
Menjadi anak satu-satunya dari keluarga kaya yang di tinggal meninggal oleh kedua orangtua karena kecelakaan. membuatku menjadi orang yang tak mudah percaya pada siapapun.
Isu media yang mengatakan bahwa ada sabotase atas kecelakaan mereka. membuatku semakin merasa ketakutan dan juga cemas. Ditambah lagi soal rumor perselingkuhan mama dan dokter Hasan yang tiba-tiba mencuat setahun setelah kepergian mama. Aku bahkan pernah mempertanyakan tentang hal itu pada dokter Hasan secara pribadi.
Dan tentu saja dokter Hasan menyangkal, baginya kesetiaannya pada keluarga kami murni karena pekerjaan dan tanggung jawab. bahkan dokter Hasan sempat mengirimiku sebuah video percakapan pribadinya dengan papa. dari situ aku percaya, jika dokter Hasan tak mungkin berbuat hal licik di belakang papa.
Namun tetap saja, semua kekisruhan itu masih saja berbuntut hingga saat ini. bahkan tante Ayu sendirilah yang selalu mengungkit-ungkit masalah kelam itu, yang sama sekali tak pernah terbukti.
Mengurus perusahaan ditengah ketidak percayaan semua pihak,membuatku harus ekstra keras berusaha meyakinkan mereka. mencari relasi yang mau bekerja sama denganku.
Sementara tante Ayu lah yang selama ini menikmati hasil kerja kerasku. tanpa menghargainya sama sekali. baginya aku masih anak kecil yang belum pantas memegang kendali sepenuhnya atas perusahaan itu.
Wasiat papa memang mengatur agar aku menjadi direktur utama saat usiaku 25 tahun. tapi aku terpaksa berkecimpung di dunia bisnis sejak usia 20 tahun. membuat tante Ayu harus rela membagi kekuasaannya atas perusahaan lebih dini.
Meskipun dia memegang saham perusahaan sebanyak 20 persen,tetap saja baginya itu tak cukup. dan seringkali sifat iri nya itu yang membuat kami tak bisa duduk bersama di meja kerja.
•••
"Saya dengar,ada karyawan baru bernama Erwin yang masuk hari ini? tolong kamu awasi!" pintaku pada Nita.
Meninggalkan sekelumit kisah pelik ku di perusahaan. aku kembali di sibukkan dengan masalah baru.
Erwin pemuda yang akhir-akhir ini Seringkali disebut oleh Alis. pemuda itu adalah keponakan dari pak Yanto salah satu staf ku di pabrik yang juga tetangga Alis. benar-benar kenyataan yang membuat aku tak nyaman.
Bagaimana bisa ini adalah sebuah kebetulan? aku yakin, jika pak yanto dan istrinya ingin sekali menjodohkan Alis dengan keponakannya itu. enak saja!
Aku tersenyum remeh menatap layar laptopku. tak ada seorang pun yang boleh mendekati Alis.
Sebisa mungkin aku harus kembali ke kantor. untuk melihat bagaimana dia bekerja. agar aku punya alasan untuk membuatnya menjauh dari 'milikku'.
Terdengar licik, tapi tak ada salahnya menggunakan kekuasaanku untuk melindungi 'milikku' bukan?
Sejujurnya kondisi kakiku belum sepenuhnya pulih. aku hanya bersikap kuat saja jika berhadapan dengan Alis. aku tak ingin terlihat lemah dimatanya.
"Memangnya mas Sandy yakin mau ke kantor?" suara merdunya mengusikku dipagi hari lewat sambungan telepon.
__ADS_1
"Saya harus melihat kinerja para karyawan teh. kamu tahu sendiri, jika tak ada saya,mereka akan bekerja sangat lelet!" desahku.
"Hm, tapi kalau mas Sandy gak kuat jalan mending gak usah mas. saya takut mas Sandy kenapa-kenapa!" lirihnya membuatku semakin gemas jika dia tengah khawatir seperti ini.
"Saya harus kuat teh! semua demi kamu dan Andi," godaku.
"Saya serius mas, kenapa malah bercanda!!!" dengusnya.
