PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•37


__ADS_3

"Seandainya dulu tak ada luka membekas di hatiku. mungkin akan sangat mudah bagimu untuk masuk ke dalamnya.."


"Mas Sandy!" Erangku mendorongnya kaget. Aku segera bangkit dan merapikan bajuku. ku lihat mas Sandy hanya mengulum senyum tanpa bicara.


"Makanya, kalau saya suruh makan! kamu makan yang banyak teh! biar ada tenaganya. begitu aja bisa jatoh!" Ledeknya sembari duduk dari tidurnya dengan mudah.


Aku meliriknya sinis. Bisa-bisanya aku malah luluh dan membantunya tadi? jelas-jelas dia bisa duduk sendiri.


"Mas Sandy sengaja kan?" selidikku


"Kamu yang jatuh menimpa saya teh, disini yang sakit saya loh.. kenapa malah nyalahin saya? bukannya teh Alis yang ambil kesempatan dari saya?" Godanya dengan tatapan nakal.


"Ngambil kesempatan? mas Sandy jangan bercanda deh! jelas-jelas yang narik saya tuh mas Sandy!'' Elakku tak terima dengan alasannya itu.


"Iya deh iya,saya yang narik. tapi salah kamu juga teh yang gak kuat nahan tubuh saya. sampe kita hampir mau ci,-" gumamnya menahan tawa.


"Mas Sandy!" selorohku menepuk lengannya cukup keras.


"Awwhhh!" teriaknya memegang kuat bekas tepukan tanganku.


Aku melirik sinis, tak percaya dengan Akting pura-pura nya itu.


"Heh! saya ini majikan sekaligus pasien kamu teh! kenapa kamu pukul? sakit tahu!" protesnya.


Aku melipat kedua tanganku cuek.


"Masih lebih sakit tangan saya mas! dari tadi mas Sandy pegangin terus!" cibirku


menunjukan kedua pergelangan tanganku.


"Ini serius sakit! pasti merah banget. saya laporin dokter Hasan pokoknya!" gerutunya sembari memilin lengan kemejanya.


Dan yang membuatku kaget, ternyata pukulanku benar-benar kuat hingga meninggalkan bekas memerah di lengannya.


"Liat kan? ini merah? perih banget!" Cerocosnya.


Aku berdecak kesal, daripada mas Sandy mengadu macam-macam pada Dokter Hasan lebih baik aku mengalah dan mengobatinya.


"Ya udah, tunggu sebentar!" pamitku keluar kamar dan mengambil Es batu juga kompresan.


Aku kembali dengan alat kompres ditanganku. mas Sandy masih meniup pelan lengannya.


"Sini!" Aku duduk disampingnya sembari mengompres permukaan kulitnya yang kemerahan itu.


"Cuma merah begini aja,histeris banget! Dulu waktu kuku jempol saya hampir lepas Gara-gara benerin gagang pintu, saya biasa aja tuh. gak heboh" celotehku polos.


"Kamu benerin gagang pintu? emang bisa? kamu serius teh?" selorohnya seakan tak percaya.


"Jaman sekarang,jadi perempuan itu di tuntut serba bisa mas. kalo enggak, bakal ketinggalan kereta!" jelasku.


"Iya sih. tapi,masa sampe benerin gagang pintu. emang dulu suaminya kemana?" Celetuknya yang seketika membuatku terpaku.

__ADS_1


Aku menatap sinis pada Mas Sandy.


"Maaf! saya gak bermaksud,-"


"Udah. bentar lagi juga ilang bekas merahnya." sela ku sebelum mas Sandy meneruskan kalimatnya.


Aku bangkit dan menyimpan alat kompres itu di meja. seharian di dalam kamar dengan perasaan canggung benar-benar sangat membosankan. Seandainya aku bisa pergi keluar sebentar, sekedar untuk menghirup udara segar. batinku seraya menatap keluar jendela.


"Kita minum kopi?" ajak mas Sandy yang masih duduk di ranjang dan menatapku lekat.


Aku menoleh sesaat.


"Hah?!"


"Cuaca di luar bagus, saya pengen ngopi!" Tukasnya datar.


•••


Suasana sore hari tepat pukul 3,dan jalanan pusat kota sangatlah ramai. apalagi jika cuaca sedang mendukung seperti sekarang ini. Aku masih menatap mas Sandy tak percaya. sekarang kami ada dipusat kota, duduk berdua menikmati secangkir kopi,juga melihat lautan manusia yang hilir mudik tak tentu arah.


