PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•125


__ADS_3

Seperti apa sesungguhnya sebuah cobaan itu berjalan menghampiri kita?


sedikit demi sedikit kah?


Atau malah datang dengan begitu dahsyat, bahkan sebelum kita mempersiapkan diri?


Aku tahu ini akan sangat sulit untuk dijalani. tapi setidaknya aku harus sudah siap menghadapinya.


Aku, Rahma dan juga Sinta menikmati makan siang kami dengan sedikit obrolan ringan diantara mereka berdua. dan aku hanya menjadi pendengar saja kali ini. isi kepalaku masih memikirkan soal rapat di kantor. rasanya aku ingin segera menemui mas Sandy dan bertanya tentang apa yang terjadi.


Khawatir tentu saja, karena aku pikir semua ini terjadi karena ada hubungannya denganku.


"Lis,.. kok malah ngelamun! mau ikut Gak?" seloroh Rahma mengejutkanku.


"Ikut kemana?" aku menatapnya bingung.


"Tuhkan! emang ngelamun dari tadi," timpal Sinta.


"Maaf," lirihku penuh sesal.


"Sinta mau ngajak kita nonton minggu depan. kamu ikut Gak?" ajaknya


"Nonton? dimana? aku gak tahu, harus ijin dulu sama mas Sandy." jawabku ragu.


"Ya kamu ajaklah mas Sandy, siapa tahu mau juga." saran Sinta terdengar sangat bagus.


Aku tersenyum seraya menyeruput jus di hadapanku.


Drrrtttt...


Ponselku bergetar pelan.


"Siapa?" Tanya Rahma menatapku penasaran.


"Mas Sandy," sahutku seraya mengangkat panggilan itu.


"Iya mas, ada apa? saya di kedai didepan kantor." jelasku saat dia bertanya dimana keberadaanku.


"Baiklah. saya tunggu!" jawabku singkat sebelum mas Sandy akhirnya menutup panggilannya.


"Ada apa?" Tanya Sinta.


"Entahlah. tapi,tadi dia bilang Nita akan menjemputku kemari" jawabku ragu.


"Hah?!" pekik Sinta terlihat kaget.


"Rapatnya baru juga di mulai, kenapa dia mau jemput kamu? apa rapatnya di batalkan?" terka Sinta.


Aku dan Rahma saling melirik bingung.


Tak berapa lama, terlihat Nita keluar dari dalam gedung ditemani seorang Satpam. keduanya berjalan menghampiri kami ke depan kedai.


"Bu Alis,bisa ikut saya!" ajaknya.


"Ada apa bu? apa terjadi sesuatu?" Sinta menatapnya penuh tanya.


"Enggak ada apa-apa." jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Melihat sikap Nita yang seperti ini justru membuatku semakin bingung.


"Ayo bu. kita bisa lebih cepat!" Nita melihat siaga ke semua arah.


"Gawat! ada mobil wartawan" desis Rahma tiba-tiba saat melihat ke sisi jalan. kami pun menoleh ke arah yang sama. dan benar saja, dua buah mobil dari stasiun TV berbeda tampak baru datang dan bersiap untuk meliput.


"Ayo bu!" Nita menarikku cepat. Kami semua akhirnya bergegas.


"Kalian lindungi bu Alis ya,bersikap biasa saja. tenang!" bisik Nita.


Aku mengikuti kemana nita berjalan, meski ku rasa hal ini sangat berlebihan. pikirku.


"Itu dia, ada sekretaris pak Sandy" teriak salah seorang reporter menunjuk ke arah kami. dan dengan sigap kami berlari masuk ke dalam kantor. sementara si satpam sibuk menghadang empat orang awak media itu.


Kami segera masuk menuju Lift.


"Hah! gila. udah kaya artis di kejar fans aja!" Rahma mendengus lelah.


"Sebenarnya ada apa? kenapa bisa ada wartawan. dan kenapa saya harus lari?" aku menatap Nita tajam.


Nita terdiam cukup lama, seperti tengah memilih jawaban yang tepat.


Nita membuka IPad -nya dan menunjukkan sesuatu pada kami.


"Istri seorang Sandy Hadiwijaya, dulunya pernah menjadi seorang buruh pabrik bahkan pelayan kedai"


"Indeks saham menurun, buntut dari pemilik Perusahaan ASTRA H. W. MENIKAH!


"Rapat Tertutup para pemegang saham! PT. ASTRA H. W. di Ujung tanduk!


"Misteri kematian seorang pengendara motor yang diduga mantan suami dari istri pemilik PT. ASTRA H.W.!"


"Jika saya tidak mengamankan ibu, para wartawan akan menyerang ibu." jelasnya.


"Aneh banget deh, darimana mereka dapet foto lama kamu Lis?" gumam Rahma.


"Namanya media, mereka bisa melakukan apa saja untuk mendapatkannya" sahut Nita.


