PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•34


__ADS_3

Hari demi hari mas Sandy semakin menunjukkan hasil yang sangat baik, dia sudah bisa berdiri tanpa memegang kruknya. tampaknya dia benar-benar sangat bertekad untuk bisa segera berdiri dengan kedua kakinya itu.


Sesekali aku tersenyum saat mengintip bagaimana gigihnya mas Sandy berusaha. dibalik sifat cuek dan menyebalkan nya,ternyata dia punya kelebihan salah satu nya adalah sikaptak pernah menyerah nya.


•••


Hari ini Aku baru saja selesai mengurus biaya sekolah Andi,sengaja aku mampir ke sekolahnya selepas pulang bekerja. beruntung lah Mas Sandy membayar semua gajiku 5 hari lebih awal dari waktu yang di janjikan.


"Bu, bagaimana Andy di sekolah?" tanyaku pada bu Maryam wali kelasnya.


"Andi baik bu Alis,hanya saja-,.. "


Bu Maryam terlihat ragu untuk menyampaikan nya.


"Hanya saja, apa bu?" tanyaku penasaran.


"Mungkin Dia sedang tidak enak badan atau apa! saya kurang paham. tapi akhir-akhir ini Andi jadi sering bertengkar dengan beberapa temannya. dan emosinya mudah sekali naik!" jelasnya dengan wajah tak enak hati.


Mungkin karna Andi jarang sekali melakukan hal-hal yang tercela. hingga beliau bingung untuk menyampaikannya padaku. dan lagi baru kali ini Andi bersikap demikian dan mendapat teguran.


"Bertengkar? soal apa ya bu, kalau boleh saya tahu?" tanyaku heran.


Sebelum menjawab pertanyaan ku, bu Maryam tampak tersenyum tipis. melihat senyumanya, aku jadi ragu akan alasan yang harus ku dengar.


"Yah namanya juga anak-anak bu Alis, tapi anehnya memang Andi yang sering tersulut emosi akhir-akhir ini. apa di rumah dia bermasalah. maaf!" tanyanya lagi.


"Enggak bu, kami baik-baik aja! saya juga jarang memarahi Andi karna memang dia anak yang patuh!" jelasku tak paham dengan kondisi Andi yang berubah.


"Hm, mungkin memang suasana hatinya saja sedang tidak bagus ya bu! sebaiknya ibu banyak mengobrol dari hati ke hati dengan Andi." pintanya.


Aku tersenyum ragu, mungkin kah selama ini Andi memendam kesedihan atau kekecewaan terhadap ku? karna seringnya aku berada di luar rumah? batinku.


•••


Sepanjang perjalanan aku terus saja memikirkan tentang Andi. hal apa yang membuatnya marah? dan kenapa dia bersikap begitu. timbul rasa bersalah yang sejujurnya sudah coba ku kubur dalam-dalam. rasa penyesalan karna semasa kecil dia kurang mendapat perhatian dari ayahnya, begitupun denganku yang sibuk berdebat dengannya hingga melupakan kondisi anak kami. dan sekarang pun aku malah menelantarkan anakku Satu-satunya dengan pergi bekerja.


Ku pikir bekerja di rumah Mas Sandy lebih baik daripada aku bekerja sebagai buruh pabrik. toh aku memiliki banyak waktu di rumah. tapi mungkin bukan itu juga yang Andi mau? lalu apa? batinku berkecamuk. ada rasa sesak didada yang coba ku tahan agar tak berujung dengan berlinang air mata.


BIIIMP!!


Suara klakson membuatku terperanjat kaget karna terasa begitu dekat.


Aku tersadar dan menoleh sekitar.

__ADS_1


Dimana aku? batinku melihat sekeliling yang ternyata adalah jalan raya.


"Alis? kamu gak apa-apa?" sebuah suara yang samar-samar ku ingat.


Aku menoleh pelan.


"Pak ivan?" tukasku gelagapan.


"Kamu mau nyebrang atau mau naik kendaraan? kalau mau naik kendaraan, halte nya disebelah sana!" tunjuknya pada jalan didepan kami.


