PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•205


__ADS_3

Darah tetaplah Darah, dia takkan berubah menjadi air meski kamu melemparkannya ke tengah lautan.


Meski Mas Sandy membenci Bu Ayu karena perbuatannya. Tak dapat dipungkiri bahwa wanita itu tetaplah keluarganya.


Satu jam setelah persidangan, Bu Ayu masuk ke dalam ruang sidang di temani dua orang polisi yang mungkin sudah 'menjemput'nya ke rumah.


Yang ku dengar dari Bi Susi tadi pagi. Bu Ayu di jemput paksa oleh pihak kepolisian karena tak berniat untuk memenuhi surat panggilan yang di layangkan padanya.


Wajahnya tampak begitu tegang. dia sama sekali tak melirik atau bahkan menoleh ke arah kami. tatapan matanya kosong seakan sudah pasrah dengan apa yang terjadi.


Dan setelah Jaksa membeberkan semua kejahatan Pak Broto dan Bu Ayu secara detail. barulah Bu Ayu buka suara,


"IYA. semua yang dituduhkan benar yang Mulia!" Tandasnya lantang dan Berani.


Aku menatap tajam padanya. begitupun mas Sandy dan yang lain. Mereka pasti tak menyangka jika Bu Ayu akan dengan mudah mengakui semua kesalahannya dengan percaya diri.


"Benar-benar tak tahu malu." gumam pak Ivan tak percaya.


"Tante,.." lirih Mas Sandy.


Bunyi Jepretan kamera terdengar riuh memenuhi ruang sidang. begitupun bisikan-bisikan yang memojokkan keduanya yang terdengar sangat bising.


"Bisa anda jelaskan. Atas alasan apa anda melakukan semuanya?" tanya salah seorang Jaksa.


Bu Ayu tertunduk lama.


"Karena kehadiran wanita itu membuat semua orang berpaling dari saya. dia mencuri kakak saya. kakak yang selalu menuruti apapun keinginan saya. dia juga nyaris menjalin hubungan dengan pacar saya Pak. Wanita itu, wanita murahan yang datang dari jalanan yang kakak saya nikahi karena cinta buta nya" geram Bu Ayu.


Mas Sandy menatap tajam padanya. terlihat jelas jika dia begitu marah saat mendiang ibunya di sebut-sebut oleh tantenya sendiri. bahkan dia mengatakan kata-kata tak pantas pada wanita yang telah melahirkannya.


Puluhan pertanyaan yang menyudutkan di jawab dengan berani oleh Bu Ayu. wanita itu sama sekali tak gentar. dia begitu bangga dengan semua kejahatannya.


"Bahkan kini,keponakan saya pun mengikuti jejak ayahnya. dia menikahi wanita yang entah dari mana asal usulnya. memalukan!" decihnya penuh ejekkan.


Mas Sandy hendak bangkit, namun segera ku Tahan.


"Tante benar-benar keterlaluan" geramnya


"Udah mas. disini banyak wartawan. malu! Biarkan pengadilan yang memutuskan. kita tunggu saja" tukasku mencoba menenangkannya.


Hingga pukul 11.30 siang sidang masih terus berlanjut. Bahkan Bu Ayu sama sekali tak berniat menggunakan Pengacaranya untuk membela diri. Aku tak habis pikir. bagaimana bisa seorang wanita sepertinya begitu bangga pada sebuah kejahatan yang telah dia perbuat. Apa dia benar-benar sudah tak memiliki hati nurani sebagai Seorang Ibu? atau seorang Wanita?


Kebenciannya serta rasa sakit hatinya yang menurutku tak beralasan itu, semakin menunjukkan jika dia memang sangat butuh kasih sayang. rasanya aku tak tega melihat dia Tersenyum Tapi jelas matanya begitu terluka.


Apalagi setelah mendengar putusan sidang jika keduanya terbukti bersalah.

__ADS_1


Pak Broto di jatuhi hukuman 10 tahun sedangkan Bu Ayu mendapatkan ganjaran 15 tahun penjara.


Aku masih terduduk lemas.


"Yang sabar ya San," ucap dokter Hasan seraya merangkulnya.


Semua orang tampak sibuk berdiri dan berdiskusi. Sementara aku masih memperhatikan Bu Ayu yang tertunduk kalut. dia pasti sangat terpukul. Ku lihat wanita itu bangkit ditemani dua orang pengawal. dia berbalik dan tepat menatap ke arahku. Aku terkesiap. tatapan mata itu sungguh sangat menakutkan.


"Aaaaaaarrrrrgh!!!" Teriaknya seraya berlari kencang ke arahku.


Sebilah pisau tajam terlihat dari balik bajunya. Aku terbelalak dan tak mampu menghindar lagi. kejadiannya begitu cepat dan tak terduga.


SLEEB!


Darah segar menyembul saat hunusan pisau itu dicabut.


Aku menjerit kuat, membuat semua orang semakin panik. Beberapa polisi segera mendekat untuk mengamankan Bu Ayu yang tampak terkejut. sepertinya ini diluar perkiraannya. dia berusaha menyerangku barusan? aku masih tak percaya. ku pegang kuat perutku.


