PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•133


__ADS_3

Menjadi seorang istri tentu akan merubah banyak hal dalam hidupku, termasuk keseharianku. Selepas menemani mas Sandy, akupun segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dan tak ada waktu untuk berendam.


Sekarang sudah pukul setengah lima pagi, dan aku harus segera menunaikan ibadahku.


20 menit aku baru selesai dari kamar mandi, aku keluar dengan tergesa dengan hanya mengenakan baju handukku.


"Mau kemana?" mas Sandy yang berdiri didekat tempat tidur dan hanya bertelanjang dada menatap aneh padaku.


"Sholat subuh mas," tukasku seraya berjalan menuju lemari untuk mengambil mukena yang bersih.


"Itu-.. Bisakah kamu tunggu saya?" pintanya ragu.


Aku menoleh padanya pelan.


"Tunggu apa mas?" tanyaku sembari fokus mengeluarkan mukena di dalam lemari pakaianku.


"Saya mau sholat juga!" tukasnya.


Aku terhenyak sesaat. sedikit kaget karena mungkin ini kali pertama dia berkata begitu padaku.


Selama kami saling mengenal aku memang tak pernah membahas tentang hal yang berhubungan dengan ibadah kami. menurutku itu tanggung jawab pribadinya.


Tapi mungkin, ini adalah berkah dari pernikahan kami yang padahal belum genap seminggu.


Aku tersenyum seraya menoleh padanya.


"Ya sudah, saya tunggu! jangan lama-lama ya mas" sahutku lembut.


"Baiklah,.." mas Sandy bergegas menuju kamar mandi.


Setelah menyiapkan pakaiannya di atas tempat tidur. Akupun menggelar sajadah untuk kami berdua. Ku tatap sepasang sajadah itu, ada rasa haru yang entah kenapa membuat hatiku berdenyut.


Mungkin ini bukan puncak kebahagiaan dalam hidupku, tapi aku benar-benar merasa sangat beruntung dan diberkati. ternyata sebaik itu Tuhan padaku.


Mas Sandy keluar dari kamar mandi, aku menatapnya dan tersenyum seraya memberikan pakaian untuknya.


Tatapan kami berdua begitu dalam satu sama lain,tak banyak kata dan hanya menikmati suasana indah subuh ini.


•••


Pagi ini aku turun ke dapur. ku lihat Bi Atun tengah sibuk dengan bahan baku sayuran yang baru saja di belinya dari pasar.


"Selamat pagi!" sapaku.


"Pagi bu, ibu perlu teh? atau susu?" tanyanya kaget.


"Jangan panggil ibu deh, panggil Alis aja bi. saya gak nyaman dengan sebutan ibu!" pintaku tersenyum kecut.


"Aduh,nanti saya di bilang ga sopan loh bu." sergahnya.


"Gak apa-apa! panggil nama aja" pintaku.


"Ya udah, kalo gitu. bibi panggil non Alis aja ya? Gimana?" dia menatapku yakin.


Aku merengut bingung.


"Itu sama saja bi. saya merasa panggilan-panggilan itu tak pantas buat saya." aku menyeringai.


"Pantes kok. Non Alis kan udah jadi nyonya di rumah ini,pantes banget malah!" selorohnya serius.


Aku tak menjawab dan hanya tersenyum lalu beranjak mendekatinya.


"Saya mau masak bi, Bibi belanja apa?"

__ADS_1


"Loh, biar bibi aja yang masak. non Alis duduk aja. saya buatkan teh ya?" sergahnya.


"Enggak bi. saya mau masak buat mas Sandy dan andi." aku mendekat dan melihat bahan makanan yang ada di atas meja.


"Tapi Non, kalo pak Sandy marah Gimana?" wajahnya cemas.


"Gak akan kok bi. tenang aja! bibi mendingan cuci dulu aja piring kotornya. biar saya yang masak!" aku bersikukuh.


"Ya sudah kalau itu maunya Non Alis." sahutnya tak enak hati.


"Saya juga gak ada kerjaan. Saya juga lebih nyaman kalau saya sendiri yang menyiapkan sarapan untuk suami saya," jelasku.


"Pak Sandy pasti sangat beruntung memiliki istri kaya non Alis!" sanjungnya.


Aku tersenyum seraya memilah beberapa jenis sayuran di tanganku.


"Bibi berlebihan. justru saya yang beruntung menjadi istri mas Sandy." sahutku pelan.


"Oh iya. kok bibi gak liat bu Ayu semalam?" tanyanya serius.


"Bu Ayu menginap di hotel bi,"


"Loh,bukannya disini juga rumahnya? kenapa ibu malah tidur di hotel,non?!"


Aku terpaku cukup lama. Hal itu juga yang membuatku tak nyaman. Bu Ayu seolah menghindari ku,sebegitu bencinya kah dia padaku? hingga tak ingin satu rumah denganku.


"Saya juga gak tahu bi," sahutku lesu.


Aku kembali memilah sayuran di hadapanku dan segera memasak mknan sebelum Andi bangun.


•••


Selesai memasak aku segera menuju kamarku.


"Mas, apa mas Sandy sudah siap?" tanyaku mendekat.


