PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•195


__ADS_3

"Selamat datang!" sambut Hana antusias. wanita itu berdiri didepan pintu apartemenku dengan membawa buket bunga lily putih yang cantik.


Aku tersenyum haru.


"Hana? kamu disini?" tukasku.


"Tentu saja, aku diperintahkan untuk menyambut permaisuri dan calon putra mahkota" godanya seraya memberikan bunga itu padaku.


"Terima kasih."


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya mas Sandy padanya.


"Tentu saja sudah. semua barang-barangnya juga sudah di rapikan" jelasnya.


"Baguslah. terima kasih atas kerjasamanya!"


"Tenang saja pak. selama ini anda adalah pemilik apartemen terbaik yang saya kenal. jadi sudah sewajarnya saya memberi pelayanan yang terbaik juga." Hana membungkuk penuh penghormatan.


"Kalau begitu, saya masuk dulu" mas Sandy membuka pintu dan membiarkan Andi dan bi Atun masuk terlebih dahulu.


"Silahkan! saya harus ke lantai atas! ada pekerjaan lain. selamat beristirahat" pamitnya.


Mas Sandy mendorong kursi rodaku hingga masuk ke dalam rumah. ku lihat Andi masih mematung.


"Wah, rumahnya bagus ya" gumam bi Atun takjub.


Aku memekakan mataku terkejut. ternyata rumah ini sudah banyak berubah. bahkan warna cat nya juga sudah di ganti. serta semua benda yang ada di dalamnya berkurang. jadi semakin luas dan sangat hangat.


"Saya meminta Hana mengganti konsep rumah kita. agar nyaman di tinggali oleh lebih dari tiga orang. dan ternyata, Hana memang sangat handal." jelasnya.


"Rumahnya jadi terlihat luas mas," gumamku.


Sejujurnya apartemen ini juga sangat besar. dengan 4 buah kamar tidur. hanya saja, dua kamar lainnya dulu tak di fungsikan sebagaimana mestinya. dan hanya di pakai untuk menyimpan barang saja. juga ruangan tamu yang tampak penuh dengan benda-benda dan rak buku yang besar, kini di ganti dengan karpet bulu yang penuh dengan bantal.


"Saya pikir jika tidak terlalu banyak benda besar. itu akan memperkecil resiko kecelakaan di rumah ini. jadi saya memilih karpet saja. kamu bisa duduk dimanapun yang kamu mau" imbuhnya.


Aku mendongak menatapnya lekat.


"Terima kasih banyak mas," bisikku.


"Sama-sama sayang."


"Pah, kamar Andi dimana? Andi punya kamar sendiri juga kan?" tanya Andi yang tampaknya baru sadar dengan apa yang belum ia temukan.


"Tentu saja ada sayang. disana kamar Andi!" mas Sandy menunjuk ke arah timur. tepat dimana dua buah kamar berjejer menghadap ke arah ruang makan.


"Bi, ayo anter!" Andi menarik bi Atun tak sabar.

__ADS_1


"Kamu mau lihat kamar kita? atau kamar bayinya dulu?" ajaknya.


"Kamar bayi?" aku mengernyit heran. bahkan mas Sandy sudah menyiapkan hal sejauh itu. padahal kehamilanku baru berusia 10 minggu.


"Saya mau lihat kamar bayinya dulu mas," pintaku penasaran.


"Baiklah." mas Sandy mencoba memutar arah kursi rodaku.


"Sebentar, biar saya turun aja. saya udah gak sakit lagi kok." ku dorong pelan kursi roda itu.


"Apa perlu saya gendong?" goda mas Sandy


"Gak usah mas..." desisku.


"Oke. kalau begitu Silahkan kemari!" mas Sandy memegang erat tanganku.


Kamar bayi yang berada tak jauh dari kamar utama namun ukurannya sedikit lebih kecil. tapi cukup luas untuk menampung tempat tidur bayi dan segala perabotannya.


KLEK,


Mas Sandy membuka pintu perlahan. wangi aroma lavender semerbak menerpa wajahku. Aku lemparkan pandanganku segera pada ruangan yang di dominasi warna putih dan abu-abu itu.



"Gimana,bagus gak? Desainnya saya sendiri yang pilih. Sejujurnya saya sudah lama memikirkan konsep kamar yang seperti ini, hanya saja saya tak sempat bicara sama kamu. karena saya pikir kita tak akan punya bayi secepat ini." terangnya.


Aku memeluk erat mas Sandy.


"Saya terharu mas, mas Sandy baik banget sampe menyiapkan semua ini untuk bayi kita." gumamku sendu.


Mas Sandy membalas pelukanku.


"Tentu saja sayang. kamu dan bayi kita adalah anugerah terindah untuk saya. jadi, saya akan melakukan yang terbaik untuk kalian berdua. Mmm...,bertiga." ralatnya kemudian.


