PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•117


__ADS_3

Malam ini kami duduk bertiga diruang makan. aku terus saja menoleh ke arah kamar bu Ayu. beliau tak keluar kamar sejak kembali dari luar sore tadi.


"Kamu Gak usah pikirin soal tante Ayu. nanti juga dia keluar sendiri." tukas mas Sandy menatap cemas padaku.


"Saya cuma Gak enak aja mas, lagipula Bu Ayu juga kan penghuni rumah ini. masa iya dia gak keluar untuk makan malam,sementara kita bisa menikmati makan malam yang enak disini" ku tatap beberapa menu makanan yang tadi sore ku buat.


"Sudahlah,.. lebih kamu dan Andi makan. setelah itu, kalian istirahat!" pintanya.


Aku menoleh pada Andi yang masih serius dengan makanannya. ternyata tak nyaman rasanya berada satu atap tetapi kita seakan menjadi asing satu sama lain.


•••


Ku rapikan dan ku cuci semua piring kotor setelah makan malam. karena di rumah, mas Sandy masih belum memiliki asisten rumah tangga jadi sebisa mungkin aku mengerjakan semuanya sekarang. daripada semakin menumpuk.


"Besok saya akan suruh Nita mencari orang untuk bekerja di rumah. biar kamu Gak Kecapean teh!" suara mas Sandy yang datang dari arah belakang membuatku menoleh seketika.


"Apa Andi sudah tidur?" tanyaku


"Dia sedang bermain," jawabnya lalu mendekat dan membantuku merapikan piring.


"Nita? siapa Nita?" aku merengut menatapnya.


"Ah! saya hampir lupa,kalau saya belum mengenalkannya pada teh Alis. Nita itu sekretaris saya di kantor." jelasnya.


"Ooh,.. pasti cantik" gumamku dengan tatapan fokus pada piring cucian didepanku.


Mas Sandy tampak mengulum senyum.


"Kamu cemburu teh?!" terkanya.


Aku menoleh cepat.


"Kenapa saya harus cemburu mas? saya cuma baru denger aja nama itu disebut oleh mas Sandy. biasanya cuma nama Bi Marni saja kan" cibirku.


"Benarkah teh Alis tak cemburu?" selidiknya dengan tubuh yang semakin intens mendekat.


"Mas! saya lagi cuci piring! kalo sampe pecah, nanti bu Ayu marah!" dengusku setengah berbisik.


Mas Sandy menatapku lekat, di tariknya kedua tanganku itu dan dipegang erat-erat olehnya Mas Sandy menatap kedua tanganku penuh makna.


"Tangan ini sudah lelah bekerja! sebaiknya dia istirahat! cuciannya, biar pak Muh yang bereskan!"


HUPH!


Mas Sandy tiba-tiba menggendong tubuhku,


"Mas,.. Turunin saya! mas Sandy apa-apaan sih???" aku meronta malu.


"Kamu kalau Gak di paksa, mana bisa Nurut teh!" tukasnya dengan tatapan nakal.


"Saya bisa jalan sendiri mas! turunin gak?" desakku


"Sepertinya ini sudah terlalu malam. saya ngantuk!" jawabnya seraya berjalan membawaku menaiki anak tangga.


Aku terdiam.


Menatap lekat mata coklatnya,Dan akhirnya aku pasrah. ku kalungkan kedua tanganku dilehernya. meski dengan malu-malu ku beranikan diri melakukannya. Entahlah, mas Sandy terlalu romantis menurutku.


Aku bahkan tak pernah membayangkan akan diperlakukan semanis ini oleh seorang pria yang kini sudah menjadi suamiku.


"Kamu lumayan berat teh" godanya saat kami tiba didepan pintu kamar.


"Siapa suruh mas Sandy gondong saya" aku memalingkan wajahku gugup.


Mas Sandy menatapku gemas,

__ADS_1


"Saya yakin, hanya saya laki-laki yang pernah melakukan hal ini sama kamu teh. iya kan?"


Aku kembali menatapnya, dengan wajahku yang sialnya sudah bersemu merah sekarang.


Pandangan kami beradu cukup lama. jujur saja, aku tak pernah membayangkan hal seperti ini dalam hidupku. bahkan untuk sedetikpun.


"Saya malu," gumamku membenamkan wajahku didadanya.


Mas Sandy tertawa renyah seraya


membuka pintu kamar dengan cepat.


Aku merasa seperti seorang putri yang hendak di antar tidur oleh pangerannya. benar-benar seperti mimpi.


Mas Sandy membiarkanku turun dan duduk perlahan di atas tempat tidur. tubuh kami yang tak berjarak membuatku terus-terusan menatap matanya. dan sepertinya membuatku makin kecanduan.


"Istirahatlah, teh Alis pasti capek" perintahnya lembut


"Mas Sandy mau kemana?"


"Saya masih ada sedikit pekerjaan kantor"


Mendengar itu aku segera memegang erat lengannya. tak mau jika mas Sandy meninggalkanku malam ini dikamar sendirian.


"Kalau begitu, saya temani mas Sandy bekerja saja."


"Saya cuma sebentar, lagi pula pekerjaan saya ada disana!" mas Sandy menunjuk laptopnya yang tergeletak di atas meja.


"Ya sudah! mas Sandy bisa mengerjakannya di atas tempat tidur. dengan begitu saya bisa menemani mas Sandy."


"Jika saya mengerjakannya di atas tempat tidur, saya akan kesulitan. karena saya pasti ingin mengerjakan hal lain???" tatapan matanya berubah nakal.


