PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•58


__ADS_3

"Rahma, Sinta?" Aku bergegas membawakan pesanan mereka.


"Kalian kesini juga?" tukasku antusias.


"Iya, soalnya kita mau lihat kedai baru yang katanya lagi rame. Aku pikir kamu Gak kerja disini Lis!" seloroh Rahma sembari memelukku penuh rindu.


"Duduk disini!" Perintah Sinta.


Aku menoleh sekeliling,


"Gak usah takut! duduk sebentar aja!" pintanya lagi.


"Oke. baiklah," aku duduk dengan ragu.


"Heh! kamu kenal mas Erwin?" celetuk Rahma tiba-tiba.


"Iya. dia keponakannya Bu Dewi. tetangga depan rumah. kenapa?"


"Dia ada main ke pabrik. dan langsung nyari aku dong! dia bilang aku dapat salam dari kamu Lis. kok bisa?" tanyanya heran.


Aku terkekeh.


"Iya, soal itu aku yang minta sama dia. gimana? mas Erwin baik kan?!" godaku.


"Erwin? dia kerja di perusahaan kita?" tanya Sinta tak mengerti.


"Dia kerja dibagian kantor. tapi waktu kunjungan ke pabrik dia nyari aku. hampir semua orang pabrik tahu soal itu. bikin malu deh!" protes Rahma.


Aku hanya tertawa geli melihat ekspresinya. Aku memang senang menjodohkan Rahma dengan orang -orang baik yang ku kenal. berharap dia mau membuka hatinya setelah sekian lama menjadi jomblo.


"Kamu enak ketawa Lis,aku yang malu!" dengusnya merangkulku gemas.


"Kok aku gak kenal Yah? yang mana sih? " Sinta masih tak paham dengan sosok yang kami bicarakan.


"Kalo kamu gak mungkin kenal sama dia. dia bukan dari kalangan bos!' celetuk Rahma seperti sudah paham dengan sifat Sinta yang hanya kenal pada orang yang memiliki jabatan saja diperusahaan.


"Iya sih. Aku juga lagi senang banget sekarang. kantor jadi kembali hidup setelah bos kita balik kerja lagi."


DEG!


aku menatap Sinta agak lama. bos yang dimaksudnya pastilah Mas Sandy. Namun sepertinya Sinta tak tahu jika akulah yang merawatnya saat mas Sandy sakit.


"Wah? serius? jadi bener ya gosipnya dia udah balik kerja? tapi kok,dia belum berkunjung ke pabrik sih? kita kan juga mau lihat." Rahma memanyunkan bibirnya lesu.


"Mana bisa? dia sibuk! sehari sampe 4 kali rapat dan itu pun dengan orang-orang yang berbeda. maklumlah selama dia sakit perusahaan jadi terbengkalai. hanya pak Ivan yang serius bekerja disana." jelasnya.


Aku termangu mendengar penjelasan darinya. Apa mungkin mas Sandy sangat sibuk hingga tak memiliki waktu untuk mengabariku. Lalu bagaimana dengan kondisi kesehatannya? apa dia benar-benar sudah pulih? kini aku mulai cemas dengan kondisinya.


"Pak Ivan? bukannya Wakil CEO itu bu Rahayu yang terkenal judes itu ya? kok pak Ivan yang malah sibuk?" tanya Rahma penasaran.


"Bu Rahayu mana bisa urus perusahaan. dia hanya bisa menghabiskan uang!" jelas Sinta dengan gelagat sinisnya.


Mendengar Sinta membahas pak Ivan dan bu Ayu. aku jadi teringat saat kami bertemu dirumah mas Sandy waktu itu.

__ADS_1


"Sekarang gimana kondisi Bos kalian? apa dia udah benar-benar sembuh?!" tanyaku tanpa sadar.


Rahma dan Sinta saling melirik dan menatapku bersamaan.


"Bos yang mana?!" tanya keduanya.


Aku terperanjat kaget.


"Yah itu,- bos kalian yang baru masuk itu! katanya dia sakit kan?" tanyaku gelagapan.


"Oh, Pak Sandy? dia kayanya baik-baik aja. meskipun kata OB di kantor. dia sering memijat kakinya jika sudah jalan kaki cukup jauh."jelas Sinta yang memang tahu pasti kondisi di kantor.


"Kenapa dia masuk kerja Yah. kalo masih sakit?" tanya Rahma heran.


"Perusahaan hampir Defisit Anggaran karna selama dua bulan pak Sandy absen. bayangin aja kalo sebulan lagi dia gak masuk. bangkrut deh tempat kerja kita." Tukasnya.


Ada sedikit kekhawatiran yang kini membayangiku. bagaimana jika mas Sandy sakit lagi? apa dokter Hasan tidak menemuinya lagi? batinku penuh tanya.


"Kak! ada 2 pesanan untuk meja nomor 6 dan 12!" seru Aisyah mengagetkanku.


"Oh. iya maaf. Teman-teman aku gak bisa lama! kalian lanjutkan aja ngopinya. gak usah dibayar. aku yang traktir!" jawabku seraya berlalu meninggalkan keduanya.


"Thanks ya Lis!' seru Sinta.


Aku segera menuju meja bar dan membawakan pesanan untuk para pelanggan. waktu bergulir begitu cepat. hingga jam kerja tiba. Sinta dan Rahma akhirnya pamit untuk kembali bekerja.


Mengingat obrolan Sinta tadi, kini aku jadi semakin cemas. apa perlu ku hubungi mas Sandy,sekedar untuk memastikan kondisi kesehatannya saja? tidak kah itu berlebihan? pikirku.


