
Hari Senin selalu saja jadi hari yang paling sibuk bagiku. Entahlah,meskipun aku sudah mempersiapkannya sebaik mungkin,tetap saja aku keteteran.
Sembari menyiapkan seragam buat Andi,mataku sibuk memantau air panas yang ku didihkan di atas kompor.
"Sayang,kamu nyisir Rambut sendiri bisa kan?! mama mau matiin kompor sebentar!" pintaku.
Andi mengangguk patuh dan segera mengambil sisir lalu berdiri tegak di depan cermin yang terpasang di pintu Lemariku.
Aku bergegas mematikan kompor lalu ku seduh teh yang sudah ku beri gula didalam gelas itu.
"Ma, Andi sudah rapi!" teriaknya dari dalam kamar.
Sebelum ku aduk teh nya,aku memastikan dulu apakah Andi benar-benar menyisir rambutnya dengan baik.
"Gini kan ma?" tanyanya menghadap ke arahku.
Aku terkekeh geli. benar saja dugaan ku, rambut bagian belakang nya malah jadi berantakan.
"Sini sayang, memang harus mama Yang nyisir rambut Andi!" godaku mencubit hidungnya.
Andi menyeringai melihat pantulan wajahnya dicermin.
"Andi belajar yang baik yah! jangan berantem! jangan bikin bu guru marah! jangan jahil sama teman Andi!" nasihatku.
"Iya ma," sahutnya mengangguk patuh.
•••
Aku menghela nafas dalam,ku lihat jam. tanganku dengan ragu. pukul 6.30 pagi.
Aku mengetuk pintu dapur,namun sayangnya Bi Marni tak memberi jawaban. Ku Coba membuka pintunya yang memang tak dikunci itu.
Aku merangsak masuk perlahan menuju dapur. tak ada seorang pun disana. mungkinkah bi Marni sedang sibuk menata meja makan. Aku berjalan mendekati pintu,namun langkahku terhenti saat ku dengar suara bu Ayu dari dalam.
"Apa sih hebatnya Si Alis itu? sampai-sampai Sandy membela dia daripada saya tante nya!" Gerutunya.
__ADS_1
"Maaf bu,kalau menurut saya mungkin karna kerja nya Alis bagus bu. dia juga telaten ngurusin mas Sandy." tukas bi Marni dengan raut sedikit cemas.
"Jadi menurut bibi, saya yang salah karna gak bisa urus Sandy? dia harusnya berterima kasih karna selama ini saya yang sudah membesarkan dia, hingga jadi seperti sekarang!" imbuhnya menahan kesal
"Saya gak pernah minta tante untuk urus saya! lagi pula, tante urus saya kan demi harta keluarga kita!" suara mas Sandy terdengar nyaring dari anak tangga.
Bu Ayu menoleh kaget dengan sahutan mas Sandy yang tak diduganya itu.
Akupun melotot tajam melihat kedatangannya yang tiba-tiba. ingin rasanya berhenti menguping obrolan mereka. tapi Aku benar-benar dibutakan oleh rasa ingin tahuku yang sangat besar.
Mas Sandy terlihat berjalan pelan menuju meja makan.
"Kamu jangan ngomong sembarangan! kamu fikir kamu bisa bicara begitu sama tante? setelah tante merawat kamu sampai sebesar ini?" dengus bu Ayu tak terima.
Mas Sandy duduk dengan santai dan menatap bu Ayu dengan tatapan penuh kebencian.
"Kenapa waktu itu tante gak kirim saya ke panti asuhan? atau biarkan saja saya hidup sendirian di L.A.? kenapa harus repot-repot berinisiatif merawat saya dengan dalih bahwa saya keponakan Satu-satunya tante? menjijikan!" desis mas Sandy membuang muka.
"Cukup Sandy! kamu bener-bener keterlaluan! omongan kamu makin hari makin buruk! gak menghormati tante sama sekali! tante salah apa sama kamu?!!" Bentaknya sembari bangkit dari kursi. kali ini Bu Ayu tampak berurai air mata.
