
"Lis,kamu yakin mau berangkat kerja?!" tanya bu dewi khawatir.
"Iya bu, saya udah baikkan kok." jawabku meyakinkannya.
"Ya sudah, kalo begitu kamu bareng sama Erwin aja berangkat nya!"
"Gak perlu bu,-"
"Erwin..! ayo cepetan! kamu berangkat bareng Alis ya! bude gak tenang kalo Alis pergi sendirian!" teriaknya memanggil mas Erwin yang masih ada didalam rumah.
Aku menatapnya bingung. kalau sudah begini, aku tak bisa menolak. Kekhawatiran bu Dewi ku anggap sebagai bentuk kasih sayang seorang ibu. dan ku hargai itu.
"Maaf bude, saya abis dari kamar kecil!" sahut mas Erwin yang baru keluar dari rumah sembari menyelempangkan tasnya.
"Teh Alis, ayo! biar saya antar!" Ajaknya kemudian sembari bersiap menaiki motornya.
Aku berjalan melewati pagar rumah. dan mendekati mas Erwin.
"Maaf ya mas, saya ngerepotin!" tukasku tak enak hati. mas Erwin pasti tak bisa menolak perintah bude nya itu.
"Alahh,kamu gak usah sungkan lis! kita ini kan keluarga!" sahut bu dewi.
Aku mengulum senyum,kebaikan bu Dewi tak dapat ku balas dengan apapun.
Kami pamit dan segera berangkat menerobos jalanan menuju tempat kami bekerja.
•••
"Mas Erwin,terima kasih banyak!" aku turun sembari membuka helm ku.
"Sama-sama teh! kalau perlu, nanti sore saya jemput kemari?" Tukasnya.
"Oh, gak perlu mas! saya bisa pulang sendiri kok!" tolakku segera.
"Gak apa-apa teh! kalau saya gak lembur, saya pasti jemput kesini!" Selorohnya setengah memaksa.
"Terima kasih sebelumnya mas, tapi saya yakin kok. saya bisa pulang sendiri!" Tandasku yakin
Mas Erwin terlihat kecewa dengan jawaban ku.
"Ya sudah, hati-hati di jalan kalau begitu. dan jika teh alis berubah pikiran. telepon saja,gak perlu sungkan!" jelasnya.
"Iya mas, terima kasih!" Aku pamit dan segera menuju rumah mas Sandy.
Sebetulnya sejak semalam, aku tak bisa tidur. memikirkan sikap mas Sandy nanti. pasti dia akan sangat marah. apalagi aku tak membalas satupun pesan darinya. Aku bingung harus menjelaskannya bagaimana. dan lagi-lagi hanya ku diamkan pertanyaan dari pesan singkat nya itu.
__ADS_1
Aku masuk menuju pintu belakang, dan menyapa bi Marni terlebih dahulu. ku tanyakan bagaimana mas Sandy, apakah dia bertanya banyak hal tentang ku yang tak bisa bekerja kemarin.
"Tapi maaf neng! kemaren bibi bilang sama mas Sandy kalo neng Alis kecelakaan!" Tukasnya dengan wajah cemas.
"Ya allah bi, kenapa Dikasih tau begitu! saya gak kecelakaan padahal!" selorohku menyayangkan sikap bi Marni yang menurutku keterlaluan.
"Yah, abisnya bu dewi kasih tau nya gitu sih. kamu kecelakaan dijalan. jadinya bibi panik dan kasih tau mas Sandy!"
jelasnya beralasan.
"Terus, mas Sandy gimana?"
"Ya gak Gimana-gimana sih, cuma diem aja!" jawabnya lagi.
Aku termangu. ternyata apa yang ku pikirkan salah. ku kira dia akan marah atau kesal, nyatanya dia tak memberi tanggapan. mungkin juga soal kemarin tak ada urusannya dengan mas Sandy. toh dia juga punya masalah yang lebih rumit dibanding menanggapi kondisiku.
"Ya sudah! saya ke atas dulu bi!" pamitku.
