PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
05•


__ADS_3

Mas Sandy masih terdiam dengan wajah tetap menatap keatas langit-langit.


"Ekehm,"Aku berdehem pelan supaya Mas Sandy mau menyahutiku. Aku melakukannya bukan bermaksud agar mendapat perhatian darinya,hanya saja aku ingin tugasku ini cepat selesai.


"Kalo males nungguin saya sarapan, kamu bisa keluar sekarang!" tukasnya dengan intonasi sangat datar.


Aku menatapnya sesaat. tentu saja dia bisa melakukan hal itu semuanya. meminta semua orang pergi dan tak mengganggunya. Mau ku juga begitu. enggan rasanya harus berlama-lama satu ruangan dengan orang yang kemarin saja memaki ku seenaknya.


Ah! rasanya masih kesal jika ku ingat lagi kejadian kemarin.


Aku tersenyum tipis, Sialnya isi kepalaku terlalu liar untuk menghadapi sikap Mas Sandy. Tapi lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dan mengalah dengan Keegoisan nya.


"Maaf mas,saya lancang!"aku tertunduk penuh sesal. Hah! seperti maling ayam yang ketahuan saja. pikirku.


Aku menyibukan diri dengan merapikan meja dan beberapa dokumen Yang memang sudah tertata rapi di Rak buku. tentu saja ini sangat rapi, aku bahkan sudah merapikannya sejak kemarin.


KRUK!


Suara dari arah ranjang membuatku menoleh pelan ke arah mas Sandy. kulihat dia sedang berusaha menggapai kruknya. Aku berlari kecil dan mendekat.


"Mas Sandy perlu Ini?"


Pemuda itu menyabetnya dengan kasar tanpa menoleh kearah ku. benar-benar sikap tuan muda yang sangat arogan, persis seperti drama-drama korea yang sering ku tonton. Namun sekali lagi, aku tak pernah menunjukan sikap tak suka atau benci,wajahku selalu ku hias dengan senyuman bak Dewi penolong.


"Gak usah di ikutin!" Perintahnya lalu berjalan pelan menuju kamar mandi.


Aku tahu dia mungkin terganggu dengan keberadaanku sebagai perawatnya. begitupun diriku yang sejujurnya tak terbiasa berdua dengan orang baru. Namun hanya satu yang jadi pertanyaan ku sejak tadi,kenapa sikapnya seperti itu? Apa semuanya berhubungan dengan isi ponsel Yang dia hancurkan kemarin? Aku menerka-nerka Bak seorang detektif meski aku tak tahu apa jawabannya.


Bi Marni bilang, tukasku hanya fokus menunggui Mas Sandy. apapun yang terjadi jangan lengah dan jangan terlalu sering meninggalkannya. Tapi Bosan juga rasanya jika harus terus-terusan diam seperti ini. Aku berjalan pelan menuju jendela kamar. ku buka pelan tirai yang menutupi kamar. Cahaya matahari yang hangat masuk dan berpendar ke setiap sudut ruangan di kamar itu. Rasanya lega sekali melihat Cahaya terang bisa bebas masuk dengan leluasa ke dalam kamar yang hanya di terangi oleh lampu temaram sejak tadi.


"Gini kan lebih enak," aku bergumam sembari menggeliat malas.


Ku rapikan kursi roda yang tak terpakai itu sehingga tertata rapi di sudut pintu. beberapa pot bunga yang ada di balik pintu ku tukar dari meja satu ke meja lainnya. hanya untuk memberi kesan berubah agar tak bosan di lihat mata. Aku tersenyum cukup puas dengan hasil kerjaku yang secepat kilat itu.


KLEK,


Pintu kamar mandi terbuka,mas Sandy ternyata hanya mencuci mukanya saja. dengan baju tidur yang basah seperti biasa. Pemuda itu ternyata cukup peka. kulihat matanya memutar seisi ruangan, dia sadar bahwa ada Yang berubah dengan kamarnya itu. ku harap mas Sandy akan menyukainya.


"Saya paling gak suka kalo ada orang mengganti-ganti posisi benda dikamar saya! apalagi tanpa se-izin saya!" Celetuknya.


Sangat menyakitkan dan tentu saja memalukan. kenapa tadi aku sangat yakin dan tak berfikir bahwa si 'Mpunya kamar akan menyukainya.

__ADS_1


"Tapi mas,saya gak ngubah apa-apa kok. saya cuma nuker pot bunga itu aja kesana. dan Yang disana kesebelah sini!" Aku menunjuk arah pot bunga itu bergantian


"Sama aja! gak usah So pinter!" Ledeknya tak suka.


Aku menghela nafas dalam dan menghembuskannya dengan sangat berat.


"Balikin lagi ke tempatnya!" perintahnya lalu kemudian duduk di tepi ranjang.


Aku menatapnya Agak lama, benarkan orang seperti ini sakit? kenapa sangat menyebalkan. batinku.


"Iya mas," Aku mendekati sisi meja dan hendak mengambil pot bunga yang lumayan berat itu. Tapi seketika aku mendapatkan ide cermelang.


"Mas,saya bakalan pindahin pot nya kesana. asal mas Sandy mau menghabiskan sarapan mas Sandy pagi ini?!" Pintaku berbalik badan dan menatapnya penuh keyakinan.


Mas Sandy melirik tanpa Ekspresi. Aku yang tadinya berani hampir ciut melihat tatapan tajamnya. apalagi dengan mukanya yang masih tampak lebam Itu.


