
"San, tolong jangan salah paham!" seloroh Ivan mencoba mendekat namun dengan tegas ku tepis tangannya yang coba meraihku.
"Kalian memang benar-benar hebat!" aku tersenyum getir. pemandangan yang sama sekali tak ku harapkan pagi ini.
"Aku pikir, kamu tak akan datang menjemput. Aku kirim pesan kenapa kamu gak jawab?" tanya Vina seolah menyalahkanku.
"Jika aku tak menjawab Pesanmu! apa ini semua pantas sebagai balasannya?" tanyaku tak paham.
"Sayang, kamu jangan salah paham! kita Gak ada apa-apa kok!" Vina mendekat. aku menahan tubuhnya agar tak mendekat lagi.
"Mungkin sekarang tak ada apa-apa. aku hanya takut suatu saat, semua yang ku khawatirkan akan terjadi" gumamku.
Ivan dan Vina saling melempar pandangan bingung.
"Katakan sejak kapan kalian bertemu?" aku menatap Vina tajam.
"Baru sekarang! itu pun karena dia kebetulan lewat" wajahnya gugup. tatapannya tak fokus. dan ku yakin jika Vina sedang berbohong padaku sekarang.
"Kamu tak bisa berbohong" sindirku
"San. lo gak usah kaya anak kecil deh. kita udah kenal sejak lama. Gak mungkin juga gue ambil Vina dari lo" seloroh Ivan.
"Mungkin saja. jika aku tak melihat semua ini sekarang. mungkin saja,suatu saat..!" aku menggeleng lemah.
"CUKUP SAN! aku udah cukup sabar Yah sama sikap kamu yang egois ini!" Celetuk Vina berapi-api.
Aku mengernyit kaget. kenapa jadi dia yang marah padaku? apa ini lelucon?
"Aku jujur sekarang! kita emang sering ketemu beberapa bulan terakhir. Ivan selalu ada buat aku. dia selalu ngajak aku ngobrol kalo kamu lagi Gak bisa nemenin aku. kamu selalu sibuk sama kerjaan. dan lupa kalo kamu punya aku! aku benci selalu di nomor duakan! apalagi saat aku tahu. kamu secara terang-terangan membiayai seorang wanita diperusahaan kamu karena suaminya meninggal. Aku jadi paham kenapa kamu selalu sibuk dengan pekerjaan!" jelasnya terdengar sangat yakin.
"Apa maksud kamu Vina? dari mana kamu dengar semua berita itu? siapa yang sudah menghasut kamu?!" desisku.
"Vina udah! ini tempat umum!" larang Ivan saat sadar semua orang mulai memperhatikan kami bertiga.
"Aku muak dengan sikap kamu san! kamu selalu bicara seakan-akan Aku yang salah. aku yang selalu abai sama kamu. padahal kamu sendiri yang gak bisa ngasih waktu buat hubungan kita."
Protesnya kesal.
"Bukannya selama ini, kamu yang sering melupakan aku Vin? kamu yang lebih mengutamakan pekerjaan kamu. kamu bahkan berani bertemu dengan Ivan dibelakangku?!" tudingku tak mau kalah. karena memang pada kenyataannya dia pun sama denganku.
Vina mendengus menahan amarahnya
"Hubungan kita memang Gak bisa di selamatkan! aku harap! ini terakhir kalinya kita bertemu!" Vina melenggang meninggalkan kami berdua. disusul Ivan yang kemudian mengejarnya.
Aku hanya diam mematung saat mereka berdua pergi.
Jadi,akulah yang bersalah?
Dan Aku jugalah yang akhirnya dicampakkan seperti ini?
Dunia tiba-tiba seakan runtuh begitu saja dihadapanku.
•••
Hari ini menjadi hari yang sangat buruk bagiku. Aku tak ingin kembali mencari Vina. tapi aku juga bingung jika hubunganku harus berakhir begitu saja.
Tapi,tidak!
__ADS_1
Vina sudah punya Ivan, pria itu pasti akan selalu setia bersamanya. menghiburnya. Aku tak perlu khawatir. batinku tersenyum dengan luka perih yang ku tahan.
Ada kekesalan, kekecewaan juga kemarahan yang bercampur menjadi satu. Ku lajukan mobilku menuju dalah satu bar ternama di pusat kota. Meski kondisi masih tengah hari. aku menerobos masuk dan memesan beberapa Minuman.
"Tapi kami belum buka pak!" tukas salah seorang pelayan.
"Mana manager kalian? suruh dia kemari dan buatkan saya minuman!" ku rogoh saku celanaku dan mengeluarkan dompet yang berisi penuh Credit card itu. si pelayan menatapku takut. lalu berlari memanggil manager nya.
"Oh, pak Sandy! lama sekali tidak berjumpa!" sapanya ramah. dia tahu aku dan Ivan adalah pelanggan tetap Bar mereka. sehingga tak mungkin dia melupakan ku begitu saja.
Dengan sigap pria tambun itu menyediakan berbagai jenis minuman beralkohol yang mahal padaku. membiarkan aku untuk memilih apa saja yang ku inginkan.
