
Setibanya di depan halaman rumah Bu Ayu, aku bergegas turun. ku tatap sekeliling halaman yang memang sepi. mobil yang biasa dipakai pak wahyu pun tak ada. hanya mobil mas Sandy yang terparkir digarasi.
"Non,kalau mau ke dalam kata mas Sandy masuk aja! pintu belakang Gak di kunci kok! " seloroh satpam rumah saat keluar dari pos jaga.
"Oh iya pak. terima kasih. Ibu Ayu nya ada?" tanyaku ragu.
"Bu ayu semalam Gak pulang. terus Mbak Marni juga lagi ke pasar!" jelasnya.
"Oh, kalau begitu saya masuk ya pak!" izinku bergegas menuju pintu belakang.
Masuk ke dalam rumah besar tanpa dipersilahkan terlebih dahulu oleh si pemiliknya,sungguh membuatku merasa seperti pencuri saja.
Aku berjalan pelan melewati dapur kotor lalu berlari kecil menuju kamar mas Sandy. mungkin Karna sudah terbiasa bekerja di rumah ini sebelumnya, sehingga aku sudah tak merasa sungkan meskipun ada sedikit kecemasan.
"Permisi mas!" aku mengetuk pintu pelan. tak terdengar suara apapun dari dalam kamar.
"Mas Sandy baik-baik aja kan?" tanyaku lagi. Ku beranikan membuka pintu kamar,mataku jelaga melihat seisi ruangan itu. ruangan yang jelas menyimpan banyak kenangan bersamanya.
"Teh," Tukasnya terdengar lemah dari dalam kamar mandi. Mendengar suaranya yang lirih aku segera mendekati kamar mandi.
"Mas! mas Sandy di dalam? mas Sandy Gak apa-apa kan?" selorohku panik.
Mas Sandy membuka pintu pelan. ku lihat wajahnya pucat dan kusut.
"Mas Sandy kenapa? sakit?" aku menautkan kedua alisku bingung.
Pemuda itu menatapku tak berdaya. kedua bola matanya membelalak dan tiba-tiba tubuhnya ambruk lalu terhuyung ke arahku.
"Mass...!" teriakku kaget.
Ku guncang tubuhnya pelan. aku kaget saat tahu jika suhu badannya tinggi.
"Ya allah. mas Sandy demam!" gumamku semakin panik.
Tanpa banyak bicara, aku berlari keluar dan memanggil satpam rumah untuk membantuku memindahkan mas Sandy ke atas tempat tidur.
"Pak Sandy kenapa?"
"Dia kayanya demam pak. tolong telepon dokter Hasan. minta dia segera kesini!" pintaku.
"Baik non!" jawabnya seraya berjalan keluar kamar.
__ADS_1
Aku tatap dalam wajahnya. tak tega rasanya jika harus melihat mas Sandy seperti ini. Ku ambilkan alat kompres dan mulai mengompresi sembari menunggu dokter Hasan tiba.
Aku memegang erat tangan mas Sandy, benar-benar perasaan yang sangat sulit dijelaskan.
Kekhawatiranku, ketakutanku semuanya bercampur menjadi satu. pikiran-pikiran buruk bahkan telah lebih dulu meracuniku. Apakah mas Sandy akan baik-baik saja? bagaimana jika dia,....
Aku menghembuskan nafasku sesak.
"ENGGAK! ini hanya demam biasa, tak mungkin berujung seperti itu." gumamku seakan mengusir pikiran burukku itu.
PING!
PING!
Aku terhenyak saat mendengar bunyi pesan dari ponselku.
Segera ku buka pesan itu, dan ternyata itu adalah pesan dari Aisyah yang tengah mencariku. Karna panik aku bahkan lupa memberitahunya soal ini.
Sedetik kemudian Aisyah pun menelepon. Aku bangkit dan menjauh dari ranjang seraya mengangkat panggilan masuk itu.
"Kak Alis dimana? ini udah siang?!" selorohnya bahkan tanpa mengucapkan salam.
"Maaf Ais. hari ini sepertinya saya tidak bisa masuk. saya ada kepentingan mendesak! maaf ya!" tukasku berbohong. Aku tak ingin dia tahu dimana aku berada sekarang. Karna aku yakin pak Ivan akan bertanya soal ini padanya nanti.
"Saya ada rapat disekolah. maaf ya!" jelasku setengah berbisik.
Setelah pamit Aisyah mematikan teleponnya. aku menatap layar ponselku cukup lama. lalu beralih menatap mas Sandy. ku dekati ranjangnya sembari mengganti kompresannya.
