
"Sebetulnya apapun yang terjadi dulu, saya sudah ikhlas bu. mungkin itu yang terbaik untuk kami. terkadang saya merasa jika saya ini jahat. karena saya selalu merasa jika ini takdir terbaik untuk saya dan Andi, padahal Andi sangat memerlukan sosok ayah. tapi, jika mas Rizal masih hidup hingga sekarang, saya tak bisa membayangkan bagaimana Andi akan sanggup melihat sikap kasarnya nanti." gumamku pasrah
"Iya juga,kamu benar lis. ibu juga setuju sama pemikiran kamu. Rizal tak bisa bersikap manis bahkan pada Andi,anak kandungnya sendiri. tapi untunglah Andi punya ayah sambung yang sangat menyayanginya. kalian sangat beruntung!" Bu Dewi mengelus lembut tanganku.
"Iya bu, alhamdulillah. Allah telah memberikan sosok suami dan ayah yang baik untuk saya dan juga Andi." tegasku merasa bersyukur.
"Lalu, kamu tak berniat memberitahukan suami kamu soal kecelakaan ini?" tanya bu dewi kemudian.
"Saya rasa gak perlu bu, saya masih kuat kok," tukasku ragu.
"Jangan begitu,.. kamu sekarang sudah punya suami, jangan selalu di biasakan memikul beban sendirian" sindirnya terasa begitu menusuk.
Aku tersenyum kecut.
Selama ini memang aku selalu memikul semua beban di pundakku seorang diri. karena hal itu aku selalu merasa, bahwa apa yang ku alami bisa aku lewati sendirian. terdengar egois, tapi memang begitu kenyataannya. semua hal bisa menjadi biasa karena keadaan.
"Ini hal kecil kok bu. Saya gak mau terlihat cengeng. apalagi saya sudah terbiasa seperti ini." gumamku.
"Ibu juga jadi ingat waktu kamu dulu keseleo sampe beberapa hari gak bisa jalan. tapi kamu tetap memaksakan diri mengurus Andi sendirian." sanjungnya.
"Bukankah ibu sendiri yang bilang, Allah tahu saya kuat. makanya saya diberi cobaan seperti itu." aku tersenyum manis.
"Kamu ini lis,..lis. selalu saja bisa tersenyum, padahal kaki kamu lagi sakit begitu." Tukasnya.
"Permisi,.." Suara wanita yang terdengar tak asing tiba-tiba membuat kami berdua menoleh ke arah pintu.
"Eh, bu RT. mari masuk bu!" sahut bu Dewi.
"Saya liat pintu rumahnya terbuka dan lagi ada Andi di teras. pasti ibunya juga disini" selorohnya.
"Bu Ani,.. apa kabar?" sahutku dengan senyum ramah.
"Kabar baik Lis,. kamu sendiri Gimana? sehat?"
"Maaf bu, saya gak bisa berdiri!" aku menyeringai.
"Loh kenapa?!!" tukasnya cemas.
"Alis baru saja jatuh,karena membetulkan lampu di kamarnya bu RT."
"Ya allah Lis, kenapa memaksakan diri? aduh kamu ini" selorohnya menilik sebelah kakiku dengan seksama.
"Iya bu. saya gak hati-hati jadi jatoh." tukasku enteng.
"Udah di kasih balsem? mau di urut atau di bawa ke klinik? kebetulan mobil ibu ada di rumah." selorohnya menawarkan bantuan.
"Gak apa-apa kok bu. saya baik-baik aja" aku tersenyum meyakinkan.
"Alis ini bandel bu. padahal saya juga bermaksud ajak dia ke klinik tadi." timpal bu dewi.
__ADS_1
"Ibu-ibu terima kasih banyak, tapi saya yakin saya baik-baik aja kok." aku mencoba menenangkan keduanya yang tampak mulai panik.
"Oh iya. suami kamu yang pengusaha itu, udah di kasih tahu?" tanya bu Ani membuat aku dan bu dewi saling lirik.
"Ga perlu bu, lagipula saya gak mau mengganggu pekerjaannya." jelasku singkat.
"Gak mungkin mengganggu lah. kalian kan pengantin baru. saya juga lihat berita kalian di TV. wah, kamu cantik sekali loh disana. saya sampe pangling. iya kan bu Dewi?" celotehnya.
Aku hanya menanggapi ucapannya dengan senyuman tipis. mereka memang sangat ramah dan juga 'senang bercerita' hingga membuatku sedikit bisa melupakan rasa sakitku.
Bercerita banyak hal dengan bu dewi dan bu Ani membuatku bisa sedikit terhibur. kami banyak tertawa dengan cerita-cerita lucu yang di lontarkan bu Ani. obrolan seputar makanan dan hal-hal kecil tentang rumah tangga. membuatku banyak belajar dari mereka apa itu artinya membangun sebuah komitmen.
