
Hidupku mungkin sudah di takdirkan serumit ini, rasa kecewa yang ku terima justru datang dari orang yang ku sayangi, dari orang yang ku hormati.
Mas Sandy menatapku lekat, matanya berkaca-kaca.
"Apa kamu marah?" tanyanya serius.
Aku tertunduk dan hanya bisa menjawab dengan satu gelengan kepala.
Mas Sandy mengangkat daguku pelan.
Ku tatap mata itu cukup lama, kami saling menyelami isi hati lewat pandangan mata yang mungkin lebih jelas dari sekedar ucapan kata.
"Saya bersumpah, saya mencintai kamu. dan,Saya rasa cinta itu sudah ada sejak dulu. saat kamu masih menjadi istri orang lain. saya mungkin kurang ajar. saya mungkin bodoh. Tapi jujur.. saya sendiri tak bisa mengendalikan perasaan ini. Jadi saya mohon, jangan pernah membenci saya!" pintanya memohon.
Aku tak kuasa melihat betapa dia begitu tulus padaku. Mungkin memang iya suamiku meninggal karena sebuah kelalaian. tapi mungkin juga mas Sandy tak berniat begitu. dia mana tahu jika pemotor itu adalah suamiku.
"Seandainya saya bisa memutar waktu. seharusnya saya tak meminta mereka mengirim barang malam itu juga." sesalnya.
Aku menatapnya lekat. Tapi jika apa yang mas Sandy bilang itu bisa terulang lagi. bukankah selamanya aku akan menderita hidup bersama mas Rizal? menerima semua siksaan darinya? hidup dalam penderitaan.
"Enggak mas. mas Sandy Gak boleh bilang begitu. ini mungkin sudah kehendak Allah. kita harus dipertemukan dengan cara yang seperti ini. Mungkin hikmah dari peristiwa itu adalah, saya bisa lepas dari kungkungan pernikahan yang menyakitkan." gumamku.
Mas Sandy menatapku sedikit lega. dia memelukku erat.
"Terima kasih. Saya sangat takut kamu meninggalkan saya" bisiknya lirih.
Meskipun ada sedikit rasa kecewa pada sikapnya yang menutupi kebenaran atas kematian suamiku. toh dia juga tak bermaksud begitu. Bahkan mungkin seharusnya aku berterima kasih padanya. Berkatnya Aku dan Andi Bisa hidup lebih baik.
"Mama...!" suara Andi tiba-tiba terdengar dari arah luar pintu. membuat kami terkejut dan saling melepaskan pelukan
"Andi.." gumamku
"Mama kenapa nangis?" Andi mendekat dan menatapku penuh tanya.
Mas Sandy berjongkok dihadapannya.
"Mama nangis, karena bawaan dede bayi" jawab mas Sandy beralasan.
Andi menoleh padaku, lalu mengusap lembut perutku.
"Dede bayi, Jangan nakal ya! Kasian Mamanya" perintahnya
Aku tersenyum tipis seraya menyisir rambutnya dengan jari jemariku.
"Andi kesini sama siapa?"
"Sama Bi Atun. tapi bi Atun nya ke toilet dulu" jelasnya.
"Andi udah makan belum?" mas Sandy duduk dan mendekapnya.
"Belum pa. sekarang Andi makan sendirian terus. papa sama mama kenapa jarang di rumah?" rengeknya.
Aku melirik pada mas Sandy. berharap dia akan menjawab pertanyaan darinya.
"Mama sama papa punya banyak pekerjaan diluar sayang. maafkan kami ya!" Mas Sandy mengecupnya lembut.
"Mama Kapan pulang?" Tanyanya antusias.
__ADS_1
"Kamu doakan saja,semoga mama cepat pulih. dan bisa segera pulang" jawab mas Sandy mewakiliku.
"Mama kenapa bisa ke rumah sakit sih? mama pingsan ya?" Andi menatap kami bergantian.
"Mama Kecapean aja,sayang.." tukasku pelan.
"Mama makan yang banyak dong, biar gak sakit" sarannya setengah memaksa.
Obrolan kami bertiga terhenti saat terdengar suara ketukan dari balik pintu.
"Dok,silahkan masuk!" sahutku saat melihat dokter Hasan tengah berdiri didepan pintu.
"Wah, ada Andi ternyata!" tukasnya mendekat. yang segera di sambut oleh Andi dengan memberikan salam padanya.
"Dokter mau periksa mama ya?" tanya Andi.
"Iya nak. Dokter harus lihat kondisi mama dan adik kamu." dokter Hasan mulai melakukan pemeriksaan umum padaku.
"Gimana kondisi Alis? apa dia dan bayi kami baik-baik saja?" mas Sandy menatapnya lekat.
"Tekanan darahnya rendah. kamu harus lebih banyak istirahat!" tukas dokter Hasan.
"Iya dok. Terima kasih" sahutku pelan.
"Lagipula,kenapa kamu malah membawa Alis ke tempat seperti itu?" dokter Hasan melayangkan tatapan tak suka pada mas Sandy.
