
Pernahkah kalian merasa tertarik pada seseorang? tapi kalian sadar jika sebenarnya kalian tak mampu untuk menyentuh bahkan memiliki orang itu. dan pada akhirnya hanya bisa menjadi pengagumnya saja.
Terdengar sangat bodoh memang,tapi tak ada pilihan lain.
Aku tersenyum seraya berdecak tak percaya dengan kebodohan otakku ini. tapi mungkin memang begitu sekarang keadaannya.
Secara diam-diam hatiku selalu berbisik tentang nama itu,wajah itu, dan semua pertemuan kami yang terangkai secara acak namun saling berkaitan.
Walau aku tetap diam di tempat. bukan berarti aku tak punya keberanian,hanya saja aku harus menjaga hati yang lain.
PING!
Ku lirik benda bising itu sekilas. beberapa pesan masuk dari Vina terlihat memenuhi layar ponselku.
Sepertinya dia punya ikatan batin yang kuat, baru saja namanya terlintas. dia sudah lebih dulu menghubungiku.
#Selamat pagi? jangan lupa sarapan!
#Hari ini aku ada pekerjaan diluar kota. hanya dua hari. jangan rindu ya.
#Jaga kesehatan, hingga aku kembali".
Aku mengernyitkan dahi menatap deretan pesan itu. dia sudah akan pergi ke luar kota. LAGI? bahkan dua minggu yang lal, dia baru saja kembali dari luar kota.
Lalu bagaimana caranya aku menjaga hubungan kami ini?
"Ck!" aku berdecak seraya menyimpan kembali ponsel itu dimeja dan meneruskan sarapan pagiku yang sempat tertunda.
Tidak mudah memang menjadi Pria setia di antara tumpukan ikan besar yang setiap saat bisa kita lahap kapan saja.
Yah Tentu saja,meski statusku sudah berpacaran dengan Vina. tapi wanita diluar sana tetap melihatku sebagai seorang lajang. Bagi mereka,selama belum ada cincin melingkar dijari manisku aku halal untuk didekati. apalagi mereka tahu, siapa Vina, dan apa pekerjaannya. jarak dan waktu yang memisahkan kami, menjadi celah bagi mereka untuk mendekat.
Setiap rekan bisnis, investor bahkan staf kantor dari perusahaan lain secara terang-terangan berani menunjukkan ketertarikannya padaku. mengajakku hang out, dinner bahkan tak sedikit dari mereka menawarkan hal yang lebih dari itu.
Beruntunglah aku masih waras, hingga tak mudah luluh dengan bentuk tipu daya wanita-wanita cantik itu. meski terkadang aku sedikit menyayangkan.
Drrrrrttt.....!
__ADS_1
Kali ini suara alarm ponselku yang berteriak.
Meeting dengan PT. Central Asia pukul 9
"Uhukkk! Uuhukkk!" Aku jadi kaget sendiri melihat notifikasi diponselku. nyaris saja aku lupa rapat penting pagi ini.
Dengan tergesa Ku tinggalkan selembar uang seratus ribuan Dibawah cangkir. lalu bergegas menuju kantor sebelum aku terjebak kemacetan.
•••
Aku Kembali ke kantor dan langsung di sambut oleh Nita yang sepertinya sudah menungguku.
"Apa Mereka sudah datang?" tanyaku
"Pak Hendra dan stafnya baru saja datang 5 menit lalu. tapi, sudah ada Bu Ayu bersama,-" Nita menatapku ragu sebelum meneruskan kalimatnya.
Aku menoleh,
"Bersama siapa?" tanyaku heran.
"Lebih baik bapak liat sendiri ke ruang rapat!" sarannya. Melihat perubahan ekspresi sekretarisku membuatku merasakan ada hal yang tak beres. segera ku langkahkan kaki menuju ruang rapat.
Sejak kapan Ivan di ijinkan masuk dan bergabung dalam rapat kami? apa ini ulah tante Ayu? aku meremat jari jemariku menahan kesal. berani sekali jika benar tanteku yang membawanya.
Namun aku tak ingin membuat keributan dan tetap bersikap tenang demi menjaga kenyamanan para tamu bisnisku.
