
Wajah tampannya melemparkan senyuman manis padaku.
"Sayang,kamu kenapa bangun?" tanyanya kaget
Aku segera mendekat dan melihat apa benar yang dia minum itu kopi.
"Mas Sandy minum kopi? kalo lambungnya sakit Gimana?" ku tarik gelas itu dan ku simpan.
"Kenapa Mas Sandy gak bangunin saya tadi?" tanyaku.
"Kamu pulas sekali teh, saya gak berani bangunin kamu."
"Terus kenapa mas Sandy belum tidur?" selidikku
"Saya gak bisa tidur!" Gumamnya tampak gelisah.
"Mas, begadang itu gak baik buat kesehatan. nanti mas Sandy masuk angin Gimana?"
"Kan ada kamu. saya serahkan hidup dan mati saya buat kamu," godanya.
"Ih, mas Sandy! saya serius." dengusku
Mas Sandy tampak terkekeh.
"Iya baiklah. kita ke dalam saja, nanti kamu kedinginan!" ajaknya kemudian.
Mas Sandy duduk di atas ranjang. namun sepertinya dia tak berniat untuk tidur. ku genggam erat kedua tangannya.
"Mas Sandy kenapa? kenapa gak bisa tidur? apa ada masalah di kantor?" tanyaku pelan.
Mas Sandy terlihat menghela nafas dalam. lagi-lagi dia menatapku.
"Saya cuma khawatir sama kamu" tukasnya. aku menatapnya gamang. kenapa dia tiba-tiba khawatir padaku?
"Khawatir sama saya? soal apa? soal Dinner semalam? mas Sandy Gak perlu khawatir. saya akan belajar membiasakan diri kok!" aku tersenyum yakin padanya.
"Bukan soal itu, ini soal yang lebih besar dari sekedar makan malam."gumamnya.
Ku lepas genggaman tanganku, kini aku yang malah berbalik khawatir.
"Maksudnya?" tanyaku serius.
"Ya,.. semalam itu saya mengenalkan kamu pada semua rekan bisnis di perusahaan. juga membiarkan salah satu media meliput. dan jika esok beritanya keluar,maka semua mata akan melihat kamu. semua orang akan tahu siapa kamu, dan semua laki-laki pasti akan terpikat sama kamu," jelasnya panjang lebar.
Aku mengerutkan dahiku curiga.
"Jadi?!" timpalku lagi,
"Ya saya takut saja, takut kalau laki-laki diluar sana tiba-tiba menggoda kamu dan kamu tergoda." celetuknya enteng.
Aku mendengus ketus. Ku pikir tadi dia bicara serius, ternyata hanya lelucon aneh yang entah didapatnya dari mana.
__ADS_1
"Mas Sandy gak bisa tidur gara-gara hal Gak masuk akal kaya gitu?!" Aku menatapnya tak percaya.
"Apanya gak masuk akal, semua bisa saja terjadi! saya takut kamu berpaling dari saya teh-" Racaunya.
"Mas,.. Apa menurut mas Sandy saya akan melakukan hal keji seperti itu? sementara Tuhan telah memberi saya suami sempurna seperti mas Sandy!" Aku mendekapnya erat, meyakinkan dirinya bahwa apa yang ku ucapkan itu serius.
"Mas Sandy tak perlu cemas. semua itu tak akan terjadi!" ucapku yakin.
"Lalu apa maksud ucapan Ivan tadi malam?" gumamnya sendiri.
Aku termangu cukup lama,mungkin sebenarnya dia memikirkan hal lain. bukan tentang diriku yang takut tergoda oleh pria lain. tapi ada kekhawatiran tersendiri dibenaknya yang tak ingin dia utarakan padaku.
"Kenapa diam? apa terjadi sesuatu?" mas Sandy mengurai pelukanku.
"Hanya insiden kecil," jawabku akhirnya.
Tadinya aku tak ingin mengaku. dan memilih untuk menutupi semua hal mengejutkan di acara semalam itu.
Tapi, aku juga tak ingin menyakiti mas Sandy. lagi dan lagi..
"Insiden kecil?!" Tatapan matanya berubah cemas.
"Sebenarnya semalam waktu saya ke toilet,.. Saya bertemu dengan pak Broto mas! dia bersikap tak sopan pada saya!" Aku menunduk ragu. takut rasanya untuk bercerita soal kejadian itu.
"Apa?! Laki-laki Tua itu ngapain kamu? kenapa kamu Gak bilang teh?!!" Desaknya panik.
"Mas Sandy dengar dulu. Dia cuma bicara ngawur saja!"
