PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•21


__ADS_3

Siklus kehidupan memang terkadang absurd. Ada masanya kita menikmati jalan Hidup yang tenang tanpa hambatan. ada pula masanya kita menjalani hidup yang rumit dan penuh kendala.


Mungkin saat ini setelah kepergian suamiku, aku bisa mengatakan siklus hidupku sedang dalam masa tenang.


Tenang Bukan karna kematiannya,


Tenang karna Aku tak tertekan oleh perilaku jahatnya.


Apa aku berdosa???


Jika hatiku selalu merasakan dan mengingat kepedihan yang pernah dia torehkan padaku selama dia hidup?


Berkali-kali Aku mencoba mengikhlaskan semua perlakuannya selama dia bersamaku. tapi mungkin luka itu kini menjadi trauma tersendiri bagiku.


Kesulitan dalam mengurusi Andi,Ku topang semua beban itu sendirian. Aku tak bisa mengeluh,aku tak bisa berbagi kesedihan ku pada siapapun.


Suami yang seharusnya menjaga dan melindungi kami, ternyata hanya omong kosong belaka.


Ku tatap Andi yang tengah terlelap, seulas senyum mengembang diwajahku tanpa sadar. Putraku ini seperti memiliki sihir dahsyat yang mampu mengubah semua rasa dukaku menjadi suka,dan Rasa benciku menjadi sirna.


"Nak,bangun sayang!" ku usap keningnya,beruntunglah demam nya sudah reda. Lega rasanya melihat putraku kembali sehat.


Andi menggeliat memegang tanganku, perlahan dia membuka matanya. menatapku lekat dan penuh cinta. Ku rangkul Andi sembari tersenyum manis.


"Ayo bangun anak mama yang ganteng! kamu bau iler nih?" godaku mengendus pipinya gemas.


Andi tertawa geli. Tawanya membahana memenuhi ruang tidurnya. Jika Andi tengah bahagia maka rumah kami yang sepi ini terasa begitu ramai dan hangat. Bahkan aku tak merasa kesepian meski kami hanya tinggal berdua saja.


•••


Setelah Andi berangkat bersama Reyhan ke sekolah. Aku bersiap mengambil tas dan mengunci pintu. dan kebetulan sekali Mas Erwin juga terlihat baru keluar dari rumah.


"Selamat pagi teh Alis. mau bareng? biar saya anter?" Sapanya lebih dulu.


"Oh mas Erwin,berangkat kerja juga?" Sahutku keluar dari teras.


"Iya. sekalian berangkat kerja kita barengan aja. biar saya hafal juga daerah sini!" Ajaknya serius.


Aku menatapnya bingung.


"Wah, gak usah mas. saya biasa jalan sendiri,lagi pula gak jauh dari sini kok tempat kerjanya!" tolakku tak enak hati


"Loh? kalian belum berangkat?" suara bu Dewi muncul dari dalam rumah dengan membawa serta ember berisi pakaian Yang hendak dijemurnya.


"Ini mau berangkat bude," Sahut mas Erwin dengan gelagat tak suka.


"Erwin! sekalian kamu antar Alis, tempat kerja kalian kan searah!" kali ini pak yanto yang menyahuti dari dalam dengan membawa secangkir kopi.


Apa-apaan ini?


Apa mereka sedang bersekongkol?


kenapa begitu Antusias memintaku berangkat bersama mas Erwin.

__ADS_1


"Tuh, kamu denger kan teh? sebelum dituruti permintaan nya,mereka akan terus berteriak-teriak seperti itu dan membuat para tetangga heboh!" bisiknya sembari melirik kearah ku.


Aku terkekeh.


Ternyata Mas Erwin pun tak suka paman dan bibinya melakukan hal itu.


"Jadi? mending teh Alis nurut aja!' pintanya setengah memohon.


Aku menatapnya bingung lalu mengangguk dan ikut menaiki motornya menuju tempat kerja.


"Nah, gitu dong! kalian kan tetangga. jadi harus saling tolong menolong!" Suara bu Dewi terdengar nyaring dari kejauhan. Mas Erwin segera memacu motornya meninggalkan rumah menuju jalan raya.


"Maaf ya teh, bude saya memang begitu."


"Gak apa-apa mas, namanya juga orang tua!"


Selama perjalanan kami tak banyak bercerita, apalagi aku tak nyaman jika di bonceng oleh orang yang baru ku kenal. sebisa mungkin aku menjaga jarak kami agar tak terlalu dekat. dan itu membuatku ingin segera tiba ditempat kerja.


"Berhenti didepan aja ya mas!" Aku menunjuk kompleks tempat ku bekerja.


