PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•186


__ADS_3

"Ternyata kamu tak sungguh-sungguh tidur," tukasnya pelan.


"Saya nungguin mas Sandy." aku menatapnya sendu.


"Kenapa kamu harus menunggu saya? kamu seharusnya istirahat." jawabnya seolah tak ingin bertanya mengapa aku menungguinya.


"Mas,..!" ku guncang tangannya.


"Istirahat lah," tukasnya sembari bangkit dan mencoba melepaskan pegangan tanganku.


"Mas Sandy belum makan malam?"


"Saya sudah makan di kantor. kamu tenang saja, soal makan saya masih ingat." sahutnya.


"Tapi saya lapar," selorohku seraya mengelus lemas perutku.


"Kenapa kamu gak makan malam tadi?" tanyanya cepat.


Aku menahan senyum kecilku. jelas dia khawatir mendengarku belum makan malam. jika dengan cara memaksa masih tak bisa mendapatkan perhatiannya. maka aku harus bermanja-manja didepannya.


"Saya kan nungguin mas Sandy." keluhku dengan wajah ketus.


"Ya sudah, pergilah makan!" perintahnya enteng.


"Mas, saya ini sakit. masa harus turun sendirian buat makan! harusnya mas Sandy Temenin dong!" protesku.


"Di bawah ada bi Atun." tolaknya.


"Yang suami saya siapa sih? kalo saya tiba-tiba kepeleset ditangga gimana? kalo saya jatuh Gimana? mas Sandy mau liat saya tambah sakit?"


"Kamu jatuh juga karena ulah sendiri. lagipula kamu sudah besar. pergi ke kedai saja, sudah tak memerlukan saya" sindirnya.


Ya Ampun! disini jelas aku kalah telak. akulah yang bersalah dalam masalah ini. aku memutar otak cepat,


"Aaahhh!" erangku mencengkram kuat perutku.


"Kenapa?" selidiknya namun masih sedikit kaku.


"Kayanya asam lambung saya kumat." rengekku.


"Dimana obat lambungnya?" tanyanya cepat.


"Saya cuma perlu makan mas, ini karena saya biasa makan malam pukul 7. dan sekarang sudah jam 9." keluhku beralasan.


"Oke. baiklah! kamu tunggu sebentar! saya ambilkan makan malam." tandasnya terlihat sedikit panik.


Mas Sandy berjalan cepat keluar dari kamar. ku tatap kepergiannya penuh kemenangan.


"Siapa suruh jutek sama istri sendiri." desisku menahan tawa.


Tak berapa lama mas Sandy kembali masuk dengan nampan berisi makan malam dan juga buah-buahan.


"Makanlah!" mas Sandy meletakan nampan itu di atas nakas.


Aku mendengus kesal.


"Kenapa lagi? apa makanannya kurang?" mas Sandy menoleh cepat padaku.


"Selama menikah, saya belum pernah ngerasain makan di suapin mas Sandy! Sekali-kali suapin saya dong mas, dulu kan selalu saya yang nyuapin?" pintaku sedikit memohon.


Mas Sandy menghela nafas dalam.


"Tangan kanan kamu kan baik-baik aja, lagian saya masih banyak kerjaan" tukasnya enteng.


Aku menatapnya ketus. mas Sandy jika sudah bersikap cuek begini, maka cara apapun tak akan bisa mengembalikan suasana hatinya.


"Ya sudah!" Aku menarik selimutku dan kembali tidur.

__ADS_1


"Alis, kenapa malah tidur? makan malam kamu Gimana?" selorohnya.


"Saya gak mau makan." dengusku ketus.


"Nanti kalo asam lambung kamu kambuh lagi Gimana?"


"Terserah. Biarin aja kumat!" aku bersembunyi dibalik selimut.


"Kenapa kamu jadi seperti anak kecil. Padahal yang seharusnya marah itu saya. kamu pergi ke kedai bersama Ivan dan bahkan tanpa meminta izin pada saya, lalu kamu pulang dalam keadaan terluka. kamu pikir siapa orang yang tak akan marah jika begitu?!" keluhnya.


Ku buka selimutku kasar, sembari menatap tajam dirinya. jelas-jelas aku sudah minta maaf. tapi dia masih saja bicara begitu.


"Ayo habiskan!" perintahnya lagi.


Aku menoleh sejenak pada makanan itu lalu bangkit dari tempat tidur.


"Mas Sandy makan aja sendiri!" Aku berjalan menuju kamar mandi.


"Alis...!" panggilnya. Namun ku biarkan saja dan segera menutup pintu kamar mandi.


Kesal rasanya, kenapa juga aku harus sakit perut disaat sedang bertengkar begini.


"Arrghh!" Aku meremas perutku pelan. padahal saat aku bilang asam lambungku kambuh, aku hanya Pura-pura saja. kenapa sekarang sakitnya betulan. batinku.


Ku tatap kaget saat ada darah keluar.


"AH!" pekikku kaget.


