'Obrolan' bibinya sendiri.
"Ya sudah, kamu hati-hati!"
Aku dan bu Dewi menatap kepergiannya.
"Mas Erwin mau tinggal disini bu?" tanyaku
"Sepertinya sih gitu,mas Yanto yang minta. yah,siapa tahu di sini dia dapet jodoh. kamu juga masih belum punya pendamping kan Lis?" bu Dewi menatapku penuh harap.
Aku menyeringai bingung mendengar celetukannya yang menurutku tak masuk akal itu.
• • • • •
__ADS_1