Bukan tentang seberapa lama, atau seberapa Cinta nya kita pada pasangan. tetapi seberapa besar kita mampu memberikan kepercayaan padanya, hingga bisa membuat pondasi kokoh meskipun banyak hantaman besar yang coba menggoyahkan dinding kepercayaannya. begitu Kira-kira yang bu Ani nasihatkan padaku.
"Lain kali, kita makan-makan disini. pasti rame ya bu." ajak bu Ani
"Loh, bukannya sebentar lagi akan ada acara Studytour anak-anak? kita makan-makan saja disana" seloroh bu Dewi yang seketika itu membuatku ingat soal acara sekolah tersebut.
"Oh iya betul. saya juga baru menyelesaikan pembayaran minggu kemarin. karena banyak sekali pengeluaran" sahutnya.
"Kira-kira Studytour nya kemana ya bu?" tanyaku penasaran.
"Soal itu belum ada pengumuman. tapi mungkin, ke luar kota." sahut bu Ani yakin.
Kalau di ingat-ingat, acara sekolah Andi kali ini merupakan yang pertama bagiku dan juga menghabiskan biaya yang cukup mahal. 3 juta, bukanlah uang yang sedikit. bahkan aku harus bertaruh kontrak kerja dengan mas Sandy kala itu. dan aku tak sabar mengetahui kegiatan apa saja yang akan kami lakukan nanti. dengan biaya sebesar itu.
•••
PING!
PING!
"Sudah sore, saya pamit dulu ya. Alis. cepat sembuh ya. sampai ketemu lagi. assalamualaikum!" pamitnya pada kami berdua.
"Walaikum salam."
"Bu Dewi kalau mau masak Gak apa-apa kok bu. sebentar lagi pak Yanto pulang kan?!" tukasku.
"Memangnya kamu gak apa-apa di tinggal sendirian?" tanyanya ragu.
"Aman kok bu. kan ada Andi sama Reyhan disini, kalau perlu sesuatu saya pasti suruh mereka panggil ibu."
"Ya sudah kalau begitu. ibu tinggal masak sebentar ya." pamitnya kemudian.
PING!
Ku lirik lagi ponselku yang belum sempat ku buka.
"*Sayang, kamu dimana? masih di rumah lama? sama siapa?"
__ADS_1
"Sayang.....?"
"Kamu lagi sibuk ya? apa jangan-jangan disana ada Erwin*?" tulisnya lagi.
"Ck,"
Aku berdecak kesal seraya mencoba membalas pesannya.
"Maaf mas, saya sedang mengobrol dengan Bu Dewi. Gak enak kalau di tinggal." jelasku
"Mas Sandy udah pulang?"
....
"Saya masih di kantor. kamu kapan pulang?" tanyanya skeptis
"Sepertinya saya gak bisa pulang mas," balasku singkat
"Hah? kamu mau menginap disana? jangan coba-coba meninggalkan saya di rumah sendirian Alis Anjani" Ancamnya dengan nada emosi namun terlihat lucu bagiku.
"Siapa yang mau meninggalkan mas Sandy. saya gak bisa pulang, karena memang Gak bisa jalan mas. kaki saya sakit," jelasku pada akhirnya.
.......
Lama sekali mas Sandy membalas pesannya, hingga aku mulai merasa kesal. apa dia tak penasaran dengan apa yang terjadi padaku? kenapa dia tak bertanya? kenapa dia tak membalas? apa mungkin dia sedang sibuk sehingga tak sempat membalas pesanku lagi???
ARRRGH!
Mas Sandy memang menyebalkan! seharusnya aku tak menjelaskan alasannya tadi. dan membiarkannya tidur sendirian di rumah. gerutuku dalam hati.
Hampir setengah jam setelah kami berkirim pesan, namun tak ada tanda-tanda dia akan membalas pesanku. ada sedikit rasa kesal dan kecewa atas sikapnya barusan.
Seharusnya aku tak menikah dengan laki-laki yang gila kerja sepertinya. sudah pasti dia akan melupakanku dan lebih fokus pada pekerjaannya.
Sementara Andi dan Reyhan Asik berlarian di halaman rumah. mereka tampak sangat bahagia setelah cukup lama tidak bermain bersama.
PING!
Ku lirik cepat ponselku. pasti mas Sandy yang membalas pesannya. Namun, aku tak buru-buru membukanya dan lebih memilih mendiamkannya dulu. biar dia juga merasakan bagaimana rasanya menunggu.
"Dasar! semua laki-laki memang sama saja!" dengusku seraya mencoba bangkit dari kursi karena ingin ke kamar mandi.
Aku berjalan pelan dengan menyusuri tembok dan juga gagang sapu yang ku pegang sebagai tumpuan.
"Mas Sandy nyebelin" geramku lagi.
PING!
Kali ini ku lirik sinis ponselku dan sama sekali tak berniat untuk membuka pesannya.
__ADS_1
• • • • • •