PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•35


__ADS_3

"Andi,gimana sekolahnya? Andi seneng!" tanyaku pelan.


Andi termangu sesaat sebelum kemudian melahap bubur di sendoknya.


"Seneng ma!" Tukasnya ragu.


"Temen-temen gak ada yang jahilin Andi kan? atau Andi nakal ke temen Andi?"


"Enggak," sahutnya lagi.


Aku tersenyum,sepintar apapun dia berbohong aku tentu tahu yang sebenarnya dia sembunyikan dariku.


"Andi gak bohong kan? kalau ada apa-apa Andi cerita yah sama mama! Andi lagi marah, Andi lagi kesel, atau Andi lagi sedih,Andi cerita aja semuanya sama mama!" bujukku


Andi menatapku dengan seksama.


"Andi mau cerita sama mama kan?!" tanyaku penuh harap.


"Andi Benci karna ayah meninggal ma! jadi mama harus kerja. Andi sendirian di rumah! Andi gak suka!" Cerocosnya dengan nada kecewa. Andi tertunduk membiarkan makanannya.


Aku kaget mendengar jawaban Andi. Bahunya berguncang, Andi menangis. tapi dia tak menunjukkan itu dihadapanku.


Aku mendekati Andi, aku duduk bersimpuh disampingnya.


"Andi marah, iya nak? maafin mama ya sayang!" tukasku menarik lembut tangannya.


"Mama juga gak mau ninggalin Andi,tapi kalo mama enggak kerja! Gimana sama sekolah Andi? Gimana sama hidup kita ke depan nak!" tukasku lirih.


Andi menoleh pelan kearah ku. wajahnya sembab karna air mata.


"Andi mau maafin mama,nak!" Pintaku memohon.


Andi lalu menyeruak ke dalam pelukanku. dia menangis tersedu-sedu. begitupun aku yang larut dalam kekalutan. meskipun Andi anak yang baik dan cerdas tapi Andi tetaplah masih sangat kecil, dia belum bisa menerima semua ini dengan lapang. ketiadaan orang tua pastilah membuatnya terguncang. merasa terabaikan. aku sadari itu. tapi sekali lagi, aku pun tak tahu harus berbuat seperti apa untuk membahagiakan Andi.


Aku hanya sebelah sayap rapuh yang mencoba sembuh. Mencari jalan keluar atas kedukaan ku sendiri. tapi lagi-lagi aku gagal. Aku malah mengorbankan kebahagiaan putraku Satu-satunya.


•••


Semalam aku bicara banyak dengan Andi,hingga dia terlelap di pelukanku.

__ADS_1


Andi memintaku untuk selalu ada setiap hari minggu bersamanya. Akupun berjanji kepadanya untuk tidak terlalu lama bekerja dan memilih menghabiskan banyak waktu untuknya. meskipun aku sadar, itu adalah salah satu permintaan tersulit untuk ku kabulkan. tapi setidaknya, aku akan berusaha memenuhi keinginannya dan memohon pada sang maha pemurah, agar bisa mempermudah jalanku.


Sepanjang perjalanan menuju tempat bekerja, aku terus saja mengusap mataku. semalam kami berdua menangis cukup lama, dan itu membuat kedua mataku bengkak. Aku bahkan lupa mengompresnya. Aku menoleh pelan saat ada sebuah kaca jendala toko yang lumayan besar, sekedar untuk memeriksa seberapa bengkak mataku.


"Untung aja gak terlalu keliatan!" gumamku lega.


"Kak nyari lowongan pekerjaan ya? kebetulan kita lagi butuh karyawan ka!" seloroh sebuah suara merdu yang ternyata keluar dari dalam toko dengan menyodorkan kertas formulir padaku.


Gadis berparas Babyface itu menatapku penuh harap.


Akupun balas menatapnya lama, lalu beralih mengintip ke dalam toko. ternyata itu sebuah kedai kopi yang masih baru dan belum dibuka. Seingatku dulu tempat ini adalah toko perabotan rumah. sejak kapan berubah jadi kedai kopi.


"Gimana kak? kalau belum bisa masuk sekarang! minggu depan juga boleh! kebetulan kami baru akan buka kedainya minggu depan!" tukasnya lagi.


