
Hari ini sepertinya hari yang paling buruk yang aku alami. ketika aku mencoba sekuat tenaga berbohong pada mas Sandy soal pertemuanku dengan Bu Ayu. Aku malah harus menghadapi kenyataan bahwa kebohonganku yang lainnya akan segera terbongkar.
Pak Ivan menatap kami berdua secara bergantian. tatapannya seakan sedang mendapatkan jackpot besar.
"Selamat pagi pak direktur?" selorohnya menyapa mas Sandy.
"Kamu ngapain pagi buta begini kemari?" mas Sandy menatap sinis padanya.
Sedangkan aku yang sejak tadi tak tenang. terus berdoa agar pak Ivan tak memberitahunya jika dialah pemilik kedai ini.
Tapi sepertinya harapanku sia-sia...
Pak Ivan tersenyum simpul, melirik padaku seolah memintaku untuk menjawab pertanyaan yang mas Sandy lontarkan padanya.
"Apa Alis tak memberitahumu?!"
Seketika itu juga Mas Sandy menoleh padaku kaget. lalu beralih menatap pak Ivan.
"Jangan bercanda, dia tak ada urusannya denganmu!" tukas mas Sandy yakin.
"Udah mas, Gak usah diladeni. banyak orang gak enak di liat!" bisikku mengusap lengannya.
"Sepertinya hubungan kalian sudah ke tahap serius ya!" Pak Ivan menatap lekat padaku.
"Jangan macam-macam kamu!" sulut mas Sandy memasang tubuh kekarnya untuk melindungiku.
"Alis,.. apa kamu tak mau menjelaskan pada sahabat saya ini. jika kamu adalah karyawan saya sekarang?"
BOOMMM!
Aku menghela nafas dalam.
Seperti yang sudah ku duga sebelumnya. dia akan dengan senang hati mengabarkan hal itu pada mas Sandy. Aku menengadah menatap mas Sandy khawatir. bagaimana perasaan nya sekarang? dia pasti akan marah besar padaku.
"Apa itu benar teh?" mas Sandy berujar namun tak menoleh padaku.
"Mas,.. Saya bisa jelaskan semuanya!" gumamku pelan.
"Bagus! mulai sekarang! kamu gak usah kerja lagi disini!" mas Sandy menarik paksa tanganku membuatku seketika terhuyung mengikutinya.
"Tunggu!" pak Ivan mencoba menjegalku.
"Meskipun kamu atasan saya. tapi disini,dia karyawan saya! kamu tak bisa seenaknya seperti dulu san," tukasnya sinis.
Aku benar-benar bingung harus bersikap seperti apa menghadapi dua pria ini. disisi lain aku tak ingin keluar dari pekerjaan ku sekarang. tapi, melihat mas Sandy marah seperti ini juga membuatku tak bisa menolaknya.
"Saya lebih berhak atas Alis. bukan kamu!!!" sulut mas Sandy tak kalah sengit.
"Oh,jadi kamu ingin menunjukkan kalau kalian ini pacaran? tidakkah dia tahu, bahwa nantinya dia juga akan kamu tinggalkan seperti sampah yang biasa kamu buang san!" tukasnya satir.
__ADS_1
"Terserah!" geram mas Sandy meninggalkan pak Ivan begitu saja. lalu tangannya menarik dan menyeret paksa tubuhku masuk ke dalam mobil.
Mobil kami melaju begitu kencang membelah jalanan kota yang masih berkabut itu. Aku tak berani menegurnya meskipun kecematan mobilnya hampir saja membuat jantungku berhenti berdenyut.
Mas Sandy membawaku ke apartemennya. Rasa takut seketika menghantuiku. tak terbayang akan seperti apa dia mengamuk padaku. bahkan wajahnya terlihat merah padam, mungkin karena menahan amarah.
Mas Sandy keluar dari dalam mobil membanting pintu mobilnya cukup keras.
BUGK!
Aku terperanjat dan bergegas membuka safetybelt ku yang tiba-tiba macet.
"Ayolah. jangan bikin emosi juga!" gerutuku menarik benda itu kasar.
Mas Sandy membuka pintu mobilku, namun pandangannya sama sekali tak mau melihatku.
Aku turun dengan penuh rasa takut. tak berani ku tatap matanya.
"Mas Sandy saya minta maaf!" gumamku gugup.
"Kita bicara didalam!" mas Sandy mendahuluiku berjalan menuju apartemennya. aku mengekorinya tanpa membantah lagi.
•••
Pecahan-pecahan cerita kelam tentang pertengkaranku di masalalu seolah menjelma kembali menjadi rangkaian gambar yang nyata dalam benakku.
Rasa takut yang sedikit demi sedikit menarikku ke dalam mimpi buruk itu lagi. Apakah mas Sandy juga akan bersikap kasar seperti mas Rizal dulu?