"Alis... kamu kenapa? kamu jangan bikin saya panik!" mas Sandy tiba-tiba mengetuk pintu.


"Ada darah mas," desahku sedikit kaget.


"Darah apa? kamu jangan bercanda."


Aku menatap lama, kenapa tiba-tiba ada darah di Urine ku.


"Sebentar mas."


Aku membuka pintu pelan. Kulihat raut wajah mas Sandy yang tampak panik.


"Apanya yang berdarah?" selidiknya sembari memeriksa kamar mandi.


"Ini darah apa? kamu kenapa?!" mas Sandy menunjuk ke arah kloset.


Dia menatapku tak karuan.


"Kayanya saya datang bulan mas," aku menyeringai saat ingat jika memang aku belum datang bulan minggu-minggu ini.


"APA?!" Tukasnya cepat.


"Iya. datang bulan. saya juga aneh, kenapa saya baru datang bulan sekarang. makanya saya kaget." jawabku jujur.


Mas Sandy menghela nafas panjang. sembari berjalan keluar dari kamar mandi.


"Mas, bisa tolong ambilkan pembalut saya di laci?" aku tersenyum malu-malu.


"Oke, tunggu." sahutnya cepat. Mas Sandy segera menuju meja rias dan mencari benda yang ku butuhkan.


Selama ini memang aku jarang menunjukkan hal apapun yang berhubungan dengan masalah kewanitaan. makanya wajah mas Sandy terlihat kaget. sebenarnya barusan itu sangat lucu. padahal dia sedang marah dan berusaha cuek padaku. tapi tetap saja dia khawatir dan tak bisa mengabaikanku pada akhirnya.


"Ini,.. cepatlah ganti! Nanti saya minta bi Atun buatkan peppermint tea" perintanya. Aku mengangguk Patuh Dan segera menutup pintu.


•••


Mas Sandy tampak sibuk didepan laptopnya,saat aku keluar dari kamar mandi.


Sejenak dia melirik padaku,namun sayangnya tak ada kata-kata apapun yang terlontar dari mulutnya.

__ADS_1


Aku duduk didepan meja rias, ku tarik laci yang paling atas. tempat dimana aku biasa menyimpan obat-obatan pribadiku.


"Kayanya waktu itu masih ada," gumamku pelan sembari terus mencari.


"Masa iya habis sih,.." aku merengut bingung. mengingat-ingat saat terakhir kali aku meminum obat pereda nyeriku.


"Kamu nyari apa?" akhirnya mas Sandy bersuara. Aku melirik sekilas. percuma saja di bertanya dengan nada yang ketus seperti itu.


"Obat." tukasku singkat.


Ku remas lagi perutku,Hari pertama datang bulan memang selalu seperti ini. tapi bulan-bulan lalu, haid ini selalu datang di siang hari. jelas mas Sandy tak akan tahu bagaimana biasanya aku bergulat dengan rasa sakit ini.


Aku bangkit seraya mencoba mengatur nafas.


TOK...


TOKK..


"Masuk!" sahut mas Sandy.


Bi Atun masuk membawa segelas teh.


"Ini pak teh nya, buat siapa sih pak? kok tumben minta teh begini." selorohnya polos.


"Buat saya bi, coba bawa kesini!" pintaku cepat.


"Loh, si non kenapa lagi?" tanyanya kaget.


"Biasa bi, tamu bulanan." sahutku lesu.


"Ya ampun. pasti sakit banget ya non. mau bibi pijitin?"


"Gak usah bi. saya minum ini aja. mudah-mudahan sakitnya berkurang." Ku ambil gelas di tangannya dan dengan segera ku teguk.


"Hati-hati non,"


Sedikit demi sedikit ku minum teh hangat itu. namun tetap saja rasa melilitnya tak juga reda.


"Bibi tidur aja. ini udah malem bi!" perintahku tak tega melihatnya yang sudah tampak sangat mengantuk.


"Ya sudah, kalo begitu. bibi pamit." Bi Atun meninggalkan kamarku.


Aku kembali duduk di depan meja rias. ku biarkan teh yang baru saja ku minum di atas meja. rasanya sama sekali tak membantu.


"Apa perlu kita ke dokter?" mas Sandy bangkit dan menyimpan laptopnya.


"Gak usah mas," tolakku cepat.


"Lalu bagaimana sakitnya supaya berkurang?" tanyanya bingung.


Aku menoleh dan menatap mas Sandy serius. apa benar dia bertanya seperti itu padaku.


"Bilang saja,.." timpalnya lagi.


"Biasanya Dipijit mas," sahutku polos.


Mas Sandy menatapku cukup lama. mungkin dia tak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.


"Tapi biarin aja mas, nanti juga sakitnya hilang sendiri kok." aku menunduk lesu.


Mas Sandy mendekat dan menarik tanganku pelan.


"Berbaringlah..! biar saya pijat," tukasnya tulus.


"Gak usah mas," Tolakku cepat.


"Jangan membantah!" perintahnya tegas.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2