
Aku mencintainya,
Aku tak ingin kehilangannya,
maka,akan ku lakukan segala cara untuk menjaganya.
Meski dengan cara Yang egois...'
Setelah bertemu dengan Erwin secara langsung, aku bisa menilai dia ini Pemuda yang pintar dan juga baik hati. Oh tentu saja,itu sebabnya mengapa Alis bisa mengingat namanya dengan baik. perempuan mana yang bisa dengan mudah melupakan pria baik?
"Sedekat apa hubungan kamu dengan Alis?" Aku bergumam seraya fokus menatap para karyawan yang tengah sibuk bekerja.
Erwin yang berdiri disampingku, seketika menoleh sebelum akhirnya menjawab.
"Hanya sebatas kenal saja pak," jawabnya terdengar ragu.
"Kita pernah bertemu saat saya berkunjung ke rumah Alis. Kamu tahu jika Alis adalah pacar saya." aku menekankan setiap kalimatku.
Erwin tampak mengangguk.
"Saya harap, kamu bisa menjaga jarak dengannya."
"Tenang saja pak. saya sama sekali tak berpikiran lebih jauh,orangtua saya di kampung juga sudah sakit-sakitan. jadi saya lebih memprioritaskan ibu saya." jelasnya yakin
Aku menoleh menatapnya cukup lama. tebakan ku soal dia yang akan menolak untuk menjauhi Alis ternyata salah. Erwin memang pria yang benar-benar baik.
"Bagaimana jika kamu saya angkat sebagai sales manager di salah satu pabrik milik perusahaan. kebetulan kita punya cabang di kota asalmu." Tawaran yang ku rasa cukup membuatnya untuk mundur teratur.
Erwin mendongak kaget. entah itu ekspresi senang atau malah tak suka.
"Kenapa pak? apa bapak khawatir dengan keberadaan saya?" sindirnya.
"Ekehm,.. saya hanya kasihan sama kamu. jika kamu memang peduli dengan kondisi orangtuamu bukannya lebih baik kamu bisa dekat dengan mereka. tidak banyak karyawan yang langsung saya angkat menjadi manager. apalagi kamu orang baru." jelasku.
Ku tatap intens Wajah Erwin seakan memaksanya untuk menyetujui saranku barusan.
"Baiklah, saya akan pikirkan tawaran bapak. terima kasih banyak pak! saya permisi!" Erwin pamit dan kembali bekerja.
Aku menghela nafas lega. setidaknya satu pesaingku bisa ku tangani. walaupun aku tahu Erwin tak memiliki perasaan pada Alis untuk saat ini,tapi siapa sangka, jika semakin hari mereka malah akan semakin dekat.
Buktinya, aku pun bisa tergila-gila oleh perempuan itu dalam waktu 30 hari saja. padahal aku bisa mendapatkan lebih banyak gadis di luar sana.
Sifat egoisku ini mungkin menurun dari papa. Apalagi aku adalah anak tunggal. dan apapun yang aku mau harus aku dapatkan.
•••
Siang ini aku sengaja meminta Nita untuk membawa makan siangku ke ruang kerja.
__ADS_1
Malas rasanya jika harus pergi keluar, apalagi kakiku masih terasa berdenyut nyeri saat di paksa untuk berjalan.
"Permisi pak," sebuah suara asing terdengar dari luar setelah sebelumnya mengetuk pintu.
"Masuk!" perintahku,
Ku lihat gadis bernama Sinta itu membawa nampan berisi makan siang yang ku pesan.
"Dimana Nita?" tanyaku yang memang meminta tolong padanya untuk membawa makan siang itu.
"Bu Nita, masih ada kerjaan pak. jadi saya yang bawakan!" Sinta mendekati meja dan meletakkan nampan itu di atas meja. gadis itu bahkan dengan terampil membantuku merapikan berkas yang berserakan sebelum aku memerintahkannya.
Sesekali dia melirik dengan sudut matanya, aku memperhatikannya dengan seksama.
"Sudah Berapa lama kamu bekerja?" tanyaku kemudian.
Nita mendongak lalu --menarik kursi dan duduk-- terlihat dia gadis yang sangat aktif ku rasa.
"Kerja disini saya baru beberapa minggu pak! memangnya ada apa? apa kinerja saya kurang bagus pak! saya mohon maaf, -"
Aku mengangkat sebelah tanganku untuk memintanya berhenti bicara.
"Maaf," tukasnya kemudian.
"Maksud saya, kamu bekerja di pabrik sudah berapa lama?"
"Di pabrik? kalau di pabrik sudah hampir 2 tahun pak. bapak juga pernah bertemu dengan saya kan beberapa kali?" tukasnya seolah mengakrabkan diri lewat obrolan barusan.
