PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•68


__ADS_3

"Mas Sandy yakin bisa nyetir?" Ku tatap tak percaya dirinya. Sudah berkali-kali aku mencoba membujuknya untuk istirahat saja di rumah. Namun bukan Mas Sandy namanya jika dia mudah menurut.


"Saya udah baikan teh. lambung saya juga udah gak sakit. saya bosen tiduran terus!" jelasnya sembari fokus mengenakan safetybelt -nya.


"Terus kita mau kemana?"


"Kemana saja, asal tidak dirumah!" Mas Sandy melajukan mobilnya dengan segera meninggalkan rumah besarnya.


"Soal surat mas Sandy. maaf mas, saya sudah lancang membacanya" tukasku tiba-tiba. Tadinya aku tak ingin memberitahukan padanya jika aku sudah melihat isi suratnya itu. tapi tak nyaman rasanya Karna aku tak meminta izin terlebih dahulu padanya.


"Saya biasa menulis surat itu setiap tahun selepas kepergian mereka. dan saya selalu menyimpannya di atas makam mereka. saya tahu ini konyol, tapi saya selalu percaya jika mereka bisa membacanya." mas Sandy menatap jauh kedepan.


"Jadi? mas Sandy mau bawa surat ini kesana sekarang?"


"Teh Alis tak keberatan kan jika saya ajak menemui orangtua saya lebih awal?" godanya melirik sejenak padaku.


Meskipun aku tahu jika yang akan kami temui ini hanyalah makam dari orangtuanya. tapi entah kenapa aku begitu terharu Karna mas Sandy mau membawaku kesana. yang bahkan tidak semua orang di izinkan untuk mengunjungi tempat itu.


"Saya sama sekali tak keberatan mas. saya justru merasa terhormat. bisa berkunjung ke makam ayah dan ibu mas Sandy."


"Papa sama mama pasti akan menyukai teh Alis. mereka itu sangat baik!" Tukasnya setengah berbisik.


Aku mengulum senyum Karna tersipu. rasanya seperti aku akan berkunjung ke rumah orangtua pacarku saja.


Kami tiba didepan sebuah pemakaman Elit. Bahkan halaman parkirnya sangat luas. gerbang menuju pemakaman pun dijaga oleh dua orang security.


"Selamat pagi pak!" mas Sandy menyapa kedua security itu. sembari menggandeng tanganku menyusuri setiap kavling-kavling pemakaman yang didominasi marmer berwarna putih tulang dan abu-abu itu.


Aku menatap takjub sekelilingku. baru pertama kali masuk ke sebuah pemakaman yanvbahkan pemakaman ini terlihat lebih nyaman daripada rumahku sendiri.


Tengah asyik memperhatikan sekitar, langkah ku terhenti Karna kaget.


"Kita sudah sampai ya?" tanyaku pada mas Sandy yang tiba-tiba saja berhenti. Namun seketika aku terperanjat kaget saat melihat sosok Bu Ayu tengah berdiri tak jauh dari kami.


Pakaiannya serba hitam dengan kerudung yang menjuntai dibalik rambut indahnya. Mungkinkah bu Ayu juga baru selesai berziarah ke pemakaman.


"Kalian?" Bu Ayu menatap kaget ke arah kami. terlebih lagi padaku. apalagi saat dia melihat betapa eratnya mas Sandy menggenggam tanganku.

__ADS_1


Aku tertunduk dan mencoba melepaskan genggaman tangan mas Sandy itu. namun sia-sia saja. sepertinya mas Sandy memang sengaja tak mau melepaskan tangannya dariku.


"Apa yang tante lakukan?" Mas Sandy menatapnya tak suka.


"Sebenci apapun kamu pada saya. saya ini tetap tante kamu! dan Alex akan tetap menjadi kakak kandung saya!" jelasnya sembari melangkah maju melewati kami berdua.


Aku tak bisa berkata apapun untuk sekarang. Lagipula ini adalah masalah pribadi keluarga mereka. tapi rasanya sangat tak Nyaman karna aku selalu berada di antara dua orang yang tengah berseteru. Bu Ayu pasti sangat terkejut melihat kehadiranku bersama mas Sandy. Tapi beruntunglah dia tak menanyaiku macam-macam dan langsung pergi meninggalkan kami.


