PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•149


__ADS_3

Ku pegangi area pergelangan kakiku cukup lama. rasa nyeri yang menjalar ke ujung kelingkingnya membuatku tak kuasa menahan tangis.


Aku menoleh pelan ke arah ruang tamu,


Apakah benar tadi itu,..suara mas Rizal?


batinku bergumam tak percaya.


Tapi,tadi itu benar-benar sangat jelas terdengar suara mas Rizal memanggilku. Aku memang bukan orang yang paranoid terhadap hal-hal mistis,tapi barusan itu mampu membuatku panik dan ketakutan.


"Alis," teriak bu Dewi dari arah pintu.


"Saya disini bu," sahutku cepat.


Bu Dewi tampak setengah berlari mendekati kamarku.


"Ya allah, kamu kenapa lis?!" Bu dewi segera menyimpan nampan berisi cemilan yang sepertinya sengaja dia bawa untukku di lantai.


"Saya jatuh bu, habis betulin lampu." lirihku masih mencoba menahan sakit.


"Kenapa kamu nekat sih? dimana yang sakit?" tanyanya dengan wajah cemas.


"Kaki saya bu," aku meringis kecil seraya mengusap air mataku.


"Sini ibu bantu berdiri!" Bu Dewi mengulurkan kedua tangannya untuk memapahku.


Aku bertumpu pada sebelah kakiku yang masih bisa berdiri. dengan memegang erat tangan bu Dewi.


"Pelan-pelan!" tukasnya hati-hati.


Bu Dewi membawaku untuk duduk di ruang tengah.


"Kamu kenapa gak hati-hati sih? sebentar ya, ibu ambil balsem dulu!" pamitnya.


Aku mengangguk saja dan hanya fokus pada rasa sakit di kakiku. Ku tatap sekeliling ruangan ini, pikiranku masih terpaku pada suara tadi. suara yang nyaris membuatku celaka.


Apa mungkin Arwah mas Rizal menempati rumah ini? pikirku.


Ayolah Alis! jangan mengada-ngada. mana ada arwah gentayangan. lagipula mas Rizal sudah lama meninggal, selama tinggal disini pun tak pernah terjadi hal-hal janggal. mungkin itu hanya halusinasimu saja. gerutuku dalam hati. mencoba menepis jauh-jauh pikiran buruk di kepalaku.


Sedetik kemudian aku memilih fokus melihat kakiku saja. ku gerakan perlahan dengan arah memutar.


"Aahhh!" aku meringis menahan sakit. Sepertinya saat aku jatuh, jari-jari kakiku melipat sehingga terasa begitu sakit saat coba ku gerakan.


"Maaf ya lama, ternyata balsem nya habis. jadi ibu beli dulu ke warung."selorohnya seraya berjongkok di depanku.


"Mama, mama jatuh?" Andi dan Reyhan mengikuti bu dewi dari arah belakang.


"Mama Gak apa-apa kok sayang," sahutku.

__ADS_1


"Biar saya sendiri bu," Tukasku saat melihat bu dewi hendak mengoleskan balsem itu.


"Apa kita perlu ke dokter? tapi klinik disini jauh." gumamnya bingung.


"Gak usah bu,mungkin setelah di oles balsem nanti juga sembuh" tukasku yang merasa bahwa semua akan baik-baik saja nanti.


"Telepon om papa aja ya ma! pasti om papa langsung jemput kita." tukas Andi.


"Jangan nak, om papa pasti lagi sibuk! kita gak boleh ganggu" sergahku.


"Tapi lis, kalau dibiarkan nanti tambah parah sakitnya" Bu Dewi menatapku tak setuju.


"Gak kok bu. tenang aja! saya masih bisa tahan kok." Ku olesi kakiku dengan balsem itu perlahan.


Sejujurnya, ini sangatlah terasa sakit. tapi aku tak bisa menunjukkannya di depan mereka. aku tak mau mereka jadi khawatir.


"Ya sudah, ibu bawakan kamu cemilan. lebih baik kamu duduk saja dulu jangan kemana-mana!" perintahnya.


"Iya bu, sepertinya memang saya harus istirahat dulu."


"Andi sama Reyhan temani disini ya. ibu Mau angkat jemuran sebentar!" pamit Bu Dewi.


•••


Alis,.. pulanglah! ayo pulang!


Lagi-lagi suara itu, jelas sekali itu suara mas Rizal. tapi dimana dia? kenapa aku tak melihatnya? dan hanya suaranya saja yang ku dengar.


Saya disini! Bawa Andi pulang!..


Tukasnya lagi tersengar samar.


"Mas Rizal," Aku memekik kecil dan terbangun.


Ku lihat Andi dan Reyhan yang asyik bermain di teras. ternyata aku ketiduran.


Sedetik kemudian terdengar suara perabotan di dapur beradu. seperti ada orang yang tengah menggunakannya.