"Oh ini toh tempatnya, seperti perumahan elit yah?" Mas Erwin menatap sekitar kompleks itu.


"Ya begitulah mas, kebanyakan Orang yang tinggal disini adalah orang-orang yang berduit!" bisikku padanya.


"Ya sudah mas, saya harus kerja dulu. terima kasih untuk tumpangannya!" pamitku mendahuluinya.


Aku berjalan melewati security Yang biasa berjaga di pos,sepertinya sejak tadi mereka memperhatikan ku..


"Wah, udah ada yang nganter nih?" tukas salah seorang security yang ku kenal bernama pak Azis.


Ku percepat langkahku agar tak menjadi bulan-bulanan para Security yang terkenal sangat usil itu.


•••


Setibanya di rumah Mas Sandy,Aku bergegas menuju dapur ku lihat bi Marni tengah menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi bi," tukasku menyapanya sembari menyabet nampan dimeja dan hendak ku bawa menuju ruang makan.


"Alis? kamu udah datang! Gimana Andi?"


"Alhamdulilah Andi udah sembuh bi!"


"Ini buat di meja makan kan?" tanyaku memastikan sebelum kubawa pergi.


"Bukan! Bu Ayu semalam gak pulang!" bisiknya hati-hati.


"Oh. Terus ini buat siapa dong?"


"Buat Mas Sandy. Tau gak! kemaren bibi kerepotan gak ada kamu Lis. Mas Sandy susah banget makan sama minum obatnya. kalo begitu terus gimana mau sembuh!" keluh bi Marni.


Aku menatap nampan yang berisi begitu banyak menu makanan itu.


"Dasar bayi gede!" Dengusku.

__ADS_1


"Lebih baik, kamu lihat dulu ke atas!" perintahnya.


"Ya udah, Alis ke atas dulu ya bi." Aku bergegas menuju kamarnya.


TOK.. TOK..


"Permisi mas, saya bawain sarapan!" sapaku kemudian masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. kulihat mas Sandy masih terbaring ditempat tidurnya.


Tapi Anehnya tirai jendela tampak terbuka, apa semalam Bi Marni lupa menutupnya. ku dekati meja tempat makannya. lalu beranjak mendekati mas Sandy. wajahnya polos dan tampak lelap.


"Tumben banget!" Gumamku melihat lama ke Arahnya.


"Mas, udah siang?" tukasku pelan sembari merapikan buku-buku yang tergelar di sisi ranjangnya. ku lirik lagi mas Sandy yang masih bergeming.


lalu ku guncang pelan lengannya.


"Mas Sandy! udah siang mas!" kali ini dengan suara sedikit lebih tinggi.


Namun tetap saja tak ada jawaban. Aku mulai didera rasa panik. ku dekatkan telunjukku lalu ku periksa nafasnya, masih normal tapi agak lemah.


"Mas! mas Sandy!" Aku mulai berteriak.


Apa mungkin mas Sandy pingsan? pikirku cemas.


"Mas Sandy ayo bangun!" Ku guncang lebih kuat lagi lengannya.


"Awwhhh!"Suaranya parau setengah meringis karna Guncangan yang ku sebabkan.


Aku melotot tajam sekaligus kaget.


"Kamu bisa gak, kalo bangunin majikan itu yang lebih ramah!" pintanya menahan sakit.


Aku masih menatapnya tajam.


Apa barusan itu? apa dia sedang bercanda? atau aku yang terlalu panik?


"Bisa-bisa sebelah tangan saya juga ikutan di Gips teh!" dengusnya.


Ada amarah membuncah dalam batinku. tak suka rasanya dipermainkan seperti itu. Aku pernah kehilangan dan itu membuatku merasakan takut. takut yang entah bagaimana menjelaskannya.


Aku bangkit dengan bersusah payah menahan air mataku.


"Keterlaluan!" dengusku kesal.


Kini wajah mas Sandy yang terlihat panik. mungkin karna melihat perubahan emosi ku. pemuda itu bangun dan duduk memegangi tengkuk nya.


"Semalem saya gak bisa tidur! jadi saya minum obat tidur. teh Alis gak lihat,ada obat tidur disamping nakas!"


Aku melirik meja nakas, dan baru menyadari ada toples obat tidur yang tergeletak disana. AH! Kepanikan ku memang selalu berujung memalukan.


"Lain kali jangan begitu lagi mas! Mas Sandy gak tahu betapa paniknya saya tadi!" tukasku parau.


Pemuda itu menatapku lama,ada rasa penyesalan dalam sorot matanya.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2