"Selamat pagi semuanya? maaf membuat kalian sedikit menunggu!" sapaku membuat semua orang menoleh ke arah pintu.
Ivan dan tante Ayu menatapku sedikit kaget. tentu saja, mungkin mereka pikir aku tak akan menghadiri rapat hari ini.
"Halo, Pak Sandy! lama tak berjumpa." Pak Hendra menyapaku dan berjabat tangan.
"Sepertinya ada tamu spesial yang tidak saya undang?" aku menatap Ivan.
"Dia salah satu calon kandidat manager di perusahaan kita." Tante Ayu tampak tersenyum penuh percaya diri.
Aku tersenyum kecut. berusaha menampakkan wajah ramahku diantara rekan bisnis kami yang melihat. tak mungkin aku menanggapi hal konyol itu dengan berteriak lantang karena kaget. tentu itu akan sangat buruk kelihatannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari Silahkan duduk! kita mulai saja Rapatnya!" pintaku pada semua orang disana.
Rapat berlangsung cukup lama. aku terus berusaha meyakinkan pak Hendra untuk bekerja sama dengan perusahaan di awal tahun. beberapa keuntungan yang akan di dapatkan dua perusahaan. tentu membuatnya sangat tergiur. hingga menyepakati hubungan kerja sama bisnis denganku.
•••
Selepas para staf dan pak Hendra pergi. tinggalah beberapa karyawanku dan juga Nita masih sibuk diruang rapat.
"Kalian semua boleh keluar! saya ada kepentingan sebentar!" ku tatap tante Ayu dan Ivan.
Keduanya sadar jika aku ingin bicara bertiga saja. dan mereka memilih duduk tanpa berniat untuk pergi.
"Apa-apaan ini? sejak kapan kamu masuk ke perusahaanku?!" ku tatap tajam wajah Ivan yang terlihat sangat santai itu.
"Kamu terlalu sibuk ngurusin korban kecelakaan. sampe Gak sadar aku sudah daftar ke Perusahaaan ini seminggu yang lalu." jawabnya.
"Tante minta maaf soal hal ini. karena tante pikir kamu sangat sibuk. dan lagi perekrutan pegawai baru seharusnya tak memerlukan izin kamu kan? lagipula bukankah kalian sudah saling mengenal?!" Timpalnya
"Aku tahu. semua itu boleh kalian lakukan. tapi untuk masuk ke ruang rapat. sama sekali aku tak mengijinkan. aku hanya ingin orang-orang yang sangat kompeten di bidang ini saja yang terlibat. bahkan kinerjamu aku belum tahu seperti apa!" sindirku.
"Kalau begitu, mulai sekarang kamu bisa menempatkanku dimana saja! sebagai penjajakan!" tantang Ivan seakan tak takut jika aku tak akan memberinya kesempatan.
"Aku tahu kita sudah lama tidak mengobrol. tapi kamu terlihat sangat kaku dalam menyambut sahabat lama" Ivan memutar ballpoint nya yang terletak di atas meja itu.
"Pekerjaan tetaplah pekerjaan. kita tidak boleh membawa urusan pribadi ke dalamnya." jawabku yang memang tak suka jika urusan pribadi kami di sangkut pautkan dengan pekerjaan.
"Sudahlah! kalian sudah bukan anak kecil lagi. mulai sekarang. Ivan akan bekerja disini membantu tante selama kamu bekerja di luar!" jelas tante Ayu seakan meminta izin padaku secara tidak langsung.
"Terserah kalian!" Aku berbalik dan meninggalkan ruang rapat begitu saja.
Kenapa akhir-akhir ini semua hal yang menyebalkan malah mendatangiku secara tiba-tiba begini.
Apa sebenarnya rencana Ivan? bukankah dulu aku pernah menawarinya pekerjaan ini? tapi dia menolak? lalu kenapa kali ini dia datang lewat tante Ayu? apa mereka merencanakan sesuatu dibelakangku?
Jika benar seperti itu, maka aku harus berhati-hati dengan tindakan apapun yang mereka lakukan sekarang.
Aku kembali ke ruanganku dengan tatapan kacau dan penuh kekesalan.
__ADS_1
Mereka benar-benar membuatku ingin mengamuk saja sekarang! desahku sembari menjatuhkan diri di kursi.
• • • • •