PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•81


__ADS_3

"Sudah! jangan menangis lagi! saya bingung kalau sudah melihat teh Alis menangis begini. maafkan saya!" gumamnya seraya mengelus lembut kepalaku.


Kini kami berada di dalam mobil setelah cukup lama berpelukan di pinggir jalan pagi hari. benar-benar memalukan.


Aku tak ingin melihat wajahnya lagi. rasanya masih ada sedikit kekesalan karena sikapnya tadi.


"Sepertinya kita harus mencari udara segar!" mas Sandy melajukan mobilnya dengan segera tanpa memberi tahu kemana kami akan pergi.


Selama hidupku,aku tak pernah berpikir bahwa akan mengalami hal semacam ini. bertengkar dengan seseorang lalu kembali berbaikan. Bahkan aku merasa, bahwa aku tak pantas diperjuangkan. aku pikir setelah bertengkar, kami tak akan saling mengenal lagi.


Tetapi mas Sandy berbeda, dia menunjukkan jalan lain padaku. caranya memperlakukanku membuatku selalu berharap lebih padanya. dan Sejujurnya itu sangat menakutkan.


Mobil kami akhirnya menepi. disisi kiri terlihat pasir putih berkilau dengan suara deru ombak yang terdengar sayup tertiup angin.


Wangi Laut bisa ku cium saat mas Sandy membuka kaca mobilnya.


"Kita kesana!" ajaknya lembut.


Sikapnya yang kasar tadi sudah menghilang. membuatku merasa tak takut lagi untuk menatapnya walau hanya sekilas.


Mas Sandy membuka pintu mobil. mempersilahkan diriku untuk turun.


Tangannya menengadah menyambutku, sedikit ragu walaupun pada akhirnya aku menyambut tangan itu.


Kami berjalan pelan mendekati bibir pantai. tak pernah ku tahu ada pantai seindah ini, bahkan dipagi hari. suaranya hening dan sepi. bahkan tak ada satu orang pun disini. hanya jeritan-jeritan merdu burung camar yang terdengar jelas di atas kepala.


Mas Sandy duduk di atas hamparan pasir putih. sebelah tangannya menepuk sisi kiri memintaku untuk duduk disebelahnya.


Kami melemparkan pandangan jauh ke arah laut. gelombang airnya terlihat menggeliat mengejar ombak hingga bibir pantai. sinar mentari terasa hangat karena waktu masih menunjukkan pukul 8.30 pagi.


"Saya minta maaf jika ucapan saya tadi kurang ajar dan keterlaluan!" selorohnya tiba-tiba. aku tak menggubrisnya dan hanya diam menatap laut.


"Saya memang bodoh! saya terlalu takut kehilangan kamu teh. saya tak bisa berpikir jernih." tuturnya lagi. Kali ini aku menoleh pelan menatap ekspresi wajahnya yang sendu dan penuh sesal.


"Kenapa?" Aku memberanikan diri bertanya. Mas Sandy menatapku lekat.


"Karena dulu, Ivan pernah menghianati saya dengan mengambil satu-satunya orang yang saya sayangi" jelasnya sembari memalingkan wajahnya dariku.


Aku terdiam cukup lama.


"Apa ini ada hubungannya dengan Vina?" tanyaku ragu.


Mas Sandy mengulum senyum.

__ADS_1


"Begitulah,... " desahnya seakan enggan mengingatnya lagi.


"Dimana dia sekarang? apa Vina bersama pak Ivan?"


"Karena tak ingin menyakiti kami berdua. Vina melarikan diri keluar negeri. dia berdalih ingin mengejar mimpinya sebagai model. padahal aku tahu, dia sengaja menghindari kami berdua. Sejujurnya aku sudah tahu jika Vina sebenarnya juga mencintai Ivan. buktinya dia tak bisa tinggal bersamaku dan memilih melarikan diri."


Mendengar cerita mas Sandy, kini aku mulai memahami kenapa mereka bisa berselisih dan saling sindir jika bertemu.


"Apa mas Sandy masih mencintai Vina,"


Mas Sandy lagi-lagi menatapku lekat. kali ini dengan tatapan tak suka dan seakan tak percaya jika aku akan bertanya soal ini padanya.


"Saya pikir, kalian masih bisa bersatu jika nanti dia kembali dan memilih mas Sandy!" selorohku lagi.


"Saya sudah melupakannya! sekarang saya tak menginginkan wanita lain lagi selain kamu teh." jawabnya yakin.