Aku menatap formulirnya bingung,kedai Ini sebetulnya lebih dekat dari rumahku ketimbang bekerja ke tempat lain. kebetulan juga, kontrak kerjaku bersama mas Sandy sudah akan berakhir pekan ini. Apa ini jawaban dari do'aku?


"Saya ambil formulir nya dulu ya!" tukasku ragu.


"Silahkan kak! disana juga ada nomor telepon yang tertera. kalau ada yang mau ditanyakan,silahkan hubungi nomor tersebut! semoga bisa bergabung!"


"Terima kasih. Oh iya,nama kamu?"


tanyaku mengulurkan tangan.


Aku tersenyum tipis, pembawaannya yang ceria membuatku ikut bersemangat.


"Kalau gitu, sisain Reward nya satu buat kakak ya!" aku balik menggodanya lalu berjalan meninggalkan tempat itu seraya melambaikan formulir Yang ku pegang.


Setibanya di rumah mas Sandy aku datang tepat pukul 7. Baru saja aku akan mengetuk pintu. Bi Marni lebih dulu membukanya dan menarikku segera.


"Eh! ada apa Bi?" tanyaku kaget.


"Alis, kenapa kamu telat sih? liat tuh!" Bi Marni menunjuk ke arah ruang makan. Aku mengikuti arahannya. ku lihat mas Sandy sedang duduk diam di meja makan. tapi dia sama sekali tak menyentuh makanannya.


"Itu mas Sandy kenapa bi?" tanyaku polos.


Bi Marni menoleh kearah ku seakan menahan kekesalahnnya.


"Kata Mas Sandy hari ini kalian mau sarapan bersama. makanya dia minta dimasakin banyak makanan! dia nunggu kamu lis," jelasnya.

__ADS_1


"Hah!" tukasku setelah teringat akan pesan singkat mas Sandy yang memintaku datang lebih awal.


"Ya udah sana samperin! jangan lupa minta maaf!" Bi Marni mendorongku.


"Eh, bentar bi. Bu Ayu gimana?" tanyaku cemas.


"Bu Ayu udah berangkat dari jam 5 pagi tadi. udah sana! kamu samperin dulu mas Sandy nya!" perintah bi Marni sembari mengacungkan jempolnya.


Aku berjalan bingung mendekati meja makan.


"Permisi mas, maaf saya telat! saya lupa kalo kemaren,-"


"Duduk!" titahnya dingin.


Aku menatap makanan yang tergelar di meja. benar-benar sangat banyak. dan kenapa dia melakukan semua ini? apa dia akan memakan semuanya? pikirku


"Ekehm," dehemannya seketika langsung membuatku menarik kursi dan duduk disebelahnya.


"Kenapa telat?" tanyanya tanpa menoleh ke arahku.


"Saya lupa mas, saya pikir mas Sandy bercanda!" aku menyeringai bingung.


"Kenapa kamu anggap semua perintah saya bercanda?" tanyanya sembari mendorong piringnya seperti sudah tak berselera untuk melanjutkan nya.


"Iya mas, maaf. Namanya juga lupa!" Sahutku menahan kesal.


"Makan!" perintahnya lagi.


Aku meliriknya sesaat, dia bahkan tak menoleh ke arahku. sudah pasti mas Sandy tengah marah. Aku beralih melihat menu makanan yang begitu banyak itu. kali ini aku tak mungkin menolak, meskipun sebenarnya perutku sudah sangat kenyang.


Aku mengambil sepotong omlette dan juga labu kukus. ku lihat mas Sandy hanya mengambil sepotong salmon dan kentang rebus.


"Sini mas,biar saya potongin!" Aku berinisiatif agar dia tak terlalu marah padaku.


Aku mengambil sendoknya dan memotongkan daging salmon untuknya,


Tapi kemudian mas Sandy memegang pergelangan tanganku,dan menatapku lama.


Lagi-lagi aku di hadapkan pada posisi seperti ini, dan itu sungguh membuatku tak nyaman.

__ADS_1


"Setelah memotongnya. seharusnya kamu menyuapi saya teh!" pintanya setengah memaksa.


• • • • • • • •


__ADS_2