PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•190


__ADS_3

Semakin larut, acara semakin meriah. setelah pengumuman para pemenang trofi. acara berlanjut pada acara dansa.


Alunan musik klasik tahun 80'an bergema ke seluruh ruangan. Aku yang memang tak begitu suka menari hanya melihat orang-orang yang sudah lebih dulu turun ke lantai dansa.


Terlihat sebagian dari mereka yang berdansa berusia di atas 40-50 tahunan. sementara sisanya yang seusiaku hanya duduk dan mengobrol saja. kami jelas tak begitu akrab dengan lagu-lagu lama seperti ini. Kecuali salah satu lagu madonna yang memang sangat melegenda untuk para pecinta lagu pop.


"Mau berdansa?" ajak mas Sandy.


"Enggak mas," aku mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang terdengar ramah di telinga.


"Sepertinya kamu, suka lagu ini?" tanya mas Sandy.


"Saya pernah denger dulu waktu kerja di pabrik. pak yanto sering diam-diam memutar lagu ini kalo jam makan siang." jelasku.


"Begitu ya,.." sahutnya seraya memperhatikanku dengan begitu lekat.


Sebetulnya sejak berpelukan tadi, sikap kami berdua jadi terasa canggung. entah kenapa,padahal jelas kami berdua sudah tak memiliki perasaan marah atau kesal. bahkan mas Sandy sejak tadi terus menatapku. dia bahkan sedikit mengabaikan para tamu yang mengajaknya bicara.


Aku bangkit dari dudukku.


"Mau kemana?" tanyanya kaget.


"Ke toilet mas," jelasku.


"Biar saya antar?!" mas Sandy pun ikut bangkit.


"Gak usah mas. saya bisa sendiri kok!" tolakku cepat. apa kata orang lain nanti jika seorang Sandy Hadiwijaya ternyata begitu lemah pada perempuan.


"Ya sudah, hati-hati! dan tolong jangan lama-lama!" perintahnya cemas.


Sepertinya mas Sandy tak ingin kejadian dulu terulang lagi saat pak Broto hampir melecehkanku di pesta waktu itu.


"Iya, mas." tukasku segera pergi menuju toilet.


Beruntunglah toiletnya tak begitu jauh dengan ruangan tempat acara berlangsung. apalagi ada seorang penjaga perempuan yang menunggu didepan pintu toilet. benar-benar sangat aman.


Aku berjalan masuk menuju toilet, melakukan aktivitas 'mendesak' ku. cukup lama aku di toilet, dan saat aku hendak membuka pintu,ku lihat bu Ayu baru saja masuk bersama dua teman wanitanya yang sudah pasti adalah wanita-wanita berkelas.


Aku tak jadi keluar, dan memilih bersembunyi di dalam toilet.


"Oh ya, bukankah tadi ada Vina. Vina yang dulu mantan kekasih Sandy 'kan? keponakanmu itu?"


"Iya betul. kok gak kelihatan?"


"Dia pulang lebih awal." sahut Bu Ayu kesal.


"Kenapa pulang? ada masalah apa?"

__ADS_1


"Biasalah. dia berselisih paham dengan istrinya Sandy." Bu Ayu menyisir rambutnya hati-hati.


"Wanita yang memakai gaun merah itu? benarkah dia istrinya? kenapa kamu membiarkan Sandy menikah dengan wanita seperti itu. bahkan meski dia memakai pakaian mahal. kesan kampungannya masih jelas terlihat." ejek salah seorang wanita tambun yang memiliki sanggul tinggi itu.


"Aku juga sebenarnya tak begitu setuju. tapi Sandy sangat keras kepala. entahlah! sepertinya dia sudah menyihir keponakanku." Bu ayu menghela nafas dalam.


"Padahal ponakanmu sangat tampan loh. dia juga memiliki banyak koneksi. apa tidak ada satupun wanita yang bisa mengalahkan istri sah nya itu?"


"Benar juga. kalau dilihat-lihat jelas Vina jauh lebih baik dari segimana pun. kenapa Sandy bisa memilih wanita itu sebagai istrinya. maaf, bukankah dulu sebelum menikah dia itu seorang-..."


Sebelum wanita itu melanjutkan kalimatnya, mereka lebih dulu tertawa pelan. seakan menertawakan statusku.


Aku meremat jariku kuat. bertahanlah Alis! jangan terpancing. Mereka hanya tak mengenalmu saja, makanya mereka bisa bicara banyak hal buruk tentang dirimu. batinku mencoba menghibur diri.


"Kasian sekali ponakanmu Yu. Kalo aku jadi kamu, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk misahin keduanya. dan aku yakin, orang diluar sana pasti juga sering menggunjing kamu dan Sandy. apalagi pernikahan mereka terkesan diam-diam."


"Ah! sudahlah, kepalaku pusing. kalian terlalu banyak bicara." sanggah bu Ayu.


