PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•135


__ADS_3

"Jangan bilang kamu tak tahu, jika Ivan adalah putra saya?!" tukasnya.


Aku kembali terdiam.


Jadi selama ini Pak Ivan adalah putranya? bagaimana bisa aku tak tahu? apa dokter Hasan tahu tentang hubungan pak Ivan dan mas Sandy yang memang tidak baik-baik saja? Atau mungkin dokter Hasan merahasiakannya dan tak berniat memberitahuku?


"Lis,...?" serunya.


"Maaf dok,. saya baru tahu kalau pak Ivan itu anak dokter" aku tersenyum ragu.


"Lebih baik kita bicara diluar saja!' saran dokter Hasan.


"Andi istirahat dulu ya sayang, mama mau temani pak dokter" Aku dan Dokter Hasan keluar dari kamar Andi. dN memilih ruang tengah sebagai tempat mengobrol kami.


"Jadi, pak Ivan itu anaknya dokter?" gumamku menatapnya tak percaya. tentu saja aku tak percaya, selama ini aku tak pernah melihat mereka bersama atau bahkan saling menelpon. tidak seperti orangtua dan anak pada umumnya.


"Dia anak tiri saya. apa Sandy tak memberitahu kamu?!" tanyanya.


Aku menggeleng pelan,nyatanya memang mas Sandy tak pernah bercerita tentang siapa pak Ivan. dan aku pun tak pernah menanyakan apa-apa padanya.


"Apa kalian bertemu dengannya disana?" dokter Hasan kembali pada pertanyaan awalnya.


"Iya, dia ada dok. bersama bu ayu," jawabku lagi.


"Dia itu. sudah sering kali saya bilang, jangan terlalu sering bertemu dengan Ayu. wanita,.... Dia hanya di peralat" gumamnya tampak begitu kecewa.


Sebagai seorang ayah. meskipun dia hanya ayah sambung, tentu tak ingin anaknya diperalat orang lain. apalagi itu berhubungan dengan hal yang tak baik.


"diperalat bagaimana dok?" selidikku.


Dokter Hasan tampak menghela nafas.


"Ayu hanya ingin hubungan Sandy dan Ivan hancur. mereka dulu berteman baik. hingga terjadi kesalahpahaman antar keduanya. sejak saat itu, Ayu selalu mencari celah untuk membuat keadaan itu semakin buruk. hingga Sandy selalu berfikir bahwa Ivan lah yang memiliki niat buruk padanya. padahal, Ivan hanya di jadikan alat saja olehnya." jelasnya seakan sangat kecewa dengan sikap bu Ayu.


"Kenapa? kenapa bu Ayu tak menyukai hubungan mas Sandy dan pak Ivan?"


Aku menatap dokter Hasan penuh tanya.


Pria tua itu melepas kacamata yang bertengger diwajahnya. dia nampak bingung untuk memulai ceritanya. atau mungkin dia juga ragu untuk menceritakan semuanya padaku. entahlah, yang jelas dokter Hasan terlihat belum siap bicara.


BIMPPP!


Suara klakson mobil membuat kami menoleh ke arah pintu bersamaan.

__ADS_1


"Mungkin itu bu Ayu," pikirku setelah mendengar laju mobilnya masuk menuju garasi.


"Kapan-kapan saya cerita sama kamu. Hari ini pasien saya sangat banyak" tukasnya kemudian.


Aku terdiam. jawaban yang cukup menggantung bagiku. mungkin dia butuh waktu untuk bercerita. atau dia mencoba menghindari bu Ayu?


Aku tersenyum,


"Baiklah dok. terserah dokter saja! saya tak akan memaksa." sahutku santai.


Tak berapa lama, bu Ayu masuk ke ruang tengah dan tampak kaget melihat kami berdua sedang bicara.


"Ibu sudah pulang? mau saya buatkan sarapan atau teh?" aku bangkit.


Sementara matanya menatap lekat pada dokter Hasan.


"Kenapa dokter ada disini?"selidiknya.


"Soal itu, Andi demam bu. jadi dokter Hasan memeriksa kondisinya"


"Anak kamu sakit? hebat sekali sudah berani memanggil dokter pribadi keluarga kami ke rumah," decihnya


"Sandy yang menelpon saya! bukan alis yang meminta." dokter Hasan bangkit untuk membelaku.


