
"Maaf banget ya Ais, kayanya kakak gak bisa datang. kakak masih di kantor, tapi kalo pulang cepet. kakak usahain kok!" akhirnya ku jelaskan lewat sambungan telepon. meski sepertinya aisyah terdengar kecewa dengan jawabanku.
"Kalo gitu, kak Alis hati-hati ya kerjanya. semoga kak alis, bisa mampir." tukasnya putus asa.
"Iya. makasih ya. kamu kerja yang rajin, kapan-kapan kakak pasti mampir kesana." tandasku menghiburnya.
Ku akhiri panggilan telepon itu, dan tak berapa lama suara seseorang terdengar mengetuk pintu pelan.
"Masuk!" sahutku seraya menatap kearah pintu.
"Ya ampun! kamu masih disini?" seloroh Rahma sembari berlari kecil mendekatiku.
"Kamu belum pulang? ngapain kesini?" ku tatap penasaran dirinya. seharusnya para karyawan sudah kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Kata Billy, kamu masih ada kerjaan. kebetulan semua kerjaan aku udah beres. jadi aku bisa Temenin kamu sampe selesai." tukasnya tulus.
Ku tatap haru gadis manis itu. Rahma benar-benar seorang sahabat yang sangat tulus dan baik hati. aku bersyukur memilikinya.
"Makasih ya," gumamku lirih.
"Ahhh, udah buruan beresin!Gak ada waktu buat nangis-nangisan! Lagian, bu Ayu ada-ada aja deh. dia malah asik pergi sama Vina setelah rapat. dan menyerahkan semua dokumen ini sama kamu. Bener-bener keterlaluan!" gerutunya kesal.
"Bu ayu pergi bareng Vina?"
"Iya lah. semenjak kerjasama mereka di tandatangani. mereka sering jalan bareng. nyebelin deh! aku rasa,mereka lagi Nyusun rencana buat jatohin kamu Lis," tandasnya curiga.
"Kok gitu?!" sahutku polos.
"Haduh! pake ditanya 'kok gitu'. jelas lah, mereka iri sama kamu, pertama kamu nikah sama pak Sandy yang notabene mantannya Vina, kedua kamu bisa jadi tangan kanan mas Sandy di perusahaan. yang seharusnya dipegang oleh bu Ayu. Gimana sih! jadi orang jangan polos-polos banget deh. harus waspada kanan-kiri. Dan lagi, hati-hati kalo Vina minta bantuan sama kamu apapun itu. sebisa mungkin kamu tolak! itu gak menutup kemungkinan dia bakal deketin lagi pak bos!" cerocosnya.
"Siap Bu!" sahutku cepat setengah menggodanya.
Aku tahu Niat baik Rahma menasehatiku begitu, dia sepertinya sadar betul Situasi yang sedang ku hadapi saat ini.
Hingga pukul 7 lewat, kami baru selesai mengerjakan tugas yang lumayan rumit itu. aku menggeliat lelah. ku tatap Rahma nampak asyik berdandan serta merapikan rambutnya.
"Kamu mau kemana sih? belum mandi udah pake bedak aja." aku tersenyum sinis.
"Hari ini ada produk baru yang mau diluncurkan di kedai milik pak Ivan. aku mau kesana, kebetulan Sinta juga udah nungguin disana."
Aku tersentak kaget, bagaimana ini bisa sangat kebetulan.
"Kenapa? kamu mau ikut juga Lis? apa pak Sandy Gak bakalan marah kalo tahu kamu pergi? lebih baik kamu minta ijin dulu sama suami kamu itu." jelasnya.
"Sebenarnya aku juga dapet undangan dari pak Ivan. tadi juga Aisyah ngabarin aku untuk datang. tapi aku tolak karena masih sibuk." jawabku ragu.
"Baru jam setengah 8,lagian kerjaan kita juga udah kelar. kalo mau ikut, mending bareng sama aku. biar aman!" selorohnya lagi.
"Badan aku kotor, belum mandi. masa datang pake baju kaya gini?" tukasku bingung.
__ADS_1
"Kalo aku sih, bawa baju ganti. tinggal ganti di toilet juga udah beres." gadis itu mengeluarkan barang dari paperbag yang di bawanya.
"Ya udah, kamu ganti baju aja dulu. aku mau beres-beres!" perintahku cepat.
"Oke. tunggu bentar ya!" Rahma segera merapikan barangnya dan menghilang di balik pintu toilet.
•••
Setelah obrolan cukup panjang akhirnya aku menolak untuk ikut ke acara itu. lagipula, mana sempat aku ganti baju sedangkan kondisi sudah mulai larut.
Kami berdua berjalan cepat di Lobby kantor yang lumayan sepi. hanya ada seorang security yang berjaga didepan.
"Kamu gak di jemput pak Muh?" tanya Rahma heran.
"Ya ampun! aku lupa kasih tahu pak Muh?!" aku merogoh cepat ponselku.