"Mas, apa mas Sandy bisa dengar saya? mas Sandy kenapa? kenapa tiba-tiba bisa demam sih? saya kan jadi khawatir!" aku bergumam sendiri padanya.
Aku pernah melihat mas Sandy terbaring lebih parah dari hari ini. tapi dulu aku tak merasakan apapun Karna kami asing. Tapi sekarang, aku benar-benar dibuat cemas dengan diamnya mas Sandy yang seperti ini. Aku menyeka air mataku pelan. ku genggam erat lagi sebelah tangannya. berharap mas Sandy bisa merasakan kehadiranku.
Suara ketukan di pintu membuatku seketika itu juga menoleh ke arah belakang.
"Dokter! Silahkan masuk dok!" aku bangkit dan menyapa dokter Hasan.
"Apa kabar dok,"
"Saya baik. bagaimana dengan kamu Lis?" tanya dokter Hasan yang sepertinya heran mengapa aku ada disini.
"Ada apa ini? kenapa dengannya?" tanya dokter Hasan yang langsung mendekati ranjang mas Sandy.
__ADS_1
"Mas Sandy pingsan. dan lagi dia demam dok! apa mas Sandy pernah begini sebelumnya dok? apa dia akan baik-baik saja?!" cerocosku panik.
Ku lihat dokter Hasan memeriksanya dengan seksama. dari mulai mata, hingga denyut jantungnya.
"Dia pasti kurang tidur. kebiasaan!" desisnya seakan sudah paham betul apa yang terjadi.
"Gimana dok? mas Sandy kenapa sebenarnya?" tanyaku lagi.
"Dia kelelahan. Sandy ini gila kerja,dia bisa seharian tak makan dan hanya fokus pada pekerjaannya. dan tentu saja dia akan menghabiskan beberapa gelas kopi. atau mungkin dia memakan sesuatu yang tak boleh dimakan, semisal mie Instan atau junkfood bisa saja. Lambungnya pasti terkena radang!" jelasnya.
Aku memekakan mataku kaget. tentu saja, semalam dia makan bersamaku. dan itu pasti salah satu penyebab dia menjadi seperti ini.
"Lalu bagaimana sekarang dok?"
"Jika dibawa ke rumah sakit,dia pasti akan marah." sahutnya setengah berfikir.
"Marah? memangnya kenapa?" Aku menatap dokter Hasan penuh tanya. Bukankah dokter Hasan yang selama ini menangani mas Sandy. dia bisa melakukan tindakan apa saja. termasuk membawa mas Sandy ke rumah sakit.
"Kemarin dia menelepon. kondisi perusahaan sedang tidak stabil. dia bilang,jika dirinya sakit,cukup di rawat di rumah saja. dia tak ingin meninggalkan pekerjaannya. dasar bandel!" tukas dokter Hasan menatap cemas padanya.
Meski ucapan dokter Hasan seperti tengah kesal padanya. namun aku bisa melihat dengan jelas kekhawatiran dimatanya.
"Mas Sandy sepertinya sangat mencintai pekerjaannya!" tuturku menatap lekat pada tubuh yang masih belum sadarkan diri itu.
"Semenjak kematian kedua orangtuanya, dia sudah menanggung beban yang sangat berat. Sandy tak pernah memikirkan kondisi kesehatannya. dia sangat cuek akan hal itu. terlebih lagi, tak ada orang yang benar-benar memperhatikannya." Dokter Hasan terlihat menghela nafas dalam.
"Bagaimana dengan Bu Ayu?!" aku mempertanyakan sosok tante yang selama ini tinggal bersamanya.
"Hanya karna Sandy kecelakaan saja dia mau tinggal satu rumah dengan Ayu. selama setahun kebelakang dia lebih banyak menghabiskan waktu dikantor."
Sepertinya benar apa kata mas Sandy. dokter Hasan pun tak tahu jika dia memiliki rumah selain rumah ini.
"Apa mas Sandy tak punya teman dekat dok? selama ini saya tak pernah melihat ada teman atau kerabatnya berkunjung?" selidikku.
Dokter Hasan menatapku agak lama. sedetik kemudian dia mengurai senyuman yang sarat makna.
"Dulu dia memiliki teman dekat. hanya saja,seiring berjalannya waktu... Semua banyak berubah!" dokter Hasan menatap kosong keluar jendela kamar.
Sepertinya pria paruh baya itu menyimpan satu rahasia yang tak ingin dia bagi denganku. dan aku pun tak enak hati jika harus menyelidiki lebih dalam tentang hal itu.
Pandanganku teralihkan saat ku lihat mas Sandy mulai sadarkan diri.
__ADS_1
"Mas," selorohku mendekatinya.
• • • • • • •