
Semua barang yang di perlukan sudah kami bawa dan dimasukan ke dalam bagasi mobil. Akupun sudah duduk manis di dalam mobilnya.
"Gak ada barang yang ketinggalan kan mas?" tanyaku memastikan.
"Rasanya gak ada, kamu Gimana?" mas Sandy menatapku serius.
"Gak ada mas. udah semua kok!" sahutku yakin.
"Ya sudah, kita pulang saja. besok baru bawa barangnya ke kantor."
"Kenapa gak hari ini aja? baru juga jam 2 siang mas?" saranku.
"Saya gak mau kamu Kecapean, Lagian kaki kamu belum sembuh betul 'kan?" selorohnya.
"Gak apa-apa kok mas. saya kuat!" aku sedikit memaksa.
"Saya gak mau kamu sakit lagi. jadi lebih baik kita pulang saja. kita mampir sebentar untuk makan siang ya!" ajaknya seraya mengelus lembut rambutku.
"Ya sudah kalo gitu. Gimana mas Sandy aja!" Aku tersenyum manis.
Mobil kami keluar dari kompleks apartemen elit itu dan melaju menuju salah satu Resto yang katanya sangat terkenal dengan makanan lautnya yang sangat enak.
•••
"Silahkan! Mau pesan apa pak" salah seorang pelayan datang setelah mas Sandy memanggilnya.
Mas Sandy menunjuk beberapa menu makanan yang dipesannya.
"Kamu mau yang lain sayang?" tanyanya padaku.
"Kayanya ini enak deh mas?" aku menunjuk salah satu menu makanan yang menjadi favorit.
"Baiklah, yang ini juga satu! minum nya Lemon tea ya!"
"Baik pak, Mohon tunggu sebentar."
Mas Sandy menarik kursinya agar lebih dekat denganku. Aku menoleh heran.
"Kenapa mas?"
"Biar Bisa lebih dekat sama kamu." godanya.
Aku mengernyit ragu.
Sepertinya suasana hati mas Sandy sudah kembali seperti semula. dan aku harus bisa menahan diri untuk tak membahas soal Vina lagi didepannya.
"Ngomong-ngomong desa wisata yang akan di kunjungi sekolah Andi kaya apa ya?" tanya mas Sandy memulai obrolan.
"Yang saya dengar sih, disana ada kebun bunga, kebun sayuran, peternakan juga yang lainnya. nanti Andi akan belajar bercocok tanam disana." jelasku
"Hm, pasti sangat seru. saya tak sabar ingin segera kesana!" selorohnya tiba-tiba.
"Mas Sandy yakin?" selidikku.
"Tentu saja teh, saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama kalian. anggap saja liburan." tukasnya enteng.
"Masih 2 minggu lagi mas, sabar"
"Oh iya, soal administrasinya Gimana? apa teh Alis kekurangan uang?"
__ADS_1
"Sebetulnya Kegiatan ini sudah di beritahukan sejak lama. agar orang tua murid yang kesulitan dalam ekonomi seperti saya bisa mulai menabung dari awal. dan lagi, saya sudah membayarnya jauh sebelum kita menikah kok mas. jadi mas Sandy gak usah khawatir."
"Kalau begitu, nanti saya ganti. kamu jangan menolak lagi! sekarang kalian sudah jadi tanggung jawab saya"
Aku menatapnya lekat.
Sikap mas Sandy yang hangat seperti ini pasti karena kejadian tadi. dia ingin menunjukkan bahwa dia peduli padaku dan juga Andi. bahwa dia sangat mengutamakan kami berdua.
"Pak Sandy ya?" tiba-tiba ada dua orang gadis cantik menghampiri meja kami.
Aku dan mas Sandy menatap keduanya heran.
"Siapa ya?!!" tanya mas Sandy.
"Saya Viona pak. ini teman saya Lusy. dua minggu lalu kami ikut seminar kampus yang bapak hadiri. sejak saat itu saya jadi ngefans sama bapak! bapak benar-benar sangat memotivasi anak muda seperti kita untuk berkarya" cerocosnya.
"Oh," gumam mas Sandy tampak bingung.
"Boleh minta foto Gak pak?" celetuk gadis yang pasti bernama Lusy itu.
Mas Sandy menoleh padaku ragu.
"Saya gak biasa di foto!" tolak mas Sandy cepat.
"Gak apa-apa mas. sekali-kali" godaku.
"Ini siapa nya bapak? sekretaris?!" tanya viona dengan tatapan tajam.
Aneh sekali, apa sejak tadi dia tak melihat keberadaanku hingga menatapku setajam Itu. benar-benar tak sopan!!!
"Ini istri saya," tegas mas Sandy seraya merangkul pinggangku cukup erat.
"Oh. maaf! saya kira pak Sandy masih single " Viona tampak kecewa.
"Maaf membuat kamu kecewa." sindir mas Sandy enteng.