Ku tarik segelas Tequilla yang baru saja di tuangkan pelayannya di atas meja.
"Saya tinggal sebentar ya! kamu tolong layani pak Sandy dengan baik!" perintah si manager sembari berlalu.
"Apa disini tak ada musik? tak bisa kah kalian menyalakan musiknya untuk menghiburku?" pintaku lesu.
Aku duduk tegak dan menatap seorang DJ yang mulai memutarkan lagu untukku.
Aku tersenyum. setidaknya masih ada banyak orang yang peduli padaku di saat aku seperti ini.
Ku habiskan sepanjang hari di bar tersebut. aku bahkan tak ingat dimana ponsel dan juga kunci mobilku.
Seorang pelayan cantik memapahku menuju salah satu bilik yang lebih tertutup. dia membiarkanku tertidur disana.
"Bawakan semua minuman itu kemari ya!" pintaku dengan sedikit limbung saat hendak duduk. lalu ku sandaran tubuhku di Sofa. rasanya kepalaku ini sulit untuk tegak. padahal aku baru saja minum beberapa gelas.
Dua orang gadis manis tiba-tiba datang dan duduk di dekatku. salah satu dari mereka mencoba hendak melepas jas ku
"Kalian bisa pergi! aku sedang ingin sendirian saja!" usirku pada mereka berdua.
Aku edarkan pandanganku pada seisi bar yang masih sepi. tentu saja karena ini memang masih siang.
ku alihkan pandanganku pada gelas yang ada di atas meja. gelas itu kosong. tak ada isinya sama sekali. dan aku sedih karenanya.
Aku menarik gelas itu dengan rasa iba.
"Kamu pasti ingin minum juga kan?" aku bergumam seraya memanggil si pelayan
Dengan bergegas wanita itu bersimpuh lalu menuangkan segelas wine untukku aroma khas nya benar-benar terasa menenangkan pikiran.
*Dunia ini ternyata hanya berisi lelucon dan kebodohan.
Susah payah ku pertahankan hubunganku, tapi nyatanya....
Dengan mudahnya semua itu hancur!
Apa semua ini salahku?
Apa aku yang terlalu bodoh hingga membiarkan Vina pergi?
kenapa aku tak mengejarnya*?
**Betapa lemahnya aku..
Mengapa aku harus seperti ini? tak Bisakah aku bersikap tegar? bukankah masih banyak wanita di luar sana?
__ADS_1
Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.
Aku berusaha tegar! aku berusaha tak menangis.
Tapi nyatanya, aku lemah. aku tak bisa menghadapi masalahku ini.
Bayangan saat orangtua ku meninggal seolah muncul kembali dihadapanku.
Aku yang masih kecil meronta-ronta dan menangis. dan mungkin seperti itu jugalah aku sekarang.
Dasar pria bodoh**!
Aku kebingungan, tapi aku juga tak tahu kenapa? aku berbaring pelan di atas Sofa dengan senyuman lemas dan setetes air mata yang entah sejak kapan membahasi pipiku.
Ku pejamkan mataku pelan. berharap tubuhku akan kembali segar setelah bangun nanti.
•••
"Pak! ini sudah malam,apa pak Sandy mau kami antar pulang?" si pelayan membangunkanku dengan hati-hati.
Aku memicingkan mataku pelan.
"Jam berapa ini?" tanyaku lirih
"Pukul 9 malam pak. Saya bisa antar anda pulang ke rumah sekarang!" sarannya.
"Nanti saja, saya masih ingin disini" sahutku dingin.
Cepat sekali waktu berlalu. apa yang terjadi selama aku tertidur? apa ada yang mencariku? apa ada yang mencemaskanku? batinku.
Tentu saja tak ada San, semua orang hanya akan fokus pada dunia mereka. kamu hanya sendirian. dan tak akan ada yang memperdulikan keberadaanmu.
Setengah jam sudah aku duduk dan mencoba menguasai diriku. tapi sepertinya kadar alkohol di tubuhku sudah terlalu banyak.
Aku bangkit dan merogoh saku jas ku untuk mencari kunci mobil.
"Mana dompet saya?" tanyaku pada seorang pelayan yang tengah sibuk berjalan kesana kemari.
"Dompet anda ada di meja bartender pak!" dia menunjuk salah satu sudut yang awal tadi aku datangi.
Saat ini suasana bar terlihat sangat penuh dan riuh. asap rokok mengepul dimana-mana. banyak pria-pria berisik yang berteriak kasar dan jorok.
Aku memegang kepalaku penat.
"Tempat apa ini? kenapa jadi sangat ramai begini?" dengusku sembari terus berusaha mencari dompetku.
"Ini dompet anda pak!" si bartender berbaik hati dan memberikannya padaku
"Apa aku sudah membayar semuanya?" tanyaku tak yakin.
"Sudah pak! apa perlu saya Panggilkan security didepan?" sarannya
"Gak perlu. saya bisa sendiri." jawabku singkat.
Dengan susah payah Ku lewati beberapa orang untuk mencapai pintu keluar. rasanya sumpek sekali berada di dalam tempat terkutuk ini.
• • • • • •
__ADS_1