"Itu bukan salah mas Sandy dok. saya sendiri yang menyarankan mas Sandy untuk pergi kesana." timpalku
"Tapi tetap saja. dia ini sangat ceroboh. padahal sudah tahu istrinya hamil" sindir dokter Hasan lagi.
"Iya. Saya tahu saya salah. saya minta maaf!" mas Sandy menatapku penuh sesal.
Mas Sandy ikut menatap dokter Hasan.
"Dia sudah membaik. tapi mungkin tidak dengan pikirannya. Saya rasa, dia memiliki kecemasan pada apa yang akan terjadi nanti." dokter Hasan melempar pandangannya pada kami berdua. Dia seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Dia memang pantas mendapatkan hukuman yang setimpal atas apa yang sudah diperbuatnya." gumam mas Sandy.
Tampaknya suamiku ini tak main-main terhadap ancamannya,bahkan pada tante nya sendiri.
Meski Sejujurnya Aku juga tak tahu, harus bahagia atau iba pada hal
yang akan menimpa Bu Ayu nantinya.
"PERMISIIIII....!" Tiba-tiba ramai suara yang terdengar dari balik pintu.
Aku dan mas Sandy menoleh kaget. ternyata para staf kantor datang beramai-ramai membawa bingkisan untukku.
"Rahma, Sinta, kalian semua..." gumamku terharu.
"Aku kaget banget pas tahu kamu masuk rumah sakit lagi. aku pikir, terjadi sesuatu sama kandungan kamu. tapi kata Bi Atun kalian berdua baik-baik saja. lega banget!" cerocos Rahma.
Aku tersenyum seraya memeluknya erat. bagiku dukungan merekalah yang membuatku merasa dicintai dan berharga.
"Bu, ini ada buah-buahan dari kita. biar bayi ibu sehat." Anwar membawa bingkisan itu dan menyimpannya di atas meja.
"Besok kalian naik gaji" celetuk dokter Hasan. yang membuat semua staf bersorak seketika.
__ADS_1
"Pak dokter tahu aja," kekeh Nita.
Suasana rumah sakit menjadi riuh dan hangat karena kehadiran mereka. dan orang-orang baik ini selamanya akan ku ingat.
Tengah Asik bercengkerama tiba-tiba suasana ruangan hening saat sebuah kursi roda yang di duduki Bu Ayu. masuk bersama seorang suster.
"Maaf dok, ibu ini memaksa ingin di antar kemari!" jelas sang suster.
Aku melirik Mas Sandy,Begitupun dengan dokter Hasan. Kami semua di buat penasaran dengan apa yang akan mas Sandy lakukan pada tantenya itu.
Bu Ayu mendekat, menatap lirih pada mas Sandy.
"Alis,.. Sandy,.. tante minta maaf!" gumamnya sendu.
Mas Sandy masih menatapnya dingin.
"Lebih baik kita semua tunggu di luar!" ajak dokter Hasan pada semua staf termasuk Andi yang sepertinya enggan pergi.
"Ayo Andi sayang...!" ajak Rahma.
Dan tinggallah kami bertiga di ruangan itu. ruangan yang sebentar lagi akan menjadi saksi atas kejujuran Bu Ayu pada Mas Sandy.
"San....!" Bu Ayu memutar kursi rodanya mendekati ranjangku.
"Untuk apa kemari? seharusnya besok kita bertemu di persidangan" desis Mas Sandy.
"Apa kamu yakin ingin melakukannya!" tanya Bu Ayu.
Mas Sandy menatapnya sinis. setelah apa yang dia perbuat pada keponakannya, dia masih bisa berkata demikian. benar-benar tak tahu malu.
"Aku rasa, setelah apa yang tante lakukan. seharusnya tante mendapatkan balasan lebih dari itu" sindirnya.
Bu Ayu terdiam, lalu tertunduk kalut.
"Tak perlu bersikap dramatis. aku tahu tante pasti sudah mengira ini pasti terjadi 'kan? atau tante tak mengira akan seperti ini"
"Ternyata kamu memang seperti ayahmu san. kalian berdua kejam." desisnya.
"Kejam? Ayolah! jangan bercanda. bahkan yang berani membuat rencana busuk untuk melenyapkan mama dan papa hanya Tante"
"Mas,..." aku menatap keduanya bingung.
"Ini semua pasti karena ulahmu, Alis! kamu yang membuat Sandy memusuhi saya!'' Bu Ayu menatapku dingin.
"Hentikan tante. CUKUP!" bentak Mas Sandy.
Bu Ayu menoleh kaget padanya.
"Tante masih berani menyalahkan Alis. benar-benar tak tahu diri!" kecamnya.
"Kalian berdua..." geramnya.
"Suster! bawa dia keluar!" perintah mas Sandy tegas.
Suster yang sejak tadi terdiam kaku segera mendekat dan mencoba membawa Bu Ayu keluar.
"Lepaskan! saya bisa sendiri!" sulut Bu Ayu tak terima atas pengusiran yang dilakukan Mas Sandy.
__ADS_1
Dan pada akhirnya perdebatan kami berakhir tanpa kejelasan. hanya luapan emosi yang memang sudah tertahan. terdengar menggema ke seisi ruangan.
• • • • • • •