
Ku turunkan ponselku seraya mengamatinya dari kaca spion.
Haruskah aku menemuinya? dan meminta maaf atas kekacauan yang terjadi kemarin di kantor. tapi, apa mas Sandy tak akan marah ya, kalau tahu aku menemui pak Broto.
Ku perhatikan sekeliling halaman parkir yang memang sepi, begitpun pak Muh yang sepertinya masih lama di toilet.
Tak lama kemudian, orang yang berbincang dengan pak Broto akhirnya pergi menggunakan mobilnya, sementara pak Broto sendiri hendak masuk ke dalam mobil.
Namun sebelum itu,
"Halo, bagaimana? sudah selesai? Bagus! lebih baik kita akhiri saja kontrak kerjasama kita." tukasnya saat mengobrol dengan seseorang lewat telepon. apa mungkin dia sedang membahas tentang kerjasama dengan perusahaan mas Sandy.
Tanpa pikir panjang, ku beranikan diri keluar dari dalam mobil.
"Tunggu," panggilku cepat.
Pak Broto yang hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba menoleh kaget padaku. Lalu seringai menakutkan tergambar jelas diwajahnya.
"Wah, tak menyangka bisa bertemu disini ya?" pak Broto menilik sekitar, lalu beralih menatap ke arah mobilku. pasti dia mencari mas Sandy dan berfikir aku bersamanya.
"Saya perlu bicara sebentar," tukasku ragu. Sejujurnya Akupun takut menghadapi pak Broto ini, apalagi aku tak tahu harus bicara bagaimana.
AH! Bodohnya kamu Alis. umpatku.
"Bicara? disini? atau kita masuk ke dalam?" ajaknya menunjuk ke arah Resto.
"Disini saja," aku maju beberapa langkah.
"Baiklah, silahkan!" ucapnya santai. Pak Broto adalah tipe pria tua yang sedikit menakutkan. sikap tenangnya bahkan bisa membuat siapapun gugup. atau mungkin aku saja yang terlalu penakut untuk menghadapi orang seperti dia.
"Saya ingin minta maaf, atas sikap suami saya pada Anda kemarin!" Ku tundukkan sedikit kepalaku.
"Ahaha.. jadi kamu sudah tahu, soal kemarin? padahal saya tak menerbitkan berita apapun." gumamnya dengan kekehan kecil.
"Saya harap, pak Broto mau memikirkan kembali untuk tidak memutus kerja sama dengan PT. ASTRA." tandasku memberanikan diri. walau aku tak tahu apa yang ku lakukan ini benar atau salah.
"Apa pak Sandy yang meminta anda melakukan ini?" selidiknya.
"Bukan. saya melakukannya karena keinginan saya sendiri." sahutku.
Pak Broto tiba-tiba mendekat, bahkan langkah kakinya terdengar menyeramkan. Aku menengadah menatapnya penuh kecemasan.
Dia tersenyum, lalu melihatku dari ujung kaki hingga ke atas. hal yang membuatku tak nyaman tentunya.
"Jika saja ada penawaran yang lebih bagus, tentu saya bisa pikirkan ulang permintaan kamu." desisnya dengan kilauan mata yang penuh kelicikan.
__ADS_1
"Maksudnya," aku mundur satu langkah.
"Kamu masih belum paham juga,. Diluar sana banyak wanita muda dan cantik yang mau menghabiskan malamnya bersama saya, padahal yang mereka inginkan hanya sekedar uang receh. lain dengan kamu yang meminta hal yang cukup besar pada saya, tentu kamu juga harus punya penawaran besar, nona." gumamnya pelan.
Tatapan matanya semakin lekat menatap tubuhku, seolah yang dia inginkan ada pada diriku.
"Bisakah kita bicara serius! pak Broto bisa bicara begitu pada banyak wanita. tapi maaf, saya tak tertarik!" tegas ku.
"Segala sesuatu itu akan ada konsekuensinya. kamu pasti sudah tahu, untuk mendapat ikan besar, kita juga harus punya umpan yang besar. dan bagi saya, kamu umpan yang cukup menarik." pria tua itu menggigit kecil bibirnya.
"Apa bagi anda, itu adalah hal menyenangkan? tidakkah anda berfikir tentang keluarga anda? karir anda akan hancur jika semua orang mengetahui sifat buruk anda ini pak!" Tegasku.
Pak Broto hanya tersenyum seraya mengusap tengkuknya.
"Jika kamu berani melakukannya, maka saya juga bisa menghancurkan karir suami kamu beserta seluruh perusahaannya. itu mudah bagi saya!" desisnya
"Anda pikir saya akan takut? ancaman seperti bisa dilakukan siapa saja" Ku coba bersikap tenang meski sesungguhnya Aku pun takut.