Aku yakin saat ini dia tengah tersipu dengan pipi yang merona merah.
"Ya udah iya. saya akan Nurut sama perawat terbaik saya. kalau saya gak kuat,saya pasti akan segera istirahat!" tandasku akhirnya memilih mengalah.
"Ya sudah, hati-hati! saya harus membantu Andi bersiap ke sekolah! pungkasnya mengakhiri obrolan kami.
Setengah jam bersiap,aku kembali ke kantor. di sambut oleh beberapa karyawan dan Tentu saja sekretarisku Nita. Namun anehnya aku tak melihat sosok Ivan di kantor.
"Selamat datang pak! selamat bekerja kembali!" sambut Nita antuasias.
"Terima kasih. apa kalian bekerja dengan baik selama saya absen?" ku tatap sinis wajah-wajah tegang itu.
"Siap pak! semuanya aman!" sahut Anwar tegas.
"Tenang saja! saya tak akan memecat kalian untuk sekarang" godaku.
Ku tatap satu persatu wajah karyawan yang menyambutku. Ada seorang gadis yang ku ingat dulu dia ada di pabrik yang sama dengan Alis.
"Kenapa pak?" seloroh Nita seakan tahu apa yang tengah aku pikirkan.
"Kamu ikut saya!" perintahku pada Nita.
Ku langkahkan kakiku menuju ruang kerja yang selama sebulan penuh itu aku tinggalkan. Rasanya sudah sangat rindu dengan kondisi ruang kerjaku.
"Silahkan pak! semuanya sudah bersih!" Nita mempersilahkan.
"Duduklah sebentar!" perintahku.
__ADS_1
Nita menarik kursi pelan lalu dengan penuh rasa penasaran menatapku.
"Gadis yang berbaju coklat tadi siapa?"
"Oh, dia Sinta pak. dia karyawan dari pabrik yang memang sudah dipindahkan ke kantor 3 minggu yang lalu. saya lupa mengajari bapak. memangnya kenapa pak?"
"Oh. saya cuma penasaran saja. apa kinerjanya bagus?"
"Bagus pak! dia juga sangat rajin." imbuh gadis berkulit sawo matang itu.
"Bagaimana dengan Ivan? apa yang dia lakukan selama saya tak ada? dan dimana dia sekarang?" selidikku.
"Pak Ivan. dia bersama staf pemasaran pak. hari ini kebetulan ad kunjungan keluar kota bersama Bu Ayu. sepertinya siang ini mereka sudah kembali." jelasnya.
Memang sangat mencurigakan jika mendengar Ivan selalu bersama tante Ayu untuk mengurus pekerjaan diluar kota. Namun aku belum menemukan bukti apapun tentang keduanya.
"Lalu dimana orang yang saya tanyai ke kamu? apa dia tidak masuk hari ini?" aku bertanya sedikit ragu. tak ingin Nita mencium gelagat aneh dari pertanyaanku
"Maksud bapak Erwin? hari ini dia ikut kunjungan rutin ke pabrik bersama staf lainnya. perlu saya hubungi?"
"Gak usah. Nanti siang, suruh dia ikut rapat!" pintaku.
Nita menatapku heran. mungkin ini tak biasa baginya. membawa karyawan baru untuk mengikuti meeting sebenarnya bukanlah gaya ku.
"Bilang saja, saya sedang melakukan penyeleksian atau apapun. terserah kamu." tandasku
"Iya pak. baik. ada lagi pak?"
"Itu saja. Silahkan kembali ke meja kamu! saya mau melihat beberapa file yang masuk dari klien-klien kita!" perintahku.
"Saya permisi pak!" Nita segera menghilang dibalik pintu.
Orang seperti apa Erwin ini, hingga membuat Alis beberapa kali menyebut namanya?
Helaan nafasku mengakhiri pertanyaan dari otakku yang sama sekali membuatku tak nyaman akhir-akhir ini.
__ADS_1
Dan semua ini karena rasa ketakutanku yang berlebihan jika suatu saat Alis akan berpaling, sama halnya seperti yang dilakukan Vina padaku.
• • • • •