PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•162


__ADS_3

Mas Sandy tak berucap sedikitpun, lalu beralih kembali pada kemudinya.


"Mereka sepertinya sangat dekat ya mas," gumamku pelan.


"Kamu tak perlu mempedulikan mereka." tukasnya cemas.


"Mas Sandy tenang saja. saya tak akan cemburu dengan hal semacam itu" tandasku meyakinkannya. meski Sejujurnya aku merasakan hal yang sebaliknya.


Kenapa Bu Ayu bersikap keras padaku. yang bahkan dulu sangat dia kenal. tapi saat bertemu Vina, dia bisa seramah itu. Tapi Mungkin juga, mereka sudah saling mengenal sejak lama.


"Akhirnya," Mas Sandy terdengar menghela nafas lega, saat mobil kami berhasil keluar dari kemacetan. sepertinya dia ingin segera tiba di kantor dan meninggalkan pemandangan yang tak mengenakkan itu.


Setibanya di kantor, kami di sambut oleh security kantor. terlihat cukup lengang karena ini hari libur. hanya ada beberapa pekerja kebersihan yang ku lihat mondar-mandir di beberapa ruangan.


"Apa semua Karyawan libur mas?" tanyaku menilik seisi tempat sambil berjalan menuju Lift.


"Hanya ada beberapa orang saja yang bekerja, sisanya libur." tukasnya seraya mempersilahkan diriku dan andi masuk ke dalam Lift.


Kami pun tiba di ruangan mas Sandy yang terlihat sangat sepi dan sedikit temaram. karena hanya sedikit lampu yang menyala.


"Andi takut ma," bisiknya sembari memegang erat tanganku.


"Jangan takut, kan ada om papa!" sahut mas Sandy.


"Kenapa juga kita harus ke kantor di hari libur. disini sepi banget." gumamku ragu.


"Kamu ternyata juga penakut teh," ledeknya menahan tawa.


Kami bertiga berjalan pelan melewati meja kerja para karyawan. ruangannya terlihat berantakan,sepertinya belum sempat di bersihkan.


"Ayo masuk!" Mas Sandy memegang gagang pintu cukup lama, sebelum membukanya.


"Kok ke ruangan mas Sandy? katanya mau ngeliat ruangan baru?!" aku menatapnya aneh. apalagi ku lihat ruangannya cukup gelap


"Tempatnya ada di dalam?" selorohnya enteng.


"Ada di dalam?" pikirku tak paham. bagaimana bisa mas Sandy membuat ruangan lagi di dalam ruangan? mesikpun ruang kerjanya cukup luas, tapi rasanya tak masuk akal jika dia membuat ruangan kerja di dalam situ.


KLEK!


SURRPRISEEEEE!!!!!!


TEEEEETTTTHHH!!!!


"SELAMAT ULANG TAHUN IBU PRESDIIR....!!!"


Teriakan riuh seketika terdengar kencang dari orang-orang yang ternyata bersembunyi di dalam sejak tadi.


Aku Terdiam mematung. apalagi saat ku lihat Rahma memegang kue ulang tahun yang berhiaskan lilin kecil berbentuk angka-angka sesuai usiaku.


"Selamat ulang tahun, sayang!" bisik mas Sandy tepat di telingaku.


Aku menoleh pelan padanya. apa semua ini rencananya? dia sengaja merekayasa cerita agar aku ikut kemari? aku bahkan lupa jika hari ini adalah ulang tahunku. mungkin karena aku terlalu sibuk memikirkan hal lain, sehingga lupa pada hari kelahiranku sendiri.


"Mas Sandy," lirihku menahan tangis.


Seketika aku memeluknya erat, di ikuti oleh Andi yang juga memeluknya. semua orang bertepuk tangan.

__ADS_1


"Uuuuhh, Romantisnya!" goda Anwar.


"Terima kasih banyak mas," bisikku.


"Sama-sama sayang, maaf selama ini saya terlalu sibuk bekerja dan melupakan kamu." sesalnya.


Aku mengeleng pelan,bagiku itu bukan masalah besar. mas Sandy bertanggung jawab atas perusahaannya dan tak mungkin dia harus selalu mengutamakan diriku dan Andi.


"Ekehm, mau sampe kapan nih pelukannya." goda Rahma.


Mas Sandy menyeka air mataku dengan tatapan penuh cinta.


"Berdoa dulu, setelah itu baru tiup lilinnya!" tukasnya


Ku pejamkan mata sejenak, merangkai doa dan pengharapan didalam hatiku. tak banyak, hanya meminta kesehatan dan kebahagiaan untuk semua orang yang ada disekitarku.


"Sekarang tiup lilinnya!" seru Rahma.


"Yeayyyyy.... selamat ulang tahun buu!" Anwar, Billy ,Nita dan 3 orang lainnya secara bergantian mengucapkan doa dan harapan untukku.


"Terima kasih banyak atas kejutannya!" gumamku tulus.


"Selamat ulang tahun Lis, semoga sehat selalu, bahagia, dan semoga cepat dapat Adik buat Andi!" bisiknya yang di tanggapi riuh oleh yang lain.