"Karna tante udah bunuh papa dan mama!!!" Sulut mas Sandy emosi. mata nya berkilat penuh amarah.
"Itu semua bukan salah tante! kamu tahu sendiri kan? mereka berdua yang meminta berangkat dengan pesawat pribadi!!!" jelasnya seakan membuka kembali luka lama diantara mereka.
"Bu, udah bu! nanti ibu sakit!" Lerai bi Marni akhirnya membuat Bu Ayu pergi meninggalkan mas Sandy yang masih tertunduk penuh amarah.
Kejadian itu benar-benar membuatku tak nyaman. Tapi akupun tak dapat berbuat apa-apa dan hanya mematung dibalik pintu.
•••
"Lis kamu udah datang?" tukas bi Marni yang baru muncul dibalik pintu setengah jam kemudian.
Aku yang sejak tadi duduk di kursi menoleh kearah nya dengan tatapan cemas.
"Iya bi, saya kesiangan!" Tukasku berbohong. Aku tak ingin bi Marni khawatir terhadapku jika dia tahu aku mendengar pertengkaran pagi ini.
__ADS_1
"Bi,mas Sandy dimana?" tanyaku lagi.
"Ada di ruang makan! sebaiknya kamu nanti aja ke atas setelah dokter hasan datang!" perintah bi Marni.
Aku jelas melihat ada kegusaran di wajah bi Marni. Betapa hebatnya bi Marni yang bisa menutup rapat semua kegelisahannya selama berada di rumah ini. dia bahkan tak bercerita banyak tentang masalah mas Sandy dan Bu Ayu padaku. yang dia katakan cukup 'tidak tahu' dan menutup rapat apa yang selama ini dia dengar.
"Baiklah bi, lagi pula saya masih capek!" Sahutku beralasan.
"Lis, bibi tinggal sebentar yah! mau antar teh hangat buat ibu!" pamit nya Kemudian.
Aku menggangguk dan hanya duduk manis menatap kepergiannya. sedetik kemudian aku menatap seisi dapur. masih ada piring kotor yang belum di sentuh. lalu beberapa pakaian yang belum disimpan ke dalam mesin cuci.
Aku tersenyum tipis, sepertinya jiwa ku sebagai ibu rumah tangga memang sudah melekat kuat.
Aku bangkit dan memilin kedua lengan bajuku.
"Selamat bekerja Alis!" tukasku pada diri sendiri.
Sebetulnya kontrak kerja baruku dengan mas Sandy hanya sebatas membantunya terapi saja, tapi melihat pekerjaan bi Marni yang begitu banyak, aku jadi gak tega. lagipula bagiku ini hanya masalah kecil, dan bisa kubereskan dalam waktu satu jam saja.
•••
Ku dengar suara bel berbunyi dari arah pintu depan. tak berselang lama terdengar suara dokter Hasan mengucapkan salam pada mas Sandy.
Kedatangan Dokter Hasan membuatku sedikit lega. setidaknya itu bisa membuat mas Sandy sedikit melupakan sejenak pertengkarannya pagi ini.
"Lis, kamu di panggil dokter hasan ke kamar mas Sandy!" tukas bi Marni.
Aku yang baru selesai mencuci semua pakaian segera merapikan bajuku.
"Ya ampun! kamu ngapain lis? kenapa malah nyuci baju sih? itu kan tugas bibi!" Celetuknya kaget.
"Gak apa-apa bi, Lagian cuma sedikit kok bajunya!" Sahutku santai.
"Tugas kamu cuma ngurusin mas Sandy lis, gak usah pegang-pegang kerjaan di dapur! nanti kalo tangan kamu lecet,terus mas Sandy marah gimana?" Godanya.
__ADS_1
Aku mengernyit heran mendengar gurauan nya itu.
• • • • • • •