PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
SANDY HADIWIJAYA POV


__ADS_3

Memiliki Nama keluarga yang cukup berpengaruh di kalangan pebisnis tentu sangatlah menguntungkan.


Kita akan dengan mudah masuk dan menjajaki dunia bisnis tanpa perlu bersusah payah.


Hanya tinggal mengembangkan bisnis yang sudah ada menjadi lebih besar dan lebih kuat.


Dan itulah yang sedang ku coba jalani sekarang. menanggung beban berat di kedua pundakku sedari Muda.


Perusahaan Peninggalan Alm. Papa sedang berada di puncak karir saat beliau wafat. Umurku waktu itu mungkin baru sekitar 13-14 tahun.


Di tinggalkan oleh kedua orangtua karena kecelakaan mendadak. tentu menjadi pukulan berat untukku. Kecewa, marah, putus asa, hingga benci pada semua orang. Aku tiba-tiba merasa asing dengan duniaku. Bahkan aku menjadi asing terhadap Tante Ayu. keluargaku sendiri.


Aku sempat terbaring sakit hingga tak mau makan selama beberapa hari. dan hanya Bi Marni dan dokter Hasan lah yang ku percaya saat itu. bahkan hingga sekarang. Aku masih enggan membayangkan bagaimana hidupku tanpa adanya mereka.


Aku bertahan hidup hanya karena melihat ketulusan mereka saat merawatku. dokter Hasan bilang, ayahku meninggalkan aset yang sangat besar untukku dan aku tak boleh mengecewakannya.


Selama aku bersekolah,aku memilih masuk asrama yang dibangun atas kerjasama ayahku dan Teman-teman bisnisnya. mereka menyambutku dengan baik. memperlakukanku layaknya keluarga. Hingga tiba saatnya aku keluar dari zona nyamanku sebagai anak SMA. Dan Aku memilih tempat kuliahku sendiri. Bukan di luar negeri. tapi hanya universitas dalam negeri yang cukup ternama.


Awalnya aku ragu, Tapi aku memberanikan diri untuk mengambil langkah besar. berbaur dengan orang-orang baru yang tak mengenalku dengan baik. Dan benar saja, Tahun pertama aku kuliah, aku sama sekali buruk dalam pergaulan. Aku selalu dingin dan menatap sinis pada orang yang tak ku kenal.


Hingga akhirnya aku bertemu dengan Ivan. Ya, Ivan Putra tiri dari Dokter Hasan. Dia pindahan dari luar negeri. Kami dikenalkan oleh dokter Hasan hingga menjadi sahabat baik dan sangat dekat.


Selama 5 Tahun kami menjalani pertemanan yang cukup Baik. Bahkan sifatku mulai terbuka, sering keluar malam, sering menghabiskan waktu untuk berpesta dan bergaul dengan lingkungan yang 'Hangat'.


"Gilak, tadi seru banget 'Gak sih?" Ivan menukas sembari meneguk Bir di tangannya.


"Iya bener. si Robby nyiapin pesta yang benar-benar Apik." Aku tertawa nyaring sembari mengingat pesta di tepi pantai yang baru saja kami lalui bersama gadis-gadis cantik nan seksi tadi.


"Pulang Kemana lo sekarang?" tanya Ivan


"Gak tahu. males banget balik ke rumah!" Gumamku pelan.


"Ya udah. nginep di rumah gue aja!" ajaknya enteng.


Aku terpaku cukup lama. jika harus pulang ke rumah dokter Hasan dalam keadaan mabuk. dia pasti tak akan suka.


"Gak perlu. gue nginep di hotel aja" jawabku yakin.

__ADS_1


"Serius? kenapa? takut sama dokter Hasan? Ayolah, kita udah dewasa. dia juga pasti bisa memaklumi kondisi kita sekarang ini!" sahutnya.


Aku hanya tersenyum menanggapi jawaban Ivan itu. Ivan memang tak terlihat menaruh hormat pada ayah tirinya. tapi bagiku, dokter Hasan sudah seperti pamanku sendiri. tak mungkin aku menujukkan kondisiku sekarang. yang jelas-jelas akan membuatnya kecewa.


Setelah mengantarkan Ivan untuk pulang. Akupun bermalam di salah satu hotel bintang 5.


PING!


Ponselku berbunyi. sebuah pesan yang kulihat dari salah seorang gadis yang akhir-akhir ini rajin sekali mengirimiku 'sinyal' ketertarikannya.