Ada yang hanya jalan-jalan saja, dan ada juga muda mudi yang sepertinya tengah berkencan.


"Kenapa? baru pertama kali ngopi disini?" tanyanya heran


"Iya mas. lagian ngapain sih kita ngopi jauh-jauh gini. dideket kompleks juga kan ada kedai kopi" sahutku


"Kalau ngopi sama orang spesial, ya harus ke Tempat spesial juga dong!" Godanya.


"Jadi, berapa banyak wanita spesial yang mas Sandy ajak kesini?" tanyaku tanpa menatapnya. karna aku lebih tertarik dengan lautan manusia yang tak ku kenal itu.


"Hanya dua, yang pertama,dia sudah pergi. dan mungkin gak akan pernah kembali!" gumamnya.


Aku mendengarkannya dengan seksama meski mataku tak berani menatapnya.


dan aku pun tahu, wanita yang dimaksud itu pastilah Vina. gadis yang namnya sempat disebut oleh bu Ayu beberapa waktu lalu. nama yang sebenarnya membutku penasaran.


"Lalu, yang kedua?" tanyaku lagi.


"Yang kedua kamu teh!" Celetuknya santai.


Kali ini ku palingkan wajah ke arah nya penuh tanya.


"Mas Sandy jangan bercanda terus ya! lama-lama gak lucu." ledekku.


"Kenapa? teh alis gak percaya sama ucapan saya?"


"Atau perlu saya buktikan didepan orang banyak?!" Timpalnya lagi.


"Mas Sandy!" Cegahku.


Aku tahu betul mas Sandy ini orang seperti apa, ancamannya bukan hanya gertakan semata.

__ADS_1


Drrrtttt... Drrrrttt...


Ponsel Mas Sandy yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. kami melirik ke arah benda itu bersamaan.


Kedua alis mas Sandy bertaut saat mengetahui siapa yang menghubunginya. di angkatnya dengan malas panggilan telepon itu.


"Iya dok, kenapa?" tanyanya dingin.


"Saya lagi ngopi di luar! iya, saya sama Teh Alis. dokter gak perlu ke rumah!" perintahnya


"Mas,kita pulang aja! siapa tahu dokter Hasan mau bicara hal penting?" ajakku.


"Gara-gara dokter, sekarang teh Alis malah ngajak pulang! Celetuknya santai


Aku melotot tajam. Bisa-bisanya dia menghasutku setenang itu.


"Oke! besok kita akan ke rumah sakit!" jawab mas Sandy menutup sambungan teleponnya.


"Ke rumah sakit? ada apa mas?" tanyaku cemas.


Tentu saja aku sangat takut jika membahas rumah sakit. pastilah semua ini berhubungan dengan kesehatan mas Sandy.


"Kita cuma mau ambil laporan kesehatan sama pemeriksaan terakhir!" jelasnya.


"Oh," jawabku lega.


"Kamu gak perlu khawatir teh, saya baik-baik aja kok."Selorohnya percaya diri. aku berdecih tak habis pikir dengan sikap percaya dirinya yang tinggi itu.


Aku memalingkan wajah dan asyik menatap keramaian disekelilingku untuk mengalihkan rasa gugup karna mas Sandy yang tak henti-hentinya terus menatapku. tapi tiba-tiba ku lihat sosok orang yang ku kenal.


"Mas Erwin" gumamku menatapnya lekat. ku lihat mas Erwin tampak berjalan santai sembari menuju salah satu stand penjual makanan ringan. aku tak berani menyapanya dan hanya memperhatikan nya saja.


Mas Sandy ikut menoleh kearah belakang.


"Dia siapa?" tanyanya sinis.


"Dia keponakan Bu dewi mas, tetangga saya. orang nya baik banget!" Sahutku.


"Kalian Sudah lama kenal?" mas Sandy menatapku lekat. Aku membalas tatapannya aneh.


"Mas Sandy gak perlu tahu. lagipula itu urusan saya." desisku tak suka.


Mas Sandy kembali memperhatikan keberadaan Erwin yang nampaknya hendak menuju ke arah kami.


"Kita pulang sekarang!" Ajaknya buru-buru.


"Loh, mas? kopi saya belum habis?" tolakku. namun mas Sandy sudah lebih dulu berdiri dan berjalan dengan tergesa. bahkan dia melupakan tongkat nya. Aku yang takut mas Sandy terjatuh segera mengambil kruk dan menyusulnya .


"Mas Sandy tunggu!!!" teriakku panik.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2