Mereka semua sibuk berhias lalu kembali merapikan tas mereka untuk segera keluar. dan saat hendak keluar, saputangan salah satu dari mereka jatuh ke lantai. jelas itu bukan sapu tangan biasa.


Aku segera keluar dari tempat persembunyianku dan mengambilnya, lalu ku kejar mereka yang sudah ada di luar toilet.


"Permisi bu, ini sapu tangan ibu kan? tadi jatuh di toilet." Aku mengangkat tinggi benda itu.


Kedua orang itu, termasuk bu Ayu menoleh kaget ke arahku. mereka pasti tak menyangka jika aku juga ada di dalam toilet sejak tadi.


"Lainkali, jangan terlalu lama bergosip di toilet bu. soalnya dindingnya bisa bicara." bisikku seraya berjalan melewati mereka bertiga. Bahkan ku tundukkan kepalaku saat melewati bu Ayu. tanda bahwa aku masih menghormatinya meski dia bicara buruk di belakangku.


Sebagai manusia tentu saja aku sakit hati. bahkan mereka jelas tengah menggunjingku. meski tidak dihadapan umum, tapi aku mendengar sendiri bagaimana mulut-mulut manis mereka mengeluarkan Bisa.


Tapi aku bisa apa? mereka bukan orang yang bisa aku lawan. dan aku tak ingin mencari masalah dengan keduanya. apalagi dengan Bu Ayu.


Meski hanya membalas dengan kata-kata satir seperti barusan. jelas aku harus mengeluarkan keberanian yang sangat besar untuk melakukannya.


Aku berjalan cepat menuju meja mas Sandy yang terlihat masih jauh. tapi tiba-tiba,...


TREKK!


Seluruh lampu di ruangan mati seketika. disertai suara alunan musik klasik karya james turner yang tiba-tiba mengalun lembut.


Aku terdiam sesaat, karena pandanganku yang masih belum stabil. bahkan aku tak yakin langkahku bisa terarah di dalam kegelapan.


Sebuah lampu sorot tiba-tiba menyala dan menerangi sepasang lelaki dan perempuan yang sudah bersiap di lantai dansa. si pria tampak berlutut dengan sebuah cincin di tangannya. sementara si wanita menatap tak percaya pada pria yang tengah melamarnya itu.


Pemandangan yang sangat indah dan sangat menyentuh.


Aku melangkah dengan hati-hati dalam kegelapan. Jika ku nyalakan senter dari ponselku tentu itu akan sangat mengganggu acara mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba saja sebuah tangan menarikku.


"Mas,.." desahku kaget. Namun aku tak dapat melihatnya dengan jelas. Tangan itu menarikku menjauhi ruang pesta.


"Kita mau kemana mas? bukankah Acaranya belum selesai?" tanyaku.


Namun lagi-lagi mas Sandy tak menjawab.


Langkah kakinya berubah sedikit lebih cepat, hingga aku hampir tak bisa mengikutinya.


KLEK!


Terdengar suara pintu terbuka, dia menarikku secara paksa untuk masuk ke dalam ruangan yang ternyata juga sangat gelap.


"Mas Sandy mau apa mas?!" Aku mulai didera rasa panik. apakah mas Sandy sedang bercanda padaku? batinku.


"Kita dimana mas? kenapa gelap?" selorohku berusaha meraba sekeliling. dan sepertinya ini adalah ruangan kamar atau sejenisnya. karena sisi-sisinya hanya berupa tembok.


Aku mulai ketakutan saat tangannya melepasku.


"Mas Sandy jangan bercanda!" dengusku mulai kesal karena ulahnya itu.


"Dimana lampunya...!" aku meraba sisi tembok lebih jauh.


Namun dengan sigap tangannya kembali menarik pinggangku. lalu mendekapku cukup kuat.


DEG!


Dia bukan mas Sandy!


Dia bukan suamiku!


Siapa orang ini sebenarnya. bahkan wangi tubuhnya bukan wangi parfum yang biasa mas Sandy gunakan.


"Siapa kamu! kamu bukan mas Sandy kan?!" teriakku mencoba melepaskan dekapannya.


Aku berontak sekuat tenaga dan akhirnya aku bisa lepas darinya. aku berlari mundur hingga tersungkur ke arah belakang.


Dalam keadaan gelap gulita aku mencoba meraba apapun yang ada disekitarku. ada sepotong benda yang mungkin adalah sapu. ku pegang benda itu dengan kedua tanganku.


Aku tak bisa melihatnya. dimana dia? bahkan derap langkahnya saja tak mampu ku dengar. dimana???


Aku jelaga membuka mataku lebar-lebar, namun tetap saja nihil. semuanya gelap.


Dalam ketakutan, aku hanya mampu mengeratkan kedua tanganku pada benda itu.


Tiba-tiba terdengar tawa kecil yang sepertinya mulai jelas siapa pemiliknya.

__ADS_1


• • • • • • •


__ADS_2