Aku mengedarkan pandangan ku pada sekeliling jalan. sialnya aku terlampau jauh berjalan, hingga melewati tempat pemberhentian angkot yang biasa ku tumpangi.


"Kenapa? kamu salah jalan? kamu mau kemana sih" tanyanya lagi.


"Iya, sepertinya saya salah jalan pak!" Aku menyeringai bingung


Pak Ivan menatapku iba.


"Terus kamu mau pulang ke rumah?"


"Iya. ya sudah saya permisi pak!" pamit ku lebih dulu


"Hey! Tunggu!" Pak Ivan mengejar dan menghadang jalanku yang baru beberapa langkah itu.


"Biar saya antar!" sarannya menunjuk mobilnya yang terparkir.


"Gak usah mikir aneh! saya cuma mau nganter aja! daripada kamu kenapa-kenapa dijalan?" Selorohnya seakan coba menebak jalan pikiranku.


"Gak usah pak! terima kasih!" tolakku sopan.


"Kamu pikir saya bakal ngapa-ngapain kamu?" Desisnya sembari menarik tanganku kuat. aku menatapnya tak suka. sikapnya memang sangat kurang ajar sejak pertama bertemu.


"Kalau saya berbuat tak baik sama kamu! kamu bisa ngadu sama Sandy!" tukasnya setengah meledek.


"Tolong jangan paksa saya pak! kalau enggak, saya bakalan teriak!" ancamku sembari melirik beberapa orang yang berlalu lalang di pinggir trotoar.


Pak Ivan melepaskan cengkraman tangannya dengan terpaksa. Aku pikir ini saat yang bagus untuk melarikan diri.


"Saya permisi!" tukasku meninggalkan nya dan segera berjalan menuju arah yang berlawanan.


Jika dilihat sekilas, pak Ivan memang tipe pemuda mapan dan pasti di cintai oleh para gadis diluar sana. tapi setelah tahu bagaimana sikapnya, aku jadi berfikir dua kali soal pandanganku terhadap penampilannya.


•••

__ADS_1


Aku tiba di rumah sedikit terlambat karena harus putar arah saat menaiki angkutan umum.


Ku lihat Andi sedang duduk di teras sendirian dengan sepotong eskrim di tangannya.


"Mama! mama dari mana?!" Andi mendekatiku dan memelukku sepertinya dia menunggu ku sejak tadi.


"Andi gak main sama Reyhan?" tanyaku melihat ke arah rumah Bu Dewi.


"Reyhan lagi pergi sama ayahnya ma!" Sahutnya dingin.


Hatiku lagi-lagi berdenyut.


Ku dekap erat tubuhnya, ku kecup pucuk kepalanya.


"Terus Andi dapat eskrim dari siapa?" tanyaku lagi.


"Dari om Erwin. ternyata om Erwin baik ya ma?" jelasnya.


"Iya sayang, om Erwin emang baik!" jawabku singkat.


"Lalu kemana om Erwin nya?" tanyaku sembari melihat ke segala arah.


"Katanya mau betulin motor ma" jawabnya singkat.


"Ya sudah, Kita masuk yuk! mama beli bubur kacang kesukaan Andi loh!" bisikku yang di sambut sumringah olehnya.


Kami duduk berhadapan, ku lihat Andi begitu lahap memakan bubur kacang Yang dia campur dengan Eskrim yang belum sempat di makannya. Saat melihat Andi seperti ini,aku selalu diliputi rasa cemas.


Bisakah kita bahagia suatu saat nanti nak,.......


"Ma! mama gak makan? bubur kacang nya enak loh ma?" tukasnya.


"Andi makan aja dulu, mama masih kenyang!" ku lihat Andi begitu lahap.


Sempat berfikir untuk bertanya soal masalahnya di sekolah, tapi melihat Andi makan begitu lahap. aku mengurungkan niatku. biarkanlah dia menikmati makanannya hingga selesai.


PING!


Ponsel ku berdering, tanpa pesan singkat masuk. ku lirik layar ponselku sesaat.


#Teh, besok datang lebih pagi! saya mau sarapan bareng."


#Jangan menolak!"

__ADS_1


Aku menatap bingung isi pesan itu.


• • • • • • • •


__ADS_2