"Masuk!" tegurnya terdengar kasar.
Aku masih bergeming. belum ingin melangkahkan kakiku ke dalam apartemennya. bagaimana jika dia benar-benar akan bersikap kasar padaku. aku menoleh ke arah belakang. sialnya tak ada pintu keluar yang dekat untuk berjaga-jaga jika aku harus kabur.
"Kenapa? nyari jalan keluar buat kabur?" selorohnya seperti tahu jalan pikiranku.
"Ayo masuk!" perintahnya setengah mengancam.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk. dan seketika mas Sandy menyeretku untuk duduk di Sofa.
Mendapat perlakuan kasarnya tentu membuatku kaget. mas Sandy yang ku kenal tak seperti ini,semarah itu kah dia padaku? atau ini semua ada hubungannya dengan pak Ivan?
Aku menengadah menatapnya.
"Jadi pemilik kedai itu adalah Ivan?" desisnya kesal
"Maaf mas, saya tak bermaksud menyembunyikan semuanya dari mas Sandy!"
"Lalu kenapa kamu tak memberitahu saya dan membiarkan dia yang mengatakannya? saya benar-benar seperti orang bodoh!" mas Sandy tersenyum getir.
"Mas,.." Aku bangkit dan memegang kedua tangannya,
__ADS_1
"Bahkan kamu masih berani berbohong! saat dia bilang,saya tak memahami kamu teh?! kamu masih bersikap tenang bahkan tanpa rasa bersalah? hebat kamu!!!" cibirnya penuh emosi.
Aku hanya bisa tertunduk dihadapan mas Sandy. masalah yang ku pendam ini akhirnya malah menjadi bumerang bagiku. aku tak bisa menyanggah, karena memang akulah yang bersalah dalam hal ini. aku terlalu takut untuk jujur, hingga mengabaikan perasaannya.
"Apa kamu tak percaya pada saya teh? hingga kamu tak mau menceritakan semuanya soal Ivan? atau memang benar dugaan saya! kalian sudah saling mengenal. dan saya tak tahu soal itu?" tuduhnya setengah berteriak. otot wajahnya tampak menengang dan sangat menakutkan.
"Saya bersumpah, saya sama sekali tak mengenal pak Ivan. alasan saya tak memberitahu mas Sandy, karena saya pikir itu bukan masalah besar. saya hanya bekerja disana dan tak ada niat apapun selain itu." jelasku.
"Bukan masalah besar kamu bilang? kamu tak tahu saja bagaimana Ivan! Dia bahkan sudah pernah menghianati saya dan saya tak ingin semua itu terulang lagi!"
"Apa semua ini ada hubungannya dengan masa lalu kalian?!" selidikku yang mulai menyadari satu hal.
Mas Sandy memalingkan wajahnya kalut. mungkin dia sendiri tak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Teh Alis tak usah bekerja disana lagi." perintahnya.
Aku melayangkan tatapan tak suka dengan perintah otoriternya itu.
"Enggak mas. saya sangat membutuhkan pekerjaan itu." tolakku.
Kali ini mas Sandy balik menatapku sengit.
"Berapa banyak uang yang kamu butuhkan agar kamu mau berhenti bekerja dengannya?!"
DEG!
Pertanyaan keji yang sekaligus menyakitkan itu tak ku sangka keluar dari mulutnya.
Apa dimatanya aku terlihat sangat membutuhkan uang?
Apa baginya uang bisa menyelesaikan setiap masalah yang menimpaku?
Apa aku tak ada harganya sehingga dia bisa membeli setiap kesulitanku dengan uang?
"Serendah itu mas Sandy menilai saya?" aku menatap nanar padanya.
Kami beradu pandang cukup lama. kesal, marah dan kecewa bercampur menjadi satu. tak ada kalimat apapun yang sanggup kami ucapkan pada akhirnya.
"Berapapun uang yang akan mas Sandy berikan untuk saya. saya tetap tak akan berhenti bekerja!" tandasku yakin.
"Bodoh," mas Sandy mendesah penuh kecewa.
Dan aku tak peduli akan hal itu. bagiku ucapannya sudah sangat menyakitkan.
"Saya memang terlalu bodoh untuk dicintai oleh kamu mas. Saya pamit!" Aku berjalan meninggalkannya.
Sesak di dadaku terasa semakin menjadi saat terakhir ku dengar mas Sandy melemparkan benda keras hingga terdengar pecah membentur tembok.
Aku bersandar dibalik pintu, karena tiba-tiba kakiku terasa lemas. ku coba mengatur nafasku lalu menyeka air mataku sebelum akhirnya pergi meninggalkan apartemennya itu.
__ADS_1
• • • • • •