PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•22


__ADS_3

"Teh Alis marah? harusnya yang marah itu saya teh! Gara-gara teh Alis gak masuk kerja,saya jadi gak bisa tidur!" tukasnya sinis.


Aku yang sejak tadi menatapnya penuh kekesalan kini berubah bertanya-tanya?


"Mas Sandy aneh! kenapa setiap kesulitan yang mas Sandy alamai semuanya jadi salah saya?!" tanyaku tak terima.


Mungkin maksud mas Sandy mencoba mengajakku bercanda. tapi aku terlanjur kesal dengan sikapnya yang seenaknya mempermainkanku. Apa dia sengaja menguji kesabaran ku? bukankah dia tahu aku tipe orang yang cepat panik dan tak bisa berfikir jernih jika sudah begitu. hingga sekarang pun degup jantung ku masih terasa kencang.


Mas Sandy bangkit dan duduk di tepi ranjang. Dia menggerak-gerakan sebelah tangannya yang kesakitan tapi aku mencoba tak peduli dan berbalik hendak meninggalkannya.


"Maaf!" Tukasnya lirih.


"Mas Sandy gak perlu minta maaf mas! saya emang orang nya panikan, jadi Keliatan bodoh banget kalo liat orang bercanda begitu." sindirku.


Ku langkahkan kakiku meski terasa berat karna menahan kekesalan.


"Sini!" Tukasnya menarik kuat tanganku hingga aku berbalik arah menghadapnya


DEG!


Kami saling berhadapan,Aku menatap kaget kedua manik mata coklatnya yang dominan itu. sementara sebelah tangannya memegang erat lengan kiriku.


"Jangan lakukan hal seperti kemarin! menghilang dan membuat saya cemas!"


Tukasnya sembari menarik tanganku kuat.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata pelan, kenapa hatiku tiba-tiba seperti terbakar?


"Saya punya kehidupan pribadi Mas! gak semua harus dalam kendali mas Sandy!" sela ku mencoba melepaskan cengkraman tangannya.


"Saya sudah bilang, teh Alis harus segera membalas pesan saya! kenapa teh Alis lebih suka membuat saya menunggu? apa itu membuat teh Alis senang? Hah?!" Desisnya.


Aku menggeleng lemah,tak paham dengan jalan pikirannya. sebegitu takutnya aku memutuskan kontrak kerja secara sepihak hingga bersikap berlebihan begini? apa ini pantas? batinku.


Aku menundukkan kepalaku pelan, namun seketika tangannya melepaskan cengkraman itu dan menarik pinggangku ke dalam pelukannya.


Aku terperanjat kaget,sesaat otakku membeku begitu pula tubuhku yang kini berada dalam dekapannya.


Dekapan yang entah apa artinya,dan sungguh membuatku tak nyaman. selang beberapa saat barulah Aku mencoba mendorong pelan tubuhnya.

__ADS_1


"Mas Sandy kenapa?!" tukasku


"Diem! sebentar aja!" pintanya.


Suara itu terdengar lirih dan berat, apakah sesuatu terjadi padanya? hingga dia menenggak obat tidur itu? tapi apa? ku pikir dia begini karna takut aku menghilang dan tak bertanggung jawab atas pekerjaanku.


Tapi sepertinya bukan itu,tangan kekarnya mendekap erat tubuh mungilku hingga mungkin aku tenggelam didalamnya. kedua tanganku terkulai lemah,Aku tak bisa berontak. semakin aku berontak maka semakin kuat dia mendekapku.


•••


Semenjak kejadian itu Aku jadi sering berfikir hal-hal aneh yang Tiba-tiba saja memenuhi isi kepalaku.


sikapku jadi sangat berhati-hati terhadap mas sandy. Aku tak berani bertanya,dan Mas Sandy pun sepertinya tak berniat menjelaskan mengapa melakukannya.


Perlahan aku mencoba menjaga jarak dengannya. setelah mengantarkan sarapan. aku turun ke bawah, aku bahkan enggan membangunkannya dan memilih melakukan pekerjaan lain.


Jika setiap hari aku mematung didepan toilet dan memegangi handuk untuknya. kini aku menyiapkan handuk itu diatas kursi agar mas Sandy mudah menjangkaunya.


Tak peduli dengan tanggapannya,Toh aku juga sebentar lagi akan berhenti bekerja ditempat ini. dan Aku harap,aku bisa mendapatkan pekerjaan lebih cepat.


