PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•83


__ADS_3

Kali ini habislah aku. sia-sia aku berbohong pada mas Sandy tentang pertemuanku dengan bu Ayu. jangan-jangan dia mengirim pesan yang tidak-tidak hingga mas Sandy tampak begitu marah.


"Bu Ayu kirim pesan apa mas!"


Aku mencoba memberanikan diri bertanya. meskipun hatiku sangat takut jika dia sudah mengetahui semuanya.


Mas Sandy menoleh pelan padaku. tatapannya seakan sedang menghakimi ku atas hal yang ku sembunyikan itu.


Mas Sandy memberikan ponselku kembali. Aku berdoa dalam hati sebelum ku ambil ponsel ditangannya. Dengan ragu aku melihat isi pesan yang membuat mas Sandy sangat marah itu.


#Kenapa kamu masih bersikeras? apa saya perlu melakukan penawaran agar kamu mau menjauhi keponakan saya?"


DEG!


Aku merasa bak di sambar petir. Bu Ayu secara terang-terangan mengirim pesan ini padaku. Akupun tak menyangka jika mas Sandy akan membacanya lebih dulu. tentu saja ini semua karena kecerobohanku yang seenaknya menyimpan ponsel didekatnya.


"Sejak kapan?!"


Suara mas Sandy terdengar dingin dan menakutkan.


Aku harus memutar otak untuk menjawab pertanyaannya itu. dan jujur aku tak tahu harus darimana memulainya. haruskah aku jujur saja? lalu bagaimana jika mas Sandy mengamuk pada Bu Ayu. dan pada akhirnya aku lah yang di anggap bersalah atas sikap kasarnya pada Bu Ayu.


"Apa selama kita pacaran, disering mengancam teh Alis?" selidiknya menatapku tak sabar.


Aku menggeleng pelan.


"Lalu sejak kapan?"


"Dua hari yang lalu," jawabku pada akhirnya.


"Tapi mas, Bu Ayu gak ngapa-ngapain kok. dia gak ngomong macem-macem. sikapnya begitu karena bentuk kekhawatiran seorang tante pada ponakannya. saya bisa maklum."


"Tapi saya tidak terima! dia sudah sangat keterlaluan." desisnya tampak geram.


"Mas, Bu Ayu itu satu-satunya keluarga mas Sandy. kalau bukan dia yang mencemaskan masa depan mas Sandy. lalu siapa lagi mas?"


"Dengan cara menyakiti kamu? apa itu cara yang benar? Ayolah Alis. kamu hanya merasa tak enak padanya!"


"Tapi saya tak akan memaafkan mas Sandy jika mas Sandy memarahi bu Ayu!" selorohku.


Mas Sandy menatapku tak percaya.


"Saya tak marah. tapi jika dia sampai menyakiti kamu. saya tak akan tinggal diam." dengusnya.


"Saya yakin bu Ayu orang yang baik." jawabku mencoba menenangkannya.


"Lain kali, kamu harus bilang sama saya teh! saya rasa, jika saya tidak menemukan pesan itu. kamu pasti akan terus menyembunyikannya dari saya. dan memilih pergi meninggalkan saya tanpa alasan?" gerutunya yang sudah bisa menebak jalan pikiranku bahkan sebelum aku memikirkannya.


Ku genggam erat tangan mas Sandy.


"Saya tidak akan meninggalkan mas Sandy. karena sekarang, saya merasa sulit bernafas tanpa mas Sandy." aku menggodanya dengan senyum manis.


"Kamu jangan membuat kepala saya kacau dengan cara tersenyum kamu seperti itu teh!" Elaknya memalingkan wajahnya dariku.


"Saya serius!" aku menukas cepat.


Mas Sandy menoleh dan mendorong paksa tubuhku hingga terbaring disofa. kedua tangannya menghimpit tubuhku hingga membuatku sulit bergerak.


"Kalau begitu. saya akan memberikan nafas saya untuk kamu teh!" gumamnya pelan.


Aku membeku sesaat,melihat sorot matanya yang tajam. juga helaan nafasnya yang terdengar memburu.


Matanya intens menatap mataku,

__ADS_1


Bibirnya mendekat dan nyaris menyentuh bibirku. dan sungguh! aku tak bisa mengelak lagi sekarang. aku memejamkan mataku takut.


Namun,


CUP!


Mas Sandy mencium ujung hidungku pelan dan begitu lembut.


Wajahku yang tadinya menegang, tiba-tiba mengendur perlahan. aku membuka mataku pelan. menatap matanya yang tampak begitu indah dan bersinar.


"Saya akan menikmati yang satu itu, setelah kamu halal untuk saya!" mas Sandy menatap bibirku seakan mencoba menahan hasrat Liar nya.


"HUH!"


Aku menghela nafas lega.


Hampir saja dia berhasil mengobrak-abrik hatiku. desiran darah ini bahkan masih terasa mendidih. bisa-bisa nya dia melakukan hal itu dengan amat santai. Aku benar-benar merasa sangat bodoh sekarang!


Aku memalingkan wajahku malu. menggigit bibirku karena gugup dengan sikap manisnya.


"Atau kamu mau sekarang teh?" godanya lagi.


"ARRRRGH!" Aku mendorongnya kuat dan buru-buru berlari menjauh darinya.


•••


Sore ini tepat pukul 3. Aku dan mas Sandy berencana menjemput Andi ke sekolah. Untuk akhir pekan dia memang pulang sedikit terlambat karena sekolahnya menambahkan pelajaran ekstrakurikuler di akhir pekan.


"Bagaimana sekolah Andi teh? apa kalian ada masalah? soal pembayaran mungkin?" tanyanya sembari fokus menyetir.


