
"Masuk teh!" suara merdu yang jelas ku kenal itu menyambutku.
"Masih mau berdiri disana?" tanyanya Heran.
"Hah?!" pekikku kaget.
Entahlah,kebaikan apa yang sudah ku buat hingga sepagi ini aku diberi Rejeki yang begitu manis. Bahkan dengan jelas ku lihat mas Sandy berdiri tegak dengan kedua kakinya.
"Masyaallah," desisku terpesona.
"Teh!" Tukasnya sedikit lebih keras.
"Iya mas," Aku merangsak masuk dengan perasaan yang masih amburadul karna ku pikir barusan itu adalah malaikat tampan yang sedang bercermin.
Aku tahu mas Sandy memanglah rupawan. bahkan setiap hari aku bisa mendapatkan bonus dengan memandangi kegantengannya secara legal. tapi hari ini ada yang sangat berbeda. Ketika Mas Sandy memakai kemeja putih dengan rompi Abu yang ramping membalut tubuhnya.
Tatanan rambutnya begitu rapi dan berkilau. wajahnya putih mulus bak pualam. benar-benar gambaran sempurna dari seorang Bos pemilik perusahaan.
"Bi Marni kemana? kenapa teh Alis yang bawa sarapannya?" tanya mas Sandy dengan pandangan masih fokus ke depan cermin.
"Bi Marni lagi gak enak badan mas. jadi saya yang bawain sarapan. saya pikir, mas Sandy masih sarapan dikamar!" jelasku.
"Saya memang meminta sarapan di kamar. saya malas jika harus sarapan di bawah!" selanya.
"Mas Sandy mau kemana?" tanyaku heran. pemuda itu berbalik dan menatapku.
"Saya mau berkencan!" Celetuknya santai.
Aku menatapnya tak percaya,benarkah? bagaimana bisa mas Sandy berkencan dengan kondisi kaki yang masih belum sembuh sepenuhnya itu.
"Tapi mas, bukannya semalam mas Sandy mengeluh sakit? Memangnya kaki mas Sandy sudah baikkan?" Aku menatapnya cemas.
"Saya baik-baik aja teh! teh Alis lihat sendiri kan?" Tukasnya sembari melangkah menuju meja makannya.
Aku menatapnya curiga,jangan-jangan semalam itu dia berbohong dengan mengatakan bahwa kakinya sakit? batinku.
"Kenapa? teh Alis pasti berpikir bahwa saya berbohong semalam kan? saya memang betulan sakit teh. Bahkan sepulang dari rumah teh Alis,saya menemui dokter Hasan. dia memberi saya obat pereda nyeri." jelasnya
"Terus, apa kata dokter Hasan?" Aku masih berdiri dengan tatapan tak lepas darinya.
"Dia bilang Kaki saya baik-baik aja. kemaren itu karna saya kelelahan dan terlalu banyak jalan." Timpalnya.
"Tapi itu bukan berarti mas Sandy boleh pergi mas. mas Sandy harus melanjutkan terapi!" saranku.
"Saya bisa melanjutkan terapi nanti sore saja." sahutnya enteng.
__ADS_1
"Tapi mas,-"
Mas Sandy menatapku lekat,bahkan tatapannya mampu membungkam mulutku.
"Tapi kenapa?! teh Alis gak suka kalau saya pergi kencan?" selidiknya setengah meledek.
HUH! Menyebalkan.
bisa-bisanya semalam dia menggodaku dan sekarang malah ingin pergi berkencan. gerutuku dalam hati.
"Bukan. Saya hanya khawatir soal kaki mas Sandy!" selorohku beralasan.
"Saya baik-baik saja,oke!" tandasnya sembari menyabet sepotong roti dengan isian tuna kesukaannya.
"Teh Alis sudah sarapan? duduklah!" pintanya.
"Saya sudah sarapan mas. silahkan mas Sandy lanjutkan saja!" tukasku malas.
"Hari ini teh Alis tak perlu menyiapkan peralatan terapi. karna saya akan pergi." jelasnya lagi.
"Tahu begini, saya lebih baik nyari lowongan kerja tadi!" gerutuku pelan.
"Teh Alis jangan coba-coba kabur! kontrak teh Alis masih tersisa satu hari dengan saya!" Desisnya seakan dapat mendengar gerutuan ku.