Rasa Bahagia itu bertambah semakin besar. saat mas Sandy menunjukan rasa cintanya padaku dan juga kedua putraku. dan hal itu benar-benar tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.


"Waah... kamar dede bayi, sama kaya kamar Andi yah pah?" seloroh Andi tiba-tiba.


Aku melepaskan pelukanku segera.


"Benarkah?" tanyaku.


"Kalau saya membedakan kamar mereka, nanti mereka akan memprotes saya. saya tak akan sanggup melawan dua jagoan kamu!" goda mas Sandy.


"Iya ma, sama. kalo punya andi kasur nya lebih besaaarrr!" celotehnya.


"Bilang apa sama papa?" tanyaku seraya mengusap lembut kepalanya.

__ADS_1


"Makasih papa. Andi sayang papa!" tukasnya tulus.


Mas Sandy berjongkok dan membuka lebar kedua tangannya.


"Sini peluk!" pinta mas Sandy.


Andi menyeruak manja ke dalam dekapannya. bahkan terlihat ia mencium pipi mas Sandy berkali-kali. gambaran yang selama ini tak pernah ku lihat di masa laluku.


•••


3 minggu berlalu setelah aku tinggal di apartemen. aku mulai membiasakan jalan pagi disekitar halaman parkir ditemani Hana. bahkan kami sudah saling mengenal dengan para penghuni apartemen lainnya. kehidupan baru yang sungguh tak ku sangka akan sangat menyenangkan seperti ini.


Beberapa hari lalu, ku dengar dari Nita jika mas Sandy juga sudah menemukan rekan bisnis dari kalangan Media untuk menggantikan kontrak kerja sama dengan pak Broto. beruntunglah bukan wanita yang bernama Monica itu yang menggantikannya.


Sepertinya mas Sandy tak mau aku kembali salah paham dengan menerima seorang rekan bisnis wanita lagi.


Selain itu,aku juga lebih sering bertemu dengan Vina akhir-akhir ini,meski hanya berpapasan saat dia kebetulan lewat di sekitar apartemenku. dia bahkan sempat mengajakku makan siang. kami mengobrol banyak hal. sepertinya dia sudah mulai menata hatinya dan tak lagi membahas masa lalunya bersama mas Sandy. dia bahkan mengajakku berbelanja keperluan bayi. katanya sebagai kado jika bayiku lahir kelak.


Hubungan kami sudah seperti sahabat baik sekarang. tak ada perasaan cemburu atau kesal. Vina membuatku sadar, bahwa kita tak berhak menilai sikap seseorang buruk atau baiknya sebelum kita tahu alasan apa yang ada dibalik semua itu.


Rahma, Nita dan juga Sinta sering berkunjung ke apartemen setelah mereka pulang dari kantor. membuat suasana apartemenku selalu ramai di sore hari.


Usia kehamilanku juga sudah memasuki bulan ke 4. aku sudah mulai sering mengikuti kelas kelas ibu hamil. seminar tentang kehamilan dan parenting. semua hal yang mas Sandy sarankan demi kebaikan buah hati kami Ku jalani dengan telaten. dia bahkan sering ikut menemaniku menghabiskan akhir pekan di tempat Yoga.


Kurasa dunia dan seisinya mulai terlihat iri pada kebahagiaan keluarga kecil kami.


Hingga pada suatu pagi di bulan ke 5 kehamilanku. Ada telepon rumah yang terus berdering. aku yang sedang melakukan meditasi di balkon segera bangkit dan menuju ruang tengah.


Ku lihat bi Atun masih sibuk memasak di dapur. pasti dia tak begitu mendengar suara panggilan teleponnya.


"Halo, dengan kediaman Sandy Hadiwijaya." sapaku.


"Non alis, ini susi non. ibu Ayu non...!" tukasnya gelagapan.


"Iya,Susi. ibu Ayu kenapa? kamu tenang dulu, bicara Pelan-pelan?!" perintahku bingung.


"Ibu Ayu jatuh non. dia pingsan. sekarang lagi di bawa ke rumah sakit sama pak Muh." jelasnya dengan di akhiri rintihan cemas.


Aku terpaku sesaat.


Bu Ayu jatuh dan pingsan? bagaimana kalau tiba-tiba terjadi sesuatu padanya? Ada rasa penyesalan yang tiba-tiba muncul dihatiku. karena beberapa bulan ini aku tak pernah berkunjung ke rumah atau menanyai bagaimana kabarnya.


"Bi Susi tenang dulu. saya mau telepon mas Sandy ya!" aku mengatur nafasku Pelan-pelan.


Ku tekan beberapa digit angka untuk menghubungi suamiku.


Bagaimanapun dia harus tahu apa yang terjadi pada tantenya. Namun beberapa kali aku mencoba, nyatanya mas Sandy tak kunjung mengangkat panggilan teleponnya.

__ADS_1


"Kamu dimana mas,...!" desahku mulai didera rasa cemas.


• • • • • • •


__ADS_2