Mas Sandy kembali melangkah maju menyusur kavling-kavling pemakaman itu. dan pada akhirnya kami tiba didepan dua buah makam yang tampak bersih dan hijau. ada sebuah toples kaca yang didalamnya terdapat surat-surat yang mas Sandy tulis setiap tahun.


Apa Bu Ayu pernah membaca surat-surat itu sebelumnya? aku sendiri jadi penasaran dengan semua isi surat itu.


Mas Sandy berdiri cukup lama menatap dua gundukan tanah yang mengubur jasad kedua orangtuanya.


"Assalamualaikum Ma, pah.. Sandy datang lagi!" Tukasnya kemudian mengajakku duduk di sisi makam itu.


Mas Sandy membuka toples itu dan memasukan 'surat cinta' nya ke dalam toples tersebut.


"Apa tadi tante Ayu mengadu lagi pada kalian? Ayolah! kalian jangan terlalu percaya pada tante Ayu!" celotehnya.


"Ma, ini surat yang Sandy tulis semalam. maaf jika tulisannya jelek. semalam kepala Sandy pusing. tapi Sandy yakin kalian berdua bisa memahaminya." mas Sandy tersenyum tipis.


"Oh iya, seperti yang sudah Sandy janjikan sama mama dan papa. Sandy akan membawa wanita yang Sandy sukai ma. kalian lihatkan? dia sangat cantik!" jelasnya sembari menoleh padaku.


"Sandy harap kalian mau merestui hubungan kami. dia wanita yang baik ma! dia juga merawat Sandy dengan tulus!" tuturnya sepenuh hati.


"Mas Sandy jangan berlebihan!" bisikku merasa tak enak.


"Mama lihat kan? dia sangat pemalu." godanya.


Kami berdua seperti orang bodoh yang sedang mabuk. bicara pada hal yang kami sadari tak akan mendapatkan tanggapan apapun. tapi melihat mas Sandy bisa tersenyum saat melakukannya membuatku sedikit merasa lega. setidaknya dia memiliki tempat untuk bercerita meski pada benda mati sekalipun. Karna nyatanya bercerita pada manusia, hanya akan menimbulkan masalah baru yang bahkan tidak pernah kita duga.


Cukup lama kami 'mengobrol' dengan Kedua orang tua mas Sandy. akhirnya kami memutuskan untuk pulang.


Ku lihat wajah mas Sandy tak sepucat tadi. bahkan dia terlihat lebih ceria.


"Maafkan saya teh! saya memang seperti ini?" selorohnya menatapku ragu

__ADS_1


Aku tersenyum, ku usap lembut pipinya.


"Saya sangat senang mas Sandy mau berbagi dunia dengan saya. itu lebih dari cukup mas,"


Mas Sandy terlihat tersenyum lebar. lega rasanya melihat orang yang kita cintai bisa tersenyum tanpa beban seperti itu.


•••


PING!


Suara pesan masuk membuatku yang tengah asyik mendengarkan musik di radio segera merogoh Tas ku.


"Siapa?" Mas Sandy menoleh pelan.


"Teman saya mas." jawabku sembari fokus melihat pesan dari Rahma.


#Alis,apa kamu sibuk? bisakah kita ketemu ditempat biasa!!!"


Tanda seru dari pesannya membuatku berpikir buruk seketika. apa yang terjadi pada Rahma? tidak biasanya dia mengirim pesan dan meminta bertemu seperti ini.


"Kenapa? apa ada masalah?" tanya mas Sandy yang menyadari perubahan ekspresiku.


"Mas, bisa kah saya minta tolong?" aku menatap mas Sandy ragu


"Tentu! kenapa?"


"Mas Sandy bisa antarkan saya ke Taman anggrek?" pintaku.


"Katakan kenapa? ada apa?" desaknya cemas.


"Sepertinya teman saya lagi kena masalah mas. saya harus temui dia sekarang!" jelasku


"Oke. kita kesana sekarang!"


Mas Sandy memutar kemudinya dengan cepat menuju tempat yang ku minta.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2