"Bohong! kamu pasti bohong! Apa dia menyentuh kamu?" Matanya berkilat penuh kemarahan.
Tatapan mas Sandy menelisik dalam padaku. seakan dia ragu dengan apa yang aku katakan.
"Hanya itu saja? benarkah?" selidiknya
"Saya bersumpah! Pak Broto mana berani melakukan hal lain. karena saya mengancam akan berteriak!" jelasku.
"Maksud saya Ivan. apa dia tak mengatakan sesuatu sama kamu?"
Aku menghela nafas dalam. Mas Sandy memang tak Menyukai pak ivan. tapi itu bukan alasan baginya untuk terus menerus berpikiran buruk pada pak Ivan.
"Mas, mungkin kalian harus bicara baik-baik. saya rasa pak Ivan orang yang baik. hanya saja sikapnya keras seperti kamu!" tukasku pelan.
"Seperti saya? bahkan kamu sudah bisa menilainya sebaik itu!" desisnya sinis.
"Bukan begitu mas, Saya hanya berpikir bahwa dia juga berhak punya kesempatan kedua!" jelasku.
"Kesempatan kedua?" sergahnya seakan hal itu tak akan mungkin.
"Kecuali mas Sandy masih tak bisa merelakan kepergian Vina. makanya mas Sandy masih membencinya!"
Mas Sandy menatap tajam padaku. kemudian memalingkan wajahnya dariku. dan sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku barusan.
__ADS_1
"Mas Sandy marah? saya minta maaf mas! saya tak bermaksud lain. saya hanya tak mau mas Sandy punya musuh. apalagi dulu kalian berteman baik kan?" Ku pegang lengannya lembut.
"Sepertinya saya memang harus selalu kalah dari Ivan." gumamnya.
"Mas! mas Sandy ngomong apa sih? itu gak baik mas!" ku tarik kuat tangannya hingga dia kembali menatap ke arahku.
"Saya gak mau mas Sandy berpikiran picik seperti itu. mana mas Sandy yang saya kenal, mana mas Sandy yang selalu percaya diri melebihi orang lain?"
"Kamu berlebihan teh. buktinya, saya tak bisa menolong kamu bahkan saat kamu membutuhkan saya. tapi, justru dia yang datang.. Bodoh sekali!" mas Sandy tersenyum getir.
Aku bisa merasakannya. rasa takut dan tak percaya diri yang dia rasakan sekarang.
CUP!
Ku kecup lembut bibirnya. mungkin tindakan kecil itu bisa menyadarkannya. bahwa aku masih miliknya dan hanya akan menjadi miliknya.
"Mas Sandy meragukan cinta saya? sejahat itu?" Ku tatap dalam matanya.
Pria tampan itu mematung sesaat.
Ku tarik lembut leher jenjangnya, dan dengan gesit dia menarik tubuhku mendekat. menciumku secara Kasar.
Helaan nafas yang memburu antara marah dan juga hasrat yang memuncak. Ku biarkan emosinya meluap, melampiaskannya padaku meski sedikit tak berperasaan.
Mungkin hatinya jauh lebih sakit, di bandingkan dengan apa yang dia lakukan padaku sekarang.
•••
Pakaian yang berserakan di lantai juga tempat tidur kami yang berantakan, membuatku sedikit malu untuk bangun.
Aku memeluknya erat. dan dia hanya menciumiku tanpa banyak bicara.
"Apa mas Sandy masih marah?" bisikku mendongak pelan menatapnya.
Pria itu mencium keningku dalam.
"Saya minta maaf!" lirihnya.
Aku semakin tenggelam dalam dekapannya. Bagiku,tak apa jika mas Sandy berlaku kasar seperti barusan. asalkan dia masih dalam dekapanku dan tak menghilang.
Tak seperti dia....
Setelah puas menyakitiku, setelah puas melampiaskan hasratnya padaku. dia meninggalkan ku seperti sampah. membiarkanku meringis kesakitan seperti binatang ******.
YA! Rasa trauma itu tak mungkin bisa hilang begitu saja. aku selalu saja membandingkan apa yang ku alami sekarang dengan apa yang terjadi padaku dulu. selalu saja seperti itu. nyatanya aku memang belum bisa membuang masalalu ku sepenuhnya.
Tapi aku berani bersumpah. bahwa mas Sandy adalah orang terbaik yang pernah aku temui. Aku tak mungkin bisa hidup tanpanya.
"Jangan menangis," bisiknya lembut.
Sepertinya Dia tahu bahwa aku terisak dalam dekapannya.
__ADS_1
"Saya mencintai kamu Alis. maafkan saya!" mas Sandy semakin erat memelukku.
• • • • • •