PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•26


__ADS_3

"Bibi seneng banget mas Sandy memperpanjang kontrak kerja kamu lis!" bi Marni memegang kuat tanganku.


Selepas meninggalkan kamar mas Sandy, aku menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan bi Marni didapur.


"Tapi tetep aja bi, saya gak enak sama Bu Ayu." sela ku ragu


"Kamu tenang aja Lis, toh mas Sandy yang gaji kamu. Bu Ayu gak bisa apa-apa! tapi bibi aneh juga,kenapa cuma kamu yang digaji langsung sama mas Sandy yah? bibi sama mang wahyu enggak?!" celetuknya.


"Masa sih bi? bukannya semua pekerja dibayar sama mas Sandy yah?" tanyaku


"Enggak lah Lis, kita semua di bayar sama ibu. kecuali kamu. Atau jangan-jangan mas Sandy sudah jatuh hati sama kamu Lis!" Selorohnya lagi dengan tatapan penuh rasa penasaran.


"Apaan deh bi, makin ngawur aja!" Desisku tak nyaman.


"Gak apa-apa lis, kalo memang mas Sandy suka sama kamu. lagi pula bibi denger-denger sih sama pacar yang dulu udah putus!" bisiknya yakin.


Aku menyeringai bingung mendengar ceritanya. dan sama sekali aku tak tertarik dengan hal itu.


"Itu kan urusan mereka bi, kita gak perlu ikut campur. mau putus atau enggak, terserah mereka lah!" jawabku cuek.


"Aduh kamu tuh jangan terlalu cuek Lis, Sekali-kali peka sama sikap mas Sandy!" jelasnya.


Aku tersenyum tipis,tak menampik dengan apa yang di Marni ucapkan.


Obrolan kami terasa begitu cepat hingga tak sadar,waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.


"Maaf ya bi, saya malah ngajakin bibi ngobrol. jadi numpuk deh kerjaan bibi!"


"Enggak apa-apa Lis, ini kan hari sabtu. Bu Ayu gak ada di rumah!" tukasnya


"Bibi udah nyiapin makan siang buat mas Sandy?" tanyaku


"Tuh kan! kamu selalu memperhatikan mas Sandy dengan baik. pasti mas Sandy akan merasa kehilangan kalo kamu sampe berhenti kerja. untunglah hari Senin, kamu udah mulai kerja lagi" selorohnya dengan raut wajah bahagia.


"Udah kebiasaan bi, bukan perhatian yang Gimana-gimana. bibi jangan bikin gosip aneh deh!" desisku.


"Tapi bibi serius Lis, kayanya mas Sandy suka sama kamu!" bisiknya lagi setengah menggoda.


"Bi, mending bibi anterin makanannya sekarang deh! saya juga mau pamit pulang" bisikku padanya.


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya Lis, sampai ketemu hari senin!" Tukasnya sembari bersiap membawa nampannya.


"Terima kasih bi, assalamualaikum!" pamitku meninggalkan rumah besar itu.

__ADS_1


•••


Turun dari angkot aku sengaja mampir ke salah satu kios buah. Aku ingin membeli buah mangga kesukaan Andi.


Terlihat banyak orang yang tengah memilih buah-buahan dikios tersebut.


Aku pun segera meminta kantong plastik dan memilih buah yang besar dan segar.


"Yang itu kayanya kurang manis!" tukas sebuah suara dibelakangku.


Aku menoleh kaget,


"Eh mas Erwin! beli buah juga?" sahutku


"Iya, kebetulan bude saya pesan jeruk teh!" jawabnya sembari berdiri disebelahku.


"Teh Alis, beli mangga buat siapa? Andi?!"


"Iya mas, Andi suka banget makan mangga!" jelasku


"Ya udah, sini saya bantu pilihkan yang manis!" sarannya lalu memilih beberapa buah Mangga dihadapannya.