"Enggak mas. Alhmdulilah semua biaya aman. uang yang mas Sandy berikan masih saya tabung. Kami masih bisa membayar cicilan-cicilan kecil dari gaji saya kok mas" jelasku.


"Kamu pakai saja uang tabungannya. jika kamu perlu sesuatu. tolong bilang pada saya teh! jangan sampai calon istri Sandy Hadiwijaya berhutang pada orang lain!" celetuknya santai.


"Kenapa?" mas Sandy melirik padaku.


"Kata-kata mas Sandy barusan sangat manis."


"Saya serius!" potongnya.


"Terima kasih atas perhatiannya mas!" jawabku tulus.


"Itu dia jagoan kita!" mas Sandy menatap Andi yang baru saja keluar dari gerbang sekolah.


Kami berhenti di depan gerbang lalu keluar dari mobil dan menyambut Andi. Andi yang melihat om kesayangannya datang menjemput langsung menghambur kedalaman pelukannya


"Wahhh! jagoan om habis latihan karate ya?" godanya.


"Iya om! biar nanti Andi bisa jagain mama kalo udah gede!" sahutnya seraya menunjukkan kepalan tangannya.


Aku terkekeh geli melihat tingkahnya.


"Eh Andi di jemput mama yah!" Sebuah suara membuat kami sontak menoleh


"Oh, iya bu Ranti. kebetulan saya libur kerja!" jawabku sedikit berbohong.


Wanita cantik Bernama Ranti ini merupakan orang yang cukup kaya di kampungku. dua putranya bersekolah di sekolah ini. dan salah satunya seumuran dengan Andi.


"Apa ini calon papanya andi? tampan sekali yah?" selorohnya nampak kagum saat melihat sosok mas Sandy.


Aku tersenyum bingung.


"Kenalkan saya Sandy! calon papanya Andi!" jawabnya sembari mendekap Andi.

__ADS_1


Tentu saja jawabannya itu membuat aku dan Andi terkejut. Andi tentu paham apa yang baru saja di ucapkan mas Sandy. bahkan dia tak henti-hentinya menatap mas Sandy heran.


"Wah Andi hebat. punya papa baru. selamat ya bu!" Bu Ranti menatapku antusias. dan aku hanya menjawabnya dengan senyuman heran.


"Mas, kamu ngapain sih?" bisikku.


"Gak apa-apa teh! itung-itung latihan" jawabnya enteng.


"Iya betul. harus latihan sebelum jadi papa betulan ya!" Bu Ranti masih nampak penasaran dengan mas Sandy.


Tak ingin mas Sandy jadi bulan-bulanan ibu-ibu di sekolah. apalagi mereka mulai berdatangan untuk menjemput. kami memutuskan untuk pulang.


Selama di dalam mobil Andi terus saja menatap mas Sandy. tapi tak satu katapun keluar dari mulutnya. Aku tak ingin bertanya apapun. dan hanya membiarkan dia dengan pikirannya. mungkin setelah tiba di rumah baru akan ku tanyai Apa yang membuat Andi tampak Syok seperti sekarang.


"Apa Andi baik-baik saja teh?" bisik Mas Sandy yang sepertinya juga menyadari hal yang sama.


"Ssstttt!" desisku pelan.


"Andi mau beli eskrim?" tanya mas Sandy saat kebetulan mobil kami melewati penjual eskrim.


Andi menggeleng kaku.


"Sudah mas. lebih baik kita pulang saja? mungkin Andi kelelahan!" pintaku.


Mas Sandy segera melajukan mobilnya menuju rumah kami. dan kebetulan Bu Dewi pun tampaknya sudah pulang dari luar kota. ku lihat motornya terparkir dihalaman rumahnya. namun hanya motor mas Erwin yang tak tampak disana. apakah dia tak ikut pulang kembali kesini. pikirku.


"Mereka pasti sudah pulang!" gumamku melihat rumah itu.


"Siapa teh?"


"Bu Dewi. bude nya mas Erwin. kemarin-kemarin mereka keluar kota untuk menjenguk ibu dari mas Erwin yang lagi sakit." jelasku.


"Apa Erwin kembali lagi?" tanya mas Sandy sinis.


"Kurang tahu mas. mungkin belum. motornya saja gak keliatan." tuturku.


"Awas saja," gumam mas Sandy pelan.


"Awas apanya mas?" tanyaku heran.


"Enggak apa-apa. Lebih baik kita keluar!" Mas Sandy membuka pintu mobil untukku dan juga Andi.


"Ayo sayang!" ajakku pada Andi yang masih tampak dingin.


Setelah masuk ke dalam rumah. ku biarkan Andi duduk di Sofa. sementara aku mengambil air putih ke dapur.


"Mas Sandy mau minum?"


"Boleh," jawabnya sembari berlutut mendekati Andi.


Aku segera kembali dengan dua gelas air putih ditanganku.


"Andi kenapa?" tanya mas Sandy kemudian.


"Apa benar, om Sandy mau jadi papa Andi?" tanyanya lirih namun juga terlihat takut. mas Sandy tersenyum sembari mengusap lembut pipinya.


"Kenapa? Andi Gak mau kalau om jadi papa Andi?" tanyanya lembut.


Andi nampak berkaca-kaca. sedetik kemudian dia memeluk mas Sandy. bahkan terlihat sangat erat.


"Andi mau om!" isaknya dengan suara parau.


Aku berdiri mematung menatap keduanya. sungguh! tak perlu bicara banyak pun. aku sudah berlinang air mata menyaksikan pemandangan langka itu.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2