"Gimana mas? ini lumayan berat loh?!" Bujukku lagi.


"Siapa suruh, kamu pindahin pot itu kesana?" tanyanya ketus.


"Mas,mas tau gak ini tanaman apa? ini tuh namanya SRI REJEKI. kalo tanaman ini di simpen di sudut ruangan yang gak ada cahayanya. bisa bawa sial mas! dan jadi sarang nyamuk. tapi kalo Disimpen di tempat terang kaya gini. maka tanaman ini akan tumbuh dan berfungsi seperti namanya. SRI REJEKI. pembawa Rejeki loh mas." cerocos ku yakin


"Mitos,"Timpalnya cepat.


Mas Sandy terdiam. sepertinya dia termakan omonganku dan mulai terpengaruh. kulihat dari perubahan Ekspresi wajahnya.


"Ngaco!" Dengusnya kaku.


"Mas Sandy jangan bohong?!" godaku


"Udah buruan pindahin! bawel banget!" Bentaknya kesal


"Tapi, janji dulu mas Sandy mau habisin sarapannya? kalo enggak,saya biarin aja tanamannya tetep disini." Ancamku.


"Bawel..!" Desisnya.


Aku tersenyum,aku yakin kata Ledekan nya itu adalah jawaban 'Setuju' untukku.


"Terima kasih mas," Aku membawa dengan sekuat tenaga pot seberat hampir dua kilo itu.


Setelah selesai menyimpan benda-benda itu,Akupun mendekati mas Sandy. ku bawakan handuk kecil di tanganku,berniat hendak mengeringkan bajunya yang basah.

__ADS_1


"Kenapa gak sekalian mandi aja sih mas? kan gak basah begini jadinya?" Aku mengulurkan tanganku, namun seketika Mas sandy mendorongnya dan mengambil paksa handuk ditanganku.


"Saya bisa sendiri!" Desisnya.


Aku menatap tak tega, aku yakin dia benar-benar tak nyaman dan malu dengan kondisinya yang seperti ini. sebelah tubuhnya masih di penuhi perban dan pasti terasa sangat sakit. kurasa dia hanya berpura-pura kuat saja di depanku. dia tak ingin orang lain mengasihaninya. Aku yakin itu.


Aku tak ingin terlihat bodoh dengan mematung memperhatikannya. ku ambil nampan berisi sarapan di dekatnya. ku aduk lagi susu yang ku yakini masih hangat itu.


"Jangan lupa sarapannya mas, silahkan! saya mau bersihin kamar mandi sebentar." pamitku.


Pemuda itu tak menjawab dan hanya fokus mengeringkan wajahnya. Aku masuk ke dalam kamar mandi.


"Hufth!" rasanya situasi tadi itu sepeti Roller coaster benar-benar membuat bilik jantungku melemah seketika. Tapi Aku juga heran kenapa sikapku Bisa seberani itu padanya. padahal aku baru bekerja beberapa hari saja. Apa karna sikapnya mirip dengan Andi, hingga aku tak bisa membedakan mana anak kecil mana orang dewasa.


"Benar-benar kaya anak kecil." Dengusku tak habis pikir.


hampir 20 menit aku di kamar mandi. ruangan yang cukup besar itu kini terlihat bersih dan wangi. meskipun awalnya sudah bersih. padahal mas Sandy belum mandi,tapi daripada aku harus berdiam diri dihadapannya lebih baik aku menyibukan diri. toh,Bi Marni tak pernah memberi peraturan jika aku tak boleh sering-sering membersihkan kamar mandi.


Ku lihat mas Sandy tengah menyantap sarapannya. kali ini aku benar-benar tersenyum lega. tapi aku tak ingin mengganggunya dan kembali fokus ke salah satu meja untuk menyiapkan obat-obatan yang harus diminumnya. Aku sengaja berlama-lama di depan meja, membuka dan menutup kembali toples obat-obatan ditanganku itu.


"Mana obatnya! buruan!" pintanya


Aku bergegas mendekatinya dan membawa beberapa butir obat. tatapan mata yang sangat jijik dan malas tergambar jelas di wajahnya. mas Sandy meminumnya dengan cepat hanya agar obat itu segera lenyap dari pandangannya.


"Pahit banget ya mas," celetukku


Mas Sandy melirik sinis,tatapan matanya sudah setajam elang yang hendak mencabik-cabik mangsa buruannya. dan aku mengutuk diriku sendiri Yang selalu saja mengeluarkan kalimat-kalimat tak penting seperti tadi.


"Maaf mas," ralatku segera.


Mas Sandy beringsut hendak berbaring. kulihat dia tampak kesulitan dan tak berniat meminta bantuanku. namun aku tak bisa berdiam diri saja menyaksikan nya. Aku segera menarik selimut dan membantunya berbaring dengan nyaman. Aku mengulum senyum, setidaknya sarapan yang ku bawa pagi ini, habis seperti hari kemarin.


Aku duduk menyiapkan salep yang harus ku oleskan pada sekujur luka goresan yang hampir mengering itu. pekerjaan yang terlihat mudah namun aku tak menyukainya.


"Permisi mas,tangannya!" Aku mencoba untuk menyentuh sebelah tangannya. Aku mengernyitkan dahi saat melihat luka-luka ditangannya itu.


"Buruan! saya pegel!" perintahnya kasar.


Aku mengangguk gugup dan dengan segera mengoleskan obatnya.


"Awwwh! pelan-pelan!" geramnya menahan sakit.

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2