PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•95--


__ADS_3

Penghianatan yang paling menyakitkan adalah penghianatan yang di lakukan oleh orang yang sangat kita kenal.


Tak masalah jika Vina bertemu pria lain diluar sana. apalagi hanya sekedar makan malam. aku bisa menganggap mereka sebagai teman bisnisnya. tapi jika yang ku lihat adalah sahabatku sendiri? apa namanya itu?


Aku mengeratkan gigiku dengan tatapan mata tajam menatap ke arah keduanya yang kini sudah menghilang dibalik pintu masuk.


Mereka berani melakukannya di belakangku? semudah itu?


Aku menghela nafas kasar,mungkin ini cara terbaik Tuhan menunjukan sikap asli mereka padaku. Aku memutar kemudi dan meninggalkan tempat itu dengan segera.


Sebagai seorang pria aku tak bisa menangis. memalukan sekali jika aku menangisi hal remeh seperti itu. Aku memang menyadari jika akhir-akhir ini kami jarang memiliki waktu untuk bersama. sehingga pantas saja jika Vina lebih memilih laki-laki lain untuk menemani kesendiriannya.


Hatiku mencoba merelakan hal yang sebenarnya sangat sulit untuk ku terima. Mobilku melaju cukup cepat melewati jalan raya yang sedikit macet.


Tiba-tiba saja, langit berubah kelabu. kilat terlihat saling menyambar di atas langit sana. ku pelankan sedikit laju mobilku. tak ingin hal buruk malah menimpaku setelah kesialanku hari ini.


Hingga tiba dekat sebuah persimpangan, suasana terasa semakin riuh. banyak mobil yang tiba-tiba berhenti di bahu jalan. aku masih belum menyadari apa yang terjadi didepanku. hingga mobilku merangsak maju tepat didepan sebuah kecelakaan tragis dipersimpangan jalan itu.


Seorang polisi tampak menghentikan laju mobilku. membiarkan beberapa pemotor lain melintas lebih dulu.


Ku perhatikan dengan seksama suasana keos itu. sangat berisik di tambah guyuran hujan yang semakin deras. Ku tajamkan pandanganku pada sosok orang-orang yang ada di lokasi kecelakaan.


Seorang wanita yang tengah menangisi pria yang tergeletak tak bernyawa dengan darah segar berceceran disekitarnya. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu karena kondisi sangat gelap.


Aku menghela nafas berat, sesak rasanya melihat kondisi tragis begini. aku jadi sadar. sakit hatiku tak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan wanita itu sekarang. malu rasanya jika aku masih mengeluh, hanya karena cinta.


Baru saja hendak, ku lajukan mobilku melewati kerumunan para pemotor, namun kemudian sebuah cahaya lampu dari kendaraan lain menyorot wajah si wanita hingga aku bisa melihatnya dengan jelas.


Dia,...


Wanita itu, wanita yang akhir-akhir ini sering mengganggu pikiranku. ternyata itu dia. lalu siapa laki-laki yang di tangisinya? apa itu suaminya? atau ayahnya? batinku terkejut.


Aku tak jadi melajukan mobilku dan memilih menepi lalu keluar dari mobil. Ku tatap lekat dirinya yang tengah menangis histeris dengan pakaian di penuhi darah.

__ADS_1


"Mas Rizal...! mas! bangun mas..!" jeritnya pilu. dan semakin membuatku merasa tak karuan.


"Bu, Silahkan mundur sebentar!" dua orang polisi mencoba menjauhkannya dari si korban. karena mungkin mereka akan membawanya menuju rumah sakit.


Wanita itu terlihat lemah dengan wajah sembab, dan kemudian terkulai tak berdaya. Aku berlari mendekat dan membantu memapahnya.


"Anda siapa ya? tolong jangan mendekat!" pinta si polisi padaku.