Siang ini,Bu Ayu memintaku menemuinya di ruang kerja pribadinya. Mungkin sekarang waktunya,Kontrak kerjaku dengan keluarga Hadiwijaya berakhir.


"Masuk!" sahutnya dari dalam.


Aku membuka pintu dan masuk dengan hati-hati. Baru kali ini aku melihat ruang kerja pribadinya. karna selama bekerja disini Bi Marni lah yang bertugas membersihkan setiap ruangan, termasuk ruang kerja ini.


"Kamu sudah makan siang Lis?" tanyanya ramah.


"Sudah bu!" Sahutku sembari melirik seisi ruang kerja yang dipenuhi buku-buku dan dokumen-dokumen yang tersusun rapi. Tapi yang membuatku heran adalah foto mas Sandy yang terpajang di atas meja. Apakah ini adalah ruang kerja mas Sandy? tapi kenapa Bu Ayu menggunakannya seolah ini adalah ruangan miliknya.


"Kamu sudah tahu alasan saya memanggil kamu kesini?" tanya nya kemudian.


"Sudah bu," aku mengangguk pasti.


"Ini upah terakhir kamu!" Bu Ayu mendorong amplop coklat yang tergeletak diatas meja.


Aku menatap amplop itu agak lama. kenapa tiba-tiba ada perasaan ragu dalam hatiku. bukankah aku menantikan hari ini? batinku.


"Kenapa Lis? isinya kurang?!" tanya bu Ayu membuatku menatapnya tak percaya.

__ADS_1


Kenapa Bu Ayu seakan membandingkan sikap diam ku dengan jumlah uang itu. seolah-olah aku tak terima.


"Enggak bu, saya cuma mau tanya satu hal. boleh bu?!"


"Tanya aja? kalo bisa saya pasti jawab!" tukasnya santai


"Setelah ini, apa mas Sandy masih akan di rawat? atau melanjutkan dengan terapi seperti yang di katakan dokter Hasan?" tanyaku penasaran.


"Itu urusan kami. lagipula Sandy sudah lebih baik. dia juga kayanya enggan untuk melakukan terapi." Bu Ayu seakan menganggap itu hal yang remeh.


"Tapi bu, menurut saya mas Sandy lebih baik melakukan terapi. karna dengan begitu dia akan lebih cepat pulih! maaf kalo saya lancang bu! saya cuma khawatir sama kondisi mas Sandy kedepannya." jelasku sembari menundukkan pandangan.


"Kamu sepertinya sangat khawatir dengan kondisi keponakan saya?!" Bu Ayu menatapku penuh tanya.


"Jujur saya memang khawatir bu,maka dari itu saya harap ibu mau melanjutkan terapi untuk mas Sandy. dengan begitu, saya bisa tenang seandainya pun hari ini saya berhenti bekerja," tukasku yakin.


"Ya baiklah! demi kamu saya akan lakukan terapi untuk Sandy!" sahutnya seakan tak yakin.


Apakah Bu Ayu benar-benar menyayangi mas Sandy seperti seorang ibu? atau itu semua hanya pura-pura seperti apa yang mas Sandy bilang,Bahwa ada orang-orang yang tak suka jika dia sembuh? apa bu Ayu salah satu orang nya? batinku menerka-nerka.


"Ya sudah, tunggu apalagi? terimakasih banyak selama ini kamu sudah bekerja dengan baik untuk menjaga keponakan saya Lis!" Tukasnya sembari bangkit dan memakai Kembali kecamata nya.


"Iya bu, sama-sama! saya juga berterima kasih sama ibu, sudah memberi saya pekerjaan ini. saya sangat bersyukur!" Aku membalas tatapannya dengan senyuman tulus.


Bu Ayu berjalan menuju pintu keluar, aku segera mengekor di belakang. sekilas ku tatap foto kedua orangtua mas Sandy. Aku menghela nafas lesu, semoga didepan aku tak bertemu dengan Putra mereka.


Kami berjalan keluar,Bu Ayu mengulurkan tangan dan segera ku jabat tangannya sebagai tanda perpisahan.


"Terima kasih banyak Lis," pungkasnya.


"Iya bu, sama-sama! titip salam buat mas Sandy!" tukasku


"Kamu gak mau pamit langsung?" tanyanya.


"Enggak bu. sebelumnya terima kasih! saya mau pamit dulu sama bi Marni!" pamitku.


Baru saja ku langkahkan kakiku hendak menuju dapur, Aku di kagetkan dengan sosok mas Sandy yang menunggu di ambang pintu, bahkan tanpa membawa Kruknya.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2