"Mas Sandiiii...!" Desisku geram.


Mas Sandy terkekeh geli,


Dengan lembut mas Sandy mengusap kepalaku lalu beralih mengambil laptopnya. lalu kemudian duduk disampingku. ku selimut kakinya agar tak kedinginan.


Malam ini benar-benar sangat istimewa bagiku. kami duduk berdua di atas tempat tidur kami yang begitu nyaman. Dengan sabar aku memperhatikannya bekerja sambil sesekali dia mengecup keningku. Tak ada lagi hal yang lebih indah dari malam ini bagiku. hingga tanpa terasa mataku mulai lelah dan mengantuk,pada akhirnya aku tertidur dengan nyaman dibahunya.


•••


Aku terusik saat sesuatu terasa menyentuh pipiku dengan lembut.


ku buka mataku perlahan saat sentuhan itu terasa berulang kali.


Sedikit kaget saat wajah mas Sandy begitu dekat dan tak berjarak. sejak tadi sepertinya dia menciumku. dan aku baru sadar sekarang. HUH! Malu rasanya.


CUP!


satu kecupan lain mendarat manis di bibirku.


Apa ini? apakah ini saatnya? sepagi ini?! aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi.


"Selamat pagi" gumamnya lembut, lalu sebelah tangannya merayap menarik pinggangku dengan erat.


Pelukan hangat dipagi hari? siapa yang akan menolak?


"Selamat pagi mas," ku balas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tanganku dilehernya. membuat mas Sandy 'terkunci' dan dengan intens semakin mendekatkan wajahnya padaku.


Dia Menciumku lagi, dan lagi,..


Membuatku tak bisa mengelak dan turut serta mengimbanginya.


Kami berdua terbuai oleh Hasrat yang tiba-tiba saja muncul begitu kuat.

__ADS_1


Nafasnya mulai terdengar memburu di telingaku. membuat seluruh tubuhku mendidih.


"Aliiiisss..." desahnya dengan tatapan sayu.


Jujur saja, aku masih belum bisa melakukannya. aku masih ragu dengan diriku sendiri. apakah aku pantas memberikannya pada mas Sandy? pemuda baik hati yang tentu saja bisa mendapatkan hal yang lebih baik dari apa yang ku punya.


Ku peluk erat tubuhnya, membiarkan mas Sandy berada di atas tubuhku tanpa perlawanan.


"Maaf mas," lirihku seraya memalingkan wajah saat dia hendak menciumku.


Tatapan matanya berubah cemas, tentu saja...


"Kenapa? apa ini kurang?" Tanyanya.


"Saya merasa tak pantas mas." gumamku dengan polosnya berkata jujur. aku tak bisa lagi menahan kegelisahan hatiku saat ini.


Mas Sandy menautkan kedua alisnya penuh tanya.


Mas Sandy lalu duduk disebelahku. Aku ikut bangun dan duduk bersebelahan dengannya. dia masih menatapku tak paham.


Kesal pastinya, saat hasratnya tak bisa dia tuntaskan dengan sempurna.


Aku tertunduk malu.


"Kenapa? ada apa?" suaranya terdengar berat dan khawatir.


Ku tatap lekat mata itu? mata yang seharusnya terlihat bahagia dipagi ini.


"Seharusnya mas Sandy mendapatkan hal yang lebih baik" gumamku.


"Maksudnya?" tanya mas Sandy seraya mengangkat daguku pelan.


"Saya ini janda mas, saya sadar betul akan hal itu. dan saya merasa bahwa saya tak pantas memberikannya pada mas Sandy, sementara mas Sandy bisa mendapatkan yang lebih,-" Aku tercekat.


Perasaan kacau yang tiba-tiba muncul ini entah berasal dari mana...


Mas Sandy terdengar menghela nafas, aku memberanikan diri menatapnya. mempertanyakan kesudian nya menerimaku yang memang seperti ini.


"Saya tak pernah sedikitpun mempermasalahkan hal itu. saya melakukannya karena saya mencintai kamu teh. bagi saya itu sudah cukup" jelasnya.


"Saya malu mas,-" Air mataku perlahan menyembul keluar.


Dan entah kenapa, mas Sandy malah mencium bibirku dengan intens. membuatku kesulitan bernafas. dia kembali mendorongku hingga membuatku tak bisa berkutik saat kedua tangannya memegangi tanganku dan menekanku cukup kuat.


"Saya mencintai kamu Alis Anjani. jadi biarkan saya mendapatkan cinta saya secara utuh," desisnya ditengah perburuan hasrat yang kembali memuncak.


Semakin lama ciumannya semakin liar, membuatku bahkan tak bisa mengimbanginya.


Tubuh kekarnya semakin kuat menghimpitku,membuatku sulit bergerak.


"Jangan takut,saya akan melakukannya dengan lembut." mas Sandy menarik pelan kedua tanganku agar berada tepat di sisi pinggangnya yang memang sangat berotot.


Apakah aku siap? apakah aku mampu? memberikan hal yang dia inginkan itu? apakah aku pantas?


Ditengah kegelisahan hatiku,mas Sandy terus saja membisikan kata-kata cintanya ditelingaku. dan mampu membuatku luluh.


Akhirnya aku rela...


Memberikan cintaku secara utuh padanya.


membiarkan tubuhku dijamah oleh si pemiliknya.


Menikmati setiap helaan hasrat yang dia hembuskan disetiap sendi tubuhku*.


Cinta itu tak berbentuk!

__ADS_1


Maka dia tak memerlukan fisik yang sempurna............. '


• • • • • •


__ADS_2