PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•136


__ADS_3

"Ma, Andi bosen. pengen main" rengek Andi setelah aku memberinya makan siang dan juga minum obat.


Ku tatap ragu wajahnya.


"Memangnya Andi udah gak pusing?" aku memeriksa dahinya.


"Gak panas kan ma?" selorohnya.


Untunglah pagi tadi setelah di beri obat, Andi tertidur cukup pulas. sehingga obatnya bisa bekerja dengan baik. panasnya sudah mulai turun. tapi tetap saja aku khawatir. apalagi diluar tampak mendung seperti akan turun hujan, padahal baru pukul 1 siang.


"Tapi di luar mendung sayang," sergahku


"Andi bosen." dengusnya dengan wajah ketus.


Ya tentu saja, Andi akan sangat merasa bosan dirumah besar ini. dia biasa bermain dengan Teman-teman sekolahnya. bebas berlarian tanpa ada yang melarang. Ku tatap mainan Andi yang tersimpan rapi di lantai. bahkan mainan itu terlihat menumpuk.


"Bukankah ada banyak mainan?" tukasku mengingatkan padanya,bahwa dulu dia sangat ingin memiliki banyak mainan.


"Andi Gak mau main sendiri." rengeknya.


Aku menghela nafas bingung.


TOK...


TOK...


"Non, ada paket buat Non Alis." suara bi Atun terdengar nyaring.


"Wah kebetulan. kayanya mainan baru Andi udah datang deh!" godaku seraya bangkit dan membuka pintu.


Namun Andi masih cemberut di atas tempat tidurnya.


"Terima kasih banyak ya bi," ku ambil kotak besar itu dan meletakannya di lantai.


"Ini pasti paket mainan buat andi. hadiah dari om papa Karna andi udah jadi anak baik. Kira-kira apa ya isinya?" aku bergumam sendiri. ku lirik Andi tampak masih cuek.


"Apa jangan-jangan isinya pesawat? atau helikopter?" aku terhenyak Pura-pura kaget. tentu saja aku melakukan semua itu untuk membuat Andi penasaran juga.


"Buka jangan ya? Hm..." aku menatap lama kotak itu.


"Buka ma! Andi mau lihaaatt!" selorohnya setengah berteriak antara kesal dan juga penasaran. Aku terkekeh kecil menahan tawa. mana bisa dia tak tergoda dengan mainan baru ini. tingkahnya persis sekali dengan mas Sandy. mudah dibujuk.


"Oke,baiklah! tapi janji ya, setelah mainan nya di buka. Andi main di kamar aja. mama Temenin. oke?" Aku menawarkan kesepakatan yang ku rasa takkan bisa ditolaknya dengan mudah.


"Hm," Andi mengangguk singkat. rupanya dia sangat tak sabar ingin melihat apa isi kotak tersebut.


Aku mengambil gunting dan mencoba membukanya perlahan.


"Mainannya om papa yang beli ma?"


"Iya sayang. Nanti, kalau om papa sudah pulang. Andi bilang makasih sama om papa ya!" perintahku.


Aku sedikit kesulitan membuka kotak berukuran setengah meter itu. selain itu aku juga harus hati-hati saat membukanya. karena bisa saja barang yang ada di dalamnya mudah pecah atau rusak.


"Susah banget sayang," keluhku masih dengan tangan yang sibuk membuka sedikit demi sedikit perekat yang menempel pada kartonnya.

__ADS_1


"Ah! akhirnya." aku menghela nafas lega saat kotak itu terbuka sempurna.


Didalaminya Ada kotak putih besar dengan gambar sebuah Drone dengan tulisan salah satu Merk elektronik terkenal.


"Wuuahhh! ini Drone ma..!" pekiknya sangat kaget. begitupun dengan aku yang masih tak menyangka jika mainan yang ada didalam kotak itu sangat mahal. terkadang aku berfikir apa ini tak berlebihan? mas Sandy begitu memanjakan Andi dengan membelikannya barang-barang mewah.


Ku tarik kotak pembungkusnya. barangkali mas Sandy salah membeli.


Drrrtttt...


Drrrtttt...


Ponselku yang ku simpan di atas nakas tiba-tiba bergetar.


"Andi jangan sentuh dulu ya. mama angkat telepon sebentar," aku bangkit dan mendekati tempat tidur Andi.


"Mas,.." sahutku setelah tahu jika suamiku lah yang menelpon.


"Apa paketnya sudah sampai?" tanyanya dengan suara sedikit berat. seperti tengah menahan marah atau lelah.


"Udah,mas. Mas Sandy kenapa?!" tanyaku cemas.


"Saya baik-baik aja kok teh. Gimana Andi? apa demamnya sudah turun? apa kata dokter Hasan?" celotehnya.


Ku tekan tombol video pada ponselku agar mas Sandy bisa melihat sendiri bagaimana kondisi Andi sekarang.