"Saya temannya! biar saya yang bawa wanita ini ke rumah sakit pak!" jawabku seraya menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


Entahlah, Aku seakan kehilangan akal sehat saat melihatnya tak berdaya begini. Ku kemudikan mobilku menuju salah satu rumah sakit terdekat dari tempat itu.


•••


*Benarkah jika mencintai seseorang itu tak memerlukan alasan?


Bagaimana bisa kita mencintainya jika kita sendiri tak tahu apa yang terjadi pada hati kita?


Ku tatap lama wanita yang masih tak sadarkan diri itu. bajunya baru saja diganti oleh suster. dia tak akan kedinginan lagi. tadi aku sangat khawatir jika dia akan masuk angin atau demam.


"Pak! apa bapak suaminya? Silahkan selesaikan dulu administrasinya!" pinta salah seorang suster.


"Dia karyawan saya sus, saya atasannya." jawabku dingin.


Entah kebetulan atau bukan, dua kali aku menyelamatkannya. dua kali juga orang lain menganggap aku ini adalah suaminya. benar-benar aneh dan tak masuk akal.


Aku beranjak menuju tempat yang diperintahkan untuk mengurus semua biaya mengobatannya.


"Atas nama ibu Alis Anjani ya pak! Totalnya sebesar 2.500.000,-"


Aku termangu cukup lama saat mendengar namanya disebut. suster tersebut menyodorkan kertas pembayaran beserta Kartu identitas wanita itu yang mungkin dia temukan didalam pakaiannya.


"Alis Anjani,.." aku bergumam lirih. Ada perasaan lega dan juga senang saat aku akhirnya bisa mengetahui siapa nama wanita yang selama ini bisa dengan mudahnya merusak suasana hatiku.

__ADS_1


SIALAN! ada apa ini? bukankah baru saja dia mengalami musibah. kenapa aku malah memikirkan hal yang tidak-tidak tentangnya.


Aku bergegas kembali ke ruang rawatnya. ku lihat dia masih terlelap. sesekali ku perhatikan seluruh tubuhnya. seketika aku teringat jika dia dulu sempat melahirkan saat pertama kali kami bertemu. lalu dimana anaknya sekarang?


"Pak, ini pakaiannya! ini juga ponselnya. siapa tahu ada pihak keluarga yang mencoba menghubungi beliau" jelas di suster seraya memberikan semua barang itu padaku.


Namun bukan itu yang menjadi perhatianku. tapi sebuah luka lebam di tangannya. lingkaran lembamnya cukup besar hingga membuatku tertarik untuk menyikap sedikit lengan bajunya.


"Sepertinya Ini bekas luka benturan. tapi benturan karena apa ya? apa dia kecelakaan saat bekerja?" gumamku ragu.


Drrrtttt... Drrrt.... !


Ponselnya tiba-tiba berdering. Aku mencoba mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Bu Dewi?" sebuah nama terlihat jelas tengah memanggilnya. mungkin wanita ini ibunya. Aku segera mengangkat panggilan itu.


Pada awalnya dia kaget, karena tak mengenali suaraku. lalu ku jelaskan saja jika aku menolongnya saat terjadi kecelakaan di persimpangan jalan. ku berikan alamat rumah sakit padanya. agar wanita itu datang kemari.


Setelah panggilan teleponnya selesai. Aku pun meletakan semua barangnya di salah satu meja. ku tatap lagi wajah cantiknya,sungguh ini sangat gila. aku bahkan sangat suka menatapnya seperti ini.


"Lekas sembuh." bisikku pelan sebelum meninggalkan tempat itu dan meminta suster untuk menjaganya.


Aku tersenyum lega sebelum. benar-benar pergi meninggalkannya.


Tuhan dengan jelas telah menunjukkan sebuah kesedihan dan kebahagiaan pada satu waktu secara bersamaan padaku.


Menyadarkanku bahwa aku tak perlu menangis,..


Aku juga tak perlu bersedih.


Karena sesungguhnya, kebahagiaanku bukan berada pada apa yang aku tangisi. tapi pada apa yang akan Tuhan beri di depanku nanti.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2