"Hm, lumayan lama. apa kamu pernah mendengar ada pekerja yang suaminya meninggal karena kecelakaan." tanyaku sedikit ragu.
"Oh, Alis ya pak. tahu dong pak. dia juga teman saya. tapi gak terlalu deket sih pak. kenapa memangnya? Alis nuntut Perusahaan ya? maklum lah pak, dia kan dari keluarga kurang mampu. lagipula dulu suaminya pemabuk berat." cerocosnya.
Aku menghela nafas dalam mendengar celotehan gadis itu. Sepertinya dia dan Alis tak terlalu dekat.
"Dia tak menuntut apapun. bahkan dia sempat menolak santunan yang di berikan untuk keluarganya. beruntung pak Ilham bisa membujuknya," jelasku memandang ironis padanya.
"Oh. saya pikir, Alis menuntut perusahaan. Soalnya gosipnya sih gitu. Memangnya bapak kenal sama Alis?" Wajah Sinta berubah menyelidik.
"Enggak. saya cuma iseng aja tanya kamu. ingin dengar pendapat kalian soal kejadian itu."
"Syukurlah kalo bapak Gak kenal. lagipula Alis tipe orang yang memang senang menutup diri. padahal dulu, ada yang mau menikahi dia setelah suaminya meninggal. tapi Alis menolak dengan alasan anak,naif banget." cerocosnya seakan menyayangkan keputusan Alis.
Aku mengernyitkan dahi kaget.
"Ada yang mau menikahi dia? siapa?!" selorohku.
Sinta tampak terhenyak.
__ADS_1
"Saya kurang tahu pak. mungkin orang di sekitar kampung situ. bapak kayanya kaget sekali?"
Aku menatapnya sinis. jelas saja aku kaget. selama ini Alis tak pernah cerita. aku jadi penasaran siapa pria yang di maksud. benar-benar menyebalkan bertanya pada gadis ini. aku menyesal mengajaknya berbincang.
"Saya lapar. kamu boleh pergi!" ku alihkan obrolan kami dan memintanya meninggalkan ruanganku.
Dengan wajah yang masih tampak bingung, Sinta pamit padaku.
"Jika perlu sesuatu,bapak bisa hubungi saya" pungkasnya dengan tatapan sedikit menggoda.
Bagaimana Alis bisa memiliki teman seperti itu. sangat menakutkan!
•••
Selepas makan siang, aku meminta pak Muh untuk menjemput. sepertinya tubuhku mulai merasa lemas dan kelelahan. aku sudah berjanji padanya tak akan membuat khawatir. jadi kuputuskan untuk beristirahat di rumah saja.
Sepanjang perjalanan Aku Asik berkirim pesan dengannya. wanita yang akhir-akhir ini selalu memenuhi isi kepalaku dengan senyum dan tingkah polosnya.
"Kalo udah sampe,jangan lupa minum obatnya. minta bi Marni buat angetin sup yang saya kirim ke rumah tadi pagi." perintahnya
"Kenapa bukan kamu saja yang mengantarkan supnya langsung pada saya teh?" godaku.
"Saya sibuk mas," jawabnya beralasan.
Aku menghela nafas dalam. aku lupa jika Alis adalah seorang wanita yang berjuang sendirian demi menghidupi putranya. seandainya dia mau menerima semua pemberianku. tentu dia tak akan kesulitan.
Tapi justru penolakannya, membuatku semakin ingin melindunginya. bahkan aku berencana menikahinya sesegera mungkin.
Tengah serius dengan lamunanku, mataku di kagetkan dengan pemandangan yang tak biasa. saat mobil kami berhenti di lampu merah, ku lihat tante Ayu dan Ivan dalam satu mobil dan tengah berada di arah yang berlawanan denganku.
Mereka tampak berbicara dengan serius. entah itu membicarakan pekerjaan atau hal lain. namun yang ku kagetkan adalah sikap manis tante Ayu padanya. benar-benar sangat berbeda.
"Sepertinya itu Ibu Rahayu pak," gumam pak Muh.
"Hm, saya tahu. biarkan saja" tukasku sembari menatap keduanya penuh tanya.
Haruskah ku selidiki hubungan keduanya? Tapi,apakah penting? lalu bagaimana dengan Vina? apa Ivan juga mencampakkan Vina? lalu bagaimana nasib gadis itu sekarang?
Isi kepalaku tiba-tiba saja menjalar pada hal yang sudah lama terkubur. tak ingin lagi ku pedulikan kehadiran mereka. apapun yang mereka lakukan dibelakangku, sebaiknya aku tak perlu tahu. karena itu akan sangat mengganggu kehidupanku nantinya.
PING!
"Kenapa gak di bales mas? mas Sandy marah? jangan marah dong mas?!"
Aku tersenyum manis saat membaca pesan masuk itu.
• • • • • •
__ADS_1