"Dok,-" Aku menoleh cepat pada dokter Hasan. memintanya untuk berhenti. karena aku tak ingin masalah ini menjadi besar.


"Oh, tentu saja. bukankah itu sudah jadi tujuannya menikahi Sandy 'kan? mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan di rumah ini!" Bu ayu menekankan kalimatnya begitu tajam. seolah tengah memperolokkan diriku.


"Ayu! kamu sudah keterlaluan. kalau sampai Sandy tahu! saya tak yakin kamu bisa bicara selantang itu lagi" seloroh dokter Hasan seakan mengancamnya.


"Dokter! saya tak apa-apa kok." aku mencoba sekuat tenaga menghentikan perdebatan mereka.


"Kalian semua menyebalkan. kalian merongrong harta keluarga Hadiwijaya. dasar tak tau malu!!!" dengusnya seraya pergi menuju kamarnya. meninggalkan kami berdua yang kini terdiam kelu.


"Ayu! jaga mulut kamu!!!" sulut dokter Hasan.


Sikap bu Ayu sangatlah berbeda apalagi setelah aku dan mas Sandy menikah. kasar, pemarah dan juga kata-katanya selalu penuh makian. entah apa sebenarnya yang dia rasakan, yang dia Takutkan sehingga menganggapku seburuk itu.


"Maaf. Barusan saya terbawa emosi" dokter Hasan memijat kepalanya frustasi.


"Gak apa-apa dok," Aku mengulum senyum dengan suasana hati yang masih tak menentu.


"Wanita itu benar-benar keras kepala. Sandy harus tahu semua ini."

__ADS_1


"Jangan dok,. lagipula saya baik-baik saja. mungkin, kami belum dekat satu sama lain. makanya bu Ayu bersikap begitu." tukasku beralasan.


Dokter Hasan menatapku iba. persis seperti tatapan seorang ayah yang tak ingin putrinya tersakiti.


"Dokter jangan melihat saya seperti itu," aku memalingkan wajah kalut.


"Oh, maaf. saya bukan bermaksud tak sopan." sergahnya.


"Bukan dok,. tatapan dokter mengingatkan saya pada almarhum bapak. dia pasti akan menatap saya seperti itu. persis-" Suaraku tercekat. nyaris saja aku meraung memanggil nama bapak.


"Kamu anak yang baik. bapak mu pasti bangga Alis." sanjungnya menenangkan.


"Terima kasih banyak dok. maaf juga kejadian nya jadi seperti ini!" gumamku tak enak hati.


"Justru saya yang minta maaf, karena sudah berteriak didepan kamu." tukasnya penuh sesal.


"Perlu saya ambilkan air dokter?"


"Tak usah. lagipula saya harus segera kembali ke rumah sakit." sahutnya.


Aku mengantar kepergian dokter Hasan hingga didepan pintu. meski dengan perasaan tak nyaman setelah kejadian tadi. aku berharap dokter Hasan tak berniat mengadukannya pada mas Sandy.


Ku langkahkan kaki pelan menuju kembali ke dalam rumah. rumah ini seolah memiliki dinding yang kedap udara. baru saja terjadi kebisingan sekarang sudah sangat sepi lagi, seperti tak berpenghuni.


"Non, non Alis gak apa-apa?" tiba-tiba bi Atun datang dengan wajah cemas.


"Saya? saya gak apa-apa kok bi." jawabku singkat.


"Tadi ibu ayu marah-marah ya sama non? kenapa sih non? kok dia kayanya jahat banget sama non Alis?" celotehnya.


"Gak apa-apa kok bi. mungkin bu Ayu lagi capek. kan kerjaan dia di kantor banyak" tandasku beralasan.


"Bibi mau kemana?"


"Mau bantu susi di halaman belakang. nanem bunga non. Apa non Alis perlu sesuatu?"


"Enggak bi. bibi lanjutin aja kerjaannya. saya mau lihat Andi dulu," pungkasku seraya berjalan menuju kamar Andi.


Sepintas ku lihat pintu kamar bu Ayu yang tertutup rapat.


Haruskah aku menemuinya dan meminta maaf atas kejadian tadi?


Apakah dia akan menerima permintaan maafku? atau malah akan semakin membenciku???

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2