PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•171


__ADS_3

Keluarga kecil yang dibangun atas sebuah harapan, meski tertatih-tatih tetap harus bisa bangkit dan menunjukkan bahwa keluarga itu harmonis dan bahagia.


Cinta seorang istri pada suaminya, cinta seorang ibu pada anaknya,juga cinta seorang ayah dan suami pada keluarganya. semua hal itu harus terus dipupuk dan dijalin sebaik mungkin.


Meski banyak pasang mata yang menyepelekan keluarga kecil itu, tapi harapan dan keinginan mereka untuk terus berjuang patutlah mendapat hasil yang lebih baik.


Aku terlahir dari keluarga yang sangat sederhana, yang memegang prinsip dan adat leluhur tentang sebuah pernikahan. mempertahankan rumahtanggaku bersama mas Rizal dulu, bukanlah perkara mudah. hidup dalam kemiskinan siapa yang sanggup? memiliki suami yang bertempramen buruk siapa yang Tahan? tapi ku jalani semuanya dengan sabar meski Sejujurnya aku ingin lepas darinya.


Tapi aku lebih mengutakamakan masa depan anakku,bagaimana jika dia tak memiliki ayah. apa kata orang nanti?


Hidup dalam kebimbangan juga ketakutan selama bertahun-tahun membuatku sedikit memiliki trauma dan gelisah yang tak menentu.


Dan sekarang, kehidupan rumah tanggaku sudah sangat jauh berbeda. semuanya membaik 180 derajat dari sebelumnya.


Tapi terkadang justru kekhawatirannya jauh lebih besar dari biasanya. Jika dulu aku bisa berbuat apapun tanpa mempedulikan citraku sebagai seorang istri dari mas Rizal. sekarang, aku harus berpikir dua kali dalam bertindak karena aku adalah istri seorang Sandy Hadiwijaya. tekanan yang tentu membuat mentalku harus lebih kuat.


Semua orangtua di sekolah Andi kini sudah tahu siapa aku dan siapa suamiku. mereka tak menganggapku sebagai seseorang yang berjuang sendirian lagi. namun pandangan mereka masih tetap meremehkanku. mereka memang tak bicara begitu, tapi tatapan mereka mengatakan demikian. Mencibir lewat tatapan mata, bukankah lebih menakutkan? mereka tak bicara tapi mampu membuat batinku tertekan.


Hari ini, adalah hari yang cukup melelahkan. Aku dan mas Sandy kembali ke kamar untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan selanjutnya setelah makan siang tadi.


Sementara Andi dan anak lainnya Asik bermain bersama para pengajar di halaman Vila.


"Ternyata kegiatan kaya gini, juga menguras tenaga ya mas." keluhku seraya duduk bersandar disofa.


"Saya justru senang." sahutnya enteng.


Aku mengernyit ragu. Benarkah apa yang mas Sandy katakan? padahal pekerjaannya di kantor sangat banyak setiap harinya,tapi dia malah memilih ikut kegiatan diluar seperti ini? aku rasa, sebenarnya dia merasa sangat kelelahan.


"Gimana keadaan di kantor?!" selidikku lagi.


"Sepulang dari sini, saya harus segera ke kantor. ada meeting penting" jelasnya.


Aku bangkit dan mendekati mas Sandy yang duduk di atas tempat tidur. rasanya tak sampai hati membiarkan mas Sandy kelelahan setiap hari.


"Seandainya,-"


"Ssstttt! kamu gak perlu merasa sungkan atau tak enak hati. karena saya senang melakukannya" potongnya menyela ucapanku.


Ku peluk erat tubuhnya. bersandar di dadanya yang bidang adalah hal ternyaman yang aku rasakan.


"Terima kasih banyak mas,"


"Hmm,rasanya saya jadi bersemangat setelah berkegiatan bersama kamu dan Andi. dan sepertinya kita harus sering-sering melakukan hal ini," tukasnya senang.


"Benarkah? kok bisa? padahal kerjaan mas Sandy dikantor banyak. mana boleh sering-sering keluar seperti ini" aku menatapnya tak yakin.

__ADS_1


Mas Sandy menatapku lekat.


"Tentu aja bisa sayang. apalagi kalau nanti Andi punya adik. saya akan lebih betah bersama kalian." celetuknya.


Aku terbelalak, kenapa tiba-tiba sekali mas Sandy membahas 'Adik' untuk Andi.


"Kenapa? kayanya kamu kaget?"


Aku mengalihkan pandanganku dan tersenyum.


"Andi masih kecil mas," selorohku.


"Siapa bilang? saya rasa, Andi sudah sangat pintar dan dewasa. dia pasti tak akan cemburu jika punya adik." jawabnya serius.


