
Tiga bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. aku jadi lebih sering mengurung diri di kamar. Namun Mas Rizal seakan tak bersalah dan bersikap biasa saja padaku bahkan mungkin menganggap kejadian itu tak pernah terjadi.
Pagi ini aku terbangun dengan rasa mual di perutku. mual hebat yang membuat aku ingin segera memuntahkannya. Aku berlari cepat menuju kamar mandi. rasa mual yang benar-benar menguras perutku.
Aku menatap nanar pada cermin yang usang. menatap wajahku tak percaya.
"Dua bulan," aku bergumam lirih membayangkan jika apa yang kupikirkan ini akan terjadi. Aku keluar dari kamar mandi. ku lihat kamar mas Rizal kosong. pasti dia tak pulang lagi semalam.
Aku membuka pintu dan melihat ternyata hari sudah sangat siang. Aku bangun sesiang ini? bagaimana mungkin aku tidur begitu pulas. ku lirik jam dinding yang menunjukkan pukul 7.30 pagi.
Tanpa pikir panjang. Aku segera bersiap untuk menemui Bu Syafira. beliau adalah seorang bidan yang tinggal tak jauh dari rumahku. Dengan uang yang ku sisihkan setiap hari,aku memberanikan diri pergi dari rumah tanpa sepengetahuan mas Rizal. meskipun aku tahu, aku akan membayar mahal untuk keberanianku itu.
Setibanya di Rumah bidan, aku segera masuk ke ruang pemeriksaan. beruntunglah ini masih pagi dan belum ada pasien satupun.
"Loh, Alis. kamu datang sepagi ini?" bu Syafira menilik ke arah belakang.
"Kamu sendirian?" tanyanya lagi.
Bu Syafira ini merupakan bidan yang sudah bekerja di kampungku selama belasan tahun. sejak masih remaja, aku sering membantunya di klinik. terkadang aku membantu membereskan klinik atau sekedar mengantarkan obat-obatan. dia sudah tahu betul bagaimana cerita hidupku. sehingga dia terlihat panik saat aku datang padanya sendirian.
"Bu, saya mau cek kandungan bu." pintaku tak sabar.
Bu Syafira menatap lama diriku.
"Kamu hamil?" selidiknya.
"Saya belum tahu pasti bu. tapi saya sudah 2 bulan tidak datang bulan. saya takut bu!" aku menatapnya lirih. dia tentu tahu ketakutan apa yang ku rasakan sekarang ini.
Tanpa banyak bicara Bu Syafira melakukan beberapa tes padaku.
"Kamu hamil Lis,selamat ya! usia kandunganmu sudah jalan 10 minggu." jelasnya.
Aku menggeleng pelan. haruskan aku hamil dalam kondisi rumah tanggaku yang berantakan ini?
Padahal tadinya aku ingin mengakhiri pernikahan ini bagaimana pun caranya. Tapi nyatanya niatku kini hanya menjadi angan yang sangat jauh untuk ku gapai.
"Kamu harus kuat. kamu juga harus yakin jika semuanya akan baik-baik saja. ingat! Ada nyawa di dalam perut kamu lis! ibu rasa, jika kamu bicara baik-baik pada Suamimu dia akan mengerti!"
Aku menatap tak yakin pada bu Syafira. Karna pada kenyataannya bicara memang lebih mudah daripada melaksanakannya.
Aku pulang dengan sekantong obat-obatan ditanganku. isi kepalaku menerawang jauh entah kemana. Aku tak sanggup jika harus menanggung beban seberat ini, apalagi aku harus melindungi janin yang ada dalam perutku. Aku mengusap perutku pelan.
__ADS_1
Setibanya di rumah, aku dikagetkan dengan kondisi pintu yang sudah terbuka. Aku menatap heran ke arah pintu.
"Mas! mas Rizal sudah pulang!" Aku masuk ke dalam rumah seraya memeriksa seisi ruangan.
BRUGK!
Sebuah benda terdengar jatuh cukup keras dari arah kamarku. aku berlari kecil menuju kamar. ku lihat mas Rizal tengah mengacak-ngacak lemari pakaianku.
"Mas! kamu ngapain? kenapa baju aku di acak-acak?" tanyaku tak terima sembari mendekatinya dengan tatapan penuh amarah.
"Mana uang nya? dimana kamu menyimpan semua uang itu?" mas Rizal tampak fokus mengacak-ngacak bajuku.
"Uang apa mas? uang untuk apa? mas Rizal kalah judi lagi? bisa gak sih kamu berhenti berjudi mas!"
