
"Maaf dok,soal itu saya gak bisa!" tukasku menolak mentah-mentah permintaan mas Sandy.
"Alasannya?!" tanya mas Sandy kemudian.
Aku menatap dokter Hasan ragu,
dia tentu tahu kenapa aku tak bisa menyetujui persyaratan itu.
"Saya tidak bisa meninggalkan Andi!" sela ku beralasan.
"Cuma itu?!" tanya mas Sandy lagi.
Kali ini aku menatap sinis dirinya. enteng sekali mas Sandy mengatakan hal itu, seolah Andi hanyalah boneka yang bisa kutinggal kapan saja tanpa rasa bersalah.
"Eem,soal itu. kamu tenang saja Lis! Sandy bahkan sudah memikirkan semuanya matang-matang. dia tak akan gegabah meminta kamu untuk tinggal tanpa memikirkan hal lainnya."
Aku masih menatap ragu keduanya.
"Ada banyak kamar tamu,pilih saja mau yang mana. kamu bisa ajak Andi tinggal disana! jika Andi kesulitan berangkat sekolah,supir akan mengantarkan setiap hari." tukas dokter Hasan menjelaskan dengan terperinci.
Sebetulnya aku sedikit menaruh curiga, sejak kapan dokter Hasan memahami betul niat mas Sandy. apa mereka sudah merencanakan ini sejak lama?
"Bagaimana?!" timpal dokter Hasan lagi.
"Untuk hal itu saya belum bisa putuskan dok! saya harus bicara dulu pada anak saya. lagipula rasanya semua yang dokter Hasan sebutkan tadi, terlalu berlebihan buat saya yang hanya pekerja biasa." Sahutku Ragu.
Dokter Hasan menoleh pada mas Sandy yang sejak tadi memutar-mutar Ballpoint- nya.
"Maaf Lis,kamu jangan salah sangka kepada Saya ataupun Sandy. kami melakukan semua ini murni karna melihat pekerjaan kamu yang sangat bagus. kamu tahu sendiri bagaimana Sandy sangat sulit mempercayai orang baru? dan lagi,kamu juga hanya tinggal berdua saja dengan putramu. bukankah itu hal yang sangat mudah untuk diputuskan?" dokter Hasan menatapku seakan mempertanyakan mengapa aku masih menolak kesempatan baik ini.
"Iya dok,terima kasih banyak atas perhatian dokter dan mas Sandy. tapi sekali lagi,saya belum bisa menerima penawaran ini. saya minta maaf!" Sahutku ragu.
Mas Sandy menatap lama pada Dokter Hasan.
"Ya sudah kalo memang begitu. saya tinggal sebentar! kalian silahkan bicara!" pamitnya meninggalkan kami berdua.
__ADS_1
Aku menatap kepergian dokter Hasan, lalu beralih melemparkan pandangan pada mas Sandy yang nampaknya sudah menatapku begitu lama.
"Sepertinya percuma juga saya memohon! Saya lebih suka jika teh Alis menerima tawaran saya dengan suka rela." lanjutnya.
Aku tersenyum tipis,
"Maaf mas, saya benar-benar tidak bermaksud menolak niat baik mas Sandy. hanya saja,-"
"Teh Alis Menghindari saya?!" Selorohnya menatapku penuh tanya.
"Bukan begitu Mas,-"
"Atau memang teh Alis punya alasan lain?!" Desaknya lagi.
"Rumah itu peninggalan Alm. suami saya. dan lagi,jika saya tinggalkan pasti akan rusak!" jelasku.
"Kalau seandainya teh Alis menikah lagi, apa teh Alis akan tetap tinggal disana?"
Aku menatapnya Aneh.
Tatapan mas Sandy bahkan seperti tengah menghakimiku akan sesuatu.
"Minum dulu mas!" Aku memberikan gelas di tanganku.
Mas Sandy mengambil gelasnya dengan malas.
"Mas Sandy jangan bikin Bi Marni kerepotan! kasian si bibi udah tua!" sindirku.
"Kalo teh Alis tahu,kenapa masih menolak penawaran saya? itu artinya teh Alis gak kasihan sama Bi Marni!" mas Sandy menyimpan gelasnya segera.
"Lagian Kenapa sih mas Sandy gak nyari ART lain aja buat bantuin bi Marni?"
"Saya gak urusin soal itu,semuanya tante yang atur! termasuk soal perawat saya." jelasnya
"Itu sebabnya kenapa mas Sandy usir semua perawatnya? karna semuanya di bawa bu Ayu?" tanyaku serius.
__ADS_1
"Saya gak percaya sama orang baru, kecuali kamu teh. karna saya udah lama kenal,- Maksunya saya tahu banyak soal kamu dari Bi Marni."
"Masa sih mas? perasaan saya baru sebulan kenal Bi Marni? itupun ketemu disini." Aku menatapnya curiga.
Mas Sandy nampak gugup dan mencoba menghindari Tatapanku.
"Teh Alis gak usah bahas yang lain-lain, saya capek! saya mau istirahat!" sergahnya mengakhiri obrolan kami yang masih terasa janggal.
"Ya sudah, biar saya papah ke kamar mas!" Aku membantunya bangkit perlahan. lalu ku ambilkan kruk dan ku ikuti hingga mas Sandy sampai didepan kamarnya.
•••
Setibanya di kamar kubiarkan mas Sandy duduk dengan nyaman di sofa nya. Ku ambilkan beberapa buku yang biasa dia baca,dan ku simpan di atas mejanya. Menurut kontrak,aku memang belum resmi menjadi perawatnya. tapi instingku tak bisa hilang begitu saja hanya karna kontrak kerja kami berakhir.
"Saya tinggal dulu mas,"
"Teh," panggilnya menahan tanganku.
Aku menoleh pelan,kutatap tangannya yang menahanku.
"Kenapa lagi Mas?"
"Kalau teh Alis butuh sesuatu, tolong jangan sungkan!" tukasnya yakin.
"Terima kasih banyak Mas," Aku menarik pelan tanganku, dan anehnya mas Sandy seakan tak ingin melepaskannya.
Ku hindari sebisa mungkin perasaan apapun yang datang menggangguku.
ku tikam dalam-dalam hingga perasaan itu karam.
Bukan egois,hanya saja aku takut.
takut jika aku tak mampu menyimpan rasa itu dengan baik.
Karna hatiku sangatlah rapuh,mudah luluh dan bahkan bisa membuatku menggila karenanya.
__ADS_1
Sebab hidupku bukan hanya untuk diriku, tapi milik malaikat kecilku.
• • • • • •