"Sekarang ibu, tunggu diruangan bapak saja. sampai pak Sandy selesai rapat. saya akan suruh OB antar makanan keruangan ibu." pintanya.


"Kalian juga jangan keluar untuk sementara. semua orang yang berhubungan dengan bu Alis pasti akan dicari. termasuk kalian,teman dekatnya." jelas Nita mewanti-wanti.


Aku terlalu percaya diri jika aku siap menghadapi semuanya. nyatanya aku begitu terkejut dengan hal yang baru saja aku alami. sama sekali tak menyangka akan serumit ini.


•••


Aku mondar mandir tak karuan. ku lihat makan siang yang di antarkan oleh OB tadi yang bahkan belum ku sentuh.


Aku melirik keluar jendela. terlihat mobil dari para awak media semakin banyak. mereka terlihat menunggu dengan sabar. sementara aku sendiri begitu gelisah menunggu rapatnya selesai.


KRIIIING!


KRIIIING!


Suara telepon dari atas meja kerja mas Sandy mengagetkanku.


Siapa yang menelepon? apakah itu dari media juga? atau dari rekan bisnis mas Sandy? pikirku.

__ADS_1


KRIIIING!


KRIIING!


Terdengar lagi bunyi telepon dari ruangan Nita dan juga ruangan staf lainnya.


"Permisi bu," Nita masuk dan berlari kecil untuk mengangkat teleponnya.


"Halo,dengan PT. ASTRA H.W. ada yang bisa saya bantu. Saya Nita bu. iya, baiklah. Rapat masih belum selesai bu. baik! saya akan kabari segera!" tukasnya menutup kembali teleponnya.


"Maaf, saya gak angkat tadi" tukasku bingung.


"Sebaiknya, bu Alis jangan mengangkat teleponnya ya bu." pinta Nita.


"Siapa barusan? apa bu Ayu?" tanyaku.


"Iya betul. Bu Ayu menanyakan soal rapat. ibu tenang saja, tak usah panik!" Nita tersenyum manis. dia memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini, tapi bagaimana denganku? yang bahkan sangat takut saat mendengar bunyi telepon seperti barusan saja.


Nita pamit dan meninggalkanku sendirian di ruangan mas Sandy. Aku duduk di Sofa. berusaha tak melihat lagi para wartawan di bawah.


"Andi,..." gumamku saat mengingat putraku yang nyaris ku lupakan Karna rasa gugupku.


"Apa Andi akan baik-baik saja? bagaimana jika ada wartawan yang kesana juga? bagaimana jika mereka mengganggu Andi?" gumamku gelisah.


Aku mencari tas ku dan segera ku ambil. ponselku yang tersimpan disana.


Ku telepon wali kelasnya. menanyakan dengan hati-hati kondisi Andi sekarang.


"Andi masih di kelas. iya bu. pukul tiga sore baru selesai kelas!" jawabnya.


Tentu saja, Andi biasa keluar dari kelas pukul 3 sore. kenapa aku masih bertanya hal itu. harusnya ysng aku tanyakan perihal adakah orang asing yang terlihat mencurigakan diluar sekolah.


Aku meremas tanganku gugup. berharap Andi akan baik-baik saja. ku lirik jam yang masih menunjukkan pukul 1 siang. rapatnya pasti akan berlangsung cukup lama. batinku.


Haruskah aku melihat ke ruangan rapat? Aku menatap beberapa karyawan yang tengah bekerja diluar. sialnya Nita dan Rahma tak terlihat di mejanya. kemana sebenarnya mereka pergi?


Aku orang yang terlalu panik. aku tak bisa ada disituasi seperti ini. ku tatap meja kerja mas Sandy sesaat.


BODOH!


Bukankah aku bisa tahu semuanya dari sosial media? kenapa aku tak coba mengeceknya saja? Aku menelan ludah getir. apa nanti aku tak akan terkejut dengan apa yang ku lihat?


Bahkan judul-judul berita yang mereka buat terlihat sangat mengerikan.


Ku langkahkan kaki mendekati meja kerja mas Sandy, berniat ingin mengintip berita di internet lewat layar komputernya.


Ku usap ragu kursi mas Sandy. lalu duduk di atasnya. lama sekali sebelum akhirnya aku memberanikan diri untuk menyalakan komputer itu.


DEG!


Wajahku ada dimana-mana. Begitupun dengan mas Sandy. foto kami bahkan menjadi Headline berita di beberapa surat kabar ternama.


"Siapakah sebenarnya istri dari CEO PT. ASTRA H.W.???"


Aku mendorong tubuhku menjauh dari benda itu. secepat itu semuanya tersebar? mereka mencari tahu tentang diriku?


Dan pada akhirnya aku sadar, kenapa bu Ayu sangat tak menyetujui hubungan kami. dan mungkin ini adalah salah satu alasannya.

__ADS_1


Haruskah aku menyesal sekarang?


• • • • • •


__ADS_2