Mas Rizal berhenti dan menoleh padaku sinis. kedua matanya berkilat penuh kebencian. Lalu pandangannya beralih menatap kantong plastik yang ku pegang.
"Apa ini? obat-obatan apa ini?" mas Rizal membuka semua obatnya.
"Mas! hentikan!" aku merebut obat itu sebelum mas Rizal membuangnya.
"kamu darimana? dan obat-obatan apa itu? ayo jawab!!!" bentaknya tak sabar.
Aku tertunduk ketakutan.
Mas Rizal terdiam. dia menatapku seakan tak percaya. pemuda itu berdiri dan mendekat. tatapannya benar-benar menakutkan.
"Kamu hamil? kamu hamil??? siapa! siapa yang sudah berani menidurimu?!" Bentaknya.
Aku melotot tajam menatap ke arahnya. tak percaya dengan apa yang diucapkannya barusan. dia mempertanyakan siapa ayah dari bayi di perutku?
Aku tersenyum getir.
"Kamu pikir, laki-laki mana yang berani meniduriku. jika mereka tahu aku punya suami gila?" sulutku
"Kamu jangan bohong Alis! aku tahu, pasti selama aku tak di rumah. kamu diam-diam membawa pria ke rumah ini kan?!" bentaknya lagi. kali ini dengan satu tangannya menunjuk padaku.
PLAKKKK!!!
Habis sudah kesabaranku,Dan entah darimana ku dapatkan keberanian itu hingga tanganku mendarat tepat dipipinya.
"Suami macam apa kamu Mas! berani-beraninya menuduhku sekeji itu? kamu pikir aku perempuan nakal?"
__ADS_1
Mas Rizal tentu tak terima dengan perlakuanku yang di anggapnya terlalu berani itu. dia menarik dan mencengkram daguku cukup kuat.
"Aku sama sekali tak percaya! dia pasti bukan anakku!" Mas Rizal mendorongku hingga aku tersungkur ke lantai. setelah itu dia pergi entah kemana.
Aku masih mematung di lantai. entah harus menangis atau tertawa. Baguslah jika dia tidak mengakui anakku. Mungkin dia akan menceraikanku setelah ini.
Aku menatap nanar obat-obatan ditanganku.
Dan di tengah masalah yang menggelayutiku,tiba-tiba tetangga dari ibuku datang ke rumah. dia mengetuk pintu dengan tak sabar. Aku bangkit meski masih dengan perasaan kacau.
"Lis..! bapak kamu lis, bapak kamu kecelakaan!" Selorohnya sembari memegang tanganku erat.
Tubuhku bergeming seketika. tatapan mataku menerawang entah kemana. pikiranku seakan kosong.
Dunia memang sedang mempermainkanku. membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya. Membuatku merasa tak ingin hidup lagi.
Dulu sekali, tak pernah terpikirkan olehku jika aku akan menjadi bulan-bulanan takdir yang mengenaskan
Mendapatkan suami yang benar-benar tak berperasaan. hingga semua masalah mendatangiku bertubi-tubi.
Kini aku dan ibu hanya mampu menangisi pusara ayah. memanggilnya berkali-kali pun tak akan membuatnya kembali. Kenapa ayah meninggalkan kami di saat seperti ini. di saat aku membutuhkan perlindungannya.
Aku bahkan tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghadapi hidupku nanti.
Ibuku yang memang sering sakit-sakitan membuatku semakin mencemaskannya apalagi dia tinggal seorang diri.
••
"Lalu bagaimana dengan ibumu teh?" mas Sandy menatapku penasaran saat aku berhenti bercerita.
"Ibu meninggal setelah 2 tahun kepergian bapak." Aku mengusap air mataku pelan. Mas Sandy mengulurkan tangannya dan ikut mengeringkan air mataku.
Tatapan matanya sendu, gurat kecemasan tergambar jelas diwajahnya.
"Maafkan saya Karna telah memaksa teh Alis untuk bercerita. saya sungguh menyesal!" Tukasnya pelan.
Aku tersenyum tipis.
"Enggak mas. justru saya lega karna bisa bercerita setenang ini pada mas Sandy. selama ini saya selalu menutup rapat cerita hidup saya. saya tak ingin jadi bahan olok-olokan orang. mereka pasti akan tertawa jika tahu kisah hidup saya yang sebenarnya."
Mas Sandy menarik tubuhku ke dalam dadanya.
__ADS_1
"Saya janji saya tak akan melukai hati kamu teh. saya benar-benar mencintai kamu. dan saya pastikan, kalian berdua tak akan menderita lagi setelah ini!" jelasnya sembari menghujaniku dengan ciuman manis dipucuk kepalaku.
• • • • • •