PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•105


__ADS_3

Dengan susah payah akhirnya aku bisa memasangkan sabuk pengaman di tubuhku. meski otakku sudah dipenuhi cairan alkohol, tapi setidaknya aku masih peduli dengan keselamatanku sendiri.


Baru saja hendak mengemudikan mobilku. ku lihat mobil Ivan berhenti di depan parkiran bar tersebut. wajah nya jelaga seperti tengah mencari seseorang. lalu tatapannya bertumpu ke arahku.


"Dia menemukanku," aku bergumam namun tak berniat menggubrisnya.


"San, Sandy! bukaaa!" Ivan menggedor kaca mobilku. entah apa yang coba dia bicarakan. Namun aku terlanjur marah dan benci padanya.


Ku tinggalkan Ivan yang masih mencoba mengejarku. Apapun yang coba dia lakukan, aku sudah tak peduli lagi.


Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi. beruntunglah malam ini jalanan sedikit lengang.


Sejujurnya aku tak berniat pulang ke rumah. aku hanya ingin menghabiskan waktuku di jalanan, memacu kendaraanku hingga aku bisa melupakan penghianatan yang mereka berdua lakukan padaku.


Namun tiba-tiba dari arah belakang dua buah motor yang entah darimana datangnya menyalip kendaraanku. dengan adrenalinku yang masih berkobar tentu saja aku tak ingin di kalahkan oleh kedua pemuda tanggung itu. kami saling berpacu melajukan kendaraan kami agar lebih cepat.


Mobil ku benar-benar terasa seperti kapas yang melayang di udara, sangat ringan dan lincah. sesekali aku tertawa melihat mereka jauh tertinggal di belakangku.


"Mau coba-coba balapan denganku!" dengusku angkuh.


Tapi saat tengah asyik melajukan mobilku. tiba-tiba saja kepalaku berdenyut nyeri. membuatku aku seketika menunduk dan hilang kendali. aku lupa jika kakiku masih menginjak pedal gas dengan cukup kuat. hingga mobilku terus saja melaju tanpa arah.


Aku menengadah saat sadar ada yang tak beres dengan laju mobilku. dan benar saja, sebuah rumah di pertigaan nyaris ku tabrak. dengan panik ku banting stir ke kiri, tanpa ku tahu dari arah yang berlawanan muncul sebuah truk besar hingga membuatku tak dapat menghindari tabrakan itu......


Aku seperti berada di sebuah tempat yang asing. terbang kesana kemari dengan sangat ringan. ada suara tawaku yang terdengar membahana. tapi entah darimana asalnya.


Aku menoleh ke belakang, sepi. hanya seberkas cahaya terang yang entah apa itu. cahayanya benar-benar menyilaukan


Lambat laun, ku dengar riuh suara orang seperti sedang berteriak, menjerit dan memanggil-manggil orang lainnya.


Aku mengerjap membuka mataku pelan. ada darah segar yang terasa membasahai pipiku. bau amisnya bisa ku cium.


Kenapa penglihatanku jadi berbalik begini? batinku. Aku coba mengangkat kakiku yang terasa pegal Dibawah sana. Namun aku terkejut saat aku tak bisa menariknya.


Aku menunduk dengan sisa rasa sakit yang ku paksaan disekitaran bahu kiriku.

__ADS_1


Betapa kagetnya aku saat ku lihat, kedua kakiku terhimpit Dashboard hingga terlihat menghilang karena saking kuatnya benda itu menekan kedua kakiku.


Dari situ aku menangis, aku baru sadar apa yang barusan terjadi padaku.


Apa sekarang saatnya aku mati?


Apa kematian terasa sangat menyakitkan seperti ini?


Aku tiba-tiba mengantuk, sayup-sayup ku dengar suara ambulan datang dengan teriakan-teriakan asing yang semakin ramai disekitar telingaku.