"Sini,saya pakaian!" Kali ini aku sudah tak kesulitan lagi saat melakukannya. mas Sandy yang mengajariku cara mengikat dasi dengan penuh cinta, sehingga aku mudah untuk mengingatnya dengan baik. terdengar klise tapi memang itu benar adanya.


"Udah bisa? kalau belum, biar saya ajarkan lagi." godanya mengulum senyum.


"Saya kan pinter mas, Jadi sekali di ajarin langsung hafal!" tukasku yakin.


"Pantas saja kalau begitu, tadi,- kamu juga pintar sekali" bisiknya, seakan mengingatkanku pada obrolan kami yang berakhir dengan 'Panas' diranjang.


Aku menunduk cepat untuk menyembunyikan wajah merahku.


"Kenapa malu?" mas Sandy menarik daguku agar mendongak menatapnya.


Aku tersenyum kecut.


CUP!


Ciuman tipis mendarat mulus di bibirku.


AH! sudahlah. jika sudah begini aku tak rela membiarkan mas Sandy keluar dari rumah.


"I love you!" desahnya manis.


Ku peluk erat tubuh tingginya,wangi maskulin yang begitu kuat membuatku merasa nyaman dan percaya diri.


"Maaf kalau ucapan dan sikap saya berlebihan. saya tak bermaksud seperti itu!" lirihnya mengusap lembut rambutku. Aku hanya mengangguk saja mendengar ucapannya.


"Kamu masak apa barusan? Perut saya sudah lapar?" tukasnya kemudian.


"Nasi goreng," sahutku

__ADS_1


"Kalau begitu saya harus segera turun." selorohnya buru-buru.


Aku terkekeh. dia begitu suka nasi goreng buatanku, sehingga pantas jika dia begitu tak sabaran ketika mendengarnya.


"Ya sudah, mas turun duluan. saya mau bangunkan Andi!" Aku bergegas menuju kamar Andi.


TOK.. TOK..


"Andi sayang, kamu udah bangun nak?" tanyaku seraya membuka pintu kamarnya.


Namun ku lihat, Andi masih tertidur dengan selimut yang membalut tubuhnya.


"Andi sayang. bangun! ini udah siang!" aku mendekat dan duduk disampingnya.


"Andi izin gak sekolah ya ma" gumamnya dengan suara pelan.


Aku mengerutkan dahiku kaget,


"Kamu kenapa nak?" ku periksa dahinya dan ternyata suhu badannya panas.


"Kamu demam. ya sudah, kamu gak usah pergi ke sekolah. kamu istirahat dulu ya, mama ambil kompresan dulu!" aku segera keluar kamar untuk mengambil air hangat.


Andi memang termasuk anak yang jarang sekali sakit,kalaupun sakit dia hanya akan mengalami flu, batuk dan demam biasa saja. sehingga aku tak pernah membawanya ke dokter. hanya dengan obat-obatan yang ku beli dari apotek saja.


"Sayang kamu mau kemana? mana Andi?" tanya mas Sandy heran.


"Andi Gak sekolah dulu mas. badannya panas, sepertinya dia demam!" aku berjalan ke dapur.


"Kalau begitu, saya telepon dokter Hasan. biar dia ke rumah." tukasnya.


"Gak perlu mas, biar di kompres aja. nanti juga panasnya hilang." tukasku santai.


"Gak bisa teh. kita harus tahu, Andi sakit apa, kenapa dia bisa demam. kamu jangan anggap sepele!" mas Sandy mendekat.


"Mas, Andi udah biasa demam begini. paling cuma masuk angin. nanti saya baluri badannya pake bawang merah" selorohku yang memang terbiasa melakukan hal itu.


Mas Sandy menatapku lekat.


"Gak! saya tetap akan telepon dokter Hasan! kamu lakukan saja apa yang kamu mau, saya juga akan lakukan apa yang harus saya lakukan!" mas Sandy berdiri di ambang pintu sembari menelpon.


"Halo dok, Bisakah ke rumah sekarang? andi sakit. dia demam! tolong segera kemari!" pintanya.


Aku termangu.


Ternyata begini rasanya, punya seorang suami yang memang seharusnya menjadi kepala keluarga,juga pelindung keluarga.


"Teh! bukankah seharusnya kamu mengompres Andi?" seloroh mas Sandy mengagetkanku.


"Hah!" aku memekik kaget.


Aku berjalan mendekatinya,


"Terima kasih banyak mas," Gumamku pelan. mas Sandy menatapku tak paham. Semakin dia bersahaja seperti itu, malah membuatku semakin ingin menangis.


"Terimakasih karena mas Sandy begitu perhatian pada Andi," timpalku lagi.


Mas Sandy mengusap lembut pipiku.


"Sama-sama sayang, sudah seharusnya saya melakukan itu pada anak kita." balasnya tulus.


"Oh iya, siang ini akan ada kurir yang mengantar paket untuk Andi. saya sudah janji untuk membelikannya hadiah. tolong kamu terima nanti!" pintanya.


Aku mengangguk haru. Sungguh Beruntung putraku mendapatkan ayah sambung sebaik kamu mas,-


Aku tersenyum manis,menatap suamiku.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2