Aku menajamkan pandangnku ke arah pintu dapur.


Apa mungkin,....?


"Kamu sudah bangun?" tiba-tiba Bu dewi keluar dari sana. Aku sedikit kaget juga lega. ternyata itu bukan hantu.


"Ibu. saya pikir siapa" desahku.


"Perabotan kamu sengaja ibu simpan di lemari. agar tak terkena debu. tapi ternyata, malah ada tikus bersarang disana!" jelasnya.


"Oh begitu," sahutku gamang.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu kenapa lis? ibu lihat kok, kamu kaya ngelamun?" bu Dewi mendekat.


Ku tatap lama wanita itu,apa perlu aku ceritakan yang terjadi tadi? mungkinkah bu dewi akan percaya?


"Kenapa..?" tanyanya lembut.


Ku lirik Andi yang terlihat Asik bermain.


"Saya mendengar suara mas Rizal memanggil saya bu." gumamku pelan


Bu Dewi menatap tajam diriku.


"Kamu serius? kamu mungkin berhalusinasi?" tukasnya yang mungkin sulit percaya.


"Mungkin ibu benar, rumah ini terlalu besar menyimpan energi mas Rizal. meskipun dia tak begitu sering tinggal dirumah. tapi suasana disini bisa membawa ingatan saya pada sosok mas Rizal." gumamku yakin.


"Sebetulnya, ibu masih merasa janggal dengan kematian suamimu. lis." tukasnya tiba-tiba.


Aku menoleh pada Bu Dewi seakan tak percaya. baru pertama kalinya aku mendengar bu dewi bicara begitu soal kematian mas Rizal.


"Maksud ibu?" aku menelisik ke dalam tatapannya yang terlihat ragu-ragu.


"Yah, Sejujurnya ibu juga tak begitu paham. sebenarnya, yang memberi ganti rugi juga yang membiayai sekolah Andi bukanlah dari pihak jasamarga. melainkan dari salah satu perusahaan besar." tukasnya yakin


"Dari perusahaan Besar? dari siapa ibu tahu semua ini?"


"Ibu mendengar dua orang yang mengaku sebagai perwakilan jasamarga waktu itu bicara di telepon. mereka sepertinya di perintah oleh seseorang untuk merahasiakannya dari kamu, ibu tak berani bilang karena saat itu kondisi kamu sendiri tidak terlalu baik."


"Jadi maksud ibu, ada perusahaan besar yang terlibat pada kecelakaan mas Rizal? apa mungkin perusahaan si pemilik truk besar itu?" tukasku menduga-duga.


Ah! sialnya saat kejadian kecelakaan itu hujan begitu lebat, Akupun tak dapat melihat dengan jelas truk macam apa yang menabrak suamiku. yang jelas truk itu sangat besar dan membawa barang-barang dari luar negeri.


"Tapi, untuk apa mereka berbohong? kenapa mereka tak bicara langsung saja pada saya secara baik-baik? kenapa mereka menyembunyikan identitas mereka?"


"Mungkin mereka takut, kamu menyelidiki kasus kecelakaan itu, dan menuntut perusahaan mereka." sahut bu Dewi terdengar masuk akal.


Bisa jadi mereka sengaja bersembunyi di balik nama perusahaan pemerintah untuk mengganti rugi. dan menyebut bahwa itu adalah keteledoran pihak pengendara. demi menjaga nama baik perusahaan. Tapi memang kenyataannya pada saat itu, mas Rizal mengendari motor dalam kondisi mabuk. Aku tak bisa menyalahkan pihak manapun. lalu kenapa mereka berbohong?


Semakin aku memikirkannya, malah semakin membuatku tak paham. seandainya mereka bicara pun, dan berniat bertanggung jawab. aku tentu akan memaafkan. karena mungkin itu sudah takdir yang harus di alami oleh Alm. suamiku.


"Ah,maafkan ibu Yah. jadi membuat kamu berfikir soal itu. ini semua karena kamu bilang mendengar suara alm. suamimu tadi. biasanya, kata orang tua zaman dulu jika ada arwah orang yang sudah meninggal memanggil kita, tandanya dia ingin menyampaikan sesuatu."


"Menyampaikan sesuatu?" gumamku semakin tak paham.


"Mungkin juga, dia ingin mengungkap soal kematiannya" terka bu Dewi.


Aku menghela nafas ragu.


Benarkah seperti itu? mas Rizal ingin bicara padaku? Apa ini tak terdengar berlebihan? menyangkut-pautkan soal kematiannya pada hal-hal mistis?

__ADS_1


Sejujurnya, apapun yang terjadi di masa lalu. aku sudah benar-benar ikhlas. Aku tak ingin mengungkitnya lagi,apalagi hal itu hanya akan membuatku kembali mengingat masa-masa kelam dalam hidupku.


• • • • • • •


__ADS_2