"7 tahun silam, ada sebuah kecelakaan besar yang merenggut dua nyawa sekaligus dalam satu malam. peristiwa mengerikan itu melibatkan salah satu pengendara motor yang bernama Rizal Haryanto."
DEG!
Aku menatapnya tajam, bagaimana dia bisa tahu tentang hal Itu.
"Seorang wanita yang diduga istrinya menangis di tengah guyuran hujan dengan seorang anak kecil disampingnya. Ah.. itu adalah berita pertama saya yang sangat meledak di pasaran. bahkan saya memotret kamu dari sudut pandang yang bagus, hingga terlihat dramatis." akunya.
"Apa pak Broto pikir saya akan malu, jika pak Broto mengungkap jati diri saya ke media? saya rasa, itu tak jadi masalah!" sahutku enteng.
"Oh, tentu bukan itu. bukan hal itu yang akan saya tunjukkan! tapi tentang siapa pelaku yang bersembunyi dibalik kecelakaan itu." kekehnya penuh kecurangan.
Aku meremat jari jemariku menahan kekesalan.
"Apa maksudnya!" desakku tak paham.
Pak Broto tersenyum, matanya melirik pada sosok dibelakangku. Aku menoleh pelan, dan ternyata pak Muh baru saja selesai dan menuju ke arah kami.
"Sepertinya, obrolan kita cukup sampai disini saja ya." pamitnya dengan senyum penuh kemenangan lalu pria itu masuk ke dalam mobilnya dan segera melaju meninggalku yang masih terpaku atas ucapannya.
"Maaf non lama, saya sakit perut." seloroh pak Muh tiba-tiba.
"Oh iya pak, gak apa-apa."
"Barusan non ngobrol sama siapa?" pak Muh melirik mobil yang sudah menghilang itu.
"Itu rekan bisnis mas Sandy, kebetulan dia juga habis makan dari dalam. jadi kami ngobrol sebentar." jelasku.
__ADS_1
"Kalau begitu, mari Non." pak Muh membukakan pintu untukku.
Aku masuk dan duduk kembali di kursi belakang. dan entah kenapa pikiranku seperti tersihir oleh kata-kata pak Broto tadi soal kecelakaan itu.
Apa maksudnya? pelaku yang bersembunyi dibalik kecelakaan itu?
Sekuat tenaga aku mencoba mengingat kembali pecahan-pecahan peristiwa yang terjadi 7 tahun silam.
Nihil,aku tak menemukan apapun yang mencurigakan bagiku.yang ku ingat hanyalah mobil besar yang menabrak motor mas Rizal adalah mobil pengangkut barang. lagipula sopirnya sudah tewas. mana mungkin ada pelaku lain. atau itu hanya kalimat jebakan saja, pak Broto adalah orang yang licik. dia pasti sengaja menghasutku agar aku semakin cemas tak karuan. jelas-jelas tak ada kesalahan dalam kecelakaan itu, dan semuanya murni karena kelalaian. batinku.
•••
Setibanya di rumah, aku di sambut oleh bi Atun yang tampak membuka kan pintu untukku.
"Gimana makan siangnya non?" tanyanya penasaran
"Lumayan bi," Aku tersenyum tipis.
"Dimana mas Sandy sama Andi bi?" tanyaku lagi.
"Mereka di ruang kerja mas Sandy Non, sepertinya tadi bapak habis rapat" jelasnya.
"Oh,.. kalau begitu, saya permisi bi!" ku langkahkan kakiku menuju ruang kerja mas Sandy. dengan pikiran yang masih berantakan tentunya.
TOK..
TOK..
"Masuk!" sahutnya dari dalam.
Aku membuka pintu perlahan.
"Sayang, kamu udah pulang?" sahut mas Sandy antusias seraya berjalan ke arahku. Ku layangkan pandanganku ke arah Sofa. tampak Andi tengah tertidur pulas.
"Andi tidur?" gumamku.
"Iya, tadi habis minum obat. Gimana makan siangnya?" mas Sandy menatapku lekat. Ku balas tatapannya itu dengan hati-hati.
"Kenapa? wajah kamu kok kusut? apa terjadi sesuatu?" selidiknya.
"Saya capek aja mas!" keluhku
"Benarkah? pasti makananya kurang enak ya" terka mas Sandy seraya mendekap tubuhku ke dalam pelukannya.
Aku hanya mengangguk untuk menutupi perasaan kacau yang timbul karena pertemuanku dengan pak Broto tadi.
__ADS_1
• • • • • • •