
Perlahan tapi pasti aku mulai sadar sedikit demi sedikit. Bi Marni yang selalu menemaniku bilang. aku sudah seminggu di rumah sakit. Sesekali ku lihat tante Ayu berkunjung untuk memastikan kondisi kesehatanku.
Aku belum mampu bicara dengan jelas karena wajahku mungkin masih bengkak dan penuh luka. aku hanya bergantung pada selang-selang yang mereka pasang pada tubuhku.
"Besok selang nya sudah bisa di buka!" tukas dokter Hasan menjawab pertanyaan bi Marni yang tampak khawatir dengan kondisiku.
"Alhmdulilah ya allah." jawabnya sedikit lega.
"Pu-laang bi.." bisikku padanya.
Bi Marni menoleh,
"Iya mas, nanti kalo sudah sembuh! kita pulang yah!" lirihnya. wajah cemas nya tak bisa disembunyikan. beruntunglah aku punya bi Marni. wanita yang sepenuh hati mau merawatku dengan tulus. meninggalkan kehidupan pribadinya hanya untuk mengabdi pada keluargaku.
"Bagaimana rasanya san? apa masih ada yang terasa sakit?" tanya dokter Hasan mendekat.
"Suntik Mati saja dok," gumamku pelan.
Dokter Hasan menyeringai mendengar jawaban putus asa ku.
"Kamu jangan ngawur! seharusnya kamu bersyukur. Tuhan masih menyelamatkan kamu dari kecelakaan mengerikan itu. jika orang biasa, pasti sudah tewas di tempat san." jelasnya.
"Lihatlah betapa Bi Marni sangat mengkhawatirkan kondisimu. seharusnya kamu semangat untuk sembuh!" timpalnya lagi.
Aku terpaku.
Ucapan dokter Hasan sedikit membuat nyeri di ulu hatiku. Ya, kenapa juga Tuhan masih membiarkanku hidup? pertanyaan yang hingga sekarang masih tak ku dapatkan jawabannya.
Persahabatanku telah hancur, kisah cintaku juga mungkin sudah berakhir. apalagi yang bisa ku pertahankan? Bahkan aku tak pernah melihat dua sosok itu datang kemari?
Mengingat hal itu malah semakin membuat tubuhku terasa seperti terbakar hebat.
"Siang ini akan ada dokter syaraf yang akan memeriksa kondisimu! saya harus pergi sebentar!" Jelas dokter Hasan meninggalkan kami berdua.
Ku lirik Bi Marni yang terlihat sedang merapikan handuk kecil yang tadi di gunakan untuk mengelak tubuhku.
wanita tua itu lalu duduk di sebelahku
Terdengar helaan nafas panjang dari mulutnya.
"Sebetulnya, mas Sandy kenapa bisa begini sih?" tanyanya.
"Jangan bikin bibi cemas. bibi udah tua! kalo bibi kena serangan jantung Gimana?" keluhnya lagi.
__ADS_1
"Ma-af!" tuturku
"Mas Sandy gak perlu minta maaf. yang penting mas Sandy janji harus sembuh. bibi gak tega liat mas Sandy terbaring begini. bibi mau lihat mas Sandy yang kuat! yang selalu sibuk setiap pagi saat berangkat ke kantor." cerocosnya.
Mendengar munajat wanita tua itu, sungguh membuatku ingin menangis. ini kah alasan Tuhan kenapa tetap membiarkanku hidup? ternyata masih ada orang yang dengan tulus mengharapkan kesembuhanku?
Aku memejamkan mataku pelan. membuat bulir airmata itu jatuh membasahi pipiku.
Terima kasih bi, untuk semua cinta yang bi Marni berikan padaku. gumamku dalam hati.
•••
Pagi ini para dokter sudah berkumpul diruanganku. ku lihat Bu Marni dan tante Ayu berdiri di barisan belakang. mereka menyaksikan bagaimana setiap selang yang membelit tubuhku dilepaskan. ada rasa sakit tapi juga lega, akhirnya aku tak perlu bergantung pada benda kecil itu lagi untuk sekedar buang air.
"Syukurlah kondisinya stabil." tukas seorang dokter wanita yang baru selesai memeriksaku.
"Jangan bergerak secara spontan ya! hati-hati saja. usahakan gerakan jari-jari tangannya biar tidak kaku." perintahnya.