•••


5 JAM SETELAH PERSIDANGAN...


Aku dan Mas Sandy masih berdiri didepan ruangan IGD. kami berdua begitu cemas. apalagi jika ku lihat pakaian mas Sandy yang tampak bersimbah darah setelah mencoba membantu pak Ivan masuk ke dalam mobil ambulan. kedua tangannya mengepal tak karuan.


"Nyaris saja.." desahnya kacau.


Aku bisa merasakan ketakutannya. jika saja pisau tadi itu menancap diperutku, mungkin Mas Sandy akan menjadi orang yang paling merasa bersalah seumur hidupnya. Tapi saat ini pun, dia tetap akan merasa bersalah. bagaimana tidak, dia nyaris kehilangan teman terbaiknya juga. teman yang mungkin dulu sempat berseteru dengannya karena satu hal.


"Bagaimana kondisi Ivan?" suara wanita yang iringi isakan terdengar dari arah belakang.


Aku dan mas Sandy menoleh kaget.


"Tante Nita?" tukas mas Sandy cemas.


"Apa yang terjadi pada Ivan? dia baik-baik aja kan? Ayo bicara san?!!" desaknya panik.


"Dokter sedang mencoba menanganinya tante. dokter Hasan juga ada di dalam." jelas mas Sandy.


"Ivaaaaan..!" teriaknya seraya mencoba mendorong pintu IGD.


"Tante.. tante yang sabar ya tante. Pak Ivan pasti baik-baik aja" aku mendekapnya erat. mencoba menguatkannya. kami bertiga larut dalam kekalutan yang tak pasti.


"Tadi itu kejadiannya begitu cepat,tante." jelas mas Sandy.


"Sebetulnya sasaran Bu Ayu adalah saya tante. tapi entah kenapa tiba-tiba pak Ivan berbalik dan melindungi saya" gumamku.

__ADS_1


"Kamu Alis 'kan?" tukasnya seperti sedang mencoba meyakinkan.


Aku mengangguk ragu. Bu Nita menatapku lirih. tangannya kemudian memegang erat kedua lenganku.


"Pantas saja dia melakukan itu,-" dia menggantung kalimatnya saat melihat ke arah mas Sandy. Aku pun ikut menoleh ke arah suamiku. Ada pertanyaan yang timbul dibenakku setelahnya. kenapa Tante Nita tak melanjutkan kalimatnya barusan.


"Kalian bicaralah berdua. saya harus mengambil ponsel di mobil" tukas Mas Sandy beralasan. dia sepertinya tahu jika Tante Nita tak nyaman dengan kehadirannya.


Aku tersenyum tak enak hati. takut jika suamiku berpikiran yang aneh-aneh tentang obrolan kami.


"Maaf tante, boleh saya tahu kenapa tadi tante bicara begitu?" ku lanjutkan lagi obrolan kami yang masih menggantung.


"Sebetulnya Ivan bicara banyak hal tentang kamu Alis. sepertinya dia sangat mengagumimu" gumamnya tersenyum tipis.


"Pak Ivan? mengagumi saya?" aku menautkan kedua alisku bingung. Hal apa yang mampu membuat pak Ivan kagum padaku.


"Dia bahkan secara terang-terangan bilang pada tante. bahwa dia sangat mengkhawatirkan kamu. karena dia tahu bagaimana sikap Ayu sama kamu."


"Dia juga pernah diam-diam mengikuti kamu saat kamu pulang sendirian. Iya, dia sendiri yang bilang pada tante" tegasnya meyakinkanku.


Aku terpaku sesaat. Pak Ivan pernah mengikuti ku diam-diam? apa jangan-jangan waktu malam itu ya? saat aku pulang dari kedai malam hari? batinku menerka-nerka.


"Sepertinya,baru kali ini tante mendengar sendiri dia menyebut nama seorang perempuan berkali-kali. dan itu nama kamu,"


Aku tersenyum simpul.


Kaget tentu saja. selama ini aku tak pernah berpikir sedikitpun ke arah sana. Bukankah Ada Vina yang selama ini dekat dengannya.


"Bagaimana dengan Vina tante? bukankah mereka cukup dekat?" selidik ku.


"Vina terlalu manja. Ivan tak mau di buat repot oleh gadis seperti itu. hanya saja selama ini, Ivan tak enak hati untuk menolak semua permintaannya."


Aku hanya mampu menatap tak yakin pada wanita paruh baya itu. sedikit cerita darinya, mampu membuatku berpikir berulang kali tentang apa yang telah terjadi belakangan ini.


Semua kesalahan pahaman antara Pak Ivan dan Mas Sandy juga Vina memang tak seharusnya terjadi.


Tapi tanpa masalah itu, mungkin sekarang aku tak akan bertemu dengan mereka.


"Dokter!" pekikku kaget saat dokter Hasan keluar dari dalam Ruangannya.


"Pah,.. Gimana kondisi Ivan?" Bu Nita bangkit dan mendekati suaminya.


Wajah Dokter Hasan terlihat bingung,dn tentu saja hal itu membuat kami berdua juga khawatir.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2