Karena Bosan sendirian di hotel. Akupun akhirnya mengirimkan alamat dan nomer kamarku.


Aku sangat takut kesepian. dan yang ku lakukan sekarang itu, adalah bentuk pertahanan diriku menghadapi rasa takut.


"Kita minum?" Eva menuangkan wine


Aku tersenyum penuh hasrat.


"Cheers! " ku angkat gelasku tinggi-tinggi.


Pergaulan bebas yang ku jalani selama 5 tahun terakhir ini sama sekali tak membuatku menikmatinya. tapi semua ku lakukan tanpa alasan yang pasti.


Foreplay sebelum bercinta sudah biasa bagiku. hanya saja, yang tak banyak orang tahu. aku tak pernah benar-benar mengakhiri hubungan kami di atas ranjang. hanya sebatas bercumbu saja. dan kebanyakan wanita yang menghabiskan malam denganku, akan menggerutu dan kecewa atas sikapku yang katanya tak 'Adil' itu.


"Should we,...!"


Eva menarik kasar pakaianku. menelanjangi tubuhku hingga tersisa pakaian dalamku saja.


"I'm Sorry Eva. tapi sepertinya, kita lanjutkan lain waktu saja! aku lelah." Jawabku tanpa rasa bersalah.


Wajah Eva terlihat sangat kecewa. Impiannya untuk One night stand bersama pemuda pewaris kekayaan tunggal PT. ASTRA H.W pupus sudah.


Begitu Kira-kira yang ada di pikirannya. Aku jelas tahu, wanita yang bagaimana mereka ini. mendekatiku dan memberiku umpan besar hanya untuk menarik mangsa yang lebih besar tentunya.


Mungkin jika aku melakukannya. dikemudian hari bisa saja dia kembali dengan membawa serta anaknya yang dia akui karena perbuatanku..


Untuk hal yang satu ini, aku benar-benar harus menjaga baik-baik. Karena bukan hanya aku saja yang akan rugi. tapi juga perusahaan dan nama besar yang dibangun oleh orangtuaku sendiri .

__ADS_1


Pukul 4 pagi, ku biarkan Eva keluar dari kamarku setelah perdebatan panjang tentunya.


Aku memejamkan mataku lelah. tak ingin lagi ku ingat-ingat pertengkaran barusan. saat pagi menjelang mungkin semua ingatan itu akan hilang dan menguap begitu saja. Aku tak ingin ambil pusing.


•••


Keesokan paginya aku kembali ke rumah tepat pukul 9 pagi.


Ku langkahkan kakiku dengan santai.


"Masih ingat pulang," seloroh sebuah suara yang jelas ku tahu siapa pemiliknya.


Aku menoleh malas.


"Ini rumah saya tante. jadi saya bisa pulang kapanpun!" sahutku cuek.


"Seharusnya di usia kamu ini, kamu sudah biasa mengurus perusahaan dengan baik. bukan malah keluyuran!"


"Siang ini Sandy akan ke kantor. tante tenang saja! lagipula itu perusahaan papa. tante gak perlu capek-capek ngurusin!" aku berjalan santai menaiki anak tangga.


"Sandy! jangan kurang ajar kamu! tante belum selesai bicara!" Teriaknya.


Namun aku sama sekali tak peduli. bagiku segala ucapannya adalah kemunafikan.


Tante Ayu mau bertahan dan hidup satu atap denganku, itu semua karena dia juga tak ingin kehilangan harta papa.


Untuk urusan itu sebenarnya aku tak masalah. hanya saja, aku masih tak terima dengan sikap buruknya selama ini terhadap mendiang mama.


Tante Ayu seringkali menghina mama, bahkan didepanku. Dia selalu berkata bahwa papa sama sekali tak beruntung karena menikah dengan wanita kampungan seperti mama.


Terakhir ku dengar sebelum mama meninggal dulu. Tante Ayu sempat berbicara berdua dengan mama hingga berakhir dengan pertengkaran.


Dia bilang, jika mama berbohong dan mengatakan bahwa aku bukan anak papa. aku adalah anak har*m hasil hubungan gelap mama dengan pria lain.


Sempat ku lihat mama menampar tante Ayu. dan entah apa yang terjadi. karena saat itu Bi Marni memergoki diriku yang sedang mengintip mereka.


Seandainya ku ingat kembali beberapa luka lama itu. sungguh membuatku sakit kepala dan hanya meninggalkan kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


Luka yang membuatku tak percaya pada keluargaku sendiri.


• • • • • •


__ADS_2