PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•40


__ADS_3

"Om, sering-sering dong main kesini? biar Andi ada temen mainnya. bosen main sama mama terus!" celetuknya


"Oke! Nanti kalo om sudah sembuh, om pasti akan sering main sama Andi." janjinya.


"Mama Tinggal sebentar yah, mau bikin makan malam buat kalian!" pamit ku.


"Teh, boleh saya ikut ke kamar kecil?" tanya mas Sandy.


"Boleh mas, silahkan lewat sini!" ajakku.


Namun saat bangun dari duduknya, sepertinya mas Sandy kehilangan keseimbangan karna kelelahan hingga terhuyung dan hampir jatuh.


"Mas Sandy!" Aku Memekik kaget.


"Mas Sandy gak apa-apa? pasti karna kecapean ya!" tanyaku khawatir.


"Gak apa-apa! kamu jangan bikin saya malu di depan Andi teh!" bisiknya.


Aku mengernyit heran mendengar jawaban nya.


"Gak usah pura-pura kuat mas. kalo sakit tuh sakit aja!" sindirku.


"Ya udah bantuin! saya kebelet ke toilet!' Desisnya.


"Om gak apa-apa om?" Andi bangkit dan menatapnya cemas.


"Gak apa-apa sayang! kamu tunggu aja ya! mama mau antar om dulu"


"Hati-hati om!" Tukasnya.


Mas Sandy menatap anakku agak lama. entah apa yang ada dibenaknya. namun pemandangan langka itu memberi warna tersendiri dihatiku.


"Mas Sandy yakin gak apa-apa? lebih baik mas Sandy pulang aja! terus minum obat!" Pintaku cemas.


"Saya baik-baik aja teh!" selanya bersikukuh.


•••


Pukul 7 malam,kami bertiga sudah siap duduk di meja makan.


pertama kalinya meja makan ku penuh.


Bahkan Andi tak mau jauh-jauh dari Mas Sandy. hal yang membuatku terenyuh.


Semenjak menikah, rumah ini selalu sepi. bahkan meja makan ini seperti sebuah hiasan pelengkap rumah saja. kami tak pernah duduk melingkar hanya untuk sarapan. Aku pun sudah lupa kapan terakhir kali kami duduk bertiga di meja ini.


Dan malam ini,semua nya seperti mimpi bagiku. Kami Duduk bertiga layaknya gambaran sebuah keluarga yang lengkap dan harmonis. tapi........


Bukan dia, dia bukan orang yang seharusnya ada dan duduk disana. dia hanya orang asing yang begitu baik dan tulus memberi perhatian pada kami berdua.

__ADS_1


Andi terlihat begitu antusias, dia membahas semua hal pada Mas Sandy. tak pernah ku lihat Andi seceria ini. bahkan saat Ayahnya masih hidup dulu. Andi tak pernah merasakan kehangatan seorang ayah. dia bahkan belum paham arti kasih Sayang,hingga sebesar sekarang. Andi masih awam dengan cinta seorang ayah.


"Ma,Andi mau ayamnya!" pinta Andi mengagetkanku.


Aku terperanjat dan buru-buru menyeka air mata yang hampir saja lolos.


"Ini sayang,Andi makan yang banyak yah abis itu Andi belajar terus tidur deh! besok kan sekolah!" bujukku.


"Om, om mau kan temenin Andi belajar?" tanyanya penuh harap.


"Sayang, andi. om Sandy harus pulang! kan masih sakit. jadi harus banyak istirahat!" tukasku.


"Yah... " Desisnya kecewa.


Aku menatap mas Sandy tak enak hati. begitupun mas Sandy yang menatapku lekat.


"Andi tenang aja! om temenin kok!" sahutnya yakin


"Beneran om? asyikk!" serunya antusias


"Mas, kasian pak wahyu nunggu di luar!" tukasku mengingatkan bahwa supirnya pasti lelah menunggu.


"Saya sudah suruh Pak wahyu beli makan diluar kok. kamu gak usah khawatir teh!" jelasnya.


Setelah selesai makan. aku merapikan meja dan mencuci piring. sementara Mas Sandy memilih kembali ke ruang tengah.


Selepas mencuci piring Aku berjalan menuju ruang tengah. ku lihat mas Sandy duduk sembari menatap kedua kakinya.