"Giliran pak bos nih, kasih ucapan!" goda Anwar.


"Ada anak kecil, nanti malam saja saya lanjutkan" celetuk mas Sandy nakal.


"Wahhh... sambil,---"


Semua orang tertawa nyaring melihat tingkah konyol mereka berdua.


"Sebentar lagi, makanan akan datang!" tukas mas Sandy.


"Asyikkk! ini yang kita tunggu, kerja sambil makan gratis." cuit Billy terkekeh.


"Makan mulu deh, heran!" dengus Rahma.


"Permisi pak, barang-barang nya mau di simpan disini saja?" tanya seorang Petugas kebersihan.


"Iya, simpan disana saja. Nita, tolong kamu rapikan di atas meja itu Yah!" perintahnya.


"Sambil nunggu makanannya datang! mendingan kalian bantu aku angkat barang-barang nya!" ajak Nita antusias.


Anwar dan Billy hanya mendesah lesu.


"Ma, Andi mau kue nya lagi?" bisik Andi malu-malu.


"Kenapa sayang? Andi mau kue nya? sini om papa ambilkan!" sahut mas Sandy dengan sigap.


"Terus saya ngapain mas?" aku menatap semuanya bingung. sementara mereka sibuk merapikan ruangan.


"Kamu duduk aja, sini!" mas Sandy mengajakku untuk duduk di Sofa.


"Tapi saya gak enak sama yang lain!"


"Sayang, hari ini hari spesial untuk kamu. jadi kamu gak usah ngapa-ngapain!" perintanya serius.

__ADS_1


"Tapi mas,-" sergahku


Mas Sandy membentangkan telunjuknya tepat di atas bibirku.


"Perlu saya lakukan lagi seperti waktu itu?" godanya mengulum senyum.


Aku melirik Andi yang tengah asyik mengunyah kue, juga orang-orang yang sedang mondar-mandir di depan pintu.


"Dasar mesum!" desisku merasa terancam. tentu saja, mas Sandy bisa nekat melakukannya didepan umum. apalagi disini hanya ada beberapa karyawan saja.


•••


Melawati sore hari di kantor sambil melihat dan mendengarkan bagaimana para karyawan mas Sandy bekerja sungguh sangat menyenangkan.


Aku bisa mendapatkan banyak pelajaran dari obrolan mereka kali ini,apalagi ku lihat mas Sandy selalu bisa menjadi penengah di antara obrolan mereka.


"Ini nih yang namanya kerja santai. makin betah deh." Anwar menggeliat malas.


"Udah abis berapa Box tuh?!" sindir Billy melihat ke arah tumpukan Snack box di depan Anwar.


"Ya ampun, sekali-kali makan banyak wajar dong" desisnya membela diri.


"Kalian gak usah ribut. sisanya bisa kalian bawa pulang." tukas mas Sandy sembari menyerahkan beberapa buah map di tangannya.


"Wah, terima kasih banyak pak!" sahut Rahma dan Nita.


"Oh iya, Sinta dimana?" ku lirik Rahma pelan.


"Dia lagi kencan Bu. mana mau hari libur begini kerja." celetuk Anwar.


"Begitu ya," aku tersenyum kecut.


"Nita, tolong kamu kaji ulang hasil rapat kemarin. Anwar, kamu salin berkas ini dan kirim hasilnya pada bagian produksi besok." perintah mas Sandy serius.


"Siap pak!" sahut Anwar tegas.


"Wah, efek Snack box nya bagus banget ya!" celetuk Billy menahan tawa.


Aku terkekeh geli melihat mereka saling melemparkan candaan. benar-benar tak seperti di tempat kerja. begitu santai dan hangat.


Ku lihat Andi tampak pulas tertidur. mungkin karena dia juga kelelahan setelah ikut membantu merapikan ruang kerja mas Sandy yang memang sengaja di Rapikan ulang.


"Mulai besok kamu bisa ikut saya ke kantor. kamu bisa duduk di sana!" mas Sandy menunjuk salah satu sudut yang dekat dengan jendela. meja yang terlihat rapi dan cantik dengan hiasan bunga anggrek berwarna putih di salah satu sudutnya.


"Pasti bakal seru kalo ibu ikut gabung di kantor." tukas Nita antusias.


"Kami siap melayani ibu sepenuh hati." seloroh Billy tulus.


"Ah! kalian romantis sekali." sanjungku dengan senyum sumringah.


Meskipun di rumah aku mendapatkan sikap yang kurang mengenakan dari bu Ayu. Nyatanya Tuhan begitu adil, bahkan Aku seperti di Ratukan oleh orang-orang ini. mereka seperti keluarga baru bagiku.


"Sebentar lagi sore. kalian bersiaplah untuk pulang!" tukas mas Sandy.


"SEKALI LAGI, SELAMAT ULANG TAHUN BU PRESDIR! Terima kasih juga untuk makanannya pak!!!" tukas mereka serempak, dan seketika membuatku tersipu malu.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2