PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•44


__ADS_3

Semilir angin dingin menerpa kulitku, Aku menatap lama ke arah persimpangan jalan itu.


Jalan yang begitu ku kenal,bahkan sangat membekas di ingatanku.


Aku tahu betul bagaimana jalan ini menjadi saksi bisu saat tubuh mas Rizal tergeletak berlumuran darah. ditengah malam yang gelap dengan kondisi hujan sangat lebat, Bahkan aku masih bisa merasakan hawa kengerian yang terjadi pada saat kecelakaan itu berlangsung.


Motor yang dikendarai mas Rizal hancur tak berbentuk,sementara sebuah truk tergelincir lalu terjungkal karna menabrak pembatas jalan demi menghindari motor suamiku.


Namun nahas, kejadian itu telah merenggut dua nyawa sekaligus.


Aku benci bila harus mengingatnya kembali, sebuah trauma yang begitu membekas dibenakku dan hal itu benar-benar sulit hilang begitu saja.



"Tempat ini sangat berkesan untuk saya!" Gumam mas Sandy membuyarkan lamunanku. Aku bahkan tak menyadari berapa lama aku melamun tadi.


"Disini adalah tempat dimana saya bertemu dengannya!" imbuhnya lagi.


Aku menatap nanar jalan itu,tak pernah ku sangka mas Sandy malah membawaku ke tempat ini dari semua tempat bagus yang ada di kota kami.


Mungkin bagi mas Sandy jalan ini memberikan kesan indah Dimasa lalu. Jalan yang mempertemukan dirinya dengan orang yang dia cintai.


Tapi bagiku, jalan ini adalah tempat paling mengerikan yang ku tahu.


"Apa mas Sandy menyukai tempat ini?" gumamku


"Entahlah! saya suka pertemuan dengannya ditempat ini,meskipun tanpa sengaja. tapi,saya juga tidak menyukai situasinya saat itu." jelasnya seakan coba mengingat kembali kenangannya.


"Saya tak menyukai tempat ini,-" Suaraku tercekat.


Mas Sandy menoleh cemas ke arahku. Dan tanpa ku sadari setetes air mata lolos dari pelupuk mataku.


Dan tiba-tiba tangan kekarnya merengkuh tubuhku kedalam dadanya. jari jemarinya terasa lembut mengusap kepalaku.


"Maafkan saya!" bisiknya penuh sesal.


Aku larut dalam kedukaanku. Dan tanpa disadari,aku membiarkan tubuh ini berlindung didalam dekapannya.


•••


Suasana menjadi sangat canggung sekarang. dan benar-benar sangat kaku. Aku bahkan tak berani menatap mas Sandy. Kami duduk bersebelahan disebuah warung kecil dipinggir jalan yang tak jauh dari tempat mobil kami berhenti tadi.


"Ini pak minum nya!" Seorang Bapak menyuguhkan dua buah kelapa muda yang baru saja di kupasnya.


"Terima kasih pak!' tukasku sembari mengaduk Kelapa itu dan buru-buru menyeruputnya. serasa ada sekam diarea wajahku saat ini dan aku harus mendinginkannya.


"Pelan-pelan teh!" selanya lembut.


Aku mengangguk gugup.

__ADS_1


"Soal tadi saya minta maaf! saya Refleks dan tidak bermaksud apa-apa" jelasnya mencoba membuka obrolan yang sayangnya malah membuatku enggan menanggapinya.


"Kenapa mas Sandy malah ajak saya kesini? bukannya mas Sandy mau pergi berkencan? ini sudah terlalu siang mas" Tanyaku tanpa menatapnya.


Mas Sandy menoleh ke arahku,


"Bagaimana saya pergi, jika wanita yang ingin saya ajak berkencan ada disini" Tukasnya serius.


Aku terpaku mendengar jawabannya itu.


"Mas Sandy jangan bercanda" Desisku.


"Saya serius teh. dan lagi bagian mana dari ucapan saya yang terdengar bercanda?" mas Sandy balik bertanya padaku dengan tatapan tajam.


"Tapi kenapa?" tanyaku tak percaya.


Sandy Hadiwijaya. dari sisi manapun dia adalah sumber kesempurnaan seorang pria. setiap gerak geriknya adalah candu. dan setiap bait kalimat yang di ucapkannya adalah mantra.


Lalu kenapa harus diriku diantara ribuan wanita yang mungkin lebih baik diluaran sana. apalagi Usia ku lebih tua darinya, dan lagi aku memiliki seorang anak. status sosial kami jelas jauh berbeda dengannya. Aku tak menyalahkan mas Sandy, hanya saja aku terlalu takut dan belum siap untuk menerima semua ini.


"Jika saya jelaskan alasannya,apa teh Alis akan percaya? bahkan teh alis menganggap perasaan saya ini lelucon" tandasnya terlihat kecewa.