"Ya sudah, mas Sandy sarapan saja! Saya mau beres-beres!" Aku melirik sinis padanya.
Tengah sibuk merapikan lembar demi lembar kertas putih itu, tiba-tiba saja selembar foto terjatuh dari dalam sebuah map. segera ku ambil foto yang jatuh tertelungkup ke lantai itu.
Aku membaliknya,dan betapa terkejutnya aku saat melihat wajah seorang gadis cantik tengah merangkul mas Sandy dari belakang. Ku lihat latar foto itu seperti diluar negeri. wanita berambut sedikit agak pirang itu terlihat sangat bahagia dengan senyumnya yang lebar. apakah dia yang bernama Vina? batinku menerka.
"Teh! bisa tolong ambilkan air hangat?" Perintah mas Sandy membuatku terperanjat dan buru-buru menyelipkan foto itu kedalam map yang ku pegang ditanganku.
"Iya mas!" aku segera mengambil. segelas air hangat dan membawakannya ke hadapan mas Sandy. Mas Sandy menatapku dalam, tapi aku tak begitu menanggapinya dan masih memikirkan benda yang ku temukan barusan.
"Mas, boleh saya tanya?" tanyaku memberanikan diri.
"Hm, tanya saja!" sahutnya.
"Kalau boleh saya tahu, mas Sandy mau pergi berkencan kemana?" Aku mengucapkannya dengan hati-hati.
Mas Sandy menatap piringnya agak lama.
"Saya masih belum tahu teh! mungkin ke suatu tempat yang istimewa" jawabnya gamang.
"Oh," Sahutku dingin. Entah kenapa Mendengar jawabannya barusan, seketika membuat perut terasa tak nyaman.
__ADS_1
20 menit sudah ku temani mas Sandy sarapan sembari merapikan kamarnya.
"Ayo!" Ajaknya tiba-tiba
"Hah?" Aku menatapnya bingung.
"Ayo ikut! Memangnya teh Alis gak bosen diem di kamar saya terus?" Ledeknya.
"Kruknya mas!" selorohku
"Gak usah teh! Saya mau mencoba jalan kaki tanpa benda itu!" gumamnya yakin.
Aku menatapnya khawatir. segera ku ikuti mas Sandy yang lebih dulu berjalan meninggalkan kamar. penyembuhan selama satu bulan ini mungkin sudah cukup bagi mas Sandy. tapi bagiku tetap saja menyisakan kecemasan berlebih terhadap kondisi kakinya itu.
Bahkan saat mas Sandy menuruni anak tangga dengan sangat santai, pemandangan itu justru membuatku gelisah karna takut terjadi hal buruk pada sebelah kakinya.
"Pelan-pelan mas!" Selorohku ragu.
Mas Sandy bertumpu pada anak tangga terakhir, matanya menatap seisi rumah. seakan mencari sesuatu.
"Bu Ayu sudah pergi mas!" jawabku menerka apa yang dia cari.
"Dia bahkan tak mengucapkan selamat atas kesembuhan keponakannya sendiri!" Desisnya sinis. lalu berjalan menuju ke arah pintu keluar.
"Pak, siapkan mobil!" perintahnya pada pak wahyu.
Aku berdiri di teras dan melihat mas Sandy masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Teh! kenapa kamu masih disitu?" tanyanya menatap ke arah ku.
"Memangnya Saya harus ikut mas?" tanyaku heran.
"Teh Alis pikir, saya bisa berkencan sendirian?" sahutnya.
"Jawaban apa itu!" dengusku kesal. kemudian berjalan menuju mobil dengan malas dan ikut duduk disampingnya.
"Kenapa saya harus ngikutin mas Sandy kencan sih mas!" protesku.
"Biar teh Alis tahu, bagaimana orang setampan saya pergi berkencan!" tandasnya setengah menggodaku.
"CK!" Aku berdecak kesal mendengar celetukannya yang menyebalkan itu.
"Jalan pak!" perintahnya.
Pak wahyu menyunggingkan seulas senyuman ke arah kami berdua sebelum melajukan mobilnya ke suatu tempat yang aku sendiri tak mengetahuinya.
__ADS_1
• • • • • •