Aku terperangah mendengar jawabannya. Mas Sandy mendekat dan menatap sayu padaku. kepalanya menunduk dan mengincar bibirku yang mengatup rapat.


Aku menghindar dengan cepat dan mendorong tubuhnya pelan.


"Maaf mas,"


Mas Sandy terdiam cukup lama, menggigit sendiri bibirnya karena tak berhasil menciumku.


Melihatnya seperti ini sungguh membuatku ingin tertawa. naluri laki-laki nya memang terlalu dominan.


"Semua ada saatnya mas,bersabarlah!" aku mengulum senyum.


"Kalau begitu kita menikah saja!" celetuknya yang seketika membuatku merasakan kaku disekujur tubuh.


"Kenapa? teh Alis tak mau menikah?" tanyanya heran saat melihat ekspresiku yang mungkin terkesan cuek.


"Mas Sandy gak usah bercanda!" aku menatapnya Takut-takut.


"Teh Alis benar-benar menguji saya! kalau teh Alis tak percaya. besok kita temui tante Ayu. saya akan meminta ijin padanya untuk menikah!" tandasnya serius.


"Bu Ayu tak akan memberi izin mas," ceplosku tanpa sadar.


"Kenapa? dia tak berhak melarang saya untuk menikahi siapapun!" selanya.


"Sebaiknya kita jangan buru-buru. Mas Sandy fokus saja bekerja! saya akan menunggu!" jawabku


"Tapi teh, saya tak ingin kejadian ini terulang lagi. saya lebih takut kehilangan kamu daripada kehilangan pekerjaan saya!" sergahnya.

__ADS_1


"Kalau mas Sandy kehilangan pekerjaan. lalu saya bagaimana? memangnya mas Sandy sanggup menafkahi saya tanpa pekerjaan?" desisku sinis.


Pemuda itu tersenyum sembari menarikku kedalam pelukannya secara paksa.


"Kalau begitu, biarkan saya menafkahi kamu mulai sekarang! Anggap saja sebagai bentuk latihan menjadi calon suami yang baik" godanya seraya terkekeh gemas.


Aku mencubit kesal perutnya yang langsung ditanggapi dengan ringisan kaget.


Dan kami mengakhiri pertengkaran kali ini dengan sebuah perdamaian yang indah. tak ingin memikirkan hal lain lagi selain perasaan kami berdua.


•••


"Kenapa kita malah kembali kesini mas?" aku menatap apartemen mas Sandy.


"Ini masih pagi sayang, kamu pikir kamu mau kemana?" godanya.


"Pulang ke rumah lah. lagipula saya bisa beres-beres di rumah." selorohku.


"Ini juga nantinya akan jadi rumah kita. jadi kamu boleh bersihkan? kebetulan sudah lama saya ingin membongkar beberapa barang!" jelasnya sembari menatapku manis.


"Semua gara-gara mas Sandy. saya jadi tidak masuk kerja hari ini." gerutuku pelan.


"Kita sudah membahasnya tadi,dan kamu sudah setuju teh! Pokoknya saya tak mengijinkan kamu bekerja lagi disana." larangnya tegas.


"Lalu bagaimana saya menjalani hidup saya kedepannya." aku mendelik tak setuju. meskipun tadi aku mengiyakan permintaannya.


"Kamu bisa melamar jadi asisten pribadi saya? bagaimana?" mas Sandy menatapku sarat makna. tentu saja itu yang di inginkannya agar bisa selalu berdekatan denganku. pada akhirnya dia tak akan bekerja dan malah Asik menggangguku.


"Saya gak pengalaman jadi asisten mas. lagipula menjadi asisten mas Sandy bukan minat saya!"


"Lalu pekerjaan seperti apa yang kamu mau teh?!" tanyanya antusias.


"Pekerjaan seperti menjaga toko dengan gaji yang besar dan dekat dari rumah." sahutku tak main-main. meskipun aku tahu tak 'kan pernah ada pekerjaan yang seperti itu.


"Apa kamu bisa memasak atau membuat kue?" selidiknya.


"Dulu saya pernah ikut pelatihan tata boga sih mas. yang diselenggarakan ibu-ibu PKK dikampung. tapi itu sudah lama sekali. saya gak yakin kalau saya masih ingat." sahutku bingung.


"Oke. Nanti saya pikirkan caranya. kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan itu." jelasnya sembari keluar dari dalam mobil dan bergegas membukakan pintu untukku.


Aku menatapnya heran. apa yang baru saja dipikirkannya hingga terlihat sangat antusias begitu?


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2