"Dasar majikan gak punya empati!" gerutuku.
"Ngirim pesan, cuma ngomel doang! nyebelin banget!" aku mendengus kesal.
Aku berdiri di ambang pintu. ku tarik nafas dalam-dalam untuk membuang kekesalanku. ku ketuk pintu itu lalu ku buka dengan hati-hati.
"Permisi mas!" tukasku pelan,
Seketika tubuh kekarnya condong ke arahku. ku rasakan dekapan kuat penuh kekhawatiran.
DEG!
"Saya bodoh sekali teh! bahkan saat kamu kecelakaan, saya hanya bisa diam dan tak mampu berbuat apa-apa!" gumamnya lirih.
Tubuhku lagi-lagi bergeming, kaget dan juga bingung harus bagaimana aku menyikapi tindakannya yang tiba-tiba ini.
"Saya gak kenapa-kenapa kok mas!" tukasku gelagapan.
Jujur saja, baru kali ini aku mendengar ketulusan dari ucapan mas Sandy. Ucapan yang terasa begitu menyentuh hatiku.
"Justru saya yang harus minta maaf, karna kemarin saya tidak datang. jadi mas Sandy tidak bisa terapi!" sesalku.
Mas Sandy mengulur pelukannya. ditatapnya kedua bola mataku yang masih gamang. Ada perasaan tak nyaman saat dia melakukan itu, menatapku dengan dalam. hingga membuatku takut....
"Bodoh! Persetan dengan terapi itu! yang penting kamu baik-baik saja teh! gak ada yang luka kan? apanya yang sakit?!" tanya nya panik sembari menatap sekujur tubuhku.
Aku menyeringai bingung, aneh memang mendengar mas Sandy begitu khawatir terhadapku,padahal dia sendiri yang sedang sakit.
__ADS_1
"Saya gak kenapa-kenapa mas! lagian Mas Sandy gak boleh bilang begitu! mas Sandy harus sembuh!" dengusku.
Dan lagi,..
Tubuh kekarnya memelukku erat seakan lega mendengar celotehku.
"Maaf mas!" Aku mendorong tubuhnya pelan. ku palingan wajahku yang terasa panas bak terbakar api.
"Emm, maaf! saya kebawa suasana! saya harap teh Alis gak tersinggung!" Selorohnya.
"Iya mas! saya juga minta maaf!" Aku mundur perlahan.
Kami berdua saling melemparkan pandangan canggung. Bahkan ruangan itu terasa begitu sempit dan aku sulit bergerak.
"Jadi Gimana mas? kita mulai terapi nya sekarang?" tanyaku kaku.
"Boleh.., Teh Alis mau sarapan dulu juga boleh!" Tukasnya nampak tak nyaman.
"Ini udah jam 9 mas," sahutku sembari berlalu melewatinya.
Terlihat wajahnya bingung tak karuan saat mendengar jawaban dariku.
Aku menyiapkan Matras dan alat bantu jalan nya. Diiringi mas Sandy yang mengikutiku dari belakang dan bersiap untuk latihan fisioterapi.
"Hati-hati mas!" Aku mengambil kruk dari tangannya,ku letakkan di sisi sofa. lalu meraih tangannya dengan perlahan.
Mas Sandy melirik tanganku sesaat, lalu beralih menatap mataku lagi.
~`~
Demi apapun, aku tak bisa mengelak lagi. perasaan ini begitu indah.
layaknya bunga yang baru mekar dipagi hari, wanginya semerbak menyusupi relung jiwaku.
Sentuhannya laksana angin sore yang membelai lembut helaian rambutku.
Apakah aku tengah dilanda bencana? Bencana yang orang bilang dapat memporak-porandakan hati manusia?
Bencana yang bisa menghancurkan gunung salju sekalipun!
Ku Bilang ini Bencana,..
Karna datangnya tak dapat ku duga.
Dan ku Akui, Aku lemah karenanya*.
__ADS_1
~`~
• • • • • •