Selepas semua dokter pergi, tinggalah tante Ayu yang duduk di kursi tak jauh dari ranjangku. sementara Bi Marni sibuk di belakang entah sedang apa.
"Apa kamu merasa baikan?" tanya tante Ayu. Aku memalingkan wajahku kaku.
"Jangan seperti itu, saya juga sangat khawatir dengan kondisi kamu san." tuturnya.
"PE--RGIII!" usirku padanya.
Tante ayu terdengar menghela nafas dalam. lalu bangkit dan pamit pada bi Marni dan memintanya untuk menjagaku dengan baik.
Bi Marni tak mampu berbuat banyak. dia hanya melihat sendu ke arahku.
Pagi, siang, malam, ku lewati dengan sunyi dan sepi. tak ada yang bisa ku lakukan selain melihat acara TV yang tak ku pahami sama sekali. Aku ingin keluar, aku ingin tidur di ranjang empukku. aku juga ingin pergi ke kantor bertemu dengan rekan-rekan bisnisku.
Namun aku hanya mampu menghela nafas kesal,membayangkan semua keinginanku itu.
"Mas Sandy butuh sesuatu?" bi Marni terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan solat subuh.
"Saya ma-u.. pulang" tukasku terbata-bata.
"Iya, nanti kalau sudah sembuh. kita pulang mas." jelasnya
"Haa-rii..ini!" Pintaku dengan nada sedikit meninggi.
"Iya- iya, nanti kita pulang!" sahutnya.
__ADS_1
Aku tahu bi Marni hanya mencoba menenangkanku saja. tanpa berusaha mewujudkan keinginan ku untuk segera kembali ke rumah.
"Sa-ya, mau sekarang bi...!" Perintahku lagi.
"Tapi kan mas,"
"Biiii.., " Paksaku.
"Ya sudah. kalau dokter sudah kemari. nanti saya bicara ya. mas Sandy sabar!" bujuknya lagi.
•••
Menunggu bukanlah hal yang sangat aku sukai. setelah bicara pada dokter pun. aku masih belum bisa pulang. mereka beralasan masih banyak prosedur yang belum beres. aku tahu itu hanya akal-akalan mereka saja untuk menahanku lebih lama di tempat ini.
Setelah aku meminta dokter Hasan kemari. akhirnya aku memaksa padanya untuk dipulangkan saja. dan dengan berat hati, akhirnya dokter Hasan lah yang mampu mengabulkan permintaan ku. dengan beberapa persyaratan tentunya.
Sore ini setelah semuanya selesai aku di bawa pulang, senang rasanya aku bisa kembali ke rumah. meski aku tahu, di rumah pun aku hanya akan bisa tertidur saja. sama halnya di rumah sakit. tapi setidaknya aku akan merasa lebih nyaman jika berada di kamarku sendiri.
"Selamat datang!" pak Muh dan Bi Marni bersorak antusias saat aku bisa kembali ke kamarku. seorang suster yang di tunjuk dokter Hasan tampak merapikan peralatan medis yang dibawanya dari rumah sakit. untuk mengantisipasi jika kondisiku memburuk.
Aku berbaring diranjangku,rasanya sangat rindu dengan aroma kamarku ini. ku pejamkan sejenak mataku untuk sekedar mengistirahatkan tubuhku.
"Biarkan dia tidur," suara dokter Hasan terdengar sayup-sayup keluar dari ruanganku. seketika kamarku menjadi hening.
•••
"Mas Sandy sudah bangun?!" suara lembut seorang perempuan yang terdengar asing bagiku membuatku terkesiap.
"Saya sakit," jawabku singkat namun dengan tatapan tak lepas darinya.
"Saya Alis mas, mas Sandy pasti kaget Yah! kenapa saya disini" ujarnya sembari tersenyum lalu mencoba mengompres dahiku.
"Iya, kamu kenapa disini?" aku kaget tentu saja. semasa aku sehat saja aku tak berani bertatap muka dengannya. lalu bagaimana bisa sekarang dia disini? dan lagi, dia merawatku?
"Saya yang akan merawat mas Sandy sekarang!" perempuan itu tersenyum manis. senyumnya bahkan mampu membuat jantungku berdegup kencang.
"Kamu? merawat saya?!" aku memekik pelan.
"Tentu saja," jawabnya manis.
Oh Tuhan! Jika ini mimpi tolong jangan bangunkanku ditengah mimpi indah ini.
• • • • •
__ADS_1