"Kalau kalian mau berfoto, boleh silahkan! gratis!!!" bisikku nakal
"Wah, terima kasih ya kak!" Lusy berseru antusias.
Dan dengan terpaksa mas Sandy melayani mereka untuk berfoto. meski dengan wajah tak nyaman.
"Mas Sandy udah kaya artis terkenal" bisikku setelah kedua gadis itu berpamitan.
"Kenapa kamu malah menjadikan saya umpan teh!" protesnya kembali duduk.
"Kok umpan sih. padahal mereka semua cantik-cantik loh mas. semua cowok pasti suka." aku menopang dagu ku menyaksikan kepergian mereka.
CUP!
Secepat kilat mas Sandy mencium bibirku. dan sontak membuatku melotot tajam karena ulahnya. bahkan ini di tempat umum.
"Maaaass!" geramku langsung menutup mulut.
"Habis kamu bawel. saya gak tahan!" matanya menatap gemas padaku.
Dan entah mengapa, sikapnya itu selalu saja membuatku tersipu malu.
"Kenapa malu-malu begitu? kita kan sudah menikah?" tanyanya santai.
__ADS_1
"Disini banyak orang mas, Maluuu..." bisikku melirik sekitar.
"Orang lain tak akan peduli. lagipula kita gak mengganggu mereka" sahutnya tak mau kalah.
Aku berdecak kesal mendengar jawabannya.
"Maaf menunggu lama, silahkan makanannya!" seorang pelayan datang membawa menu makanan Yang kami pesan. Dengan bergegas aku menyabet segelas lemontea dan meneguknya.
"Pelan-pelan! Saya gak akan cium lagi kok!" celetuknya, membuat si pelayan mengulum senyum.
"Uuhukkk..!" aku menarik tisu dan mengusap mulutku.
Dasar suami mesum! batinku seraya melirik sinis padanya, dan hanya di balas dengan senyuman polos darinya.
Rasanya Hidupku benar-benar seperti Rollercoaster, ada kalanya aku di hadapkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit dan menyudutkan. tapi kadang juga disuguhkan pada situasi manis dan lucu seperti ini.
•••
Tiga hari sudah, semenjak pertemuan antara Vina, mas Sandy dan aku berlalu. Aku sudah tak begitu memikirkan tentang hal itu. dan sikap mas Sandy pun sudah kembali seperti semula. kami tak pernah sedikitpun membahasnya lagi.
Hari ini mas Sandy berniat mengajakku ke kantor. dia sudah membahasnya kemarin. katanya ruangan untukku sudah siap, dan dia ingin aku melihatnya segera. kebetulan hari ini Andi libur sekolah jadi kami pergi bertiga menuju kantor.
"Mama mau kerja lagi ya?" tanya Andi.
"Mama Gak kerja sayang, mama cuma nemenin om papa." sahut mas Sandy.
"Kalo mama mau kerja juga gak apa-apa! kan di rumah ada bi Atun." jelas Andi seolah tak keberatan. padahal dulu dia sangat enggan di tinggal. mungkin karena selalu berada di rumah seorang diri.
"Benarkah? mama boleh kerja lagi?" godaku tak yakin.
"Iya,boleh kok. asal kerjanya sama om papa. pulangnya juga harus sama-sama!" Andi menatap mas Sandy penuh keyakinan.
"Anak pinter," sanjung mas Sandy terkekeh.
"Kalo sama om papa, mama ada yang jagain." timpal Andi lagi. Aku tersenyum haru mendengar alasannya.
"Akhir pekan malah semakin macet." gumam mas Sandy melihat ke arah jalan.
"Mungkin orang-orang pergi berlibur mas" sahutku yang juga fokus menatap deretan mobil-mobil yang memenuhi jalanan itu.
"Maaf ya, om papa Gak bisa ngajak kamu liburan di akhir pekan seperti ini. malah ngajak kalian ke kantor." tuturnya penuh sesal.
"Gak apa-apa kok om papa. Andi senang pergi ke kantor om papa. bisa naik Lift sama om Anwar." celotehnya.
Aku tertawa kecil dengan jawaban polos Andi. teringat saat pertama dia di ajak ke kantor dan langsung akrab dengan Anwar. mereka bolak balik menaiki Lift. Andi bilang, rasanya seperti sedang naik Bianglala.
"Lain kali, kita jalan-jalan ya!" mas Sandy mencubit gemas pipinya.
"Om papa. ada tante Ayu!" seru Andi menunjuk ke arah kiri mobil kami. tepat di bahu jalan
Aku dan mas Sandy menoleh bersamaan.
Ku lihat Bu Ayu masuk ke dalam mobil tersebut, dan yang membuatku sedikit kaget,adalah saat melihat seorang wanita yang ada di dalam mobilnya.
"Vina.." Aku bergumam kecil.
Bahkan mereka terlihat sangat akrab. terlihat sangat kontras dengan sikapnya padaku. jujur aku sedikit iri.
• • • • • •
__ADS_1