Selepas membeli mangga, aku bersusah payah menolak ajakan mas Erwin untuk pulang bersama dengan berbagai alasan. namun mas Erwin tetap saja memaksa.


"Tapi mas,-"


"Sekali aja gak nolak ajakan saya teh?" bujuknya lagi


Aku menatapnya lama, dan akhirnya aku luluh lalu ikut pulang bersamanya.


Sepanjang perjalanan Aku mencoba membuka obrolan kami yang sederhana.


"Mas Erwin kerja dimana sih?" tanyaku yang belum sempat mengetahui tempat kerjanya.


"Jadi bude belum cerita teh? tumben sekali, biasanya dia akan cerita semuanya tanpa diminta!" sindir mas Erwin pada bude nya sendiri. aku hanya terkekeh mendengar jawaban nya.


"Tapi biar bagaimana pun bu dewi baik banget mas,kalo gak ada Bu dewi mungkin saya akan kesulitan menitipkan Andi." Jelasku.


"Jadi, dimana mas Erwin kerja?" Timpalku lagi


"Saya kerja di kantor tempat Pakde bekerja. saya dengar teh Alis juga dulu kerja di pabriknya yah?" sahutnya.


"Oh, jadi mas Erwin kerja di kantor tempat kerja saya dulu? wah Gimana mas rasanya jadi orang kantor?" tanyaku antusias

__ADS_1


"Ya gitu teh,repot! bikin sakit kepala." jawab nya malas.


"Tapi lebih enak jadi orang kantor lah mas! daripada kerja di pabriknya. capek banget!" tukasku yang sudah paham betul bagaimana rasanya bekerja disana.


"Sayangnya pabrik dan kantornya jauh, kalo aja deket,Mas Erwin pasti bisa lihat Gimana kondisi pabriknya!" tukasku.


"Tapi ngomong-ngomong minggu depan saya juga ada kunjungan langsung ke pabrik bersama beberapa karyawan baru lainnya." jelasnya lagi.


"Wahh,bagus dong mas! kalo mas ke pabrik tolong cari teman saya yang namanya Rahma,dia ada di bagian HRD salamin buat saya mas!" Pintaku.


"Rahma? teman dekat teh Alis?" tanyanya


"Iya, teman saya. dia orang baik. siapa tahu mas Erwin tertarik!" goda ku iseng.


Ku lihat lewat pantulan kaca spion, mas Erwin hanya mengulum senyum tanpa menjawab lagi.


•••


Aku merebahkan Tubuhku di atas kursi, tak berapa lama Andi datang dan duduk bersandar didekatku.


"Mama capek ya?" tanyanya kemudian


"Enggak kok! Mama cuma pengen tiduran aja!" jawabku memejamkan mata.


"Mama udah gak kerja lagi ya?!" Andi menengadah menatapku.


"Memang nya kenapa Andi tanya begitu?" selidikku penasaran.


"Mending Andi gak usah ikut acara sekolah aja ma. biar mama bisa berhemat!" sahutnya dengan tatapan penuh ketulusan.


Aku menoleh kearah nya. ku ukir senyum manis untuknya.


"Kamu sekolah aja yang rajin ya! gak usah mikirin hal kaya gitu. itu urusan mama sayang." jawab ku mengelus pipinya.


"Tapi kan, mama gak kerja lagi!" Tukasnya bersikukuh.


"Mama masih kerja kok sayang! malahan mama kerja lagi di rumah Bu Ayu. jadi mama bisa bayar semua keperluan sekolah kamu nak!"


"Emangnya mama gak capek kerja terus? waktu Ayah masih ada, mama gak perlu kerja. sekarang mama harus kerja setiap hari!" keluhnya.


Kekhawatiran anakku membuatku semakin merasa bersalah padanya. bisakah aku membahagiakannya kelak, meski tanpa seorang ayah?


Ku usap lembut kepalanya, ku kecup keningnya. Seuntai doa ku panjatkan setulus hati agar aku bisa kuat menjalani hidupku bersama Andi.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2