Aku tersipu seraya tertunduk.


"Lainkali saja kita bahas mas,"Aku mengurai pelukannya dan berniat bangkit menuju kamar Mandi.


Namun seketika mas Sandy menarik pinggangku hingga aku terjerembab di atas tempat tidur,


Mas Sandy menatapku lekat.


"Kenapa harus lain kali, kalau bisa sekarang?" godanya seraya mencium daguku secara lembut, kemudian berangsur naik ke arah bibir.


Perjalanan cinta kasih yang ku jalani bersama mas Sandy terbilang cukup cepat. namun aku sama sekali masih belum memikirkan tentang kehadiran 'bayi' dalam rumah tangga kami.


Banyak hal yang ku pikirkan, meski aku tak tahu darimana datangnya semua kegelisahan itu.


Jika aku hamil, apakah Andi akan bisa menerimanya dengan mudah?


Atau mungkin, akan ada masalah baru jika nanti aku mengandung keturunan pertama dari keluarga Hadiwijaya?


Meski semua pemikiran burukku itu belum tentu benar adanya, aku tetap tak bisa mengenyahkannya begitu saja.


"Maaas,..!" desahku menjauh saat mas Sandy mencoba menarikku kembali.


"Saya capek!" rengekku mengerjapkan mata pelan.


"Baiklah,.. kalau begitu saya mau mandi" tukasnya bergegas bangkit dari ranjang.


"Mas Sandy jangan marah ya!" Ku tarik jari telunjuknya cepat.


Mas Sandy menoleh dan tersenyum,


"Iya sayang, maaf ya! udah bikin kamu kerja terus-terusan hari ini." bisiknya seraya mencubit gemas hidungku.

__ADS_1


Ku tarik selimut kami yang tampak berantakan untuk menyelimuti tubuhku yang tanpa benang sehelaipun.


Kepuasan memang bukan satu-satunya cara untuk mempertahankan hubungan antara dua manusia. tapi itu juga bisa menjadi salah satu alasan kuat untuk sebagian orang, kenapa mereka masih bisa bertahan cukup lama dalam menjalani hubungannya.


Aku bersyukur, meski dulu aku mendapatkan perlakuan kasar dari mas Rizal, tapi setidaknya sekarang mas Sandy mampu mengobati luka dan rasa sakitku perlahan-lahan.


•••


Kegiatan Studytour di Desa wisata akhirnya sudah berakhir. para guru sudah berpamitan dengan para pengelola tempat disana. anak-anak juga mengumpulkan cenderamata yang mereka buat khusus untuk para pengajar selama berkegiatan.


"Dan saya sudah merangkum semua nilai para murid selama kegiatan disini. untuk nilai tertinggi, sepertinya memang sangat pantas didapatkan oleh murid ibu yang sangat tampan ini!" tukas bu Maryam membuat para orangtua penasaran.


"Siapa ya Kira-kira!' gumamku


"Tentu saja Andi!" bisik mas Sandy penuh percaya diri.


Aku menoleh cepat padanya.


"Mas Sandy tahu darimana?" aku menatapnya tak percaya.


"Kamu lihat saja!" tukasnya enteng.


"Selamat untuk Andi,..!" Serunya seraya bertepuk tangan antusias.


Para orangtua pun ikut berseru kagum pada Andi. namun yang ku lakukan hanya diam mematung mendengar pengumuman itu. Selama ini memang Andi bisa di bilang cukup baik dalam pelajaran, tapi belum pernah aku mendengarnya mendapatkan nilai bagus dalam kegiatan seperti ini. terharu tentu saja, hanya saja aku masih tak percaya hingga Andi maju ke barisan paling depan.


"Selamat ya sayang, Andi sangat pandai dalam kegiatan berkebun. selain itu Andi juga kompak dengan papa dan mama. dan ini ada hadiah untuk Andi!" tukas pak Ibrahim sembari membawa piagam emas yang kemudian dikalungkannya dileher Andi dengan mantap.


"Benarkan apa kata saya?!" bisik mas Sandy seolah tahu apa yang seharusnya terjadi.


Aku menatap mas Sandy penuh kebahagiaan. semua ini juga berkat bantuan mas Sandy sebagai ayahnya. dia memiliki sifat sabar dan penyayang.


PING!


Ku lirik cepat ponsel yang ku genggam.


"Lis, kamu tahu gak? Vina ada di kantor hari ini!"


Tulis Rahma yang seketika membuatku tertegun kaget. apa yang Vina lakukan di kantor mas Sandy?


Apa mas Sandy tahu tentang hal ini?


Ku tatap mas Sandy yang tampak serius memperhatikan putraku didepan sana.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2