
Mas Sandy masih menatapku dalam, dengan tangannya yang masih mencengkram kuat tangan ku.
"Mas Sandy kan bisa makan sendiri!" tukas ku pelan.
"Saya mau di suapin!" Desisnya bersikukuh.
Aku meliriknya sinis. dan akhirnya dengan malu-malu ku suapi mas Sandy. jika saat sedang sakit, aku bisa menyuapinya dengan leluasa. tapi entah mengapa,sekarang aku seperti kesulitan. apalagi dia menatapku dengan sangat intens.
"Mata teh Alis kenapa?" tanyanya yang akhirnya menyadari jika kedua mataku bengkak.
"Kurang tidur mas!" sela ku berbohong.
"Serius? Kok bisa bengkak? kamu habis nangis teh?" selidiknya.
"Enggak mas!" elakku lagi
Mas Sandy menatapku tak suka, dia seakan tahu jika aku tengah berbohong padanya.
"Sampai kapan teh Alis mau bohong sama saya?" sindirnya.
Aku memalingkan wajah.
"Tolong jujur teh! teh Alis gak akan tahu bagaimana tersiksanya saya jika sudah Overthinking tentang kamu teh." jelasnya
Aku menoleh cepat.
Mas Sandy menggenggam erat kedua tanganku. membuat tubuh ku terasa lemas seketika.
"Mas!" Aku mencoba melepaskan genggamannya.
"Sebentar lagi,mungkin kita akan jarang bertemu teh. dan saya tak ingin ada hal yang saya lewatkan. apa ada sesuatu yang teh Alis pikirkan?" tanyanya penuh harap.
"Mas, seharusnya mas Sandy khawatir sama kondisi mas Sandy aja. kalau mas Sandy udah sembuh betul,saya gak bakalan khawatir kalaupun harus meninggalkan rumah ini." jelasku tersenyum tipis.
Tatapannya berubah cemas. dan itu membuat jantungku berdegup semakin kencang. bahkan aku takut jika mas Sandy dapat mendengarnya.
"Seandainya saya sakit terus, mungkin teh Alis gak akan pergi?" Celetuknya yang seketika membuatku langsung mengernyit tak suka. pikirannya selalu saja seperti anak kecil.
"Mas Sandy!" Aku menghempaskan genggaman tangannya kasar.
__ADS_1
"Kenapa mas Sandy malah mikir gitu sih? itu artinya Mas Sandy gak menghargai kerja keras saya selama merawat mas Sandy dong?!" tukasku ketus.
"Yah, saya sih lebih milih sakit. dan teh Alis tetap bekerja disini. atau teh Alis mau saya Perpanjang kontraknya? teh Alis bisa kerja bantu-bantu bi Marni. atau khusus menyiapkan semua kebutuhan saya?" sarannya.
"Saya sudah punya kerjaan baru mas!" tukasku pelan.
Mas Sandy menatapku kecewa.
"Cepat sekali?" Desisnya seakan tak percaya.
"Saya harus mencari tempat bekerja yang lebih dekat dengan rumah. dengan begitu, saya tidak terlalu khawatir jika harus meninggalkan Andi sendiri lagi di rumah." jelasku
"Kenapa teh Alis tak suka kerja Disini? apa gajinya kurang besar?" tanyanya.
Aku menggeleng pelan.
"Atau teh Alis bisa ikut bekerja dengan saya di kantor? jadi asisten pribadi saya juga boleh?" bujuknya
"Saya hanya tak mau jauh-jauh dari Andi mas." Gumamku ragu.
"Teh Alis yakin hanya tak ingin jauh-jauh dari Andi? atau teh Alis menjauhi saya?" Selorohnya seakan tak percaya dengan alasan yang ku utarakan.
"Kenapa juga saya harus menjauhi mas Sandy? Mas Sandy orang baik. saya justru berterima kasih banyak dengan semua yang mas Sandy kasih ke saya!" jelasku.
Aku termangu. tentu aku tahu apa yang mungkin mas Sandy inginkan terhadap ku. tapi jujur saja, aku tak bisa. aku terlalu takut untuk melangkah melewati batasan itu.
"Mas, lebih baik kita lanjutkan sarapannya!" Pintaku mencoba mengalihkan pandangannya.
Mas Sandy seakan tak rela jika aku menghindar dan malah memilih melanjutkan sarapan kami. tapi bagiku, tak ada yang harus ku pertahankan dari obrolan kami barusan itu.
•••
Sepanjang hari aku hanya menyaksikan mas Sandy mondar mandir di atas alat jalannya. sepertinya dia sudah tak terlalu membutuhkan bantuan ku.
ku lihat mas Sandy mencoba memasang alat bantu jalan dikakinya, dan yah.. dia terlihat kesulitan. aku mendekat dan berjongkok dihadapannya
"Sini saya bantu mas!" saranku.
"Gak usah teh! saya bisa sendiri! saya harus terbiasa melakukan semuanya tanpa bantuan orang lain" tukasnya sinis.
__ADS_1
"Apa saya sekarang orang lain? secepat itu?!" tanyaku menatapnya heran.
"Kamu bahkan tak mengijinkan saya untuk mendekat, bagaimana bisa kita menjadi orang yang saling mengenal?" tanyanya.
"Mas Sandy harus usaha dong! sama seperti alat ini. mas Sandy harus berusaha kuat mengikat simpulnya. dengan begitu dia tak akan lepas" jelasku.
Mas Sandy tampak terpaku sesaat.
"Teh Alis akan lihat, setelah saya sembuh! saya akan mengikatnya kuat. hingga dia tak akan Bisa lepas lagi dari sisi saya!" tandasnya yakin.
Ucapannya terdengar seperti ancaman yang nyata untukku. apa mungkin barusan aku salah bicara? pikirku.
"Jika mas Sandy berhasil mengikatnya. jaga dengan baik! jangan sampai ikatan itu lepas!" godaku sembari memasang kuat ikatan di kakinya.
Ku bantu mas Sandy berdiri dan dengan cekatan mas Sandy sudah mampu menguasai tubuhnya. dia berjalan pelan menuju tempat tidur. sementara aku berjaga di sisinya.
"Sedikit lagi mas!" tukasku memberinya semangat.
Sesekali wajahnya tampak meringis menahan sakit yang mungkin ditimbulkan oleh sebelah kakinya.
"Pelan-pelan mas! ayo!!!" Sahutku antusias saat mas Sandy hampir menyelesaikan separuh jalannya menuju tempat tidur.
BUGH!
Mas Sandy menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. dia tersenyum lebar.
"Yeaayyy! akhirnya!" selorohku bertepuk tangan dengan penuh semangat.
Aku mendekat dan menatap mas Sandy yang masih terbaring.
"Rasanya benar-benar lega!" tukasnya sembari tersenyum lebar,membuatku turut merasakan kebahagiaannya.
"Saya yakin sebentar lagi mas Sandy akan bisa berjalan dengan normal!" tukasku yakin.
"Bantu saya teh!'' mas Sandy mengulurkan kedua tangannya. tanpa curiga akupun menggapai kedua tangannya dan mencoba menariknya kuat-kuat, tapi apa yang terjadi? aku malah terhuyung kearahnya karna bobot tubuhnya jelas lebih berat dariku.
"AWHH!'' pekikku kaget saat aku terjerembab di atas tubuhnya.
Kami saling menatap lama, mas Sandy seakan tak ingin melepasku dan membuatku kesulitan untuk bangun.
__ADS_1
"Bisakah kita sedekat ini suatu hari nanti?" bisiknya sembari mendekat dan hendak mencoba menciumku.
• • • • • •