"Eh! bukannya itu pak Ivan?!" seloroh Rahma kaget. seraya menunjuk ke arah parkiran.
Aku menatap ke arah parkiran. terlihat dia sedang berdiri disamping mobilnya.
"Ngapain dia disitu? jangan-jangan mau jemput kita!" celetuknya setengah berbisik.
"Ngaco. paling juga nungguin bu Ayu." tukasku enteng.
"Kita samperin Yuk!" Rahma tiba-tiba menarikku untuk menghampirinya.
"Pak Ivan lagi ngapain?" sapa gadis itu.
"Maaf?!" pekikku bingung.
Kenapa juga pak Ivan meminta kami naik ke mobilnya.
"Bapak jemput kami berdua?!" terka Rahma antusias.
"Saya kebetulan lewat," tukasnya enteng.
Aku menatapnya tak percaya. bagaimana bisa ada hal yang sangat kebetulan seperti ini. dan lagi, dia tampaknya memang sedang menunggu. bukan sekedar lewat.
"Kamu pergi saja. saya mau pulang." gumamku pada Rahma
"Pulang? naik apa? taksi? atau di jemput supir? mending kamu bareng sama kita aja. biar saya antar kamu pulang!" sarannya.
Aku menatap Rahma bingung.
"Nah bener. ayo buruan naik! udah malem juga." paksanya cepat.
Dan pada akhirnya aku duduk di kursi belakang bersama Rahma. sungguh di luar dugaan. kenapa juga aku bisa ikut dengannya.
"Apa Acaranya Sudah di mulai Pak?!" Tanya Rahma penasaran.
__ADS_1
"Tentu saja belum. saya juga baru mau kesana. tadinya saya berharap, teman kamu itu bisa hadir juga. tapi sepertinya dia tak begitu tertarik." Tatapan pak Ivan bisa ku lihat mengarah padaku. tentu orang yang di maksudkannya adalah aku.
"Dia dari dulu orangnya emang gak suka keramaian pak. saya ajak ke karnaval aja, minta buru-buru pulang." timpal Rahma setengah meledekku.
"Benarkah? coba kamu kasih tahu, biar dia mau banyak bergaul. sekarang kan dia sudah jadi orang yang cukup dikenal. harusnya dia buang sedikit sifat malu-malu nya itu." pak Ivan terkekeh kecil.
Sepanjang jalan mereka berdua terus menggodaku. bahkan Rahma dengan serius membujukku untuk ikut, meski hanya sebentar.
"Ayo dong! 10 menit aja! abis itu kamu bisa pulang deh. Lagian masih jam 8?atau gini deh, biar aku yang kabarin pak Sandy untuk minta izin? Gimana?" desaknya.
"Saya pikir, Sandy tak akan marah jika kamu pergi. lagipula Sandy masih di luar kota,mungkin dia juga sangat sibuk. jika meminta izin sekarang,pesan kamu belum tentu juga langsung di baca olehnya" jelas pak Ivan
"Ada benarnya juga! pak Sandy pasti sibuk banget sekarang! Jadi gimana? mau Yah? bentar doang kok! yah?!!" bujuknya lagi.
"Iya. oke! aku ikut." tandasku malas.
Lagipula, aku tak akan menang jika berdebat dengan dua orang ini.
Ku rogoh ponselku dan mengirimkan pesan pada pak Muh.
"Nah, kan kalo gini aku jadi ada temen. tenang aja. kalo pak Sandy marah! aku Bantuin kamu. oke!" Rahma memeluk erat tubuhku.
•••
Setibanya di kedai,kami segera turun.
Ku lihat aisyah dan Ilham tengah menyambut para pelanggan didepan kedai.
"Kak aliiiiiisss!" Aisyah berlari ke arahku seraya mendekap penuh kerinduan.
"Kangen banget sama kak Alis," tukasnya tampak gembira.
"Kakak juga kangen. kamu apa kabar?"
"Kabarnya lumayan baik. aku pikir kak alis, Gak bakal dateng. eh, taunya ngasih kejutan!" Aisyah menoleh pada pak Ivan. dia pasti berpikir jika pak Ivan yang sengaja menjemput kami berdua.
"Ini karena ulah mereka!" sindirku melayangkan tatapan tajam pada Rahma dan pak Ivan.
"Ya udah, ayo masuk kak! ngobrolnya di dalem aja!!!" ajaknya cepat.
"Selamat datang kak Alis," sambut ilham Ramah.
"Wah, karyawannya ganteng-ganteng ya!" bisik Rahma.
Masuk ke dalam kedai ini, membuatku teringat kembali hal-hal yang pernah terjadi disini.
Terutama hal yang membuatku menangis karena sikap pak Ivan yang dulu sangat menakutkan bagiku.
Tapi sekarang,entah kemana hilangnya rasa takut itu. aku sendiripun tak tahu.
__ADS_1
• • • • • • • •