•••


Aku berjalan pelan menyusuri sebuah jalan terang yang entah ada dimana. Ku pikir Aku mungkin terbangun di surga sekarang. tapi anehnya tak ada bidadari yang menyambutku. atau aku akan disambut oleh tawa hangat dari papa dan mamaku. tapi dimana mereka.


Aku duduk di salah satu bangku yang terasa dingin yang terbuat dari kayu jati. Meski baru sebentar berjalan tapi tubuhku terasa lelah dan sakit semua.


Aku mencoba memijat bahu kiriku yang memang terasa sangat pegal. dan aku benar-benar terkejut saat aku tak dapat menggerakkannya.


"Awwh!" aku mengaduh heran. tanganku tidak terluka. tapi kenapa terasa sakit?


Apa jangan-jangan aku sudah mati???


Bodohnya aku mati dengan cara kecelakaan seperti itu, sama sekali tidak terhormat. atau aku memang ingin mengikuti jejak kedua orangtuaku yang meninggal karena kecelakaan juga?


Dalam benakku tak ada lagi yang ku pikirkan. aku hanya mencoba menyadarkan diriku sendiri dari mimpi ini.


Benarkah aku sudah mati? tapi kenapa saat aku mencoba membuka mata, rasanya sulit sekali. seperti ada lem tikus yang membuat rapat kedua mataku.


Dengan susah payah akhirnya aku mampu menggerakkan kelopak mataku pelan. sungguh sangat sulit sekali.


"San, kamu sudah sadar?" suara dokter Hasan terdengar nyaring di telinga.


Aku melirik pelan namun tak bisa menggerakkan seluruh wajahku untuk menoleh padanya.


"Hm," Itu saja yang mampu ku jawab karena ternyata tenggorokanku terasa kering dan mulutku di sumpal selang kecil. apa-apaan ini? gerutuku dalam hati

__ADS_1


"Syukurlah! kamu baru saja menjalani operasi. karena kaki dan tangan kirimu patah. juga ada bagian pahamu yang robek cukup parah!" jelasnya singkat.


Aku terkejut mendengar penjelasannya separah itu kah luka yang ku alami?


"Sekarang kamu bisa tidur lagi. istirahat lah yang banyak. jangan terlalu banyak berpikir!" bisiknya lagi.


Dan entah kenapa, aku sangat mengantuk. padahal aku baru saja tersadar dari tidurku. semakin ku lawan, maka aku akan semakin mengantuk.


•••


Pagi ini ruanganku terdengar sangat berisik dan ramai. aku membuka mata pelan. ku lihat dokter Hasan tengah berbincang dengan para dokter dan suster yang ada di ruanganku


Tak bisakah mereka bicara di luar? benar-benar sangat mengganggu tidurku saja.


"Iya, bagian yang ini kalau tidak di lakukan operasi lagi. maka dia akan kesulitan berjalan!" jelas salah seorang dokter yang ku pikir adalah dokter bedah.


"Ini juga dok, hasilnya sangat mengejutkan!" seorang suster menunjukkan berkas pada dokter Hasan.


Apa mereka sedang membicarakanku? apa benar yang ku dengar ini? aku tak akan bisa berjalan?


Seketika tubuhku terasa panas dingin. bagaimana jika itu benar terjadi? aku tak akan bisa jalan lagi?


Ku coba menggeser kaki kiriku di tengah tekanan batin yang coba ku tepis.


SULIT!


Benar-benar sangat sulit. aku tak mampu merasakan pergerakan kakiku di bawah sana.


Tubuhku kaku meski jiwaku berontak untuk terus bergerak. namun nihil. bahkan tangan kiriku pun tak bisa ku gerakkan.


Aku hanya mampu menggerakkan bola mataku saja. meski dengan sangat pelan. mulutku sulit berteriak meski aku ingin.


Kenapa Tuhan tidak membuatku mati saja. dan malah menyiksa tubuhku seperti ini....


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2