"Kalau khawatir, telepon aja! kalau Gak berani telepon,setidaknya kirim pesan!" goda Aisyah seolah tahu jika aku tengah gusar.


"Memangnya kamu tahu apa?" ledekku padanya.


"Ais Gak tahu banyak. tapi aku yakin kakak lagi bingung kan?! harus menelepon atau enggak?" terkanya.


"Enggak kok. kakak cuma lagi ngecek pesan doang. udah sana kerja lagi!" Aku mengusirnya segera.


"Telepon aja kak! telepon!" teriaknya sambil berlalu meninggalkanku.


Aku menghela nafas dalam. ku tatap ponselku dan ku beranikan diri untuk mengabarinya.


'#Mas apa kabar? Gimana kondisi kesehatan mas Sandy? semoga baik-baik saja!"


Aku menghela nafas lega. semoga saja mas Sandy membaca dan mau membalas pesan dariku. dengan begitu, aku tak akan terlalu khawatir soal kondisinya.


Semua pegawai tampak riuh didepan. Karna penasaran akupun segera keluar dari dapur bersama dua orang koki lainnya.


"Ada apa?" tanyaku pada Metta.


"Lihat, pak Ivan bawaan kita buah-buahan banyak banget. dia bilang kita boleh bawa pulang setelah selesai bekerja!" jelasnya.


Ku lihat pak Ivan dan Ikhsan tengah sibuk di depan parkiran sembari menurunkan beberapa peti yang ku yakini berisi buah-buahan itu.


"Banyak banget!" tukasku kaget.

__ADS_1


Penilaianku sedikit berbeda melihat bagaimana pak Ivan memperhatikan pekerjanya. tapi aku juga tak bisa mengambil kesimpulan begitu saja. dan mengatakan dia baik dalam segala hal.


"Kak! Bantuin!" teriak Aisyah dari luar.


Aku dan Metta segera menghampirinya.


Sebetulnya aku berharap tak bertemu dengan pak Ivan hari ini. tapi mau bagaimana lagi. dia pemilik kedai ini, mana bisa aku bersikap begitu.


Aku bersikap acuh seakan aku tak melihat pak Ivan dan hanya fokus pada barang yang harus ku bawa saja,


"Alis, jika kamu mau. kamu bisa membawa beberapa buah-buahan ini ke rumah,untuk putramu!" celetuknya tiba-tiba.


Aku menoleh padanya kaget. tak menyangka jika dia akan bicara padaku dan lagi darimana dia tahu kalau aku memiliki seorang anak.


"Iya." jawabku singkat dan segera berlalu menuju ke dalam gudang.


"Liat deh,pak Ivan baik banget kan? sampe anak teh Alis aja di perhatiin!' tukas Aisyah.


"Baik gimana. justru kakak heran, kenapa pak Ivan tahu soal anak kakak!" jawabku setengah berfikir.


"Oh ya? aku fikir pak Ivan sudah kenal teh Alis dengan baik. makanya dia bilang begitu." Aisyah menatapku bingung.


"Kamu jangan mikir macam-macam! apa yang ada dikepala kamu itu, semuanya gak bener" sindirku meyakini jika Aisyah masih berfikir hal-hal aneh tentang hubunganku dengan pak Ivan.


"Ais, masih Gak percaya kak. kalau kalian Gak ada apa-apa!" celetuknya terkekeh.


"Ck!" Aku berdecak meliriknya ketus. dan Aisyah hanya menanggapi sikapku dengan gelak tawanya.


•••


Sore ini kedai sudah mau tutup,Aku dan Metta mendapat giliran untuk piket. dan kami hanya tinggal berdua saja. sementara pak Ivan sudah pergi sejak tadi siang saat selesai mengantarkan buah-buahan itu ke kedai.


"Sepi juga,kalo tinggal berdua gini ya!" tukasku pada Metta yang nampak sibuk merapikan gorden kedai.


"Iya benar. rasanya kaya ada yang merhatiin kita ya kak!" celetuknya lagi, dan seketika mampu membuat bulu kuduku meremang.


"Ya udah. kita harus buru-buru kalo gitu!" aku mematikan lampu bar dan lampu dapur. hingga tinggal lampu utama yang dibiarkan menyala.


Kami keluar dari kedai dan menyerahkan kunci pada security yang akan bertugas nanti malam.


Aku menatap jam ditangan. tepat pukul 4.30 sore. lampu-lampu dijalanan sudah tampak menyala. langit kali ini terlihat gelap tanda akan turun hujan deras. dan aku harus bergegas agar tak kehujanan saat tiba di rumah.


"Kak Alis yakin Gak mau aku antar!" tanya Metta sekali lagi.


"Gak usah, ta. kakak naik angkutan umum aja. lagian kamu kan jauh. nanti kehujanan dijalan bisa repot!" tolakku.


"Ya udah deh. kalau gitu, aku pamit pulang duluan ya!" Tukasnya segera memacu motornya meninggalkan kedai.


Aku berjalan cepat menuju halte. berharap segera mendapatkan angkutan umum. agar aku tak terlambat pulang ke rumah.


Namun aku terpaku sesaat.


"Ya allah. ketinggalan!" Aku baru menyadari jika buah-buahan yang sudah ku siapkan untuk Andi tertinggal dimeja kasir. Ku tatap jauh jalanan menuju kedai. malas rasanya jika harus kembali. atau ku biarkan saja. dan ku ambil lagi esok hari?

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2