"Mas bisa lihat sendiri, dia malah Asik melihat mainan yang mas kirim."


"Baguslah. lalu apa kata dokter Hasan?"


"Dokter bilang, demamnya karena infeksi bakteri. seharusnya tidak akan lama, tapi kalaupun nanti malam demam lagi. dokter bilang, Andi harus di cek lebih lanjut ke rumah sakit!"


"Om papa!" teriak Andi saat tahu jika mas Sandy yang menelepon. Ku berikan ponselku saat Andi mendekat.


"Halo sayang, Gimana? apa Andi masih sakit? andi minum obat gak?"


"Minum om. Andi juga sarapan. om papa terima kasih Mainannya." seloroh Andi polos.


"Sama-sama sayang. Nanti kalau Andi udah sembuh. kita jalan-jalan ya!" janjinya.


"Beneran ya om papa." sahutnya sumringah.


"Oh iya,om papa.. ini cara mainnya Gimana? andi Gak bisa? mama juga gak bisa?" Andi merengut lesu.


Mas Sandy terkekeh.


"Andi baca dong cara penggunaan mainannya dibuku panduan!" perintahnya.


"Andi gak ngerti om papa! tulisannya bahasa inggris." bisiknya kesal lalu di iringi tawa nyaring mas Sandy di ujung sana.


Aku tersenyum tipis. betapa Andi sangat ceria saat bicara pada mas Sandy. dia seperti menemukan dunianya sendiri.


Mereka Asik mengobrol cukup lama dan aku hanya melihat keduanya sembari sesekali menimpali obrolan mereka.


"Andi, teleponnya udah dulu ya. om papa kan harus kerja!" perintahku.

__ADS_1


"Yah,.. kan Andi belum selesai cerita ma!" rengeknya.


"Sebentar lagi om papa pulang. andi bisa cerita sepuasnya!" sahut mas Sandy tersenyum lebar.


"Mas Sandy udah makan siang?" tanyaku kemudian.


"Udah sayang. kamu sendiri?!"


"Setelah ini, saya baru makan siang. Andi maksa terus minta main diluar mas. padahal diluar mendung." jelasku.


"Andi. hari ini andi jangan keluar dulu ya? istirahat yang banyak! kalo Andi udah sembuh. om papa ajak main keluar. oke?!!" perintahnya.


"Siap, BOSS!!!" Sahutnya cepat.


Kami berdua tertawa melihat tingkah putraku yang mengemaskan. dia memang pandai menghidupkan suasana. bahkan dalam kondisi sakit sekalipun.


Mas Sandy menutup teleponnya. lalu aku segera merapikan sampah bekas kotak mainan andi. Ku lihat Andi duduk di atas tempat tidurnya sembari memainkan Drone itu meski tanpa menggunakan Remote control.


"Ngeeeeng.... ngeeng...!"


"Andi tunggu disini ya. mama mau buang sampah dulu ke bawah."


Aku keluar dari kamar dan segera menuju dapur untuk membuang sampah yang lumayan banyak ini.


Langkahku terhenti saat tiba di dapur,


ku lihat bu Ayu tengah menikmati secangkir teh. dan sebuah koran yang tergeletak disisinya.


"Bu,.. apa ibu mau saya buatkan makan siang?" aku memberanikan diri bertanya.


Bu Ayu menoleh pelan lalu kembali fokus pada cangkirnya.


"Saya tak biasa makan siang di rumah!" sindirnya.


Aku terpaku cukup lama. jujur aku takut untuk berucap. dan rasanya semua yang ku katakan akan terdengar sia-sia baginya.


"Soal tadi pagi. saya minta maaf, kalau saya sudah lancang!" Aku tertunduk kalut.


"Bagus jika kamu sadar," gumamnya dingin.


"Saya tahu ibu marah. saya tahu ibu kecewa karena mas Sandy menikahi wanita seperti saya. tapi saya bersumpah bu, apa yang ibu takutkan terhadap saya tak akan terjadi. saya jamin!" tegasku.


Bu Ayu tersenyum remeh. mungkin baginya ucapanku terdengar seperti omong kosong saja.


"Apa saya bisa pegang omongan kamu?!" bu Ayu menatapku tajam.


Aku mematung sesaat, tatapannya menakutkan. seolah dia tengah menjebakku dengan pertanyaannya.


PRAAAANKKKK!


Kami berdua tersentak kaget saat mendengar bunyi keras benda pecah dari ruang tengah.


Aku segera berlari menuju ruang tengah untuk melihat apa yang terjadi.


Sebuah Guci yang tersimpan di sudut ruangan pecah berserakan dilantai. dan kulihat Drone yang Andi mainkan tadi juga tergeletak disana.

__ADS_1


"Andi.." gumamku lirih.


• • • • • •


__ADS_2