"Iya. saya aman kok!" Tukasnya seperti sedang menahan rasa sakit. Aku menatap lama kakinya. aku yakin mas Sandy berbohong soal kondisinya itu.


"Om, Bantu Andi ngerjain PR ya!" pinta Andi yang baru keluar dari kamar dan membawa serta tas sekolah nya.


"Baiklah. mana om lihat PR-nya?!" tanya mas Sandy penuh perhatian.


"Pelajaran apa yang kamu sukai disekolah?" tanya Mas Sandy penasaran.


"Andi suka matematika dan menggambar Om!" jawabnya


"Wah,ternyata kita sama! om juga suka matematika!" jelasnya.


Mereka asyik bercerita layaknya teman dekat. Aku berdiri di ambang pintu dan melihat betapa Andi sangat terhibur dengan kehadiran mas Sandy.


PING!


Suara pesan singkat yang masuk di ponselku membuatku menoleh ke arah meja. ku dekati ponsel itu dan melihat siapa yang mengirim pesan.


#*Apa kamu bersama Sandy hari ini? Bi Marni bilang kalian belum pulang?"


#Tolong jangan biarkan Sandy kelelahan. kakinya baru saja pulih*!"

__ADS_1


Pesan singkat yang berasal dari Bu Ayu seketika membuatku tersadar.


Pria itu adalah Sandy Hadiwijaya, dia bukan dari kalangan biasa. dia berasal dari kalangan elit. yang tak mungkin berada dilingkungan rendah seperti di rumahku. Bisa-bisanya aku menganggap itu hal biasa, sungguh tak tahu diri. batinku.


"Siapa teh?" tanya mas Sandy


"Hah? bukan siapa-siapa. hanya pesan dari operator" jawabku berbohong.


Mas Sandy menatapku lama. sepertinya dia tak percaya dengan jawabanku barusan.


"Mas Sandy tunggu sebentar yah! saya buatkan air panas untuk merendam kaki mas Sandy!" tukasku mencoba kabur dan menghindari pertanyaan lain yang mungkin akan dia tanyakan.


Aku beranjak menuju dapur dan duduk di ruang makan. ku lihat kembali pesan yang berasal dari Bu Ayu itu.


Jika aku tak membalasnya, tentu akan terkesan tidak Sopan. lalu harus ku jawab apa pesan ini? haruskah ku bilang bahwa mas Sandy sedang berada di rumah ku? atau aku harus berbohong dan mengatakan bahwa dia sedang di rumah sakit untuk pemeriksaan?


Ku genggam erat ponselku bingung.


"Bilang saja kalau saya di rumah kamu teh! gak usah bohong!" Aku terkesiap dan menoleh ke belakang. sejak kapan makhluk itu ada disana. apa dia membaca semua pesan singkatku?


Ah! sial.


"Mas Sandy? kalian bukannya sedang mengerjakan PR? kenapa kesini?" tanya ku gugup.


"Andi sangat lucu. dia meminta bantuan. tapi malah tertidur." mas Sandy menoleh ke arah dimana Andi tertidur pulas.


"Kenapa kamu berbohong soal pesan dari tante Ayu? gak perlu takut. dia gak akan berani sama kamu teh." selorohnya.


"Saya hanya takut bu Ayu salah paham mas." jawabku ragu.


"Biarkan saja dia salah paham! itu bukan urusan kita!" Tukasnya santai.


"Awh!" mas Sandy mengaduh saat dia berusaha menekuk lutut nya untuk duduk.


"Mas Sandy baik-baik aja? sini duduk mas! biar saya rendam pake air hangat kakinya!" Pintaku.


Ku siapkan satu ember penuh air hangat yang ku campur dengan sedikit garam.


"Sini!" aku membuka kaos kaki mas Sandy dengan hati-hati.


Mas Sandy menurut dan tak berontak. ku rasa dia memang sudah menahan rasa sakitnya sejak tadi sore.


"Semoga saja, sakitnya berkurang mas! lagian saya bingung musti ngapain. mas Sandy sih gak bawa obatnya." tukasku sembari membasuh kedua kakinya bergantian.


"Maafkan saya teh, karna selalu merepotkan teh Alis" Tukasnya dalam


Aku menengadah menatapnya lekat.


"Mas Sandy tak perlu sungkan. lagipula seharusnya saya yang meminta maaf. karna hanya ini yang bisa saya lakukan" jawabku tak enak hati.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2