"Mas Sandy bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari saya diluaran sana!" gumamku menatap jauh ke ujung jalan.


"Saya tak peduli. saya akan terus mengejar teh alis hingga teh alis mau membuka hati untuk saya!" Timpalnya yakin.


Ponselku bergetar, mas Sandy menoleh sesaat lalu memalingkan wajahnya.


Aku mengangkat panggilan masuk itu ragu-ragu.


"Iya bu, ini saya. ada apa yah?" tanyaku kaget saat bu Maryam menelepon ku tiba-tiba.


"Andi berkelahi?!" pekikku kaget seraya bangkit dari dudukku.


Aku dan mas Sandy saling pandang cemas.


"Iya bu, saya kesana sekarang!" sahutku panik.


"Kamu tenang teh. kita kesana sama-sama" tukas mas Sandy menawarkan diri


"Iya mas." aku menurut dan segera menuju mobil.


Sepanjang jalan Aku tak bisa tenang, sesekali ku lihat ponselku tanpa alasan. baru kali ini aku mendapat kabar jika Andi berkelahi. bahkan selama bersekolah dia tak pernah seperti itu.


"Tenang lah, Andi anak yang baik. dia pasti punya alasan melakukan itu." Mas Sandy coba menenangkanku,dia tahu betul jika aku adalah orang yang mudah sekali panik.


20 menit waktu berlalu, beruntunglah jalanan lengang hari ini. mobil kami sudah terparkir didepan halaman sekolah.


"Mas saya boleh masuk lebih dulu?" Pintaku meninggalkan Mas Sandy.

__ADS_1


"Baiklah.." Sahutnya lembut.


Aku berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah. Aku berdiri di ambang pintu. terkejut dengan apa yang ku lihat.


Salah seorang orang tua murid tengah berdebat dengan Bu Maryam. sementara Andi hanya diam mematung di belakang keduanya. beberapa guru yang bertugas tampak mencoba menengahi.


"Permisi!" tukasku pelan.


Semua orang menatap ke arah ku. Aku mendekat dengan perasaan khawatir. Anak yang berdiri disamping ibunya itu memegang pelipisnya yang berlumuran darah. Ibunya yang ku kenal bernama Bu sarah itu menatap penuh amarah padaku. sementara Andi hanya tertunduk dan tak berani menoleh ke arahku.


"Ya allah, nak!" Aku mendekati anak yang bernama Arfan itu.


"Jangan di pegang!!! ini semua karna perbuatan anak ibu. tolong dong bu, anaknya di ajarkan sikap yang baik!" Cerocosnya.


"Bu sarah! tolong tenang!" sela bu Maryam.


"Saya minta maaf bu. saya benar-benar minta maaf!" sahutku penuh sesal.


"Andi,kenapa kamu bikin Arfan terluka begini? apa ibu ngajarin kamu buat bersikap kasar nak!" tanyaku pada Andi dengan perasaan kecewa.


Andi tak menjawab dan hanya menunduk tak berani bicara.


"Ibu-ibu bisa tolong duduk sebentar!" pinta bu Maryam.


Aku menatap bingung pada Bu Maryam. namun bu Maryam mengisyaratkan agar aku bersikap tenang.


Aku pun duduk, namun tidak dengan Bu sarah yang sepertinya masih tak terima dengan kejadian ini.


"Bu, bagaimana semuanya bisa terjadi?" tanyaku penasaran


"Bu Alis tenang. hal ini terjadi mungkin karna ketidak sengajaan Andi saja!" jelasnya.


"Enak aja! gak bisa dong bu! anak saya udah berdarah begini, masa dibilang tidak sengaja? memang dasar orangtuanya brandalan aja, makanya sifatnya juga nurun ke anaknya!" Sulutnya berapi-api.


"BU SARAH! Tolong ibu jangan bawa-bawa almarhum suami saya di depan Andi." tukasku setengah berteriak.


"Bu Maryam lihat sendiri kan? bahkan ibunya aja gak mau ngaku salah! jelas-jelas disini anak saya yang jadi korban!" sergahnya tak mau kalah.


"Ibu-ibu tolong! jangan seperti ini didepan anak-anak!" lerai Bu Maryam.


"Saya gak mau tahu! saya minta Bu Alis bertanggung jawab atas semua biaya pengobatan Anak saya!"pintanya menunjukkan pelipis Anaknya yang memang terus mengeluarkan darah.


"Anda tak usah khawatir! Saya yang akan bertanggung jawab!" suara mas Sandy terdengar lantang di ambang pintu.


Aku terperanjat kaget dan seketika menoleh ke arah pintu masuk.


Mas Sandy berjalan pelan mendekati kami. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa mas Sandy malah ikut campur masalah ini yang jelas-jelas bukan menjadi tanggung jawabnya.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2